Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KENANGAN TERINDAH YANG MASIH TERSIMPAN.


__ADS_3

"Ada apa sayang?'' tanya Gerre dengan lembut.


"Terima kasih ya atas semua kenangan yang terukir indah. Dan papa memasang semua fotoku dari aku lahir hingga menghilang. Aku tidak tahu harus berucap apa-apa lagi,'' jawab Sascha yang memeluk Gerre.


"Sama-sama sayang. Jangan pernah menyesali hidupmu yang seperti ini. Kelak pengalaman menghilang kamu jadikan sebuah pelajaran. Bagaimana caranya kamu bisa bertahan hidup di luar sana? Papa tahu kamu adalah anak yang hebat. Anak yang kuat. Bahkan pengalaman kamu di luar lebih banyak ketimbang papa,'' jawab Gerre dengan mata memerah karena menahan air matanya yang mulai keluar dari pelupuk matanya.


Gerre masih membayangkan bagaimana sang putri hidup di luar sana. Di luar mansion kehidupan menjadi keras. Gerre sebagai ahli waris beberapa sektor perusahaan mengaku kalah. Namun Gerre bisa memetik dari cerita Sascha.


Sascha melepaskan Gerre sambil mengangkat wajahnya. Untung saja tinggi badan Sascha 176 cm. Sedangkan Gerre tingginya mencapai 185 cm. Jadi Sascha tidak terlalu meengangkat wajahnya.


"Papa menangis?'' tanya Sascha.


"Tidak. Papa tidak menangis. Papa sedang membayangkan ketika kamu berada di luar sana,'' jawab Gerre yang berbohong.


"Semuanya pasti ada hikmahnya. Kita bisa petik semuanya. Toh aku sangat terima kasih sama orangtuanya Billi saat mereka menculikku,'' jawab Sascha.


"Kalau begitu bersihkan tubuhmu. Kata mamamu nanti akan ada pertemuan dengan calon mempelai?" tanya Gerre.


"Iya pa. Papa Devan ingin mengundang seluruh koleganya di pernikahan kami. Berhubung saat itu papa enggak ada jadi kami enggak bisa mutusin,'' jawab Lee.


"Oke,'' balas Gerre.


Sascha menganggukan kepalanya dan naik ke atas. Gerre lupa kalau Sascha baru saja datang ke mansion ini. Ketika menaiki tangga lebih jauh, Gerre mulai berteriak, "Sa... apakah kamu tahu di mana kamaru?"


"Masih ingat pa. Kamarku bersebelahan dengan kamar papa. Dan di dalam ada pintu penghubung untuk bisa masuk ke kamar utama,'' jawab Sascha.


"Baiklah kalau begitu,'' balas Gerre.


Sascha melanjutkan kakinya menaiki tangga dengan santai. Diam-diam Sascha melihat ada bayangan dirinya sedang berlarian. Canda tawanya bersama Gerre dan Chloe.


Ketika sudah sampai di atas Chloe memegang Sascha sambil tersenyum dan berkata, "Mama sudah menyiapkan gaun. Pakailah buat menyambut Dewa dan calon mertua.''


"Apakah aku harus memakai gaun?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Iya. Kamu harus memakainya. Mama akan ajarin kamu menjadi seorang bangsawan. Jika kamu memegang perusahan, maka kamu harus mengimbanginya. Apalagi calon suami kamu adalah seorang pembisnis muda cukup berpengaruh di dunia ini,'' saran Chloe.


Sascha teringat akan Dewa yang memiliki jabatan penting dan berpengaruh di dunia ini. Sascha menyetujui saran dari sang mama. Ia harus ikut dalam pertemuan-pertemuan penting formal maupun informal bersama kliennya.


"Mama benar juga. Aku tidak mempermalukan Kak Dewa,'' sahut Sascha.


Chloe mengajaknya menuju ke kamar. Lalu Chloe berteriak untuk memanggil pelayan. Belum sempat berteriak Sascha melarangnya, "Tidak perlu ma. Biar aku yang menyiapkan semuanya. Aku bisa sendiri ma.''


"Enggak sayang. Para pelayan di sini harus melayani kamu seperti seorang putri,'' pinta Chloe.


"Cuma mempersiapkan air di dalam bak lalu buat berendam,'' ucap Sascha. "Sascha masih bisa kok ma."


"Memang,'' balas Chloe yang masih bingung dengan sifat Sascha.


