Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RAHASIA KAKEK AOYAMA.


__ADS_3

Bima meraih ponselnya lalu menghubungi sang pengawalnya. Ia memberikan tugas untuk mengikuti Ibu tersebut. Setelah itu mereka kembali ke hotel dengan hati yang gembira. Mungkinkah ini adalah kebahagiaan meskipun sangat sederhana sekali?


Dewa yang sedang menunggu mereka hanya bisa tersenyum. Pasalnya mereka mendapatkan tugas dari kakek Aoyama. Dewa yakin misinya itu selesai dengan baik. Jika saja ada Sascha di sana, Kemungkinan besar, wanita berparas cantik itu pun ikut membantunya. Bahkan Sascha sangat semangat sekali untuk membantu ibu itu.


"Kenapa kamu tertawa Kak?" tanya Sascha yang baru sadar jika sang suami sedari tadi tersenyum lalu tertawa.


"Kamu tahu Kakek Aoyama memberikan challenge kepada Bima dan Paman Kobe?" tanya Dewa ke arah Sascha.


Sascha menggelengkan kepalanya karena tidak tahu. Ia hanya tersenyum manis sambil bertanya, "Memangnya ada apa Kak?"


"Mereka sedang diberikan challenge untuk menjual buah-buahan.Nggak sampai satu jam buah-buahan itu langsung ludes. Challenge yang diberikan oleh kakek sudah berakhir. Mereka sangat bahagia dan memposting saat berjualan ke sosial media. Aku baru saja membukanya. Mereka sungguh luar biasa.


"Ke mana yang lainnya?" tanya Sascha yang dari tadi ruangan itu kosong.


"Mereka sedang untuk bermain game horor. Game favoritmu. Entah siapa yang menang?" jawab Dewa dengan serius.


Sascha pun tersenyum dan membayangkan mereka sedang berperang dengan para hantu. Sascha tidak menyangka kalau mereka memainkan game favoritnya itu. Ia lalu mengambil ponselnya dan masuk ke dalam game tersebut. Kemudian Sascha bermain dengan leluasa.


"Kamu nggak makan dulu?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Aku baru saja menghabiskan roti ayam milik Kak Tommy. Rasanya sangat enak sekali. Ditambah lagi aku baru saja minum susu hamil. Jadi aku sekarang kekenyangan," Jawab Sascha sambil menunggu mereka datang. "Apakah kakak tidak memberitahukan kepada kakek? Kalau Kakak sebentar lagi akan menjadi buyut."


"Aku sudah memberitahukannya. Kakek sangat senang sekali mendengar kamu hamil. Kemungkinan besar Kamu akan tinggal di Jepang setelah ini," jawab Dewa.


"Kalau kita tinggal di Jepang, apakah kita tinggal serumah sama kakek?" tanya Sascha.


"Papa melarangku untuk tinggal di sana. Bapak ingin melihatku mandiri dan mengurus kamu dan anak-anakku beserta rumah. Kalau dipikir-pikir sih iya ada benarnya. Kalau kita sering berkumpul dengan keluarga lainnya. Kita tidak akan bisa menjadi Mandiri. Selain itu juga rumah tersebut sudah ditempati oleh dua keluarga sekaligus. Satu keluarga itu memiliki jiwa ikut campur.Jadinya aku memutuskan untuk tinggal bersamamu di apartemen mungil," jelas Dewa.


"Memangnya siapa saja kak? Kok aku nggak tahu sama sekali ya?" tanya Sascha.


"Kalau diceritakan itu ribet sekali. Mereka adalah benalu. Mereka menginginkan kekayaan kakek. Tapi semuanya aku yang mengelolanya sampai saat ini. Makanya Paman Kobe tidak mau tinggal di situ. Takut sang istri stres," jawab Dewa.


"Ribet sekali jadinya. Memangnya kamu berani melawan mereka? Kalau aku pikir-pikir janganlah melawan mereka," jawab Dewa.


"Apakah kamu ingin mencari amannya saja?" tanya Sascha yang menantang Dewa untuk berani melawan mereka.


"Bukannya begitu sayangku. Mereka itu telah menyandera kakek sudah sejak lama. Kakek sekarang pasrah. Beliau sudah tidak memperdulikan antara hidup dan matinya. Jika kakek melawan mereka bisa saja membunuhnya," ucap Dewa yang membiarkan Sascha berpikir ulang.


