
"Ya papa serius mengatakan ini semuanya kepadamu. Nggak sama kamu saja. Tuh kakakmu juga. Mulai sekarang kamu harus berdiri di kaki masing-masing. Jangan pernah mengeluh tentang keadaanmu untuk saat ini. Suatu hari nanti kalian bisa hidup bahagia. Kamu akan mendapatkan kebahagiaan tiada tara. Tapi kamu jangan pernah memiliki sifat seperti mamamu. Bapak tidak akan pernah memaafkan kalian, ketika kalian memiliki sifat seperti mamamu. Jadilah orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Jangan pernah berbuat seperti mamamu. Papa sayang kalian dan juga Santi," jelas Firly.
"Aku rindu masa kecilku dulu. Tidak ada yang mampu menghilangkan memori itu. Banyak sekali kenangan-kenangan indah yang tertanam di dalam otakku ini. Kami tidak pernah disuruh mama untuk melakukan kejahatan sedikit pun. Meskipun kami tidak diperhatikan, tapi kami bahagia akan hal itu. Kami bermain dari pagi sampai sore dan tidak ada yang memperhatikan. Kami bersyukur telah dijauhkan dari hal-hal yang membuat orang-orang rugi kepada kita. Jika ingat itu, Aku pengen nangis saja," ungkap Billy yang mengingat masa kecilnya itu tanpa harus ada kekerasan dari Fatin.
Penyesalan memang datangnya akhir. Seperti Firly, dalam hatinya masih bertanya-tanya. Kenapa hidupnya seperti ini? Dirinya memang berharap ingin memiliki hidup bahagia dengan keluarganya. Namun semuanya sia-sia saja. Bahkan sekarang hidupnya tidak berguna sama sekali. Akan tetapi Firly masih memiliki ketiga anaknya itu. Seharusnya ia bisa menghentikan kejahatan Fatin sedari dulu. Akan tetapi Semuanya sudah terlambat. Firly aku memutuskan akan hidup bersama anak-anaknya. Anton dan Billy ingin merawat Firly jika sudah tidak sanggup berjalan lagi.
Kembali lagi ke Sascha dan juga Dewa. Setelah membersihkan tubuhnya masing-masing, Sascha meminta Dewa untuk tetap berada di apartemen. Hal ini membuat Sascha sangat bingung untuk mencari barang-barang punya Jika Dewa ikut. Apalagi di pasar banyak sekali preman-preman. Sascha tidak mau jika Dewa menjadi bulan-bulanannya para preman itu. Namun Dewa bersikeras agar ikut dengannya. Ia memakai segala cara agar Sascha luluh dan mengajaknya ke pasar. Contohnya saja menjadi bocah kecil dan pura-pura menangis. Sascha semakin bingung dengan keadaan Dewa.
"Ayolah Ma aku ikut. Kata Papa Mama itu harus dikawal. Jika mama tidak di kawal. Nanti mama bisa hilang dari peredaran bumi ini. Ya kan Ma?" tanya Dewa yang sok imut.
Lantas Sascha memegang kepalanya tanda sangat pusing. Bagaimana tidak? Sascha harus menghadapi Dewa yang seperti bocah kecil. Hingga akhirnya Sascha luluh dan mengajaknya ke pasar modern.
"Padahal di luar ada Almond sama Marty. Mereka berdua sudah sering menjagaku setiap hari. Mereka tidak pernah macam-macam bersamaku. Lalu Kenapa suamiku tiba-tiba menjadi bayi besar? Dewa merengek ikut denganku ke pasar. Padahal aku sendiri sudah ingat kok jalanan sini. Aku nggak pernah hilang apalagi kesasar. Semua orang di sini juga tahu kalau aku bekerja di perusahaan cabang Surabaya itu," kesal Sascha yang dirinya tidak mau mengajak Dewa.
"Kata Papa, Mama itu tidak boleh hilang dari peredaran bumi ini. Dewa harus menjaga Mama dengan sebaik mungkin. Kasihan Adik bayinya. Adik bayinya nanti kangen sama kakak," Jelas Dewa yang membuat Sascha menepuk jidatnya.
"Kamu ini sangat aneh sekali ya. Kapan aku punya bayi besar sepertimu? Ya sudah kalau begitu. Lebih baik Aku mengalah saja, kamu nggak usah macam-macam nanti kalau di pasar," ucap Sascha yang mendapatkan gelak tawa Dewa.
"Kamu harus bertanggung jawab kepadaku. Kamu adalah milikku selamanya. Maka dari itu kamu tidak boleh pergi dariku," ujar Dewa sambil menatap Sascha agar paham apa maksudnya.
"Terserah apa katamu. Hari sudah siang. Aku tidak ingin kehilangan momen-momen untuk mencari buah-buahan yang masih bagus," sahut Sascha yang akhirnya mengalah kepada Dewa.
Mereka akhirnya pergi ke pasar berdua. Mereka tidak ingin melewatkan momen-momen pemilihan buah yang bagus. Namun apakah Dewa sanggup untuk mengikutinya?
__ADS_1
Sesampainya di luar apartemen, Sascha melihat tukang sayur-sayuran. Karena apartemen milik Dewa Menghubungkan ke arah Kampung. Sascha akhirnya berhenti di tukang sayur itu. Selain praktis, dirinya tidak perlu Jalan hingga ke pasar. Apalagi Dewa tidak ingin Sascha capek.
"Aku akan membeli sayur di sini. Kamu tunggu situ saja. Aku tidak akan lama untuk membeli sayur-sayuran," Pintas Sascha kepada Dewa.
Akhirnya Dewa mengalah lalu menunggunya sebentar. Sascha berencana ingin memasak tumis sayur-sayuran. Untungnya tukang sayur itu memiliki bahan makanan yang cukup lengkap. Jadi dirinya tidak kerepotan untuk memilih bahan makanan yang diperlukannya itu.
