Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
CURHATAN DITA.


__ADS_3

"Kenapa nggak mau? Aku sebenarnya berani menjadi lady mafia. Tapi aku memikirkan masa depan anak-anakku. Aku nggak akan mati konyol hanya karena perebutan wilayah atau barang-barang yang nggak penting. Jika terjadi peperangan maka aku nggak akan bisa tidur dengan nyenyak. Aku harus melindungi anak-anakku. Aku juga tidak mau melihat para pengawalku terbunuh dengan konyol. Mereka berhak hidup. Mereka juga berhak membiayai keluarganya. Mereka bukan hewan tapi manusia. Kenapa sih harus ada peperangan antar wilayah? Itulah yang menjadi pertanyaanku saat ini. Padahal aku sendiri orangnya ingin menciptakan perdamaian antar sesama," jelas Sascha.


Yang dikatakan oleh Sascha memang benar. Ia sudah memikirkan konsekuensinya ketika menjadi lady mafia. Banyak hal buruk yang akan terjadi kedepannya. Apalagi dirinya akan memiliki bayi kembar yang sangat lucu sekali. Dewa akhirnya memeluk Sascha sangat erat. Ia mulai berpikir ke depannya dan tidak ingin semuanya itu terjadi.


Kalau dirinya tetap saja di dunia bawah tanah, kemungkinan besar nyawanya tidak akan lama lagi. Ia tidak akan melihat sang istri dan anak-anaknya tumbuh. Inilah yang membuat pergolakan dalam hatinya untuk memutuskan sesuatu.


Sascha adalah cahaya yang terang buat Dewa. Sudah bertahun-tahun Dewa berkutat dalam dunia mafia. Akan tetapi dirinya tidak mendapatkan apa-apa. Ia sangat lelah sekali berada di sana. Karena yang dicari tidak ada di dalam sana.


Lalu Dewa teringat akan langkah Kobe. Langkah sang paman agar berhenti dari dunia mafia. Memang benar Kobe sudah mengambil keputusan yang tepat. Sang istri tidak mau melihat suaminya mati dengan konyol. Apalagi mafia di Jepang sangatlah keras. Bisa saja rumah diserang tanpa ada kejelasan. Inilah yang membuat Ayako menjadi was-was untuk menjalani hidup.


"Iya kamu benar. Nggak semudah yang aku bayangkan untuk hidup di bawah tanah sana. Banyak sekali kejadian-kejadian di luar nalarku. Sekali mendapat gesekan semuanya akan terbakar dengan mudah. Nanti akan aku bicarakan pada mama. Semoga saja Mama paham dengan semuanya ini. Aku ingin semuanya dibubarkan saja. Agar tidak ada lagi yang namanya Black Tiger di dunia bawah tanah. Aku ingin hidup normal dan menjalani kehidupan bersamamu," ucap Dewa.


"Itu terserah kamu. Aku hanya memperingatkan kamu saja. Agar kamu bisa menjalani kehidupan normal tanpa ada peperangan dunia bawah tanah. Kalau dipikir-pikir nyawamu itu sangat berharga bagi banyak orang. Nggak semudah orang selamat di dunia sana," celetuk Sascha.


"Kamu benar. Lebih baik ini dibicarakan saja kepada mereka. Thanks kamu sudah mengingatkanku lagi. Sekarang kita tidur dan besok pagi kembali ke Nganjuk. Biarkanlah Bryan mengurus semuanya tentang Pak Desta. Terus aku harus memutuskan untuk mencari manajer keuangan yang baru. Apakah aku harus membuka lowongan? Atau aku mengambil secara acak agar bisa membangun cabang Surabaya lagi?" tanya Dewa sambil menggenggam tangan Sascha.


"Itu terserah kamu. Kalau aku saranin mending mengambil secara acak. Katanya kamu mau mutasi banyak orang di cabang Surabaya ke cabang lainnya?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Masih dibicarakan dengan lainnya. Kata Bima mereka harus ditahan di perusahaan itu sendiri. Mereka akan diperiksa satu persatu, Apakah mereka juga ikut-ikutan jejak langkah Pak Desta? Kalau ikut-ikutan sih ya mohon maaf. Surat pemecatan akan melayang kepada mereka," jawab Dewa.


"Untuk masalah kekosongan, mending kamu ambil dari pusat untuk mengerjakan dan mengedit seluruh keuangan di cabang Surabaya. Aku yakin masih banyak lagi kasus-kasus yang belum terselesaikan sampai saat ini. Itu sih saranku saja. Aku harap kamu nggak akan marah soal ini," kata Sascha.


"Ya kamu benar. Sudah saatnya membereskan kekacauan demi kekacauan yang dibuat oleh Pak Desta. Aku harap semuanya beres dalam waktu sekejap. Nanti aku akan meminta Paman Kobe untuk dibuang ke cabang Surabaya. Sekarang beristirahatlah. Nggak usah terlalu dipikirkan masalah perusahaan dan juga rumah tersebut. Kalau bisa sih nggak sampai sebulan kita harus kembali ke Tokyo terlebih dahulu. Setelah itu pergi ke New York City untuk membuka perusahaanmu itu. Aku yakin nenek tua itu masih bertahan dalam kejahatannya," jelas Dewa.


