Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MASALAH BARU.


__ADS_3

"Aku yakin bisa menerima pekerjaanmu yang berat itu. Jangan samakan aku dengan mereka," jawab Sascha.


"Baguslah... Cepat atau lambat kamu harus bisa melakukannya," puji Dewa.


"Kalau begitu aku akan mempersiapkan semua koper yang akan dibawa ke Jepang. Sepertinya kita di sini hanya singgah untuk sementara waktu," ujar Sascha.


"Ya kamu benar. Tapi kita harus melakukannya. Aku sangat merindukan kakekku," ucap Dewa.


Beberapa saat kemudian ada sebuah jet tepat mendarat di depan villa tersebut. Mereka sungguh sangat terkejut. Bukannya Sascha menghubungi Pak Ardi beberapa menit yang lalu? Kenapa jet itu sudah datang terlebih dahulu?


Mau tidak mau saja langsung mengambil seluruh kopernya untuk dibawa ke depan. Sementara itu Dewa berdiri dan melihat jet pribadi tersebut.


Sontak saja Dewa kaget. Karena jet yang mendarat adalah milik sang mama. Matanya membulat ketika melihat sang Mama turun dari pesawat.


"Kenapa Mama berada di sini? Bukannya mama akan kembali ke New York? Ada apa sebenarnya jika mama menyusulku?" tanya Dewa dalam hati secara bertubi-tubi.


Tara yang baru saja turun dari pesawat langsung mendekati Dewa. Ia memakai baju serba hitam menandakan ada sebuah bahaya mengancam.


Beberapa saat kemudian datang saja sambil membawa koper. Wanita berparas cantik itu langsung melihat sang Mama mertua semakin mendekat. Tatapannya beralih ke arah Dewa dan segera bertanya kepada dewa namun tidak dijawab sama sekali.


Bukannya Dewa tidak mau menjawab. Dewa juga bingung apa yang sedang terjadi? Kenapa tiba-tiba dada sang Mama datang dengan memakai baju hitam. Bagi Black Tiger baju hitam menandakan akan ada bahaya. Entah itu bahaya mengancam hidup sang pemilik atau orang terdekatnya atau juga perusahaannya. Semua orang tidak tahu itu.


Setelah mendekat Tara menatap wajah Sascha dan Dewa dengan tatapan membunuh. Mereka langsung menelan salivanya dengan susah payah. Dengan demikian mereka masih bingung dan belum bertanya apapun.


"Apakah kalian sudah siap?" tanya Tara.


"Kalau aku belum siap gimana ma?" tanya Dewa balik.

__ADS_1


"Siap tidak siap maka kamu harus siap!" perintah Tara.


"Baiklah... Kami akan ikut mama," seru Sascha.


"Baiklah kalau begitu. Persiapkan barang-barang kalian. Karena kita harus pergi ke Jepang!" perintah Tara.


Mereka akhirnya menuruti keinginan Tara untuk pergi ke Jepang. Suasana di sana sangat mencekam sekali. Ada beberapa pihak yang ingin melihat kematian Aoyama. Makanya cara meminta Dewa dan Sascha untuk ke sana.


Mau tidak mau mereka harus berangkat jam ini juga. Mereka belum sempat bertanya Ada apa sebenarnya di pusat? Ketika masuk ke dalam mereka disambut oleh para petinggi Black Tiger. Mereka adalah Tommy, Bima, Ian, Bryan, Leo dan Devan yang sedang bersantai.


"Kenapa kalian di sini?" tanya Dewa.


"Kamu ini bodoh atau apa sih? Bukannya kamu adalah ketuanya dan kami adalah kaki tanganmu? Apakah kamu ingin bekerja sendirian? Ingin rasanya aku ingin menghajarmu kali ini Dewa!" geram Devan yang selama ini adalah kaki tangan Dewa.


Sasha melihat anak dan ayah itu saling berdebat. Ingin rasanya Sascha melemparkan keduanya ke samudra. Namun apa daya Sascha tidak akan melakukannya. Ia lebih memilih duduk bersama para kakaknya itu.


"Ada apa sih Kak?" tanya Sascha sambil berbisik ke arah Bryan.


"Kamu tahu ada masalah besar di pusat?" tanya Bryan balik.


"Aku belum tahu Kak apa masalah sebenarnya? Firasat ku mengatakan kalau pusat tidak baik-baik saja," jawab Sascha.


