
"ini memang obrolan sangat mengerikan sekali. Bisa-bisanya kita membicarakan ini di belakang pemiliknya Sascha. Aku pikir sih ini hal yang lumrah. Kita ini adalah seorang pria normal. Otomatis kita menyukai lawan jenis dan tertarik untuk mengenalnya. Jujur ketika mengenalnya, aku mulai terbius dengan kebaikan dan kecantikannya itu. Bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan kalau Dia memiliki inner beauty yang terpancarkan. Ah rasanya aku rindu pada istriku," jelas Kobe yang membuat Timothy kebingungan.
"Kamu ini sangat aneh sekali. Kamu bahas Aulia, eh... Malah kangen istri. Pembicaraan ini kita tutup saja. Aku sangat malas sekali melanjutkan pembicaraan ini," kata Timothy yang memutar bola matanya dengan malas.
Tepat jam 11.00 malam mereka sudah bangun dari tidurnya. Sascha menarik selimutnya yang ditahan oleh Dewa. Sedangkan Dewa masih tertidur lelap. Seketika Sascha mengguncangkan tubuh Dewa hingga terbangun.
"Kak," panggil Sascha.
"Hmmp," sahut Dewa.
"Bangun Kak. Sudah jam sebelas. Cuci muka, pakai baju dan kita akan pergi ke tempat lain. Aku bermimpi kalau si nenek sihir itu berada di tempat terpencil di area hutan. Mereka tinggal di markas yang tidak diketahui oleh banyak orang," jelas Sascha.
Sascha langsung bangun dan melihat jubah sedang di gantung. Ia lantas memindahkan pandangannya ke Dewa. Lalu Dewa terbangun dan tersenyum.
"Kok banyak jubah di sini?" tanya Sascha.
"Kita salah masuk kamar. Kita nggak tidur di kamar. Kita berada di gudang senjata. Yang dimana gudang itu berisikan banyak senjata dan jubah," jawab Dewa sambil berdiri dan memilih jubah.
Mereka pun memakai jubah seperti ala Ninja. Kemudian Sascha menatap Dewa seperti seorang Ninja. Ia tersenyum sambil berkata, "Kamu memang sangat tampan sekali menjadi Ninja. Kamu sangat cocok sekali."
"Sebelum masuk Black Tiger, aku pernah masuk ke dalam klan Nakata. Aku memiliki tugas penting dari kakek yaitu mencari musuh dalam kesunyian. Tapi kedua orang tuaku tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Makanya Kakak sengaja mempertahankan aku dalam tim cobra ini. Tim cobra adalah tim yang ditugaskan untuk mencari keberadaan musuh dalam waktu beberapa hari. Kami memiliki peralatan canggih dan perlengkapan. Setiap berangkat tim cobra tidak pernah memakai jet pribadi. Kami sengaja mengambil uang sendiri dari kantong tim cobra tersebut. Ketika Papa dan Mama sedang melacakku. Maka mereka tidak akan bisa menemukanku. Itulah kenapa kakek sengaja memberikan alternatif untuk memakai pesawat komersil. Kalau pulang baru dijemput oleh jet pribadi milik kakek sendiri. Jadi bisa dikatakan kami menghilang tanpa jejak. Pulang-pulang musuh dalam keadaan menghilang dari pandangan mereka. Aku sendiri sudah menerapkan ini untuk diriku sendiri dan orang lain saat berada di tim," jelas Dewa yang selesai memakai baju tersebut.
Tak berapa lama Daniel dan Kobe masuk. Mereka berdua sedang melihat keberadaan Sascha dan Dewa.
"Kita akan melakukan operasi di malam ini. Aku memiliki insting kalau nenek sihir itu berada di markasnya," ucap Sascha.
"Apakah kamu yakin dengan pembicaraanmu itu?" tanya Kobe.
"Ya aku yakin sepenuhnya. Kalau tidak menemukan si nenek sihir itu, kita bisa menghancurkan markas tersebut tanpa harus mengumumkan kepada nenek sihir. Datang-datang itu nenek sihir bisa pingsan melihat markas kesayangannya terbakar habis," jawab Sascha.
Mata Daniel membulat sempurna. Entah kenapa Daniel merasakan insting Sascha benar. Ia juga menatap wajah Dewa sambil meminta penjelasan.
__ADS_1
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apakah kamu menyukaiku?" tanya Dewa sambil menatap wajah Daniel.
"Sumpah demi langit dan bumi Aku tidak akan pernah menyukai kamu apalagi mencintaimu. Aku ini seorang pria bukan wanita. Aku tidak ingin menjadi pria belok. Aku masih normal menyukai seorang wanita. Bahkan di setiap negara aku banyak memiliki kekasih," kesal Daniel terhadap Dewa.
"Lagian suruh siapa lu mandangin gue kayak gitu. Memang sih, wajah gue bule. Gue mirip banget sama vokalis rock zaman dahulu. Jadinya sampai saat ini aku masih tampan," ledek Dewa yang membuat Daniel semakin kesal.
"Tarian ini selalu saja memperdebatkan ketampanan satu sama lain. Untung aku tidak menyukai kalian semua," kesal Sascha yang menatap mereka berdua dengan horor.
Betapa horornya Sascha kali ini. Matanya seakan ingin menakuti mereka. Tangannya mengepal dan ingin menghajar mereka berdua. Untung saja Sascha teringat akan dirinya sedang mengandung benih dari salah satu pria tersebut.
Kobe terkejut mendengar pernyataan dari Sascha. Bagaimana bisa pernyataan Sascha menghancurkan Dewa dalam waktu seketika? Bahkan dirinya menggelengkan kepalanya sambil mengusap wajahnya itu.