Dengan terpaksa Chloe mengalah. Chloe tidak akan memaksa Sascha memanggilkan pelayan. Diam-diam hatinya membuncah karena sifat mandiri Sascha.


Dua jam berlalu. Sascha sedang bersantai menikmati dinginnya angin yang sedang menerpa di pipi. Sascha mengambil gelas yang berisi susu coklat lalu meminumnya pelan-pelan. Tak lama datang Dewa sambil memberikan ponsel yang apel bekas digigit.


"Nih... Untuk kamu," ucap Dewa yang menghempaskan bokongnya di samping Sascha.


"Ya... Kamu bisa menghubungi bapak ibu. Nomormu masih yang lama," ujar Dewa.


"Kenapa enggak pake nomor yang baru? Nomor negara Jerman atau Amerika?" tanya Sascha.


"Klien kamu banyak dari Indonesia. Mereka juga akan kehilangan kamu. Begitu juga dengan aku," jawab Dewa.


"Maksudnya apa kak?" tanya Sascha.


Dewa menghela nafasnya sambil mengusap wajahnya. Kenapa malam ini otak Sascha yang jenius malah hilang seketika. Kemudian Dewa menatap wajah Sascha sambil menjawab, "Bukannya klien kamu adalah klien aku. Jika kamu kehilangan klien yang pasti juga aku rugi."


Seketika Sascha sadar dan melihat Dewa. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum malu, "Maafkan aku kak. Aku baru saja sadar."


"Yay... Kamu pasti mikirin aku ya. Hingga lupa dengan klien pentingku?" tanya Dewa yang tersenyum smirk.

__ADS_1


"Kakak mah gitu. Sascha lupa kalau berhubungan dengan klien," jawab Sascha yang menunduk malu.


"Enggak apa-apa sih kalau kamu lupa. Tapi kamu tidak lupa dengan kakak," celetuk Dewa.


"Aku enggak lupa sama kakak," jawab Sascha.


"Lalu?" tanya Dewa.


"Ya enggak gitu kali kak. Aku baru sadar kalau diriku masih terikat kontrak dengan AA Groups dan D'Stars Inc," jawab Sascha.


"Oh.... Begitu," sahut Dewa yang membuat Sascha yang kesal.


"Kakak jadi ambil tugas dari papa?" tanya Sascha.


"Jadi. Besok malam kita akan beraksi," jawab Dewa.


"Kenapa kita kerja nanti malam? Bukannya kita siang bisa melakukannya?" tanya Sascha.


"Aapakah kamu paham dengan sistem keamanan yang dimiliki perusahaan papa?" tanya Dewa.


Sascha menganggukkan kepalanya dan baru saja paham. Sascha malam ini belum begitu tersambung dengan pembicaraannya. Setelah mengetahui tentang sistem keamanan yang dimiliki oleh perusahaan Devan, Sascha baru sadar.


"Memangnya papa make apa sih jaringan sistem keamanan?" tanya Sascha yang baru serius.


"Entahlah. Aku enggak tahu. Selama D'Stars Inc dan AA Groups berdiri aku memakai Leo sebagai ahli IT. Aku belum tahu sistem keamanan papa. Aku harus mengajak Leo," jawab Dewa.


"Kakak benar. Aku baru sadar sekarang," balas Sascha. "Kok kakak tahu aku disini?" tanya Sascha.


"Papa yang memberitahukan aku. Papa Devan dan mama Tara sudah datang. Mereka sedang mengobrol. Sepertinya papamu enggak ingin membuat pesta mewah mengingat kamu sudah kembali. Karena papa kamu ingin melindungi kamu. Disisi lain papa ingin membuat pesta mewah," jawab Dewa.


"Memang berat sih kalau soal ini. Bukannya kita yang akan memutuskan pernihakan kita?" tanya Sascha.


"Kamu mintanya bagaimana? Aku hanya ikut kamu saja. Kamu konsepnya hanya potong tumpeng ayo saja. Aku tidak jadi masalah," jawab Dewa.

__ADS_1


"Ah... Iya... Nasi tumpeng. Kita menikah di kantor catatan sipil lalu pulang ke mansion. Lalu kita akan melakukan potong tumpeng bersama dan merayakan bersama para pelayan. Aku harap pernikahan ini hanya keluarga kita yang tahu. Selain itu juga aku tidak ingin pernikahan ini menjadi konsumsi publik. Soalnya aku bukan seorang selebritis," ungkap Sascha.


"Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin tahu kehidupan kita?" tanya Dewa yang menatap Sascha.


__ADS_2