Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA APA DENGAN KAKEK AOYAMA?


__ADS_3

“Kita


tetap mencarinya,” jawab Eric.


“Baiklah


kalau begitu. Besok aku akan mencarinya. Aku juga enggak bawa laptop,” ucap


Sascha.


Keesokan


paginya. Sascha terbangun tepat berkumandang adzan shubuh. Dirinya membuka mata


sambil melihat Dita yang tertidur terlelap.


“Pagi


ini memang sangat indah buatku dan seluruh makhluk hidup di dunia ini. Semoga


pada pagi ini aku bisa menemukan kasusnya Kak Eric,” ucap Sascha dalam hati


sambil berdoa.


Setelah


itu Sascha memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu Dita mebuka


mata sambil mencari keberadaan Sascha. Ia tidak menemukan Sascha saat ini


berada di sampingnya. Lalu Dita mendengar suara gemericik air sambil tersenyum


manis. Ia menyangka kakak peremuannya itu kabur entah ke mana.


Selesai


membereskan tubuhnya Sascha keluar dari toilet. Ia melihat Dita sambil


tersenyum manis. Lalu Sascha mendekati Dita sambil menghempaskan bokongnya di


samping Dita.


“Ada


apa?” tanya Sascha.


“Kak


Tommy memintaku untuk menjadi istrinya,” jawab Dita yang membuat Sascha


tersenyum lebar.


“Apakah


kamu serius?” tanya Sascha.


“Ya...


aku serius,” jawab Dita.


“Akhirnya...


kamu sudah menjadi milik orang lain,” ucap Sascha tulus. “Aku tahu Kak Tommy


orangnya baik. Meskipun agak resek sedikit.”


“Benarkah


itu?” tanya Dita.


“Ya...


itu memang benar. Tapi aku juga sangat menyayanginya sebagai kakakku sendiri,”


jawab Sascha. “Jangan cemburu ya... Kami sering mengobrol berdua dan yang kita


bahas adalah tentang pekerjaan. Selebihnya itu tidak ada yang dibicarakan.”


“Aku


paham soal itu kak,” jawab Dita.


“Alangkah


baiknya kita tidak terlalu mengekang kebesbasan pria. Kalau kita terlalu


mengekang juga tidak baik pada hubungan yang telah dijalani. Bebaskan saja.


Tugas kita adalah lebih baik kita melihatnya dari jauh. Sedang apa yang


dilakukan kekasih kita?” jelas Sascha.


“Baik


kak,” balas Dita. “Aku juga akan menerapkan nasihat kakak pada sebuah hubungan.


Yang di mana kita bisa menjalaninya dengan sehat.”


“Bagus


itu,” sahut Sascha.


“Ah...


sepertinya kakak berpengalaman soal pacaran?” tanya Dita.


“Aku tidak


berpengalaman soal berpacaran. Tapi aku sering melakukan riset sama anak


kantoran. Mana yang posesif dan mana enggak,” jawab Sascha. “Kalau ceweknya


yang terlalu posesif juga engga bisa membuat cowoknya enggak nyaman.”


“Kakak


mau ke mana sekarang?” tanya Dita.


“Kakak


mau ke kantor. Mau membereskan kasus tiga milyar hilang dari kas pendapatan.

__ADS_1


Kak Eric sangat bingung sekarang,” jawab Sascha sedang berganti baju.


“Apa?”


pekik Dita.


“Ya...


itu benar,” jawab Sascha. “Kemarin belum sempat memecahkan kasusnya karena


sudah badmood duluan. Pagi-pagi pergi ke apartemen kakak kamu malah ketemu


Risa.”


“Maaksud


kakak Risa Amalia?” tanya Dita. “Pacarnya Billi?”


“Ya...


bahkan Risa sendiri sudah memiliki anak. Entah anaknya Billi aku juga tidak


tahu. Yang pasti Risa You knowlah,” jawab Sascha dengan serius.


“Astaga...


itu bocah... Apakah kakak dimarahin?” tanya Dita.


“Pastinya.


Untung saja ada Marty,” jawab Sascha.


“Apakah


apartemen yang kakak tempati itu gedungnya miliknya Kak Tommy?” tanya Dita.


“Ya...


itu benar. Tinggal lapor ke abanmu itu Risa akan diusir dari apartemen,” jawab


Sascha. “Tapi aku enggak tahu diusir apa enggak? Soalnya Marty ada di sana.”


“Mudah-mudahan


diusir sih kak. Keterlaluan sekali. Jangankan sama kakak... sama oramg lain


juga begitu,” ucap Dita.


“Apakah


kamu serius?” tanya Sascha yang pura-pura tidak mengerti.


