
“Iya… Aku memang semangat untuk melihat perkembangan bayi kamu. Aku akan menjaganya
dengan baik,” jawab Sascha tersenyum manis.
“Kalau begitu ayolah,” ajak Dewa sambil berdiri dengan diikuti dengan Sascha.
Mereka akhirnya keluar dari apartemen dengan berjalan santai. Jarak antara rumah sakit
sama apartemen sangatlah dekat. Mereka memutuskan untuk berjalan saja.
Sepanjang perjalanan, mereka melihat banyak orang memadu kasih. Tak lama Dewa
melihat ada sepasang muda-mudi berciuman bergaya orang luar. Hal ini membuat
Dewa langsung menutup mata Sascha dan tidak ingin melihatnya.
“Jangan dilihat,” bisik Dewa. “Lebih baik kita jalan saja.”
“Sedari tadi aku sudah melihatnya. Mereka sangat berani sekali melakukannya,” jelas
Sascha yang membuat Dewa melepaskan tangannya.
“Oh… ya udah,” ucap Dewa yang ketinggalan berita. “Kok kamu enggak menutupi mata indah
kamu itu?”
“Enggak perlu,” jawab Sascha. “Bukannya kita sudah pernah melakukannya?”
“Tapi kita nggak sepanas itu,” jawab Dewa yang sebenarnya ingin menunjukkan kalau
dirinya bisa melakukannya.
“Kamu kok
aneh sekali,” ucap Sascha.
“Karena aku ingin mengajarimu berciuman dengan sangat panas melebihi mereka,” sahut
Dewa yang memegang tangan Sascha.
“Oh… kamu ingin pamer kepada mereka?” tanya Sascha.
“Iya.. aku ingin pamer kepada mereka. Aku ingin mengajari mereka berciuman dengan
baik dan benar,” jelas Dewa.
“Astaga… Dewa... kamu itu?” kesal Sascha.
Tak sengaja Sascha melihat Dewa yang kesal. Ia hanya menghembuskan nafasnya dengan
kasar, Bisa-bisanya Dewa mengajari mereka berciuman dengan memakai hasrat.
Ingin rasanya ia menghajar Dewa habis-habisan.
“Bisa enggak sih kamu tidak melakukan hal gila?” tanya Sascha yang membuat Dewa
tertawa.
__ADS_1
“Aku enggak bisa. Karena ada kamu aku sudah gila,” jawab Dewa yang memang mengaku
dirinya gila ketika dekat dengan Sascha.
“Jadi aku selama ini gila karena terkontaminasi sama kamu?” tanya Sascha yang membuang
nafasnya dengan kesal.
“Bisa jadi,” jawab Dewa yang membetulkan omongan Sascha.
“Astaga… ini orang,” kesal Sascha.
“Memang kenyataannya begitu. Aku gila. Kamu gila. Sama-sama gilanya,” ungkap Dewa sedang bahagia.
“Kamu yang mengajari aku,” Sascha mencebik mulutnya karena kesal.
“Janganlah kamu kayak begitu. Mengakulah jika kamu ikut-ikutan gila,” ledek Dewa.
“Aku enggak mau gila. Aku ingin waras selamanya. Jika aku waras bisa merawatmu dan
anak-anakmu,” kesal Sascha yang ingin menghajar Dewa.
“Nggak usah kesal terhadapku. Aku memang gila. Aku ingin kamu berbuat begitu,” sahut Dewa.
“Terserah kamu deh. Aku hanya ingin mengucapkan itu saja,” ucap Sascha.
Begitulah jika Dewa dan Sascha sedang berdua. Mereka memang sengaja tidak melakukan pembicaraan apapun tentang kantor. Mereka memang melepaskan itu semuanya dan membicarakan yang tidak ada ujung masalahnya.
Bagaimana dengan lainnya? Mereka juga ikut nimbrung. Mereka tertawa mendengar apa kata Sascha dan Dewa. Sesungguhnya Dewa dan Sascha jika tidak membicarakan apapun. Namun ada saja yang menjadi bahan topik karena Sascha lebih dulu berceloteh.
“Selamat malam Bu Sascha,” sapa sang dokter senior sambil membaca nama Sascha.
“Selamat malam dok,” sapa Sascha balik.
“Kalau begitu anda duduk terlebih dulu,” suruh Dr. Indah dengan ramah
“Terima kasih dok,” balas Sascha.
Dewa dan Sascha akhirnya duduk berhadapan dengan tenang. Sebelum mereka bicara dokter itu langsung menghentikan pekerjaannya.
“Oh... iya... perkenalkan nama saya Dr. Indah yang bertugas malam ini,” sahut Dr. Indah yang memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Sascha dan mengajak suami saya ke sini," ucap Sascha sambil memperkenalkan dirinya ke Dr. Indah.
"Baiklah. Selama ini ada keluhan apa ya?" tanya Dr. Indah.
"Keluhan saya, sebulan ini saya tidak kedatangan tamu. Kepala saya sering pusing dan perut saya tidak enak sama sekali. Mata saya sering berkunang-kunang. Akhir-akhir ini saya sangat malas sekali untuk melakukan apapun. Tapi untuk makan saya normal. Saya bisa memakan apapun itu.
"Apakah anda sedang mengalami morning sickness?" tanya Dr. Indah.
"Iya dok. Saya mengalaminya dua hari terakhir ini. Tapi saya tidak sering mengalaminya. Ini sangat aneh bagi saya sendiri," jawab Sascha.
"Kalau begitu kita cek saja. Apa benar ibu hamil atau tidak?" ucap Dr. Indah.
