
Sascha membuka mata sambil melihat Dewa yang lemah. Sascha sangat jengkel ketika melihat Dewa seperti itu. Apakah ini akting apa bukan ya? Jika Dewa akting, Sascha akan memarahinya. Sascha sering kena tipu oleh Dewa.
"Awas saja kamu pake akting segala?" kesal Sascha dalam hati.
Amar yang melihat Sascha sangat geram. Bisa-bisanya Sascha ikut campur dalam masalah ini. Ingin rasanya Amar membunuhnya saat itu juga.
"Eh... itu pistol turunin dulu!" perintah Sascha.
"Diam!" bentak Amar.
"Lu kalau marah semakin lama kagak nyeremin. Semakin lama lu ngegemesin,'' ejek Sascha yang penuh keberanian.
Dewa hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. Kenapa bisa Sascha berkata seperti itu? Bukannya takut pada penjahat melainkan mengajak debat. Ini sangat disayangkan sekali buat Dewa. Memang sih Sascha memiliki sifat kocak plus konyol. Sangking konyolnya Sascha sering membuat semua orang tertawa.
"Diam lu!" bentak Amar dengan suara meninggi.
Mata Sascha membulat sempurna. Bagaimana bisa Amar yang nobanenenya orang India bisa memakai bahasa gue lu. Bagi Sascha ini sangat aneh sekali. Sementara Kobe hanya menjadi penonton di pojokan saja. Kobe malah menahan tawa melihat kelakuan Sascha yang konyol itu. Kobe tidak akan keluar jika Sascha tidak memintanya. Jika keluar Amar akan terancam bahaya.
"Bagaimana ini Tuan?" tanya Yamada.
"Ah... enggak perlu disesali. Biarkan saja Sascha mengajak berdebat orang itu. Jika kita keluar Amar akan kabur dari sini,'' jawab Kobe.
Amar sebenarnya mengetahui kalau perusahaan yang berada di dalam naungan Nakata"S ada tim penyelidiknya. Namun Amar tidak mengetahui siapa tim penyelidik tersebut sehingga dirinya masih santai. Jika ia tahu siapa tim penyelidik tersebut bisa dipastikan karirnya akan tamat.
"Ngaku orang India. Tapi pakai bahasanya gue lu. Kok gue baru sadar ya. Kenapa juga gue pakai saya kamu. Ini sangat menyebalkan buat aku,'' kesal Sascha yang menatap Amar dengan nyalang.
"Jaga tatapan lu! Kalau lu menatap gue seperti itu! Gue pastikan bisa mencongkel matamu!" bentak Amar.
"Selalu saja membentak. Dasar aki-aki tua!" sungut Sascha.
__ADS_1
"Apa lu bilang!' geram Amar yang darahnya sudah mendidih seperti air panas dengan suhu lima ratus derajat yang tidak terima diejek sebagai aki-aki.
Sascha malah menahan tawa dan memegang perutnya. Entah kenapa malam ini mendapatkan musuh yang tidak bisa ditebak. Saat Sascha meledakkan tawanya, Sascha tidak sengaja melihat senjata yang dipegang oleh Amar. Ternyata senjata itu adalah mainan anak-anak. Sascha semakin keras tertawanya hingga membuat Dewa menghela nafasnya.
"Eh... bro... kamu tahu enggak... itu senjata mainan. Memang jika dilihat sangat mirip dengan aslinya. Tapi yang kamu pegang adalah senjata berbahan plastik. Kamu membelinya dimana? Jangan sampai kamu membelinya di pasar loak ya?" tanya Sascha yang menahan tawa.
Mata Dewa membulat sempurna. Apa benar yang senjata yang dipakai oleh Amar adalah mainan anak-anak? Dewa sangat kesal kepada Amar. Bisa-bisanya Amar menghajarnya lalu menodongkan senjata mainan ke arahnya tadi.
Dewa memutuskan untuk berdiri karena capek berakting terus seperti ini. Lalu Dewa mendekati Sascha sambil menatap sang kekasih itu. Kemudian Dewa bertanya dengan lembut, "Apakah kamu bisa melepaskan tali yang sedang mengikatku?"
Amar semakin murka terhadap Sascha. Bisa-bisanya Sascha membuka jenis pistol yang dikenakan olehnya. Amar segera membuang pistol itu dengan berteriak, "Pistol tak ada guna.''