"Kalau kamu tidak menyukai Dewa, kenapa benih supernya itu jadi di dalam perutmu itu?" tanya Kobe yang bingung.
"Aku tidak tahu itu. Yang pastinya mereka tumbuh dengan sendirinya. Sudah ah, aku malas membahas ini. Ayo kita berangkat sekarang," ajak Sascha semakin bersemangat untuk mengejar Anette.
Bagai langit yang runtuh di malam hari. Pernyataan Sascha membuat Dewa semakin membingungkan. Apakah ini yang dinamakan emosi ibu hamil? Memang benar, emosi ibu hamil tidak bisa ditebak dengan benar.
Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya. Karena mereka berdua belum pernah merasakan dekat dengan wanita hamil manapun. Contohnya saja sekarang, Sascha dengan mudahnya mengatakan kalau tidak menyukai Dewa. Itulah kenapa mereka tidak mengetahui emosi ibu hamil.
"Sungguh berat perasaanku ini. Lebih baik aku mengangkat tangan dan membiarkan kamu untuk tidak ikut campur dalam masalah yang sedang kalian hadapi untuk saat ini. Soalnya aku masih pria lajang dan tidak mengetahui Bagaimana ciri-ciri wanita hamil," Daniel berkata jujur dan tidak ingin memperpanjang masalah ini.
"Begitu juga dengan aku. Aku juga tidak ingin mencampuri masalah kalian. Namun begitu aku juga merasakan hal yang sama. Ayako sekarang sering ngambek dan tidak mau aku telepon sama sekali," ucap Kobe yang mengutarakan isi hatinya itu.
"Tidak menjadi masalah buatku. Karena kamu belum pernah dekat dengan wanita hamil sesungguhnya. Di mana asisten gila aku itu? Aku tidak menemukannya sama sekali. Jangan-jangan dia menghilang tanpa jejak," ujar Dewa yang memukul pundak Kobe.
"Paling juga dia tidur. Mungkin saja dia sangat kecapean sekali. Banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan satu persatu di kantor. Apalagi kamu memberikannya tugas untuk menghandle perusahaan milik Aulia. Aku sendiri juga kurang tidur seperti ini. Setelah misi selesai Aku akan tidur sepanjang musim panas hingga bertemu dengan musim gugur," jelas Kobe.
"Memangnya kamu beruang apa? Tidur sepanjang tiga bulan," kesal Dewa.
"Aku bukan beruang tapi manusia. Aku tidak ingin melakukan aktivitas apapun. Karena aku sendiri akan meliburkan diriku dan tidak menerima tugas tim cobra terlebih dahulu," sahut Kobe.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu terbuka.
Seorang pria bule masuk ke dalam ruangan itu. Kemudian pria itu menatap wajah Sascha sedang boring. Ia bingung dengan wanita itu sambil bertanya, "Ada apa? Kenapa kamu boring seperti itu?"
"Kakak tahu nggak? Kalau Kak Dewa itu memang sangat membingungkan. Aku benci wajahnya untuk hari ini," jawab Sascha.
"Ya aku tahu itu. Suami kamu itu memang tampan dan berwibawa. Sepertinya kamu harus menyayanginya dan mencintai sepenuh hati. Kalau kamu terus-terusan membencinya, Kamu tidak akan pernah mendapatkan uang belanjaan. Kamu tidak bisa membeli kembang gula dan coklat," ucap Timothy.
"Besok pagi kamu akan mendapatkan bonus," sahut Dewa yang sengaja memberikan bonus kepada asistennya itu karena telah merayu sang istri untuk berbakti kepadanya.
"Terus kakak tidak akan memberikan aku bonus?" tanya Sascha yang kesal sambil mencari keberadaan si nenek sihir itu di ponselnya.
"Apa yang kamu inginkan? Apakah kamu mau uang dolar, euro atau poundsterling? Atau juga kamu menginginkan sebongkah emas? Nanti akan aku berikan kepadamu semuanya," tanya Dewa sambil tersenyum menatap wajah sang istri.
"Oh tidak terima kasih banyak. Aku hanya ingin beberapa coklat dan kembang gula saja," jawab Sascha.
"Nanti kalau ada minimarket terdekat. Aku akan membelikan kamu coklat buat dimakan sepanjang perjalanan menuju ke markas nenek sihir itu," ucap Dewa yang mendekati Sascha sambil mengecup bibirnya.
Mata Sascha berbinar dengan sempurna. Ia sangat bersyukur sekali mendapatkan kecupan dari Dewa. Benar saja, yang tadinya ngambek langsung berubah menjadi seekor kucing yang menggemaskan. Dewa pun tersenyum sambil menatap wajah sang istri.
"Kenapa kalian memakai jubah?" tanya Timothy.
"Karena kami ingin menangkap nenek sihir itu. Kami tidak ingin kehilangan jejaknya untuk kesekian kalinya," jawab Dewa.
"Sebentar, sini nenek sihir itu adalah seorang tupai. Yang dimana kalian mengejarnya tidak dapat menemukannya. Jejaknya sangat bersih dan tidak ada bekasnya. Bagaimana bisa kamu mencarinya?" tanya Timothy.
"Maksud aku, si nenek sihir itu tidak akan bisa keluar dari negara ini. Master Wa sudah memblok jalur laut, darat dan udara atas nama Annete," jawab Kobe yang sengaja memberikan informasi tersebut.
"Jadi?" tanya Timothy.
__ADS_1