Sascha menganggukkan kepalanya dan memutuskan untuk tidur. Hari ini adalah hari yang sangat lelah bagi dirinya. Suatu kejahatan yang disimpan akhirnya terbongkar juga. Memang sedari dulu Sascha sudah diincar oleh Pak Desta untuk dibunuh. Karena Sascha sudah mengetahui jejak rekam kejahatannya.


Untung saja saat itu ketika terjadi pembunuhan, Sascha bisa selamat dan langsung pergi dari Surabaya. Jika tidak Sascha sudah menjadi nama saja. Memang tak bisa itu termasuk bos yang sangat kejam sekali. Bahkan banyak sekali para karyawan menjadi kambing hitam hanya karena kesalahannya.


"Selamat pagi Dita," sapa Sascha.


"Selamat pagi Kak Sascha. Ke mana aja sih teleponnya nggak pernah diangkat?" tanya Dita yang sedikit ngambek.


"Bukannya nggak diangkat. Seharian penuh ponselku dibawa sama abangmu itu. Bahkan aku sendiri nggak boleh memegangnya. Ya sudahlah. Kamu bisa menghubungiku lewat Kak Dewa. Kamu pasti bisa memarahinya," jawab Sascha yang mulai membetulkan tempat duduknya itu.


"Aku malah yang dimarahin sama Kak Dewa. Katanya ngapain juga nyari-nyari istriku? Jujur aku sendiri pengen curhat sama kakak. Tapi Kak Dewa sangatlah kejam buat aku," jelas Dita yang membuat Sascha tertawa.

__ADS_1


"Kak Dewa memang begitu orangnya. Entah kenapa sifatnya itu mengajakmu bermusuhan selalu. Tapi untungnya Kak Dewa orangnya sangat sabar menghadapi kejahilan kamu itu. Di mana para mama dan papa?" tanya Sascha.


"Mereka sedang berada di sawah. Mereka sekarang memiliki hobi baru yaitu mengunjungi sawah yang berwarna hijau. Katanya sih kalau melihat warna hijau pada tumbuhan membuat hatinya menjadi damai dan tentram. Mereka berharap bisa memiliki sawah sebanyak ini," jawab Dita.


"Bener juga apa yang dikatakan oleh mereka. Dulu masih ada Kinanti yang membuat masalah. Aku sendiri tidak pernah pulang ke rumah. Aku mutusin pergi ke desa lainnya dan berjalan-jalan. Ujung-ujungnya pergi ke kaki Gunung Salak. Di sana aku sering travel dan melihat banyak sawah yang sudah menghijau. Sampai-sampai orang kampung sana kenal sama aku. Meskipun aku turis mereka menganggapku sebagai warga biasa. Tapi sekarang ini aku nggak bisa ke sana lagi. Aku harus ikut kakakmu kemanapun dia pergi," jelas Sascha.


"Kakak benar. Jika wanita sudah menikah akan ikut dengan suaminya. Tidak akan adanya perpisahan lagi. Aku nggak jadi menikah dengan Kak Tommy. Kak Tommy juga sudah memutuskan untuk tidak membawaku ke keluarganya. Kak Tommy sudah menceritakan keadaan keluarganya. Jadi aku putuskan untuk tidak memperpanjang kisah cinta ini," ucap Dita.


"Kakak juga sudah mendengar apa kata Kak Dewa. Kamu nggak boleh menyerah pada kehidupan dan b*nuh diri hanya karena cinta. Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi. Terutama kamu bisa diterima di keluarganya. Itulah yang aku harapkan dari kamu. Nggak semudah kamu masuk ke dalam keluarga mempelai sang pria. Pasti banyak konflik yang akan kamu temukan. Apalagi jika keluarganya itu nggak suka sama kamu. Kamu bisa memiliki tekanan mental dengan sangat parah sekali," jelas Sascha yang membuat Dita mengerti.


"Kakak benar. Untung saja Mama Chloe memperingatkanku beberapa hari yang lalu. Aku sendiri memang dari kerajaan bisnis Nakata. Dari dulu kakak tahu kan Bagaimana aku sebenarnya. Berhubung aku berdandan dengan sangat sederhana sekali dan menampakkan wajah natural. Kemungkinan besar mereka akan mencibirku. Aku sebenarnya nggak kuat untuk dijadikan sebagai bahan omongan sama mereka. Semoga saja kak Tommy mendapatkan seseorang yang diinginkan oleh keluarganya. Aku sekarang ingin fokus dalam belajar. Usiaku juga masih sangat muda sekali. Bahkan untuk saat ini aku ingin meminta Kak Dewa mendaftarkan Aku sekolah di Harvard," kata Dita.


"Ya sudah nggak apa-apa. Lebih baik kamu fokus saja ke sana. Nanti akan aku serahkan rumah mode kepadamu. Kamu bisa mengambil jurusan desain bersama juga bisnis dan manajemen. Cepat atau lambat kamu harus menargetkan hidupmu agar bisa memegang perusahaan itu. Aku akan membantumu jika ada waktu senggang. Kemungkinan besar sih aku akan terjun ke sana. Karena Kak Dewa tidak mengizinkanku bekerja. Kita lihat saja nanti setelah aku melahirkan. Soalnya sekarang Kak Dewa memintaku untuk fokus dalam kehamilanku. Sebentar lagi aku akan pulang ke Nganjuk bersama Kak Dewa. Semua masalah sudah teratasi," ucap Sascha.


"Aku boleh minta tolong nggak?" tanya Dita.


"Apa itu?" tanya Sascha balik.

__ADS_1


__ADS_2