
Siang yang dingin di daerah Nganjuk. Sascha mulai membongkar lemarinya. Ia sedang mencari laptopnya di lemari. Namun ia tidak menemukannya sama sekali.
Tak lama datang Dewa sambil membawa ponselnya. Ia segera mendekati saja lalu berkata, "Keadaan semakin gawat. Tommy dan Timothy sudah menemukan semuanya. Besok kita akan ke sana.''
"Sejak dulu cabang Surabaya sangat mengkhawatirkan. Aku sudah menegurmu berkali-kali. Tapi kamu nggak mau menanganinya," ucap Sascha yang berdiri dan menutup lemari.
"Kamu nggak tahu siapa aku sebenarnya? Aku memang sengaja mengorbankan cabang Surabaya demi mengungkap semua kejahatan bawahanku satu persatu. Kalau nggak gitu, kita nggak bisa menjebaknya. Memang, Aku sengaja meminta Tommy untuk membuang orang-orang yang tidak ada guna di perusahaan. Orang-orang itu sengaja dibuang ke Surabaya. Yang di mana mereka bisa melakukan penggelapan dana secara besar-besaran. Sekarang aku sudah menandainya satu persatu. Aku juga sudah menjebaknya dengan sengaja. Aku tahu mereka akan terkejut karena diriku ini. Keterkejutannya itu bisa membuat dampak mereka masuk ke dalam jeruji besi," jelas Dewa.
"Kamu itu sangat licik sekali. Habis gini aku harus belajar tentang ilmu itu," puji Sascha terhadap Dewa.
"Kamu benar. Kalau nggak gitu Bagaimana kamu bisa belajar? Jika kamu nggak belajar dari sekarang? Kamu nggak bakalan bisa mendapatkan ilmu dapat menjebak seperti itu," ucap Dewa yang meminta Sascha untuk belajar.
"Ajari aku ya," pinta Sascha.
"Ajari Aku mencintaimu maksudnya," ledek Dewa.
"Bukan maksud aku begitu. Ajari aku tentang ilmu menjebak seperti itu," rengek Sascha yang membuat Dewa tersenyum lucu.
"Aku nggak bisa mengajari kamu teori. Aku akan mengajarimu praktek secara langsung. Tapi tunggu tanggal mainnya. Jika ada kasus serupa. Kamu yang akan menjebak mereka. Tapi aku yang akan mengajarimu dari belakang," ucap Dewa.
"Terima kasih ya," sahut Sascha.
__ADS_1
"Apakah laptopmu sudah ketemu?" tanya Dewa.
"Sepertinya aku tidak membawanya pulang ke sini. Kemungkinan besar laptopku berada di apartemenmu semua. Jadinya aku tidak memiliki apa-apa lagi. Aku tidak bisa menganalisis keadaan untuk sekarang ini," jawab Sascha.
"Hari masih siang. Bisa nggak kamu ke Surabaya sama aku hari ini? Soalnya malam-malam kita harus berdiskusi dengan Tommy dan Timothy sekalian aku akan mengajakmu ke dokter kandungan yang hebat. Aku ingin mengetahui, gimana kabar calon bayiku," pinta Dewa.
"Berapa hari kita di sana?"
"Hanya beberapa hari saja. Setelah itu kita kembali lagi ke sini. Anak-anak belum puas liburan di sini. Paling nggak sepuluh hari kedepan. Kalau soal New York, sudah ditangani oleh Choi. Jadinya aku bisa mendapatkan beberapa informasi yang kita butuhkan."
"Informasi dari Kak Choi sudah sangat valid sekali. Kita harus menyerang nenek-nenek itu. Aku yakin nenek-nenek itu tidak akan bisa hidup dengan tenang. Dia akan berusaha untuk merebut Khans Company. Dia juga kerjasama dengan mafia. Tapi aku memiliki ide agar si nenek-nenek itu tidak mengganggu kita."
"Bagaimana caranya?"
"Pakai Black Tiger saja. Kalau pakai Black Tiger semuanya sudah bisa diatasi. Kamu bisa menyetir Black Tiger dengan mudah. Karena kamu sudah memiliki kekuasaan di sana."
"Aku akan memakai Black Swan. Black Swan juga bisa diandalkan. Bukannya aku meremehkan Black Tiger. Aku ingin mencoba kekuatan Black Swan bagaimana? Lagian juga Black Swan adalah milik papa. Aku sudah diberikan tiket untuk menjadi ketua di sana," ucap Sascha sambil menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.
