Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PAGI YANG MANIS.


__ADS_3

"Kamu benar juga. Aku ingin meminta Dewa untuk mengajari Sascha bisnis," jawab Gerre.


Mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan. Sementara itu Sascha yang selesai berjoging mendengar deru mobil. Lalu Sascha berlari menuju ke depan. Ketika berlari seluruh pengawal atau pelayan yang bertemu selalu berteriak dengan memakai bahasa Korea. Hingga membuat Sascha menjadi semangat.


Sesampainya di halaman depan Sascha melihat mobil sport hitam sedang terparkir indah. Sang pemilik mobil berdiri merentangkan kedua tangannya sambil menunggu gadisnya itu. Sedangkan Sascha langsung berlari dan berhambur ke dalam pelukan sang pemilik mobil. Sascha mengendus aroma tubuh maskulin dan tersenyum manis. Kemudian Sascha mengangkat wajahnya sambil menyapanya, "Pagi Kak Dewa."


"Pagi sayang," sapa sang pemilik mobil yang bernama Dewa.


"Bagaimana pagi ini?" tanya Sascha.


"Pagi yang cerah ketika aku mengingat wajahmu," jawab Dewa yang mulai menggombal.


"Ish... Kakak sekarang mulai menggombal ya?" tanya Sascha.


"Aku hanya menggombal demi kamu. Kamu tahukan kalau aku belajar menggombal dari Bima?" jawab Dewa.


"Kakak enggak cocok menggombal," ucap Sascha.


"Kenapa enggak boleh menggombal?" tanya Dewa.


"Gombalan kakak itu garing seperti kerupuk," jawab Sascha yang membuat Dewa tertawa terbahak-bahak.


Cup.


Sascha mencium bibir seksi Dewa. Tak berapa lama Dewa langsung terdiam dan memegang mulutnya. Wajah tampannya langsung memerah karena bahagia. Ya... Memang Sascha memberikan hadiah ciuman yang membuat Dewa bahagia. Namun Dewa langsung merengkuh tubuh mungil Sascha sambil berkata, "Kamu tahu kalau aku mendapatkan serangan dadakan seperti ini?"


"Terus... Apakah aku salah?" tanya Sascha yang memandang wajah Dewa.


"Kamu enggak salah. Tapi kamu membuatku terbang ke awan," jawab Dewa yang baru sadar merasakan jantungnya berdetak kencang.


"Kamu itu," seru Sascha yang tidak sengaja mendengar jantungnya Dewa berdetak kencang. "Kenapa jantung kakak berdetak kencang ya?"


"Karena kamu yang berhasil membuat jantung ini berdetak kencang seperti ini. Aku rasa kamu juga," jawab Dewa yang mencium bibir Sascha.


"Kakak," kesal Sascha.


"Kenapa?" tanya Dewa.


"Aku malu sama mereka," jawab Sascha yang menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Dewa.

__ADS_1


"Tidak usah malu. Kamu tahu aku ingin memberi tahukan kepada dunia, kalau kamu adalah milikku," jawab Dewa.


"Aku terhura sekarang. Baru kali ini ada yang mengklaim aku sebagai kekasihnya," ucap Sascha secara blak-blakan.


"Kalau begitu aku adalah orang yang pertama yang mengklaim kamu menjadi kekasihku. Ah... Sebentar lagi ada yang kepanasan," celetuk Dewa.


"Biarkan saja aku tidak peduli sama mereka. Aku sekarang sudah menghapus mereka di dalam hatiku," ujar Sascha.


"Kalau begitu ya sudahlah. Aku bahagia karena kamu sudah bangkit," puji Dewa. "Dimana papa?"


"Papa berada di ruangannya mungkin," jawab Sascha. "Kok aku lupa ya... Kalau hari ini akan ada rapat pemegang saham di Master Corps," ujar Sascha.


"Kalau begitu ayo kita cari papa!" ajak Dewa.


Sascha menganggukan kepalanya lalu melepaskan Dewa. Kemudian Dewa menggenggam tangan Sascha dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Kakak pernah kesini?" tanya Sascha.


"Pernah... Kakak kesini sewaktu kecil. Dan disini kita sering bermain bersama. Ah... Rasanya aku rindu masa laluku," ucap Dewa yang tidak sengaja menatap foto Sascha dari bayi.


Dewa menghentikan langkahnya lalu mengingat masa lalunya. Tak sengaja Dewa menyunggingkan senyumnya.


"Ada apa kak?" tanya Sascha yang berhenti.


"Coba lihat ini," tunjuk sebuah foto Sascha ketika baru lahir. Lalu ada seorang anak kecil laki-laki yang memandanginya.


