
"Papa mau nasihat sama kamu. Mau kamu pake apa enggak terserah. Papa juga bukan pria sempurna di mata kalian. Papa ingin membagikan nasihat buat kamu dan kalian. Papa dulu seperti kamu. Papa adalah seorang badboy. Suka bergonta-ganti teman di ranjang," ucap Gerre yang sengaja membuka kebiasaannya.
"Aku tidak percaya kalau papa badboy. Aku sangat percaya jika papa adalah pria baik-baik," celetuk Leo.
"Itu tidak benar. Chasingnya saja baik-baik. Tapi dalamnya bobrok," sahut Gerre. "Ya semua orang aku adalah pria baik-baik yang tidak terkena skandal. Sebenarnya ada tapi papa menutupinya dengan uang."
"Apakah mama tahu soal itu?" tanya Dewa.
"Ya... Mama tahu soal itu. Bahkan papa adalah orang yang pertama menghancurkan mamamu," jawab Gerre yang setengah menyesal.
"Sepertinya papa setengah menyesal?" tanya Dewa yang mengetahui sedikit penyesalan Gerre.
"Papa memang menyesal tapi itu hanya setengah. Setengahnya papa bersyukur mendapatkan mama Chloe. Jika papa tidak mendapatkan mama Chloe bisa dipastikan hidup papa hancur," jawab Gerre. "Hanya karena mamamulah papa akhirnya sadar. Ditambah lagi dengan kedatangan Sascha di keluarga kami."
"Kenapa papa enggak mau punya anak lagi?" tanya Dewa.
"Enggak. Papa memang sengaja tidak ingin memiliki anak," jawab Gerre yang mengingat ketika Chloe melahirkan.
"Kenapa pa? Harusnya papa punya anak tiga empat atau lima?" tanya Dewa yang curiga.
"Aku enggak tega melihat Chloe melahirkan. Aku memutuskan untuk memiliki Sascha saja. Jujur saja saat aku menemani Chloe, aku menangis. Ah... Kamu belum tahu saja melihat seorang perempuan yang bertarung nyawa!" kesal Gerre.
"Aku harap Dewa bisa memiliki anak lebih dari satu. Kelak suatu hari aku ingin memiliki cucu banyak," tambah Gerre.
"Amin," sahut Dewa dan lainnya.
"Lalu bagaimana keadaan Sascha?" tanya Bima. "Apakah kepalanya baik-baik saja?"
"Sascha baik-baik saja. Semua memori yang telah lalu telah kembali. Sascha yang takut dengan Billi sekarang sudah mulai berani melawannya. Aku tidak ingin Sascha menjadi lemah," jawab Dewa.
"Buatlah menjadi tangguh. Bahkan sangat tangguh melebihi beton. Jika Sascha bisa menjadi tangguh kemungkinan besar bisa menyerang mereka," usul Eric.
"Tenang saja. Sascha akan menjadi tangguh. Kelak suatu hari nanti Sascha akan menjadi wanita yang tidak tertindas sama sekali," jawab Dewa.
"Apakah kalian merasa kalau Jaya ada yang mengendalikan?" tanya Leo yang mulai curiga.
"Maksudnya?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Lu tahukan Dark Impulsif adalah sebuah organisasi bawah tanah yang bergerak di bidang distributor organ tubuh manusia," jawab Leo yang mulai menganalisis keadaan.
"Gue kagak tahu itu," jawab Dewa.
"Yang dibicarakan oleh Leo benar apa adanya. Enggak mungkinkan kalau Jaya bisa memiliki bisnis haram itu. Namun yang jadi pertanyaan siapakah di belakang Jaya? Mana mungkin Jaya bisa membesarkan Dark Impulsif sangat besar itu," ucap Gerre yang menganalisis tentang Jaya.
"Yang papa katakan benar. Selama ini Jaya santai-santai saja melakukan itu. Berarti bisa dikatakan di belakang Jaya ada lagi. Sekarang yang jadi pertanyaan apakah orang itu orang lokal atau orang internasional?" tambah Tommy.
Mereka menganggukan kepalanya secara serempak. Entah bagaimana mereka mulai curiga dengan Jaya. Bagaimana bisa Jaya santai dan mengendalikan seluruh pekerjaan itu.
"Diakan distributor berarti ada pabriknya. Kalau ada pabriknya bisa dikatakan ada bahan bakunya," celetuk Bryan secara blak-blakan.
"Lu kira organ tubuh manusia barang apa?" tanya Dewa yang tiba-tiba saja kesal dengan perkataan Bryan.
