
“Kita
tetap mencarinya,” jawab Eric.
“Baiklah
kalau begitu. Besok aku akan mencarinya. Aku juga enggak bawa laptop,” ucap
Sascha.
Keesokan
paginya. Sascha terbangun tepat berkumandang adzan shubuh. Dirinya membuka mata
sambil melihat Dita yang tertidur terlelap.
“Pagi
ini memang sangat indah buatku dan seluruh makhluk hidup di dunia ini. Semoga
pada pagi ini aku bisa menemukan kasusnya Kak Eric,” ucap Sascha dalam hati
sambil berdoa.
Setelah
itu Sascha memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. Sementara itu Dita mebuka
mata sambil mencari keberadaan Sascha. Ia tidak menemukan Sascha saat ini
berada di sampingnya. Lalu Dita mendengar suara gemericik air sambil tersenyum
manis. Ia menyangka kakak peremuannya itu kabur entah ke mana.
Selesai
membereskan tubuhnya Sascha keluar dari toilet. Ia melihat Dita sambil
tersenyum manis. Lalu Sascha mendekati Dita sambil menghempaskan bokongnya di
samping Dita.
“Ada
apa?” tanya Sascha.
“Kak
Tommy memintaku untuk menjadi istrinya,” jawab Dita yang membuat Sascha
tersenyum lebar.
“Apakah
kamu serius?” tanya Sascha.
“Ya...
aku serius,” jawab Dita.
“Akhirnya...
kamu sudah menjadi milik orang lain,” ucap Sascha tulus. “Aku tahu Kak Tommy
orangnya baik. Meskipun agak resek sedikit.”
“Benarkah
itu?” tanya Dita.
“Ya...
itu memang benar. Tapi aku juga sangat menyayanginya sebagai kakakku sendiri,”
jawab Sascha. “Jangan cemburu ya... Kami sering mengobrol berdua dan yang kita
bahas adalah tentang pekerjaan. Selebihnya itu tidak ada yang dibicarakan.”
“Aku
paham soal itu kak,” jawab Dita.
“Alangkah
baiknya kita tidak terlalu mengekang kebesbasan pria. Kalau kita terlalu
mengekang juga tidak baik pada hubungan yang telah dijalani. Bebaskan saja.
Tugas kita adalah lebih baik kita melihatnya dari jauh. Sedang apa yang
dilakukan kekasih kita?” jelas Sascha.
“Baik
kak,” balas Dita. “Aku juga akan menerapkan nasihat kakak pada sebuah hubungan.
Yang di mana kita bisa menjalaninya dengan sehat.”
“Bagus
itu,” sahut Sascha.
“Ah...
sepertinya kakak berpengalaman soal pacaran?” tanya Dita.
“Aku tidak
berpengalaman soal berpacaran. Tapi aku sering melakukan riset sama anak
kantoran. Mana yang posesif dan mana enggak,” jawab Sascha. “Kalau ceweknya
yang terlalu posesif juga engga bisa membuat cowoknya enggak nyaman.”
“Kakak
mau ke mana sekarang?” tanya Dita.
“Kakak
mau ke kantor. Mau membereskan kasus tiga milyar hilang dari kas pendapatan.
__ADS_1
Kak Eric sangat bingung sekarang,” jawab Sascha sedang berganti baju.
“Apa?”
pekik Dita.
“Ya...
itu benar,” jawab Sascha. “Kemarin belum sempat memecahkan kasusnya karena
sudah badmood duluan. Pagi-pagi pergi ke apartemen kakak kamu malah ketemu
Risa.”
“Maaksud
kakak Risa Amalia?” tanya Dita. “Pacarnya Billi?”
“Ya...
bahkan Risa sendiri sudah memiliki anak. Entah anaknya Billi aku juga tidak
tahu. Yang pasti Risa You knowlah,” jawab Sascha dengan serius.
“Astaga...
itu bocah... Apakah kakak dimarahin?” tanya Dita.
“Pastinya.
Untung saja ada Marty,” jawab Sascha.
“Apakah
apartemen yang kakak tempati itu gedungnya miliknya Kak Tommy?” tanya Dita.
“Ya...
itu benar. Tinggal lapor ke abanmu itu Risa akan diusir dari apartemen,” jawab
Sascha. “Tapi aku enggak tahu diusir apa enggak? Soalnya Marty ada di sana.”
“Mudah-mudahan
diusir sih kak. Keterlaluan sekali. Jangankan sama kakak... sama oramg lain
juga begitu,” ucap Dita.
“Apakah
kamu serius?” tanya Sascha yang pura-pura tidak mengerti.
“Lha...
kakak enggak tahu kalau Risa model ibu kota terkenal? Bahkan Risa sering
membintangi sejumlah produk terkenal. Namanya terpampang di manapun,” jelas
Dita.
