
"Sialan lu!" bentak Bima.
Tommy langsung pergi meninggalkan Bima yang mulai meledakkan amarahnya. Tommy menahan tawanya lalu masuk lift. Di dalam lift Tommy tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Bima marah.
Di ruangan IT, Leo sudah menemukan penyebab kenapa Choi dilempar ke Kanada. Matanya membelalak sempurna dan mulai membaca satu-persatu. Leo hanya berdeham dan meyakini kalau ada yang tidak beres selama ini.
"Ian," panggil Leo.
"Iya," sahut Ian. "Kenapa kita tidak menarik Choi lagi untuk masuk ke dalam Black Tiger?"
"Kalau itu tanyakan saja pada Dewa. Aku tidak bisa memutuskan bahwa Choi masuk lagi," jawab Ian.
"Bukannya Choi adalah anggota bayangan Black Tiger?" sahut Tommy sambil bertanya kepada Leo.
"Maksudnya apa?" tanya Ian.
"Dewa sudah menetapkan kalau Choi itu adalah anggota Black Tiger. Yang dimana Dewa menempatkan dirinya sebagai anggota bayangan. Intinya dia adalah mata-mata," jelas Tommy. "Dua tahun belakangan ini Dewa tidak pernah mengaktifkan Choi sama sekali. Karena kalian tahu beberapa masalah kita bisa mengatasinya. Jika kita ada masalah besar dan melibatkan banyak mafia maka Choi akan turun."
"Kok gue baru tahu ya?" tanya Ian.
"Ya... Iyalah. Namanya juga anggota rahasia. Kemungkinan besar juga Sascha akan dijadikan sebagai anggota rahasia. Kamu tahu bagaimana kehebatan Sascha. Ditambah lagi gen dari sang papa yang ternyata mafia. Otomatis Dewa akan menggemblengnya secara keras," jawab Tommy.
Mereka menganggukan kepalanya tanda paham. Mereka baru tahu kalau Dewa memiliki anggota rahasia. Yang dimana anggota itu akan dibutuhkan ketika ada masalah pelik di dunia bawah tanah. Selama dua tahun belakangan ini Black Tiger sangat aman untuk menjalankan hidup dengan baik. Mereka tidak akan pernah menyenggol mafia lainnya. Karena Dewa mempunyai prinsip tidak mau membuat masalah sama sekali kepada siapapun.
"Kenapa kamu bertanya tentang Choi?" tanya Tommy yang menghempaskan bokongnya di sofa.
"Aku mendapatkan tugas dari Dewa untuk mencari informasi tentang Choi dideportasi ke Kanada," jawab Leo.
Leo akhirnya bercerita tentang masalah Choi. Tommy membelalak dan terkejut dengan pernyataan Leo. Hampir setahun mereka baru sadar kalau Choi memiliki masalah. Tommy merasa geram karena telah ditipu, "Kenapa dia enggak cerita sih?"
"Sabar napa woy. Dewa dan papa baru mengetahui kalau Choi itu dipindah tanpa ada persetujuan. Dan sekarang perusahaan papa sedang ada masalah. Cepat atau lambat bisa dikatakan bangkrut," ucap Leo.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Bima yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.
"Sascha sudah membeli saham DT Groups sebesar sembilan puluh persen. Otomatis DT Groups berada di tangan Sascha. Kemungkinan besar Sascha akan mengajak Dewa dan papa Devan bekerjasama membangun lagi DT Groups. Kata Dewa kita harus bersiap-siap untuk membabtunya. Aku yakin ini masalah besar," jawab Leo.
__ADS_1
New York USA.
Sascha yang selesai makan malam langsung menuju ke taman. Namun ketika ingin keluar Gerre langsung memanggilnya sambil mendekati sang putri, "Kamu mau kemana?"
"Di taman pa," jawab Gerre.
"Ikut papa ke ruangan kerja. Di sana ada papa Devan!" ajak Gerre.
Deg.
Tiba-tiba saja jantung Sascha berdetak kencang. Sascha menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku takut Papa Devan marah."
"Kenapa kamu takut?" tanya Gerre.
"Aku takut papa marah dan membenciku karena lancang membeli semua saham milik DT Groups," jawab Sascha.
"Sa," panggil Gerre yang menghadap ke wajah Sascha.
"Iya pa," jawab Sascha.