"Ada apa kak?" tanya Sascha lagi.


"Apakah kamu tahu siapa anak kecil ini?" tanya Dewa.


"Aku enggak tahu. Tapi anak kecil itu memiliki wajah yang menggemaskan," jawab Sascha dengan jujur.


"Apakah kamu tahu itu siapa?" tanya Dewa.


"Aku enggak tahu," jawab Sascha yang tidak tahu anak kecil itu.


"Itu aku," jawab Dewa. "Aku masih ingat ketika melihat tubuh mungil kamu yang keriput dan merah. Bahkan rambut kamu saat itu berdiri. Aku hampir saja tertawa melihat kamu," jawab Dewa.


"Apakah itu benar?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Ya itu benar. Aku telah mencium kamu saat itu," jawab Dewa yang membuat Sascha malu.


"Jadi kakak?" tanya Sascha yang memukul lengan Dewa.


"Aku tidak menyangka kalau kakak sudah pernah menciumku. Tapi kenapa enggak kerasa ya?" tanya Sascha.


"Ya... Enggaklah... Kamu kan masih bayi. Bagaimana kamu merasakan ciumanku? Lagian juga aku disuruh mama menciumu," jawab Dewa.


"Ternyata Kak Dewa tampan ya?" puji Sascha.


"Iyalah.... Aku memang sangat tampan sekali," ucap Dewa yang penuh percaya diri.


"Ayo! Kita temui papa!" ajak Sascha.


Mereka melangkahkan kakiny menuju ke ruangan kerja milik Gerre. Sedangkan Gerre masih santai menunggu kedatangan mereka. Gerre tersenyum karena tidak sengaja memantau kedatangan Dewa. Diam-diam Gerre memperhatikan gerak-gerik Dewa yang begitu menyayangi Sascha dengan tulus.


Gerre pernah berpikiran negatif kepada Dewa. Gerre menganggap kalau Dewa sama seperti jajaran para pria yang suka mengobral janji. Namun Gerre sekarang percaya, bagaimana Dewa menyayangi Sascha.


"Sekarang aku tenang melepaskan Sascha. Aku akan merestui kalian. Berbahagialah selalu," batin Gerre yang mendoakan kebahagiaan Sascha.


Chloe yang sedang membaca buku menyadari kalau Gerre senyum-senyum sendiri. Chloe sengaja mengambil koran lalu melipatnya dan melemparkannya ke arah Gerre.


Plak!


Gerre malah tertawa terkena lemparan koran dari Chloe. Gerre segera berdiri kemudian mendekatinya, "Ada apa?"


"Enggak ada apa-apa. Kenapa kamu tertawa?" tanya Chloe yang mengangkat wajahnya sambil menatap wajah tampan Gerre.


"Aku tertawa karena melihat kemesraan Dewa dan Sascha," jawab Gerre sambil menghempaskan bokongnya di samping Chloe. "Kamu tahu beberapa hari terakhir aku ketakutan."


"Ketakutan bagaimana?" tanya Chloe.


"Kamu tahu kalau kita memiliki anak gadis. Anak gadisku itu berpacaran dengan Dewa. Aku pikir Dewa sama seperti pria lainnya. Namun aku salah besar. Dewa sangat menyayangi dan mencintai Sascha dengan tulus. Kini aku merelakan Sascha sama Dewa," jawab Gerre.


"Kamu benar. Meskipun Dewa orangnya sangat cuek. Tapi cinta buat Sascha berjubel. Kalau Sascha ngambek Dewa akan melemparkan cintanya seperti shuriken. Dia bukan pria yang suka mengobral janji. Aku harap Dewa mencintai Sascha hingga akhir hayat. Aku tidak ingin putri kita bercerai. Kamu tahu perceraian itu sangat menyakitkan. Aku enggak mau ada korban yang akan menjadi keegoisan mereka," ucap Chloe.


"Tenang saja. Dewa bukan tipe pria seperti aku dulu ketika masih muda. Bahkan aku suka bergonta-ganti pasangan. Kamu tahu sendiri kan bagaimana aku. Dan aku enggak mau terjadi pada putriku," ujar Gerre.


Mereka akhirnya saling berhadapan. Lalu tangan kekar Gerre menarik tubuh mungil Chloe. Tak sengaja Gerre memandang wajah Chloe dengan penuh hasrat. Gerre memegang tangan Chloe sambil berkata, "Aku ingin menghabiskan pagi ini dengan olahraga ranjang."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Sascha dan Dewa?" tanya Chloe.


__ADS_2