Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
SEMAKIN MENJADI.


__ADS_3

"Kenapa kalian selalu berantem jika bertatap muka seperti ini?" kesal Firly.


"Jujur aku paling malas jika mama berteriak seperti itu. Kalau begitu aku memutuskan untuk pergi dari sini saja!" geram Billi.


"Oh... Sekarang kamu sudah mulai membangkang ya!" bentak batin yang tidak diterima dituduh.


"aku sudah peringatkan kepada Mama agar tidak macam-macam lagi seperti ini. Sudah lama aku tidak bekerja itu juga karena mama. Aku nggak punya uang Mama selalu teriak-teriak seperti ini. Sedangkan Mama selalu melarangku untuk bekerja. Bagaimana hati nuranimu!" tegas Billi.


"Kalian selalu berantem. Bukankah kalian adalah anak dan mama? Aku hampir tiap hari merasakan penyakit jantungku kumat. Bisa nggak sih kalian tidak berantem seperti ini?" bentak Firly yang meninggalkan mereka berdua.


"Mendingan kamu cari Sasa dan bawa pulang ke rumah! Aku sudah muak hidup miskin seperti ini! Ditambah lagi dengan papamu nggak punya penghasilan apapun!" pinta Fatin dengan nada meninggi.


"Oh... Aku sudah bosan dengan permintaan mama. Setiap hari selalu saja bahas Sascha. Aku nggak mengerti apa yang dipikirkan oleh Mama. Mama masih kuat dan masih cantik. Kenapa Mama nggak kerja saja? Kenapa Mama selalu meminta aku untuk membawa istri orang ke sini?" tanya Billi.


"Karena aku malas melakukan pekerjaan apapun. Tanganku takut rusak," jawab Fatin sambil menghina Billi.


"Aku nggak peduli soal itu ma. Sedari dulu Mama selalu menghina orang. Aku nggak mau memisahkan orang yang sudah bahagia dengan seseorang. Jika mama memiliki perlakuan seperti itu. Maka aku tidak akan tinggal di sini. Aku ingin menghilang saja dari sini," ucap Billi yang tidak main-main dengan perkataan Fatin.


Jujur Billi sudah muak dengan perlakuan sang mama. Hidupnya selalu dikekang dan menuruti apa yang diinginkannya. Meskipun sang mama sudah tahu melanggar hukum pasti tetap disuruhnya. Itulah yang membuat Billi muak.


Sudah banyak gadis-gadis yang menjadi korban karena ulah sang mama. Ditambah lagi gadis-gadis itu ada yang bunuh diri.


Ketika keluar dari rumah, Billi berpapasan dengan Anton. Pria itu menatap sang adik yang memiliki pertanyaan. Kemudian Anton mengajaknya ke rumah makan. Di sana Anton memintanya untuk bercerita.


"Ada apa?" tanya Anton.


"Nggak ada apa-apa bang," jawab Billi.


"Akhir-akhir ini kamu selalu berantem sama mama. Memangnya ada masalah apa?"

__ADS_1


"Mama pengen aku memisahkan pernikahan Sascha dengan Dewa. Tapi aku tidak mau melakukannya sama sekali. Memang awal-awalnya aku sangat ingin memisahkannya. Naluriku berkata untuk menolaknya dengan cepat."


"Lebih baik jangan kamu lakukan. Jika kamu melakukannya. Cepat atau lambat kamu mendapatkan karma yang berat. Jangan sampai masa depanmu hancur karena ulahmu sendiri."


"Aku juga seperti itu bang. Gara-gara Mama karirku hancur berantakan seperti ini. Aku seharusnya nggak membohongi fans berat aku dan mengambil seluruh aset yang dimilikinya."


"Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah gila melakukan itu? Kamu nggak berkaca dariku? Aku sudah terkena masalah seperti ini dan masuk dalam penjara itu juga karena mama. Tapi kenapa kamu mengulanginya lagi?" tanya Anton dengan nada kecewa.


"Tapi mama selalu memaksaku bang. Aku harus bagaimana? Jujur selama membangun karir mama selalu memanfaatkanku."


"Memang mama dari dulu ingin menghancurkan anak-anaknya. Sekarang Santi masuk dalam penjara. Santi malah disuruh mencuri uang dari beberapa perusahaan lalu diberikan kepada Mama untuk foya-foya. Di sana Santi sangat menderita sekali. Ingin rasanya bebas seperti dahulu tanpa ada kasus tapi itu tidak bisa."


