
Setelah Timothy memberikan tugas, Sascha akhirnya pergi ke kamar dan mengambil laptop Dewa. Beberapa hari terakhir saja merasakan ada sesuatu yang janggal pada AA Groups.
Setelah mengambil laptop, Sascha kembali lagi dan duduk sambil menemani Dewa tidur. Dengan jari lentiknya, Sascha mulai bekerja untuk menyusuri website AA Groups. Ia membuka akses website tersebut demi mencari kejanggalan demi kejanggalan.
Malam yang panjang buat Sascha. Ketika orang tertidur pulas, ia bekerja secara mandiri. Dengan otak cerdasnya, Sascha menemukan ada satu kejanggalan yang di mana mengarah pada sistem keuangan. Tanpa disadari oleh Sascha, bahwa website tersebut sedang dibajak oleh seseorang. Sascha mengerutkan keningnya berusaha untuk mencari siapa yang membajak itu?
“Keren sekali bagi seseorang yang sudah membajak website yang aku buat. Maka aku akan membiarkannya terlebih dahulu,” ucap Sascha dalam hati.
Lalu Sascha membiarkan saja siapa yang membajak website tersebut. Ia segera mempersiapkan koper dan baju Dewa. Mau tak mau Sascha akan pergi ke Labuan Bajo jam enam pagi.
Setelah membereskan semuanya, Sascha menuju ke ruang tamu untuk membangunkan Dewa.
“Kak... Bangun gih udah Subuh,“ suruh Sascha.
Dewa segera membuka matanya. Lalu ia melihat Sascha yang sudah rapi. Ia melihat suasana ruang tamu yang masih rapi.
Sontak saja Dewa terkejut karena masih berada di apartemennya.
“Bukannya kita pergi ke Labuan Bajo?“ tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.
“Bukannya kakak semalam tidur dan membiarkan aku sendirian?" tanya Sascha dengan ketus.
“Memangnya aku tidur ya?“ tanya Dewa balik.
“Nggak! Ngorok!“ kesal Sascha lalu meninggalkan Dewa untuk mencuci muka.
Dewa hanya tersenyum sambil menahan tawanya. Bagi Dewa jika kekasihnya marah. Itu menandakan Sascha dalam keadaan mood baik. Akan tetapi Dewa suka bercanda untuk menanggapi amarah kekasihnya itu.
Selesai mencuci wajah, Sascha kembali lalu berteriak, “Hai pemalas... pesawat akan berangkat jam enam hari ini. Aku tidak akan menundanya lagi. Kalau menundanya lagi aku akan kehilangan uang.”
__ADS_1
Baru saja sadar dari tidurnya, mata Dewa langsung terkejut. Bagaimana bisa Sascha kehilangan uang begitu saja? Lalu Dewa membiarkan Sascha dan tidak paham apa yang sedang terjadi.
Dengan langkah gontainya, Dewa pergi ke toilet untuk mencuci wajah. Sementara Sascha menyiapkan susu hangat dan menunggu Dewa.
“Yang, Kenapa terburu-buru sekali ke Labuan Bajo?“ tanya Dewa tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Kakak tahu kenapa berangkat terlalu pagi?“ tanya Sascha dengan wajah horor.
Glek.
“Ke... Ke... Ke... Kenapa kamu memasang wajah horor seperti itu?“ tanya Dewa yang ketakutan.
“Kamu merasa nggak akhir-akhir ini AA Groups dalam masalah?“ tanya Sascha balik.
“Ya aku tahu. Ada yang sengaja membajak website AA Groups. Kamu tahu siapa yang membajaknya?“ tanya Dewa yang memberikan sebuah teka-teki.
“Aku baru saja mengecek website tersebut. Aku menemukan orangnya dan tidak akan bertindak gegabah terlebih dahulu,” jawab Sascha dengan santai. “Sebenarnya sih aku nggak mau ngomong soal ini. Penjualan apartemen yang berada di negeri Tiongkok sana uangnya berkurang.”
“Ya semalam menghubungiku. Kemungkinan Kak Timothy sangat panik karena uang AA Groups sebagian ada yang hilang,“ jawab Sascha.
“Sudahlah jangan terlalu panik seperti itu. Aku memang sengaja memanipulasi keuangan AA Groups agar musuh tidak membuat ulah kepadaku. JIka mereka membuat ulah, maka kemungkinan besar bisa menghancurkan perusahaan musuh berkeping-keping. Tapi aku tidak mau sekejam itu,“ jawab Dewa.