"Kamu belum tahu kekuatan Black Swan sebenarnya? Backsound memiliki kekuatan di atas Black Tiger. Jujur aku pernah mengerjai Black Swan. Papamu itu sangat lucu sekali. Aku mengerahkan seluruh kekuatan Black Tiger ke markas Black Swan. Malah papa memberikanku satu pembunuh jitu. Jujur orang itu sangat hebat sekali. Aku tidak bisa menandingi kekuatannya. Orang itu memiliki banyak ilmu bela diri. Dia sangat berani sekali mengkombinasikan beberapa ilmu bela diri menjadi satu. Hingga akhirnya aku muntah darah. Aku bilang menyerah dan meninggalkan markas Black Swan. Sekalinya kamu memberikan perintah, Papa tidak akan memberikanmu seluruh pengawal. Papamu akan memberikan beberapa orang untuk membunuh para lawan. Orang yang sudah diperintahkan oleh papamu bukanlah orang yang kaleng-kaleng. Mereka memiliki tingkatan demi tingkatan. Orang yang menyerangku itu adalah tingkatan rendah. Ada lagi tingkatan tengah dan atas. Jangankan atas dan tengah. Yang rendah pun aku muntah darah," ucap Dewa yang memberitahukan Sascha betapa hebatnya Black Swan itu.
"Aish... Kok bisa begitu ya? Aku Jadi ngeri sendiri. Ya sudah deh, aku akan memakai Black Swan. Black tigernya kapan-kapan saja ya," pinta Sascha yang mendapat anggukan dari Dewa.
__ADS_1
"Semuanya terserah kamu. Aku hanya memberikan pendapat saja. Nanti kamu akan diberikan kepada papa siapa-siapa yang akan menyerang mereka semua. Aku yakin kamu bisa melakukannya," jelas Dewa.
"Ya sudah deh. Lebih baik aku bersiap-siap saja. Aku ingin membersihkan tubuhku lagi," pamit Sascha yang beranjak berdiri.
"Apakah kamu tidak mengajakku?" tanya Dewa yang pura-pura wajahnya memelas.
"Ish.... Kakak nih ada-ada saja. Emangnya kamu mau aku mandikan seperti bayi?" Jawab Sascha sambil tersenyum lucu memandang wajah Dewa.
"Boleh tuh yang. Sekali-sekali kamu memandikan aku," ucap Dewa.
"Jika anak kita lahir, Apakah kamu akan manja seperti ini?" tanya Sascha.
"Memangnya nggak boleh ya kalau aku manja sama kamu?" tanya Dewa.
"Semuanya boleh apapun yang kamu minta. Tapi kalau kita sudah memiliki anak, Apakah kamu akan manja seperti ini? Nanti kalau dilihat Mama Papa nggak lucu lagi. Kalian berdua akan rebutan aku," jawab Sascha.
"Sebenarnya itu sangat lucu sekali. Aku tidak akan mau mengalah dengan anak-anakku. Karena kamu adalah tercipta untukku," celetuk Dewa yang membuat mata Sascha membulat sempurna.
"Aish... Kamu ini ada-ada saja. Bagaimana bisa kamu rebutan sama mereka? Nanti pada orang tua kita akan tertawa terbahak-bahak melihatmu seperti itu," kesal Sacha terhadap Dewa.
"Yang nggak gitu kali Yang. Pertama kali aku melihatmu itu seperti bidadari yang turun dari bumi," kata Dewa yang sengaja membuat Sascha tersenyum.
__ADS_1
"Perasaan kalau sudah di bumi nggak bisa turun deh. Apa yang kamu ungkapkan itu salah? Coba deh kalau kamu ngomong gini. Pertama kali aku melihatmu itu seperti bidadari yang turun dari langit. Bukan dari bumi. Perasaan di bumi nggak bisa turun deh. Kalau naik bisa ke langit. Habis dari langit turun ke bumi. Lain kali kalau membuat ungkapan yang baik dan benar. Jangan yang aneh-aneh. Bagaimana sih kamu ini?" decak Sascha yang diiringi gelak tawa Dewa.
Dewa pun tertawa terbahak-bahak melihat Sascha. Iya memang sengaja membolak-balikkan perkataan seperti itu. Sang istri menjadi bingung. Bukannya bingung malah membenarkan perkataannya. Akhirnya Sascha berdecak kesal kepada Dewa.