"Baik dok," sahut Sascha.
Dr. Indah langsung mengajak Sascha ke laboratoriumnya. Sascha dibantu oleh salah satu suster untuk naik ke brangkar.
__ADS_1
Suster lainnya sedang mempersiapkan alat USG yang akan dipergunakan unutk memeriksa Sascha.
Suster yang membantu Sascha, menyibak kemeja Sascha dan langsung mengoles-ngoleskan gel di atas perutnya.
Lalu Dr. Indah mengambil alat untuk menaruhnya di perut Sascha. Kemudian ia menggerak-gerakkannya hingga layar monitor terlihat jelas ada dua kantung dalam perut Sascha.
"Bu... lihatlah... ada dua kantung berada di dalam perut," ucap Dr.Indah sambil menunjukkan dua kantung di layar monitor.
"Apakah aku bermimpi?" tanya Sascha sambil tersenyum manis.
"Tidak. Ibu tidak bermimpi. Ini nyata," jawab Dr.Indah dengan ramah.
Sementara Dewa malah terdiam mematung. Ia malah bingung apa yang dirasakan sekarang. Matanya tertuju ke arah layar itu sambil menahan air matanya. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan menjadi seorang ayah.
"Kak," panggil Sascha.
Dewa tidak menghiraukan apa kata Sascha.ia sangat takjub melihat dua kantung itu yang akan menjadi calon anaknya. Meskipun masih kecil, Dewa akan menjaganya.
"Kak," panggil Sascha sekali lagi.
Dr. Indah akhirnya paham apa yang dirasakan oleh Dewa. Pria bertubuh kekar itu masih diam mematung.
"Biarkan saja dok. Kemungkinan besar suami saya masih bingung," jelas Sascha.
"Aku enggak bingung. Aku sangat takjub sekali pada ciptaan Tuhan. Apakah ini adalah hasil kenakalanku?" tanya Dewa yang membuat Sascha bingung.
Bisa-bisanya Dewa mengatakan seperti itu. Ia tidak menyangka kalau ucapan Dewa membuat para suster dan Dr.Indah menahan tawa.
Dengan ramahnya Dewa menyuruh mereka tertawa dan memberikan wejangan bijak oleh mereka, "Kalau ingin tertawa... tertawa saja. Janganlah dipendam begitu saja. Karena kalau dipendam bisa mengganggu kesehatan. Lagian ini juga... hasil kenakalan aku. Bukankah setiap pria pasti pernah melakukan ini dan membuat semua wanita perutnya akan besar?"
Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Pria itu memang nakal dan berhasil membuat para wanita hamil. mereka akhirnya meledakkan tawanya karena tidak kuat dengan perkataan Dewa.
Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia hanya bisa membatin apa yang dikatakan oleh Dewa.
Setelah selesai, mereka kembali lagi ke meja Dr. Indah. Di sana mereka mendapatkan penjelasan dari Dr. Indah. Selesai mendapatkan penjelasan dari Dr. indah, Dewa bertanya tentang soal ranjang. Dengan sabarnya Dr. Inda langsung memberikan wejangan apa yang boleh dilakukan dan tidak. Apalagi Dr. Indah menjelaskan gaya apa yang bisa dipakai. Penjelasan Dr. Indah sangatlah jelas. Karena Dr. Indah sediri melihat Dewa sangat serius unutk menyambut kedatangan si kembar.
Selesai dari rumah sakit, Dewa mengajak Sascha pergi ke alun-alun kota Surabaya. Dewa mengajak Sascha untuk berjalan-jalan. Dewa sangat bahagia sekali unutk kali ini.
Tidak sengaja Dewa menemukan penjual kembang gula. Ia mulai teringat akan kenangannya masa lalu bersama Sascha.
Saat itu Dewa kecil mengajak Sascha membeli kembang gula di pusat kota New York. Dewa membelikan kembang gula itu. Selesai membeli kembang gula itu, bukannya dikasih malah dimakan sendiri. Sascha menjadi kesal terhadap Dewa. Bisa-bisanya kembang gula itu habis hanya sekali lahap saja.
Dengan cepat Sascha berlari sambil mencari keberadaan Tara. Ia melihat Tara sedang mengobrol sama Devan. Sascha berteriak lalu mengatakan kalau Dewa sangat nakal. Ia mengadu kalau kembang gula itu habis.ia juga berkata kalau dirinya tidak diberikan sama sekali.
Tara hanya tersenyum melihat kenakalan sang putra. Ia melihat Dewa lalu mempertanyakan kenapa kembang gula Sascha dihabiskan tidak ada sisa sama sekali.
Dewa mulai bercerita kalau Sascha dilarang makan yang manis-manis nanti giginya rusak. Devan tersenyum manis melihat sang putra bisa membela diri. Sungguh ini sangat lucu sekali buat mereka.
"Apakah kamu masih ingat sama kisah kembang gula itu?" tanya Dewa.
Sascha tersenyum manis mendengar pertanyaan sang suami. Ia menganggukan kepalanya. Ia mulai menatap wajah Dewa sambil berkata, "Aku sudah mengingat semuanya. Kamu melarangku memakan manis karena amanat mama Chloe."
"Ya itu benar. Aku sengaja melakukannya karena menjaga gigimu tidak sakit saat tidur malam," ucap Dewa.
"Hmmp... kamu benar. Semenjak kecil aku memang sering sekali sakit gigi," jelas Sascha.
"Apakah kamu masih marah sama aku?" tanya Dewa.
__ADS_1