“Enggak
memilih film yang dibintangi oleh Matt Damon yang berjudul The Bourne series.
Itu juga nontonya rame-rame bersama mereka,” jawab Sascha dengan jujur.
“Kakak
jujur sekali menjawabnya. Kalau ada Risa, pasti protes tuh bocah,” ledek Dita.
“Memang
begitu toh jawabannya. Kenapa juga harus ditutupi segala?” tanya Sascha yang
membuat Dita tertawa terbahak-bahak.
“Ah...
kakak sangat lucu sekali,” puji Dita yang membuat Sascha mengedipkan matanya.
Mata Dita
tak sengaja menangkap mata Sascha yang berkedip. Entah kenapa sang kakak
perempuannya hari ini sangat menggodanya.
“Kalau
kamu tahu, bisa tanyakan kak Tommy sana Kak Dewa. Merekalah yang tahu apa yang
aku tonton,” ucap Sascha. “Kak Dewa sudah bangun ya?”
“Jangan
harap Kak Dewa sudah bangun apa belum? Karena Kak Dewa paling malas bangun
pagi,” celetuk Dita.
“Aish...
bagaimana itu kakak?” tanya Sascha.
“Memangnya
kenapa?” tanya Dita balik.
“Berangkat
pagi biar enggak macet,” jawab Sascha.
“Bangunin
kak,” suruh Dita.
“Terpaksa
aku akan membabgunkan kakak kamu itu,” ucap Sascha. “Mau berangkat bersama apa
tidak?”
“Enggak
__ADS_1
dech. Aku mau berangkat bareng sama mama,” jawab Dita yang beranjak bangun.
“Ya
udah,” balas Sascha.
“Tapi
kak?” pamggil Dita.
“Ada
apa?” tanya Sascha.
“Dua
Minggu lagi aku selesai syuting. Mama pengen aku kembali ke Amerika. Aku
meminta bantuan pada kakak,” jawab Dita.
“Bantuan
apa?’ tanya Sascha lagi yang sedang meraih ponselnya.
“Aku
sudah bilang sama Kak Dewa kalau yang mengurus penalti aku adalah kakak,” jawab
Sascha. “Terus?”
“Kakak
ada waktu kapan?’ tanya Dita.
“Terserah
kamu saja. Kamu telepon aku berangkat,” jawab Sascha. “Tapi kalau sudah masuk
rapat, kemungkinan aku akan menundanya beberapa jam ke depan.”
“Kakak
kapan ada rapat?’ tanya Dita.
“Entahlah
kapan,” jawab Sascha. “Atau nanti kakau sudah ada ada waktunya. Aku akan
menghubungi kamu.”
“Baiklah
kak,” balas Dita yang menganggukkan kepalanya.
“Aku
duluan ya,” pamit Sascha.
“Oke,”
sahut Dita.
Sascha
akhirnya pergi meninggalkan Dita di dalam kamar sendirian. Ia segera menuju ke
kamar Dewa. Namun sebelum masuk Tara melihat Sascha yang sudah segar kembali.
Ia mendekati Sascha sambil berkata, “Kamu sudah ditunggu sama Dewa di depan.”
“Aku
sangka masih tidur,” jawab Sascha.
“Enggak.
Katanya mau ke Jakarta pagi ini. Makanya mama mau ke kamar kamu. Kamunya sudah
bangun,” ucap Tara.
“Ya udah
dech ma... aku mau berangkat dulu ya,” pamit Sasccha.
“Hati-hati
di jalan ya,” sahut Tara.
“Baik
ma,” balas Sascha.
Akhirnya
Sascha langsung pergi keluar. Benar apa yang dikatakan oleh Tara, Dewa sudah
bersiap-siap memakai menunggunya. Begitu juga dengan lainnya, mereka sudah siap
meluncur ke Jakarta. Dengan serempak mereka meninggalkan vila itu sambil
berjalan beriringan.
Sedangkan
Risa memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi.
Mobil, rumah dan seluruh fasilitas mewah sudah ditarik oleh Jaya. Bisa
dikatakan Risa sudah jatuh miskin. Ia melihat rumah mewah itu sambil tersenyum
manis. Otaknya mulai berpikir, bagaimana caranya ia bisa menikmati rumah itu
beserta fasilitas ada? Namun dirinya tidak perlu susah payah bekerja keras.
“Bagaimana
aku bisa mendapatkan rumah itu tanpa harus bekerja? Jujur aku malas sekali
mencari kerja. Ngapain lagi kerja capek-capek di kantor? Atau aku akan kembali
lagi ke klub malam untuk mendapatkan uang bermilyaran rupiah,” batin Risa.
__ADS_1