“Kalau begitu aku bisa bernafas lega. Semua ini hanya kesalahpahaman ternyata,” ucap Sascha. “Tapi kenapa Kakak nggak bilang sama aku terlebih dulu?”
“Bukannya aku tidak bilang. Aku ingin bilang tapi lupa. Harusnya pagi kemarin aku harus membahas soal itu sama kamu. Tapi kenapa Kita bertarung di atas ranjang hingga mengeluarkan keringat banyak sekali?" tanya Dewa yang polos.
“Sepertinya itu hanya akal-akalannya kakak saja. Kenapa juga Kakak melakukan seperti itu? Kan aku masih kecil untuk melakukan itu,“ ucap Sascha dengan lirih hingga terdengar ke telinga Dewa.
“Dari mana masih kecil ya? Sepertinya kamu sangat lihai lakukan itu? Tapi jujur, aku sangat puas sekali,“ jawab Dewa.
__ADS_1
“Lihat dari mana? Aku juga baru melakukan itu. Aku tidak pernah melakukannya ke setiap pria yang gak aku temui,“ kata Sascha yang berwajah sedih.
“Bukan maksud aku menuduhmu. Aku tahu kamu bagaimana. Maafkan aku yang telah menuduhmu tidak tidak,” ucap Dewa menyesal.
"Terus?“ tanya Sascha dengan kecewa.
Dewa segera mendekati Sascha dan menarik tubuh mungil gadis berparas cantik itu. Dewa bermaksud tidak menuduh Sascha. Kalau sang kekasih sangat ahli dalam ranjang. Ia sangat menyesali perkataannya itu. Namun Sascha terlanjur terluka dan mendorong Dewa.
“Jangan menyentuhku lagi!“ ucap Saschs dengan dingin. “Segera habiskan susumu! Setelah itu kita berangkat! “
Dewa segera menghabiskan susunya dan terdiam. Hanya karena perkataannya itu, Sascha menjadi terluka. Ia bingung sekarang dan tidak bisa menyentuh sang kekasih.
Setelah itu Sascha mengambil kopernya. Kemudian ia turun ke bawah. Tanpa bicara apapun, Sascha keluar dari apartemen dengan diikuti Dewa.
Beberapa saat kemudian, salah satu pengawal Black Tiger mendekati Sascha. Namun gadis itu menatapnya dengan horor. Hingga membuat sang pengawal ketakutan. Ia segera menuju ke lift dan membiarkan Dewa berjalan sendiri.
Pagi ini mood Sascha hancur berantakan. Wanita mana yang dituduh lihai dalam ranjang ketika baru pertama kali. Bukannya Dewa tahu kalau Sascha melakukan itu untuk pertama kalinya.
“Biar aku yang membawa kopernya,“ ucap Dewa.
“Tidak perlu. Bukannya aku seorang bawahan! Bukan atasanmu. Mulai saat ini kita harus menjaga jarak agar tidak bersentuhan seperti kemarin!“ tegas Sascha.
Detak jantung Dewa berdetak lebih kencang dari biasanya. Pagi ini Dewa tidak bisa menerima kenyataan kalau Sascha sangat membencinya. Ia memasang wajah murung dan tidak bersemangat.
Andai saja waktu diputar kembali Dewa tidak akan mengatakan itu lagi. Akan tetapi ia sudah terlanjur mengatakannya.
Tepat jam enam pagi mereka sudah berangkat menuju ke Labuan Bajo Indonesia. Di atas awan mereka tetap diam tanpa harus berkata. Sascha membuang wajahnya lebih memilih untuk melihat matahari terbit.
Lalu Dewa mengecek seluruh pekerjaannya. Ia melakukan meeting secara virtual bersama Timothy. Dewa menjelaskan soal penjualan apartemen yang uangnya masuk ke dalam rekening pribadinya.
__ADS_1
Sementara Timothy menatap wajah Dewa tidak bersemangat. Timoti sadar kalau wajah sahabatnya itu murung. Pria berkulit putih itu pun ingin menegurnya namun niatnya diurungkan.
Meskipun begitu Timothy sangat khawatir dengan keadaan Dewa. Setelah melakukan meeting Dewa memutuskan untuk pergi ke kamar. Ia sangat frustasi karena Sascha tidak bicara sama sekali. Ia akhirnya memutuskan untuk tidur kembali dan menangis dalam diam.