Sascha hanya terkekeh melihat Amar murka. Sascha langsung membuka ikatan tali yang telah mengikat tangan Dewa. Ternyata oh... ternyata Dewa hanya akting kesakitan. Supaya bisa membuat sang musuh tidak menghajarnya.
Satu kata buat Dewa yaitu KONYOL.
"Enggak sakit?'' tanya Sascha.
Dewa mendekati Sascha sambil berbisik, "Tidak.''
Sascha hanya bisa menepuk jidatnya sambil berteriak, "BAGUS SEKALI AKTING ANDA BRO!"
"Sebentar lagi aku akan mendapatkan penghargaan Grammy Award dengan kategori pemeran pria terbaik,'' ucap Dewa dengan penuh percaya diri sambil menatap wajah Amar menyalang.
Amar langsung tergagap dan tidak bisa berbicara. Amar mulai berteriak memanggil pengawalnya dengan kencang. Agar mereka masuk ke dalam ruangan untuk menangkap Sascha dan Dewa.
"Pengawal! Pengawal!" teriak Amar berkali-kali.
"Ups... sorry. Para pengawal yang telah menjagamu sedang sekarat di lantai. Jika kamu tidak percaya lihat saja sendiri,'' ucap Sascha yang penuh dengan kemenangan.
__ADS_1
"Apa!" pekik Amar yang melangkahkan kakinya keluar.
"Ya... coba saja kamu lihat!" suruh Sascha yang mengibaskan tangannya.
Lucas yang berada di ruangannya terkejut karena tidak menemukan sebuah barang. Lucas segera mengacak-acak ruangan itu hingga berantakan demi sebuah flashdisk. Namun setelah membuatnya berantakan Lucas tidak menemukan barang itu. Ia semakin frustasi dan sangat murka.
Lucas meminta para pengawalnya pergi dari ruangan itu. Lalu Lucas berjalan melalui lorong untuk menuju ke ruangan HRD. Sepanjang perjalanan menuju ke ruangan HRD, Lucas sangat marah dan ingin mencari orang yang telah mengambil barangnya itu. Ketika sampai lorong menuju ruangan HRD, Lucas melihat banyaknya pengawal yang dibawa tadi sekarat. Lucas mengerutkan keningnya sambil bertanya, "Ulah siapa ini?"
Lucas semakin mendekati ruangan HRD lalu dirinya tidak menemukan para pengawal milik Akar yang hidup. Lantas Lucas berpikir, kerjaannya siapa ini?
Sebelum masuk ke dalam Lucas melihat pintu terbelah menjadi dua. Lucas menelan salivanya dengan susah payah. Lantas Lucas berpikir lagi dan memuji siapa yang membuat pintu itu terbelah menjadi dua.
"Keren sekali pintnya bisa terbelah menjadi dua. Padahal pintu ini baru saja diganti seminggu yang lalu,'' puji Lucas.
"Oh... jadi fungsi pintu kaca diganti dengan pintu kayu untuk menutupi kasus korupsi yang telah kalian perbuat!" sarkas Sascha yang selesai membuka tali Dewa.
"Jaga ucapanmu! Jangan menuduh kami korupsi!" bentak Amar.
"Astaga... dari awal kita bertemu kamu kok senang banget membentak aku! Apa kamu enggak capek!" kesal Sascha dengan nada meninggi.
Lucas merasa geram dan mendekati Sascha. Kemudian Lucas mengangkat tangannya lalu mendaratkan ke pipi Sascha. Namun Sascha paham apa yang dilakukan oleh Lucas. Akhirnya Sascha segera menghindar dari pukulan Lucas.
Lucas hanya menghembuskan nafasnya secara kasar karena telah dipermainkan oleh Sascha. Niat ingin menampar malah menampar angin. Jadinya Lucas langsung memasang wajah garang.
Melihat wajah garang Lucas, Sascha malah tertawa lagi. Entah kenapa malam ini Sascha bertemu dengan orang-orang yang sungguh sial dan penuh amarah. Jujur saja Sascha sangat kesal kepada kedua orang itu.
"Kok aku malas ya ketemu dengan kedua orang ini,'' ucap Sascha. "Untung saja aku enggak hamil. Kalau aku hamil anakku pasti mirip kedua orang ini. Ya Tuhan... jujur aku tidak mau memiliki anak seperti dua orang ini.''
Dewa langsung geram apa yang dikatakan oleh Sascha. Bisa-bisanya Sascha mengatakan seperti itu di hadapannya. Lalu Dewa langsung protes dan berteriak, "Anak-anakmu harus mirip aku!"
__ADS_1