“Lha...


kakak enggak tahu kalau Risa model ibu kota terkenal? Bahkan Risa sering


membintangi sejumlah produk terkenal. Namanya terpampang di manapun,” jelas


Dita.


“Enggak


memilih film yang dibintangi oleh Matt Damon yang berjudul The Bourne series.


Itu juga nontonya rame-rame bersama mereka,” jawab Sascha dengan jujur.


“Kakak


jujur sekali menjawabnya. Kalau ada Risa, pasti protes tuh bocah,” ledek Dita.


“Memang


begitu toh jawabannya. Kenapa juga harus ditutupi segala?” tanya Sascha yang


membuat Dita tertawa terbahak-bahak.


“Ah...


kakak sangat lucu sekali,” puji Dita yang membuat Sascha mengedipkan matanya.


Mata Dita


tak sengaja menangkap mata Sascha yang berkedip. Entah kenapa sang kakak


perempuannya hari ini sangat menggodanya.


“Kalau


kamu tahu, bisa tanyakan kak Tommy sana Kak Dewa. Merekalah yang tahu apa yang


aku tonton,” ucap Sascha. “Kak Dewa sudah bangun ya?”


“Jangan


harap Kak Dewa sudah bangun apa belum? Karena Kak Dewa paling malas bangun


pagi,” celetuk Dita.


“Aish...


bagaimana itu kakak?” tanya Sascha.


“Memangnya


kenapa?” tanya Dita balik.


“Berangkat


pagi biar enggak macet,” jawab Sascha.


“Bangunin


kak,” suruh Dita.


“Terpaksa


aku akan membabgunkan kakak kamu itu,” ucap Sascha. “Mau berangkat bersama apa


tidak?”


“Enggak

__ADS_1


dech. Aku mau berangkat bareng sama mama,” jawab Dita yang beranjak bangun.


“Ya


udah,” balas Sascha.


“Tapi


kak?” pamggil Dita.


“Ada


apa?” tanya Sascha.


“Dua


Minggu lagi aku selesai syuting. Mama pengen aku kembali ke Amerika. Aku


meminta bantuan pada kakak,” jawab Dita.


“Bantuan


apa?’ tanya Sascha lagi yang sedang meraih ponselnya.


“Aku


sudah bilang sama Kak Dewa kalau yang mengurus penalti aku adalah kakak,” jawab


Sascha. “Terus?”


“Kakak


ada waktu kapan?’ tanya Dita.


“Terserah


kamu saja. Kamu telepon aku berangkat,” jawab Sascha. “Tapi kalau sudah masuk


rapat, kemungkinan aku akan menundanya beberapa jam ke depan.”


“Kakak


kapan ada rapat?’ tanya Dita.


“Entahlah


kapan,” jawab Sascha. “Atau nanti kakau sudah ada ada waktunya. Aku akan


menghubungi kamu.”


“Baiklah


kak,” balas Dita yang menganggukkan kepalanya.


“Aku


duluan ya,” pamit Sascha.


“Oke,”


sahut Dita.


Sascha


akhirnya pergi meninggalkan Dita di dalam kamar sendirian. Ia segera menuju ke


kamar Dewa. Namun sebelum masuk Tara melihat Sascha yang sudah segar kembali.


Ia mendekati Sascha sambil berkata, “Kamu sudah ditunggu sama Dewa di depan.”


“Aku


sangka masih tidur,” jawab Sascha.


“Enggak.


Katanya mau ke Jakarta pagi ini. Makanya mama mau ke kamar kamu. Kamunya sudah


bangun,” ucap Tara.


“Ya udah


dech ma... aku mau berangkat dulu ya,” pamit Sasccha.


“Hati-hati


di jalan ya,” sahut Tara.


“Baik


ma,” balas Sascha.


Akhirnya


Sascha langsung pergi keluar. Benar apa yang dikatakan oleh Tara, Dewa sudah


bersiap-siap memakai menunggunya. Begitu juga dengan lainnya, mereka sudah siap


meluncur ke Jakarta. Dengan serempak mereka meninggalkan vila itu sambil


berjalan beriringan.


Sedangkan


Risa memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.


Mobil, rumah dan seluruh fasilitas mewah sudah ditarik oleh Jaya. Bisa


dikatakan Risa sudah jatuh miskin. Ia melihat rumah mewah itu sambil tersenyum


manis. Otaknya mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa menikmati rumah itu


beserta fasilitas ada? Namun dirinya tidak perlu susah payah bekerja keras.


“Bagaimana


aku bisa mendapatkan rumah itu tanpa harus bekerja? Jujur aku malas sekali


mencari kerja. Ngapain lagi kerja capek-capek di kantor? Atau aku akan kembali


lagi ke klub malam untuk mendapatkan uang bermilyaran rupiah,” batin Risa.

__ADS_1


__ADS_2