"Kamu enggak perlu takut. Kamu ceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Jika kamu enggak cerita bagaimana papamu akan mendapat informasi. Kamu melakukan ini demi kebaikan papa Devan," ucap Gerre.
Gerre paham apa yang akan terjadi ke depannya. Gerre paham apa yang terjadi selanjutnya. Maka dari itu Gerre meminta Sascha untuk mengkonfirmasi semuanya. Agar Devan tahu apa yang sedang terjadi.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Gerre menyuruh Sascha masuk dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Bahkan Devan menatap Gerre tidak bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Begitu juga dengan Dewa yang ikutan tegang melihat Gerre.
"Ada yang harus kita bicarakan!" titah Gerre.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sepertinya ada masalah," jawab Devan.
"Putriku membeli saham milik DT Groups sebesar sembilan puluh persen," ucap Gerre yang menatap wajah Sascha ketakukan.
__ADS_1
"Oh... Aku sangka apa? Tidak ada masalah sama sekali. Aku tahu tujuannya ingin merebut perusahaan itu dari Theodore Yi," sahut Devan yang tersenyum menatap Sascha.
"Papa enggak marah?" tanya Dewa yang bingung.
"Papa sudah memprediksi ini jauh-jauh hari sebelum pertemuan besar di Seoul," jawab Devan.
"Apakah itu benar pa?" tanya Dewa sekali lagi.
"Papa memiliki kepekaan tinggi tahu. Enggak kaya kamu yang cuek pada perusahaan. Kamu tahu setelah kamu membangun perusahaan DT Groups menjadi besar. Dan kamu tahu setelah itu ada rival papa semenjak kuliah yang bernama Theodore Yi. Theodore ingin menghancurkan DT Groups. Tapi tidak berhasil karena aku selalu menghalaunya," jawab Devan.
"Syukurlah," ucap Sascha dengan lega.
"Kenapa kamu takut sama papa?" tanya Devan yang tersenyum hangat.
"Aku takut jika papa membenciku karena perusahaan DT Groups," jawab Sascha.
"Kamu tahu dalam diam papa selalu berdoa kepada Tuhan. Kalau sampai perusahaan DT Groups jatuh ke tangan orang, papa mau perusahaan itu jatuh ke tangan orang yang tepat. Papa berharap orang itu mau melanjutkan perjalanan papa. Karena tujuan papa sebenarnya ingin membantu semua orang yang tidak memiliki pekerjaan," ucap Devan yang hangat. "Kamu enggak perlu takut seperti itu. Siapa tahu kamu bisa memimpin perusahaan dengan baik."
"Sascha akan menjadi asisten aku pa. Biarkan aku yang bekerja," ucap Dewa.
"Asisten apaan? Perasaan Sascha cocok menjadi CEO di DT Groups di masa depan," ujar Devan yang seakan-akan mengejek Dewa.
"Lalu bagaimana dengan nasibku yang sebentar lagi resmi jadi suaminya?" tanya Dewa dengan hati yang meringis.
"Sepertinya kak Dewa yang akan mengurus kesebelasan Dewa junior dech. Bukannya kak Dewa ingin memiliki anak sebelas?" tanya Sascha yang memberikan pertanyaan yang telak buat Dewa.
"Apa!" pekik Dewa yang tergagap mendengar pertanyaan Sascha.
"Apa itu benar?" tanya Devan yang menahan tawa.
"Iya... Itu benar pa. Kak Dewa ingin memiliki anak banyak. Jadinya Kak Dewa yang mengurus mereka saja," jawab Sascha.
Dewa mengusap wajahnya secara kasar. Bagaimana bisa dirinya berganti peran mengurusi kesebelas anak-anaknya? Dewa langsung memasang wajah memelas sambil menggelengkan kepalanya, "Yang... Lebih baik kamu saja yang mengurus mereka. Aku pilih bekerja saja."
"Sungguh kejam kamu sama aku. Masa aku yang mengurus mereka sendiri," kesal Sascha.
__ADS_1
"Nanti aku akan mencari pengasuh setiap anak dua. Jadi kamu tidak kerepotan," ucap Dewa hang frustasi.
Devan dan Gerre terdiam dan langsung tertawa. Mereka sangat puas ketika Sascha mulai membuat Dewa frustasi. Jarang ada yang berani membuat Dewa frustasi. Kemudian Sascha memandang wajah Dewa sambil bertanya, "Apakah kakak mau?"