
"Pak Dewa, Pak Bima dan Pak Ian! Mari kita kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Biarkanlah orang tiga ini berkoar-koar semaunya saja. Aku sudah gerah hari ini!" perintah Sascha.
"Baik Bu Sascha," balas mereka serempak.
"Ina," panggil Sascha.
"Iya Bu," sahut Ina.
"Kemarilah! Ikuti kami!" ajak Sascha.
"Baik Bu," balas Ina yang segera mendekati Sascha.
Dengan penuh ketegasan dan keberanian, Sascha akhirnya menolak ajakan Fatin. Ia menyuruh para petinggi dan resepsionis masuk ke dalam.
Sebelum pergi Dewa memberikan kode agar mengusir ketiga orang tersebut. Pria itu tersenyum kemenangan atas penolakan Sascha. Untung Sascha saya tidak terpengaruh oleh kata-kata mereka.
Mereka berteriak-teriak seperti orang kesetanan dan memanggil Sascha. Namun Sascha tidak menggubrisnya sama sekali. Ia masuk ke dalam lift dan sempat melihatnya.
"Gila juga itu orang. Berteriak-teriak di depan umum. Dilihat banyak orang lagi. Kok nggak punya rasa malu," kesel Bima yang dibarengi oleh kekehan Sascha.
"Mereka tidak punya akhlak sama sekali. Sudah ditolak malah ngegas. Seumur hidup aku sering bertemu dengan orang-orang aneh. Tapi merekalah yang lebih aneh ketimbang teman-temanku itu. Aku nggak habis pikir, Kenapa ada orang-orang seperti itu ya?" tanya Ian.
"Percuma kita berdebat sama orang itu. Dia yang melakukan kejahatan. Kita yang disalahkan. Seperti playing victim. Aku nggak habis pikir, Kenapa juga aku bisa berpacaran dengan dia?" jawab Sascha yang membuat orang bingung.
"Jadi selama ini Kakak?" tanya Ina.
"Selama ini apa?" tanya Sascha balik.
"Selama ini Kakak dimanfaatin. Memang sakit hati kakak sekarang," jawab Ina.
"Biarkan saja. Nanti juga kena getahnya," ujar Sascha.
"Kamu tahu ini siapa?" tanya Bima sambil menunjuk Ina.
"Ina Widyawati," jawab Sascha.
"Bukan. Dia adalah anggota mafia Black Tiger," jawab Bima yang membuat Sascha terkejut.
"Apakah itu benar?" tanya Sascha lagi.
"Ya itu benar. Aku sengaja menariknya masuk ke dalam perusahaan ini," jawab Bima.
"Salam Nyonya muda," sapa Ina dengan lembut.
"Huaha... Aku belum menjadi Nyonya muda. Aku juga belum menikah dengan tuanmu itu," sergah Sascha yang menunjuk ke arah Dewa.
__ADS_1
"Jangan dengarkan apa kata Sascha. Kami sudah pernah melakukan di atas ranjang," ucap Dewa.
Ting.
Pintu terbuka.
Mereka akhirnya berpisah untuk menuju ke ruangan masing-masing. Sedangkan Sascha bersama Ina dan Dewa masuk ke dalam ruangan Eric. Mereka melihat Eric memeriksa hasil laporan dengan serius.
"Kak Eric," panggil Sascha.
"Oh.. Ada apa Sa?" tanya Eric sambil mengangkat wajahnya.
"Kakak sudah tahu kan siapa pencurinya?" tanya Sacha lagi.
"Iya aku udah tahu. Rencanamu bagaimana?"
"Apakah aku harus memecatnya sekarang?" tanya Sascha dengan serius.
"Kenapa kamu nggak mengajak Tommy?" tanya Dewa.
"Kak Tommy sudah aku hubungi. Sekarang aku lepas tangan dan menyerahkan kasus ini ke Kak Tommy," jawab Sascha.
"Itu terserah kamu. Aku hanya menyarankan saja," ujar Dewa.
"Yang dikatakan oleh Dewa itu benar. Kalau kita tidak memberikan surat pemecatan, maka sang tersangka akan menuntut kita balik," saran Eric.
"Iya kamu benar. Cepat atau lambat kita harus meng-clirkan semua masalah ini. Aku nggak mau yang namanya Dewi akan playing victim di belakang kita. Dewi adalah temennya Risa. Jadi lebih mudah untuk membuat kekerasan di mana-mana. Apalagi Dewi adalah seorang ratu pemain drama. Bisa jadi Dewi akan membuat masalah menjadi runyam," saran Dewa.
"Baiklah kalau begitu," ucap Sascha.
Beberapa saat kemudian, mata Sascha tertuju kepada Ina. Wanita cantik itu pun langsung mendekati Ina yang masih setia berdiri.
"Bolehkah aku memintamu?" tanya Sascha.
"Boleh. Dengan senang hati saya akan menerima tugas dari anda," jawab Ina.
