Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KELEMAHAN DEWA.


__ADS_3

"Kamu ingin kuliah di Belanda?" tanya Dewa.


"Ya kak," jawab Dita yang menunduk lalu tidak ingin memandang wajah Dewa karena ketakutan.


"Hmmmp... kalau begitu, tentukanlah tempatnya dimana? Aku akan membantu kamu mendaftarkan kamu masuk kesana," ucap Dewa.


"Baiklah kak. Ini aku sedang mencarinya," ujar Dita.


"Kenapa kamu tidak ingin kuliah di Tokyo? Kan dekat sekali dengan rumah utama?" tanya Sascha.


"Hmmmp... sepertinya itu tidak perlu kak. Aku ingin sekali belajar mandiri. Aku tidak ingin merepotkan kakak," jelas Dita.


"Kami tidak merasa direpotkan. Kami ingin kamu berkumpul bersama. Kamu tahu melepaskan anak gadis sama saja membuat aku bersedih," kata Sascha yang sengaja menatap wajah Dewa sebenarnya tidak ingin melepaskan sang adik iparnya begitu saja.


Begitu juga dengan Dewa, ia sebenarnya tidak ingin melepaskan sang adik begitu saja. Ini sangat berat sekali baginya. Ia ingin sekali Dita bisa kuliah di Jepang dan menjalani hari-harinya bersama.


Dewa melihat Sascha yang sudah akrab dengan Dita tidak rela memisahkan mereka. Dewa berharap Dita selalu bersamanya. Ia tidak ingin melihat Dita hidupnya dalam bahaya.


"Hmmp... menurut kamu, bisakah kamu kuliah di Tokyo?" tanya Dewa yang memohon agar Dita tidak menjadi kuliah di Belanda.


"Kalau itu mau kakak akan aku pikirkan balik," ujar Dita yang tidak tega meninggalkan Dewa dan Sascha. "Kalau aku tinggal disana bagaimana dengan keluarga disana?"


"Oh... itu. Nanti kita pikirkan baik-baik. Beberapa hari lagi kami akan pergi ke New York. Kami ingin membereskan beberapa kasus disana. Setelah maslah ini selesai, aku ingin sekali membereskan masalah rumah di Nagoya," jawab Dita.


"Apakah kakak akan mengusirnya?" tanya Dita.


"Bukan mengusirnya. Aku masih memberikan tempat tinggal yang layak. Asalkan jangan di Nagoya. Karena aku ingin memberikan dua ibu hamil penuh kenyamanan," jawab Dewa.


"Dua ibu hamil? Siapa lagi yang hamil kak? Bukankah Kak Sascha saja yang hamil?" tanya Dita yang kebingungan.


"Kamu enggak tahu siapa yang hamil lagi?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya.


"Memangnya mama yang hamil lagi?" tanya Sascha lagi.


"Hmmp... aku sudah tidak ingin memiliki adik. Aku hanya ingin memiliki seorang anak dari Sascha. Kamu tahukan usiaku sudah tua?" jawab Dewa sengaja membalikkan pertanyaan buat Dita.


"Lalu siapa yang hamil lagi?" tanya Dita.


"Bibi Ayako," jawab Dewa.


Dita sangat terkejut sekali mendengar apa dikatakan oleh Dewa. Betapa bahagianya ia mendengar sang bibi hamil bersamaan dengan Sascha. Ia sangat menyukai anak kecil. Maka dari itu ia mengurungkan niatnya untuk berkuliah Belanda. Ia memutuskan untuk kuliah di Jepang.


"Lebih baik aku kuliah di Tokyo saja. Atau juga di Nagoya," celetuk Dita yang tersenyum bahagia.


"Sepertinya ada udang dibalik rempeyek," celetuk Dewa sambil menatap Sascha.


"Iyalah kak. Aku ingin sekali merawat sepupuku dan juga keponakanku," jawab Dita dengan cepat.

__ADS_1


"Kamu serius? Apakah kamu bisa merawat bayi kecil?" tanya Dewa yang menatap curiga.


"Jangan kamu tatap Dita dengan curiga kak," sahut Sascha yang tidak ingin Dewa menaruh curiga.


"Hmmp... aku sengaja menaruh curiga. Kenapa dia sangat cepat sekali memberikan jawaban dengan cepat. Seharusnya Dita memberikan jawaban setelah dua hari kemudian," kata Dewa yang mengetahui sifat Dita yang satunya itu.


"Memangnya kenapa kalau aku kuliah di Nagoya?" tanya Dita yang kesal terhadap sang kakak.


"Enggak apa-apa," jawab Dewa yang menatap wajah sang adik dan tertawa jahat.