"Oh jadi itu ya. Okelah Biarkanlah aku yang berjalan. Mereka tidak akan kubiarkan hidup tenang di rumah itu. Izinkanlah aku hidup di sana. Dalam waktu beberapa bulan mereka akan pergi atau masuk ke dalam jeruji besi. Jika mereka melawan maka aku yang akan melawannya kembali. Jangan panggil aku rubah kecil jika tidak berani melawan mereka!" titah Sascha terhadap Dewa agar menuruti keinginannya tinggal di rumah itu.

__ADS_1


Dewa mencoba menelan salivanya dengan susah payah. Dewa tahu kalau Sascha akan menantang mereka satu persatu. Ia langsung bergidik ngeri sambil menggelengkan kepalanya. Ia lalu pasrah dan mengatakan, "Baiklah. Terserah kamu saja."


Sascha tersenyum lalu berkata, "Baiklah. Aku akan melawan mereka satu persatu. Kamu lindungi kakek sebaik mungkin. Awas aja jika kakek tergores sedikitpun. Kamu tidak akan mendapatkan data selama sebulan. Apakah kamu paham dengan perkataanku ini?"


Dewa langsung menghela nafasnya dengan kasar. Sascha memang pantas untuk dijadikan ketua Black Tiger. Namun Ke manakah Dewa, jika saja menjadi ketua Black Tiger selanjutnya? Ini sangat sungguh mengerikan.


"Tiba-tiba saja kamu kok mengerikan seperti itu yang?" tanya Dewa yang mulai gelisah dengan Sascha.


"Tiba-tiba saja kamu berubah menjadi rubah kecil. Jujur aku sangat ketakutan sekali. Jika kamu berubah menjadi rubah kecil seperti itu," jawab Dewa yang dibarengi oleh tawa Sascha.


"Lagian kamu ada-ada saja. Coba deh kamu pikir. Jika saja Kakak Aoyama dalam kesulitan seperti itu. Apakah kamu mau kakek Aoyama tinggal nama saja? Ketika berada di rumahnya. Coba deh Kakak pikir lagi. Kenapa kita tidak melawannya. Kalau kita tidak melawannya. Mereka bisa menganggap kita sebagai orang lemah. Aku tidak mau menjadi orang lemah. Bertarung ya bertarung. Memakai pedang ya pakai pedang. Ngapain juga takut sama mereka. Kalau mereka adalah seorang benalu. Tinggal ditendang saja dari rumah itu udah cukup. Tapi aku harus mengumpulkan bukti satu persatu. Jika suatu hari nanti, Mereka melawan akan aku kejar. Belajarlah jadi pria pemberani.Jika kamu tidak jadi periode pemberani. Bagaimana bisa kamu melindungi aku?" tanya Sascha.


"Aku hanya mengetes kamu saja. Sebenarnya aku sudah memiliki cara yang jitu. Aku bisa saja mengusir mereka dari rumah. Tapi kayaknya nggak seru jika aku menendang mereka satu persatu. Aku harus memakai trik agar mereka kapok untuk tinggal di rumah itu. Jika sudah kapok dan menyerah mereka akan pergi dari rumah itu satu persatu," ucap Dewa yang membuat Sascha mengacungkan jempolnya dan memeluk pria bertubuh kekar itu.


"Nah gitu dong bang. Jangan mau kalah sama mereka. Bukankah kamu adalah ahli waris di tempat itu?" tanya Sascha.


"Jujur bertahun-tahun ini kakek selalu merasa sedih jika tinggal di rumah. Kamu tahu tadi saat kakek menyuruh menjual buah-buahan kepada Bima dan juga Paman Kobe. Kakek sangat senang sekali menyuruh mereka melakukannya. Bahkan kebahagiaan kakek nggak ada yang bisa diungkapkan dengan kata-kata. Makanya pertemuan kali ini mundur begitu saja. Aku tidak akan menyuruh kakek untuk terburu-buru datang ke sini. Biarkanlah kakek menikmati hidupnya sementara di Jalan Surabaya," jelas Dewa sambil mencium bibir mungil Sascha.


"Ish kalian ini," seru Tommy yang tidak sengaja melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


Dewa pun melepaskan saja lalu melihat Tommy yang sudah datang. Dewa akhirnya duduk dengan santai. Sedangkan sang istri melanjutkan bermain game horor itu. Lalu Dewa bertanya kepada Tommy, "Apakah kakek sudah datang?"


__ADS_2