"Oke. Setiap keluarga itu datang dan membuat keonaran di depan. Tolong laporkan kepada polisi. Kamu harus kuat agar sanggup menjebloskan mereka ke dalam sel jeruji. Setelah itu lapor ke aku. Biar aku yang memperberat hukumannya," pinta Sascha.
"Laksanakan perintahnya. Aku nggak mau orang itu masuk ke dalam perusahaan ini!" tegas Dewa.
Ina menganggukkan kepalanya sambil menyanggupi kemauan mereka. Setelah itu Ina berpamitan untuk keluar dari ruangan itu.
Melihat kepergian Ina, Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya. Untung saja dirinya tidak memperbesar masalah tersebut.
Lima menit berlalu kami datang membawa berkas pemecatan untuk Dewi. Ia mendekati Eric sambil berkata, "Tidak ada uang pesangon buat Dewi. Karena dia sudah mencuri uang 3 miliar dan bekrja hanya 3 bulan ini. Jadi kamu tidak perlu susah-susah mengucurkan dana."
__ADS_1
"Perasaan di sini hanya tiga bulan belum dapat apa-apa. Kalau sudah empat bulan ke atas baru bisa mendapatkan pesangon," sela Sascha.
"Yang penting sesuai dengan perjanjian yang telah kita buat rame-rame," jelas Dewa.
"Aku nggak ikutan. Ngapain juga menyeretku ke dalam sini," kesal Sascha yang membuat mereka tertawa.
"Bukannya kamu dulu pernah memberikan dua atau tiga poin di dalam surat perjanjian itu? Padahal saat itu kamu masih sekolah menengah atas? Apakah kamu lupa tentang hal itu?" tanya Dewa.
"Jangan mengada-ada ah. Masa anak sekolah disuruh ikut-ikutan nimbrung bikin poin surat perjanjian," jawab Sascha sambil memajukan mulutnya beberapa senti ke depan.
"Pacarmu itu benar-benar lupa. Bagaimana bisa dia lupa?" bisik Tommy.
"Biarkan saja. Nanti juga ingat sendiri. Untung saja dia tidak pernah melupakanku," ledek Dewa ke Sascha.
"Sumpah demi langit dan bumi. Semakin lama Kak Dewa menjadi seperti ini," keluh Sascha.
"Kalau gitu kita panggil saja Dewi ke sini. Jangan terlalu lama di sini," pinta Tommy.
"Sudah aku panggil. Dewi sedang menuju ke sini," sahut Eric yang baru saja menghubungi seseorang.
"Sebentar lagi akan ada drama antara Dewi dan kita. Aku harap kalian paham apa maksudku ini. Semenjak aku kuliah Dewi selalu membuat ulah yang nggak penting di kampus. Ditambah lagi dengan Risa temannya Dewi itu. Sama-sama membuat masalah," jelas Sascha.
Sementara di bawah Dewi sedang mendandani wajahnya itu. Ia tidak bekerja sama sekali melainkan bersantai ria. Sifat Dewi dan Risa hampir sama. Ditambah lagi dengan sifat Santi. Jika mereka digabungkan, maka tidak ada orang yang betah bekerja bersamanya.
Sascha tidak tahu, kalau seluruh karyawan bagian divisi keuangan mengeluh atas Dewi. Mereka mencoba bersabar dan menerima Dewi. Namun beberapa hari terakhir Dewi membuat ulah. Dewi berubah menjadi seorang atasan dengan wajah yang angkuh.
"Dewi," panggil Lia.
"Ada apa?" tanya Dewi dengan ketus.
"Disuruh naik ke atas oleh Pak Erik sekarang juga," jawab Lia.
"Ngapain gue ke sana? Kerajinan amat manggil-manggil Gue," ketus Dewi sambil menatap Lia.
Lia memilih diam agar tidak terjadi keributan besar di perusahaan. Mereka sudah tahu watak kasarnya Dewi yang semena-mena.mereka berdoa dengan serempak agar Dewi dikeluarkan dari perusahaan.
Selama ada Dewi ruangan divisi keuangan menjadi panas. Meskipun tiga AC menyala sekaligus. Mereka tidak tahu kenapa ini bisa terjadi?
Dengan penuh percaya dirinya, Dewi segera keluar dari ruangan itu. Otaknya mulai berpikir kalau dirinya akan mendapatkan bonus besar. Ya... Bonus yang di mana dia masuk ke dalam jeruji besi. Sepanjang perjalanan Dewi mulai memamerkan dirinya dan berjalan angkuh.
Jangankan di divisi keuangan, seluruh karyawan perusahaan itu pun mengerti siapa itu Dewi? Jika dirinya dilempar ke tempat lain, penghuni di sana langsung menolaknya. Mereka lebih baik memasukkan orang bodoh tapi tidak angkuh sama sekali.
Itulah moto seluruh karyawan yang berada di perusahaan ini. Jujur, satu kata buat mereka jika melihat Dewi adalah kapok.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu terbuka.
Dewi melihat Dewa, Eric, Tommy dan Sascha. Tiba-tiba saja Sascha langsung mengangkat wajahnya sambil menatap Dewi, "Sebelum kita berbicara, silakan duduk terlebih dahulu."