Plakkkkk.


"Kamu ini apa-apaan sih?Bukannya senang melihat adiknya berkumpul bersamanya. Eh... malah tertawa jahat," kesal Sascha yang menaruh curiga kepada Dewa.


"Kamu tahu ada satu keuntungan buat aku?" tanya Dewa yang masih tertawa jahat kepada Dita.


"Memangnya kakak kesurupan setan apa sih? Kok tertawa jahat sama aku," kesal Dita yang menaruh curiga.


"Sepertinya kamu harus praktek bisnis sama kakak,' jawab Dewa yang mulai memikirkan masa depan sang adik.


"Apakah itu benar?" tanya Dita dengan mata berbinar.


"Iya itu benar. Aku ingin sekali mengajari bisnis yang sesungguhnya. Jika kamu mau tinggal di Tokyo," jawab Dewa yang memberikan sebuah opsi untuk Dita.


"Lebih baik begini," ucap Sascha.


Melhat Sascha tertawa, Dewa dengan cepat mencium Sascha. Tidak sengaja Dita melihat Dewa yang mencium Sascha semakin kesal saja.


"Kakak," kesal Dita dengan menutup wajahnya.


"Kenapa?" tanya Dewa.


"Kenapa kakak selalu saja mencium Kak Sascha di depanku?" tanya Dita yang membuat Dewa tertawa keras.


"Memangnya aku tidak boleh ya mencium istriku sendiri? Apakah kamu memperbolehkan mencium wanita lain?" tanya Dewa sambil meminta izin kepada Dita.


Sascha yang mendengar apa yang dikatakan oleh Dewa sangat Geram sekali. Ia tidak menyangka kalau sang suami ingin mencium wanita lain. Dengan kesalnya, Sascha langsung melihat kucing oyen sedang hamil yang berada di hadapannya.


"Hmmp, aku akan mengizinkan kamu mencium cewek lain. Asalkan," perintah Sascha sambil beranjak berdiri dan mendekati kucing itu.


"Asalkan apa?' tanya Dewa.


"Asalkan kamu mencium yang ini," jawab Sascha yang mengangkat kucing oyen itu dan mengajaknya mendekati Dewa.


Dewa terkejut sekali mendengar pernyataan dari Sascha. Ia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Ia memiliki trauma pada kucing. Karena pernah dicakar hingga berdarah.


"Apa?" pekik Dewa.

__ADS_1


Dita yang melihat Dewa takut sama kucing langsung berlari. dita langsung meledakkan tawanya seketika. Ia sendiri tahu kalau sang kakak sangat takut sekali sama kucing. Padahal baginya kucing itu sangat lucu dan menggemaskan.


"Ada apa dengan Kak Dewa?" tanya Sascha yang melihat Dita sedari tertawa.


"Kakak belum tahu ya?" tanya Dita yang ingin sekali memegang kucing itu.


Sascha yang tahu Dita ingin memegang kucing itu langsung memberikannya ke Dita. Lalu Dita sendiri menaruhnya dan menggendongnya.


"Tahu apa?" tanya Sascha.


"Bagiku ini sudah biasa. Kalau kakak akan tertawa ngakak mendengar penjelasanku," jawab Dita.


Sascha menghempaskan bokongnya lalu mengelus-elus kepala sang kucing itu. ia tidak paham apa yang dimaksud sama Dita.


"Apa maksud kamu?" tanya Sascha.


'Maksudku, Kak Dewa itu takut sama kucing," jawab Dita.


"Kok begitu?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya. "Bukannya kucing itu hewan yang sangat lucu sekali?"


"Memang sangat lucu sekali.Bagi Kak Dewa kucing itu hewan yang paling menyeramkan," jawab Dita.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Sascha.


"Dulu pernah dicakar kucing tetangga sampai berdarah. Kak Dewa sampai menangis kejer dan tidak mau merawat kucing seumur hidupnya," jawab Dita.


"ini sangat aneh sekali bagiku," ujar Sascha.


"Padahal usianya Kak Dewa kalau enggak salah dua belas tahun," sahut Dita yang masih mengingat kejadian di masa lalunya Dewa.


"Jadi dia benar-benar trauma?" tanya Sascha yang membuat Dita paham.


"Iya kak," jawab Dita.


"Bagaimana dengan anak-anaknya kelak? Jika ada yang menyukai kucing?" tanya Sascha.


Hayo siapa yang penasaran dengan wajah Sascha dan Dewa.



Sascha Herdiansyah.



Arie Dewantara.


__ADS_1


Inilah Dita adiknya Dewa.


__ADS_2