"Kita harus bagaimana?"


"Kita nggak bisa menolongnya sama sekali. Aku tahu siapa yang memasukkan Santi ke dalam penjara?"


"Siapa itu bang?"


Mendengar nama Tommy, Billi sangat terkejut. Bagaimana bisa Santi melakukan hal itu? Jika saja Billi mengetahui hal itu. Dirinya langsung menyuruh Santi berhenti.


"Rencana Abang bagaimana?" Tanya Billi.


"Setelah ini aku akan pergi ke Papua bisa lepas dari mama. Jika aku masih di sini, Mama akan selalu membuat aku berbuat kejahatan lagi. Aku ingin melepaskan diriku dari hawa nafsu mama yang serakah."


"Kalau begitu ajak aku bang. Aku juga pengen menjadi pria normal. Aku pengen lepas dari keserakahan mama."


"Kalau mau nanti malam kita berangkat. Kita akan menginap di temanku saja."


"Bagaimana caranya aku membuat alasan agar pergi jauh dari sini?"

__ADS_1


"Bilang saja ada pekerjaan yang mendadak."


"Kalau Mama nggak percaya?"


"Iming-imingi tas branded keluaran terbaru. Pasti mamamu percaya dengan hal itu. Setelah berangkat dari sini aku mohon ponselmu dan nomormu itu dibuang saja ke tong sampah. Aku yakin Mama tidak akan pernah lagi menghubungi kamu. Jika kamu nggak mau ya sudahlah. Nikmati saja harimu di sini bersama teriakan-teriakan mama yang nggak jelas itu."


"Bagaimana dengan Santi?"


"Santi sangat menyesali perbuatannya itu. Aku hanya memberikan nasehat agar cepat sadar. biarkanlah Santi mendekam di sana untuk beberapa tahun ke depan. Aku ingin Santi bisa menjalani hidup lebih baik lagi di dalam penjara. Setelah keluar dari penjara Aku harap nanti tidak akan melakukannya lagi."


"Bagaimana dengan papa?"


"Kita tidak akan bisa membawa papa jauh dari rumah."


"Papa sangat menderita sekali di samping mama."


"Sebenarnya kita orang kaya lho. Gara-gara mama kita menjadi seperti ini. Dalam pikiran Mama itu hanyalah uang."


"Bagaimana Mama akan sadar akan hal itu?"


"Mama nggak akan sadar akan hal itu. Dipikirannya hanyalah barang-barang branded agar bisa dipamerkan ke warga sekitar dan teman-teman sosialitanya itu. Bayangkan saja jika mama seperti itu terus menerus kita yang akan diperasnya."


"Bukankah kita menjadi anak yang berbakti?"


"Itu terserah kamu. Aku ingin hidup bahagia dan mencari seorang istri agar bisa merawatku hingga tua. Jika aku seperti ini terus-terusan maka kehidupanku tidak akan berubah sama sekali. Menjadi boneka itu tidak enak. Kita harus berpikir jernih untuk menghadapi semua masalah. Kalau aku sih saranku gitu saja.kalau kamu nggak mau ya sudah aku nggak akan memaksa kamu. Mumpung temanku Memiliki pekerjaan untuk menampungku. Apalagi di sana sedang ada pembukaan cabang baru perusahaannya itu. Kamu sangat cerdas aslinya. Tapi kamu nggak mau mengolah. Andai saja kalau kamu masih bergotak dalam dunia perfilman. Kamu bisa saja mengadukan diri main di film Hollywood. Kamu nggak perlu menunggu kekasihmu itu. Biarkanlah kekasihmu itu bahagia dengan jodohnya sendiri. Jangan menjadi sad boy. Jadilah dirimu sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Itulah nasehatku untukmu. Aku ingin kamu bisa menerimanya."


"Terima kasih bang. Meskipun dulu abang pernah melakukan kesalahan. Aku tidak akan mencontohnya lagi. Mulai saat ini aku ingin menjadi pria baik-baik."


"Anak yang berada di dalam rumah itu, anakmu bukan?"

__ADS_1


"Jujur aku nggak punya anak sama sekali. Itu adalah anaknya Risa. Risa hampir sama dengan Mama," jawab Billi.


"Risa Amelia?" tanya Anton.


__ADS_2