Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RENCANA DITA UNTUK SASCHA.


__ADS_3

“Kayaknya sih,” jawab Sascha sambil duduk di samping Dita.


“Pesen dulu gih. Aku ke sini sengaja tidak memesan,” ucap Dita.


Dewa yang sudah sampai di rumah hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Bisa-bisanya sang mama menculiknya dan mengurungnya di dalam kamar pribadi. Mungkin inilah yang disebut dengan kesialan sepanjang malam ini.


Tidak sengaja Dewa mendapatkan telepon dari Marty. Di sana Marty menceritakan kejadian di mana Billi datang. Dewa pun terkejut dan merasakan jantungnya berdetak kencang. Namun, Marty memberitahukan kalau Sascha tidak bertemu dengan Billi. Akhirnya Dewa bernafas lega karena sang kekasih tidak bertemu dengan Billi sialan itu.


“Kalau begitu perketat keamanan kantor. Aku tidak mau Billi sialan itu lagi datang ke kantor. Bila perlu kamu mengajak Almond bergabung di kantor. Almond adalah anak buah papanya Sascha. Apakah kamu paham?” tanya Dewa.


“Ya... Aku paham,” jawab Marty.


Sambungan terputus.


Dewa sengaja mematikan ponselnya lalu menarik rambut pirangnya itu. Ia tidak menyangka kedatangan kali ini di Indonesia akan rumit. Bayangkan saja baru satu hari saja datang Billi ingin menemuinya. Jujur Dewa masih bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Billi sampai tahu, jika Sascha datang. Dari mana Billi mendapatkan berita itu? Sementara Sascha bukan seorang selebriti? Itulah yang membuat Dewa bingung.


“Jujur saja aku stres kali ini. Berani-beraninya dia datang menemui calon istriku! Memangnya dia siapa? Kok seenaknya masuk ke ruangan kantor tanpa ada pengenal apapun dan mencari istriku. Sepertinya aku harus memperketat keamanan kantorku!” geram Dewa dalam hati.


Dewa segera menghubungi Sascha untuk mencari posisinya berada di mana. Ia sangat takut sekali jika Sascha bertemu dengan Billi. Jujur saja Dewa takut jika Billi mengajaknya pulang ke rumah dan mendapat perlakuan yang tidak enak.


Gadis yang selama ini dikenalnya adalah memiliki sifat santun dan lembut. Bisa-bisanya mereka memaki dan merendahkan martabatnya. Jika Papa Gerre tahu soal ini maka akan sangat marah besar. Papa Gerre juga tidak merelakan anaknya dimaki-maki begitu saja.


Selesai memesan menu makanan, Sascha mendengar teleponnya berdering. Ia segera membuka tasnya lalu meraih ponselnya itu. Kemudian Sascha melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia tersenyum dan langsung menggeser lambang hijau itu.


“Halo,” sapa Sascha dengan suara lembutnya hingga membuat jantung Dewa berdetak kencang.


“Sayang, lagi di mana?” tanya Dewa.


“Aku sekarang bareng Mama dan Dita. Mereka mengajakku makan terlebih dahulu sebelum pulang. Apakah kamu keberatan?” tanya Sascha.

__ADS_1


“Aku nggak keberatan jika bersama mereka. Aku keberatan jika kamu ikut dengan Billi. Kamu tahu kalau diriku ini tidak rela jika mereka memakimu kembali,” jawab Dewa yang tersenyum lega.


“Kak, sepertinya kakak sangat ketakutan sekali?” tanya Sascha.


“Iya, aku sangat ketakutan sekali Jika kamu pergi bersama Billi,” jawab Dewa dengan suara lemah.


“Enggaklah kak. Aku tidak akan pernah kembali lagi ke sana. Aku sudah menjadi milik kakak seutuhnya. Jika aku ke sana maka Kakaklah yang akan tersakiti. Aku tidak mau itu Kak,” ucap Sascha yang mengerti keadaan Dewa.


“Ya udah... Aku percaya sama kamu. Oh iya... Nanti bawain aku sup jagung ya. Aku rindu pada setiap jagung,” pinta Dewa.


“Bagaimana kalau kita buat nanti malam? Rasanya aku sudah lama tidak makan itu,” tanya Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.


“Bolehlah... Aku tunggu di rumah ya,” jawab Dewa.


“Kakak lagi ngapain?” tanya Sascha.