Selesai memilih, Dewa akhirnya membayar semuanya. Lalu Dewa mengajak Sascha untuk masuk ke dalam apartemen lagi. Sebenarnya Dewa puas mengerjai Sascha. Dirinya tidak perlu khawatir jika Sascha pergi kemanapun. Bahkan Dewa akan menyuruh Almond untuk mengikutinya dari belakang.
"Maaf aku tidak jadi ke pasar maupun ke pusat perbelanjaan di bawah itu. Lagian jalan menuju ke sana sangat jauh sekali. Aku harus memakai angkutan umum untuk bisa sampai sana. Jadinya aku memilih tukang sayur itu," jelas Sascha yang tidak ingin jauh-jauh ke manapun.
"Tidak apa-apa. Aku tidak marah sama kamu. Justru itu, kamu nggak berbeda baik capek lagi untuk pergi ke sana. Aku sendiri juga kasihan sama kamu. Apalagi di dalam perutmu ada dua calon Dewa Junior. Inilah yang aku khawatirkan terhadap dirimu," jelas Dewa.
"Kamu nggak perlu khawatir sama aku. Aku sudah Mandiri dari dulu. Kemanapun aku selalu pamit dan tidak akan menghilang seperti yang lalu lalu," ucap Sascha yang tiba-tiba saja keceplosan atas sikapnya itu.
"Mati aku," ucap Sascha dalam hati.
Dewa terkekeh melihat Sascha yang panik. Memang sudah di dulu Sascha suka kabur ke manapun dan tidak pernah bilang kepada dirinya. Yang lebih lucunya lagi, ia pernah kabur ke Tokyo setelah membeli banyak bahan. makanan.
"Semuanya sudah terbaca olehku. Dari dulu kamu memang begitu kok. Padahal kamu itu sangat ku butuhkan. Tapi nyatanya kamu menghilang tanpa jejak," ucap Dewa yang terkekeh sambil memegangi perutnya.
"Ternyata kamu memperhatikan aku ya. Habislah aku. Sekarang aku tidak bisa kabur dari kamu lagi," ucap Sascha dengan pasrah.
"Ya mau bagaimana lagi. Kamu harus bertanggung jawab atas hidupku ini. Kamu harus ikut denganku selamanya. Nanti kalau kabur aku akan memblokir semua pintu masuk pelabuhan bandara dan juga darat. Bisa saja aku bekerja dengan pihak kepolisian untuk menangkapmu. Dengan alasan kamu kabur meninggalkan suami tampanmu ini," celetuk Dewa hingga membuat saja mengusap wajahnya berkali-kali.
__ADS_1
"Terpaksa Aku mengalah denganmu. Ujung-ujungnya aku nggak bisa kabur. Bagaimana kalau aku kabur ke New Jersey saja? Aku ingin bertemu dengan vokalisnya Bon Jovi. Sedari Dulu aku sangat menyukainya. Tapi tidak pernah bertemu sama sekali," kesal Sascha yang membuat Dewa tertawa terbahak-bahak.
"Kamu tidak akan pernah kabur lagi dariku. Kalau kamu kabur akan aku kurung di dalam kamar selama berhari-hari," sahut Dewa yang tidak ingin sang istri memiliki rencana kabur kemanapun.
''Iya iya. Aku tidak jadi kabur. Aku ingin hidup di sini bersamamu. Aku pasti ngomong terlebih dahulu," ujar Sascha yang membuat Dewa mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Itu mah bukan namanya kabur. Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Ya sudah Pergilah memasak. Tapi masaknya jangan enak-enak ya," pesan Dewa.
"Astaga ini orang. Mana ada masak nggak enak? Kalau nggak enak aku pasti ditalak deh," kata Sascha dan membuka seluruh belanjaannya itu.
"Kamu tahu kan? Kalau berat badanku bertambah lima kilo dalam waktu dua bulan saja," kata Dewa dengan jujur.
"Tidak apa-apa. Nanti kalau kamu udah gendut dan jelek Tidak ada yang berani melirikmu. Kamu tahu kalau aku sedang marah sama pelakor bagaimana? Bisa-bisa mereka hancur di tanganku semuanya?" gumam Sascha.
"Itu benar. Selepas kamu periksa, aku sengaja memeriksa berat badanku di apotek saat penebusan obat. Ternyata berat badanku tambah lima kilo sekaligus. Aku harus bagaimana ini? Agar kamu tidak kabur dengan pria lain yang lebih tampan dan juga memiliki badan dengan otot yang bagus," ungkap Dewa dengan jujur.
"Ujung-ujungnya kamu harus diet dan berolahraga. Kamu sudah lama tidak nge-gym. Kamu sekarang menjadi pemalas ketika teman-temanmu mengajak nge-gym," Saran Sascha sambil membuka kulit jagung tersebut.
"Sepertinya kamu harus ikut deh. Ikut bersamaku dan menjagaku nge-gym di sana. Agar aku tidak ada yang melirik sama sekali," pinta Dewa.
"Terserahlah apa katamu itu. Aku hanya mengikuti apa kata hatimu. Kalau begitu Jangan ganggu aku sekarang. Kedua bagimu sedang berontak dan meminta sarapan pagi," jawab Sascha yang ingin tidak mau diganggu oleh siapapun.
"Aku tidak akan pergi dari sini. Aku akan membantumu untuk mengupas bahan-bahan yang berada di meja ini," ucap Dewa lalu menghempaskan bokongnya duduk di hadapan Sascha.
__ADS_1
"Terserah kamu deh. Aku menyerah. Aku ingin memasak. Jangan ganggu aku," pinta Sascha.