"Kemungkinan besar ada tiga orang yang sekarang mengendalikan perusahaan tersebut. Mereka sengaja ditugaskan oleh seseorang berada di belakang. Itulah mereka sedang bertugas sekarang. Bisa dikatakan Mereka ingin menghancurkan Kakak Aoyama," terang Bryan.


"Bukannya masalah itu selesai? Kenapa masih ada timbul lagi? Kalau aku pikir pasti ada sesuatu yang disembunyikan," kata Sascha sedang menatap wajah Bryan.


Jujur saja Sascha hanya bisa terdiam menatap wajah Bryan. Baginya ini yang kesekian kali untuk menghancurkan Aoyama. Kemudian Sascha hanya bisa menghela nafasnya sambil bertanya, "Mmangnya siapa sih yang ingin menghancurkan Kakek Aoyama?"

__ADS_1


"Masih belum tahu jawabannya. entah kenapa kok aku merasa ada yang aneh dalam kasus ini. Cepat atau lambat orang-orang seperti itu akan bergerak. Kalau kita tidak turun tangan maka perusahaan itu akan hancur lebur," jelas Bima.


"Apakah orang-orang itu adalah orang yang tidak mau menerima hasil rapat di Seoul kemarin?" tanya Sascha.


"Iya kamu benar. Merekalah yang ingin menduduki kursi presiden direktur. mereka secara terang-terangan ingin mendepak kakek Aoyama dari sana," sahut Tara.


"Baiklah... Cepat atau lambat aku akan menyingkirkannya satu persatu. Enak saja mereka ingin menduduki jabatan itu. Seharusnya yang menduduki jabatan itu adalah Kak Dewa atau Mas Kobe atau juga lainnya yang masih hubungan dengan keluarga Nakata," kesal Sascha.


"Itulah mereka. Mereka memang sengaja melakukannya secara terang-terangan. Apalagi di akhir tahun ini mereka akan melancarkan semua ide yang sudah dibuatnya," jelas Devan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Sascha dengan serius.


"Kita harus menyelidikinya terlebih dahulu. Jika tidak ada bukti maka kita tidak bisa menuduhnya begitu saja. Soal kakek biarkan Papa yang mengambilnya. Papa akan menyembunyikannya di suatu tempat," jawab Devan.


"Lalu bagaimana dengan Kak Dewa?" tanya Sascha.


"Dewa masih berada di Jepang dan menduduki kursi kakek. Aku ingin kalian bekerja sama dengan kompak. Jika tidak kompak maka kita akan runtuh sendiri. Musuh lebih kuat daripada kemarin," jawab Devan dengan serius.


"Baiklah akan aku lakukan. Kalau begitu aku siap berjuang," ucap Sascha.


Selamat dalam perjalanan mereka memilih untuk diam. Bahasa yang biasanya berceloteh hal-hal yang aneh, dirinya memilih untuk diam saja. Otaknya berpikir keras dan menyusun sebuah rencana. Lalu apakah para pria tidak membaca situasi ini? Jawabannya hanya satu tidak. Mereka memiliki strategi sendiri namun untuk pribadi masing-masing. Beda lagi dengan Dewa, pria berkulit putih itu harus merebut kursi kakek Aoyama. Jika tidak mereka bisa mendudukinya. Dewa tidak akan mau itu. Karena di dalam surat wasiat yang ditulis oleh leluhurnya, perusahaan tersebut akan jatuh ke tangan keturunan Nakata. Mau tidak mau Dewa sebagai ahli waris akan merebutnya dan menendang mereka semua dari perusahaan tersebut.


Jakarta Indonesia.


Fatin dan Firly semakin kesal karena ulah Billi. Bagaimana tidak mereka menyuruh Billi untuk kembali jawabannya gampang.


Sebelum pergi ke penjara untuk menjemput Anton, mereka sempat cekcok dan saling memaki. Billy yang tidak terima dikatakan pria lemah sangat marah sekali. Ditambah lagi drama antara Putri Risa yang menangis secara terus-menerus. Mereka tidak mau menghentikan tangis anak itu. Padahal kalau dilihat anak bayi itu sangat kelaparan dan hanya meminta susu satu botol saja. Di manakah hati nurani mereka?

__ADS_1


__ADS_2