Dewa hanya tertawa terbahak-bahak merasakan sang calon istri sedang marah. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Entah kenapa dirinya sangat lelah setelah bertarung siang tadi. Rasanya Dewa ingin sekali mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Entah kenapa Pak bos sepertinya merasakan nikmatnya surga dunia. Makanya dirinya ingin menikmatinya lagi.


Suasana di kamar Dewa sangat sepi. Kamar yang sangat luas itu hanya ada ranjang king size dan sofa saja. Kamar yang bernuansa putih itu membuat Dewa mengenang masa lalunya. Di kamar ini Dewa pernah sakit demam. Dirinya tidak bisa bangun dan makan. Sementara itu Sascha sebagai sahabatnya mendatangi Dewa. Jujur saja Sascha saat itu rindu pada Dewa.


Setelah tahu Dewa sakit, Sascha merawatnya hingga sembuh. Gadis itu memang sengaja merawatnya dengan penuh kasih sayang. Di kamar inilah Dewa berani mengklaim kalau Sascha adalah miliknya. Malahan secara terang-terangan Dewa sering mengumpulkan foto-foto Sascha ketika sekolah dulu.


“Sebentar lagi... Kamu akan tidur di ranjang ini bersamaku. Cepat atau lambat kita akan memiliki seorang bayi. Andai saja jika itu kenyataan maka aku akan berusaha menjadi ayah yang baik. Ah... Tapi kapan kenyataan itu akan terwujud? Apakah aku harus melakukannya tiap hari? Kemungkinan besar jika Sascha mengandung bayiku. Maka Billy tidak akan mengejar-ngejarnya lagi. Ya.. aku harus membuatnya. Semakin cepat semakin lebih baik,” ucap Dewa tertawa jahat dalam hati.


Setelah mematikan ponsel Sascha sangat kebingungan sekali. Bagaimana bisa Dewa mengatakan itu tanpa disaring? Ingin rasanya Sascha memukul Dewa saat ini juga. Untung saja calon adik iparnya dan calon Mama mertuanya tidak mendengarnya sama sekali.


“Ada apa dengan kakak?” tanya Dita.


“Ah... Enggak. Nggak ada apa-apa Dit,” jawab Sascha.

__ADS_1


“Setelah mendapatkan telepon Kakak sangat aneh sekali,” celetuk Dita.


“Memangnya siapa yang telepon?” tanya Tara.


“Kak Dewa Ma,” jawab Sascha.


“Kenapa?” tanya Tara yang curiga.


“Kak Dewa ingin melanjutkan adegan tadi siang,” jawab Sascha dengan sendu.


“Apakah itu benar?” tanya Dita dengan mata berbinar.


“Kamu kok mendukung kakakmu sih?” tanya Tara dengan wajah geram.


“Bukan begitu Ma... Coba Mama bayangkan. Jika kak Dewa sering melakukan adegan tadi siang, maka dipastikan Kak Sascha bisa mengandung. Jika Kak Sascha sudah berbadan dua, Billi dan keluarganya tidak akan mengejarnya lagi. Jujur aku sangat muak sekali kepada mereka. Mereka menginginkan Kak Sascha kembali hanya untuk diperas,” jawab Dita yang membuat Tarra terdiam sejenak.


“Jadi aku disuruh bagaimana?” tanya Sascha.


“Memiliki seorang bayi,” jawab Dita.


“Aku belum siap memilikinya. Tapi jika demi kebaikan maka aku menerimanya. Aku harus menjalankan dengan Kak Dewa terlebih dahulu. Soalnya masalah ini sangat berat bagiku. Bukannya aku tidak suka dan menolak akan kehadirannya,” ucap Sascha.


“Yang dikatakan kita benar. Kalau kamu memiliki seorang anak, maka seutuhnya kamu menjadi seorang wanita milik Dewa. Mama yakin mereka tidak akan mengejar lagi,” ujar Tara yang mendukung Dita.


“Bagaimana ya ma?” tanya Sascha.


“Itu cara terbaiknya. Jika di antara kalian kedatangan seorang malaikat kecil, maka kamu tidak akan pernah berpisah lagi dari Dewa. Karena malaikat kecilmu sangat membutuhkan kamu,” saran Tarra.


“Apakah kakak mau?” tanya Dita serius.

__ADS_1


__ADS_2