"Ya bukan itu. Gue salah ngomong. Maksudnya pasti ada manusia-manusia yang sengaja organ tubuhnya diambil," sahut Bryan.
Mereka baru sadar dengan perkataan Bryan. Mereka terdiam dan saling memandang. Perkataan Bryan benar apa adanya. Bagaimana Jaya bisa menjadi seorang distributor sedangkan tidak memiliki bahannya.
"Apa mungkin Jaya memiliki rumah sakit?" tanya Ian.
"Tidak," jawab Dewa yang mengetahui keadaan Jaya.
"Sudah malam. Aku mau pulang," pamit Gerre.
"Aku juga. Aku rindu pada Sascha," ucap Dewa yang sangat merindukan Sascha.
"Dasar lu bucin akut!" kesal Ian kepada Dewa.
"Ketimbang lu sampai detik ini tidak memiliki pacar," celetuk Dewa yang beranjak berdiri sambil mengejek Ian.
"Enak saja gue kagak punya pacar. Gue lagi ngincar seseorang!" geram Ian yang dibuat-buat.
"Hayah... Masih incaran. Dari jaman dinosaurus sampai jaman punya ponsel canggih masih jadi incaran," ledek Dewa yang berlari meninggalkan Ian.
"Ah... Sialan lu wa. Gue doain lu punya anak banyak!" teriak Ian.
Gerre hanya tersenyum melihat kekonyolan calon menantunya itu. Memang Dewa sering membuat suasana menjadi rame. Dewa memang ingin menciptakan kekeluargaan dan persahabatan kental.
__ADS_1
"Apakah papa masih mau menjadikan Dewa sebagai menantunya?" tanya Bima.
"Maksudnya?" tanya Gerre balik sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Dewa itu adalah pria konyol pa. Kalau ngomong suka ceplas-ceplos. Kami sering terkena mental gara-gara Dewa," jawab Bima yang tersenyum.
"Memang begitulah Dewa. Semenjak kecil Dewa selalu membuat semua orang tertawa. Bahkan kami sangat terhibur sekali," ujar Gerre yang paham dengan Dewa ketika masih kecil.
Mereka hanya mengedikkan bahunya. Entah bagaimana caranya Sascha bisa menerima Dewa yang suka berbicara asal. Melihat kepergian Dewa mereka tersenyum manis.
"Sepertinya kamu tidak bisa mempengaruhi Dewa," ujar Ian ke Bima.
"Sascha sudah tahu kebiasaan Dewa. Hanya Dewalah yang bisa membuat Sascha tersenyum dan tertawa lepas," sahut Tommy.
Pagi yang cerah di kawasan Hamburg. Sascha terbangun dari tidurnya dan melihat suasana di kamar. Tiba-tiba saja Sascha teringat masa kecilnya di masa lalunya. Sascha menyunggingkan senyumnya sambil mengucap syukur.
Setelah itu Sascha mulai membereskan ranjangnya dan spreinya. Tak lama Linda dan Chloe masuk ke dalam kamar Sascha dan melihat gadis berparas cantik itu sedang bersih-bersih.
"Tidak usah dibersihkan. Biar kepala pelayan yang membersihkan kamarmu ini," ucap Linda.
"Tidak nek. Aku harus membereskan kamar ini. Aku sering bersih-bersih rumah ketika berada di Indonesia," sahut Sascha yang selesai membereskan ranjangnya.
Memang di Indonesia Sascha dituntut untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sascha sering membantu Bu Nirmala dan Pak Andika ketika di desa.
"Ayo ikut nenek dan Mama!" ajak Chloe.
"Kemana ma?" tanya Sascha.
"Kita pergi ke rumah fashion milik mama di New York," jawab Chloe. "Mama ingin mengecek beberapa barang yang akan launching."
"Apakah sekarang?" tanya Sascha yang sangat antusias.
"Ya... Sekarang," jawab Chloe.
"Aku belum mandi ma. Masa ke Amerika hanya begini," celetuk Sascha.
"Okelah kalau begitu. Pergilah mandi setelah itu sarapan. Mama akan menunggu kamu di bawah," suruh Chloe yang tersenyum melihat Sascha.
__ADS_1
Sascha segera masuk ke dalam toilet. Sementara Linda dan Chloe tersenyum melihat Sascha sambil berkata, "Syukurlah. Kita akhirnya bisa bertemu dengan Sascha."
"Doa kita didengarkan oleh Tuhan. Mama sangat bahagia sekali dan nenekmu juga bahagia. Tuhan sangat unik sekali mempertemukan Sascha seperti ini," ucap Linda yang mengucap syukur.