
Melihat Sascha yang semangat, Dewa sangat senang sekali. Aura Sascha mencerminkan kalau dirinya memang sering sekali memberikan semangat bagi setiap orang.
"Apakah kalian tidak sadar? Kalau Mama dan Papa sedang mencari kita," tanya Sascha.
"Biarkan saja. Biarkan mereka bersenang-senang mencari kita. Setelah ini kita menghilang dalam beberapa waktu kedepan. Aku yakin mereka tidak akan pernah mencari kita. Memang ini ide yang cukup membingungkan buat kita. Kita nggak bisa seenaknya cerita tentang tim cobra kepada siapapun. Karena tim cobra itu adalah tim yang sangat rahasia sekali. Para pengawal yang kita bawa ini tidak akan pernah mau membocorkan misi ini ke siapapun.
"Kamu tenang saja Aulia. Setelah misi selesai kita akan menghilang beberapa bulan kedepan. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan jejak untuk sementara waktu. Kalau sudah waktunya keluar nanti akan aku beritahukan. Itulah perjalanan tim cobra sebenarnya. Tim yang di mana tidak akan bisa dilacak oleh keberadaan manapun. Jika salah satu ada yang berkhianat maka harus mati di tangan para anggotanya masing-masing. Itulah perjanjian ketika sudah masuk ke dalam tim cobra," jelas Kobe.
Sascha segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas ranselnya. Ia segera mencari nomor telepon Master Wa. Setelah menemukannya ia langsung menghubunginya.
Nagoya Jepang.
Seorang pria yang berada di kantor terkejut karena ponsel berdering. Pria itu sedang menghadiri rapat dan tidak bisa ditinggalkan. Pria itu sengaja mengabaikan panggilannya. Namun pria itu menatap nama yang tertera di layar ponselnya itu. Dengan terpaksa pria itu mengirimkan sebuah pesan agar tidak menghubunginya sekarang.
Kembali lagi ke Ontario. Sascha sangat kesal dengan Master Wa. Bagaimana tidak? Master Wa telah menolak panggilannya. Dengan terpaksa ia mengirimkan sebuah pesan kepada Master Wa.
"Nggak diangkat?" tanya Dewa.
"Nggak hanya direject. Dia hanya menyuruhku mengirimkan sebuah pesan," jawab Sascha yang sedang mengirimkan pesan dengan lengkap.
"Berikan titik koordinat yang lengkap buat dia. Bisa dilacak dan mengobrak-abrik seluruh CCTV yang berada di area sini. Ditambah lagi dia akan menjebol sistem keamanannya untuk mengetahui semua rahasia di markas itu," jelas Kobe.
Tanpa banyak bicara, Sascha langsung mengirimkan titik koordinat tempat tersebut. Kobe yang melihatnya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Sementara yang lainnya sedang melihat keadaan sekitarnya.
"Apakah ini akan menjadi perang besar?" tanya Sascha.
"Tidak ada perang besar. Jika mereka ingin menyerah dan menyerahkan nenek sihir itu ke tangan kita," jawab Dewa yang sebenarnya ingin melakukan perang namun niatnya diurungkan karena kasihan kepada para pengawalnya.
"Sebenarnya suami kamu itu pengen perang. Tapi dia memiliki hati agar tidak terjadi pertumpahan darah. Dia menganut sistem yang sangat aneh sekali. Pergi pulang harus dalam keadaan yang utuh. Makanya untuk saat ini Dewa sangat sensitif sekali dengan keadaannya itu," jelas Kobe yang menganalisis perasaan Dewa.
"Bukannya begitu bro. Aku akan segera menjadi seorang ayah. Kelima puluh pengawal itu, ada sebagian istrinya mengandung. Aku nggak mau mereka meninggal di medan perang seperti ini. Mau tidak mau aku harus mencari cara agar tidak terjadi peperangan," jelas Dewa.
Para pria pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Memang seharusnya ketua tim cobra memperhatikan banyak pengawal. Oleh karena itu Dewa memang memutuskan untuk membawa kembali mereka. Agar calon anaknya tidak akan kehilangan sang ayah ketika lahir ke dunia.
__ADS_1
Dalam hitungan menit Master Wa sudah mengirimkan permintaan Sascha. Setelah itu Sascha membacanya dan hanya tersenyum saja.
"Master Wa sudah memberikan informasi tentang markas ini. Yang memegang markas ini adalah Jackie Lari. Tapi mereka sangat bodoh sekali. Kekuatan yang mereka bangun itu bisa bocor dengan seketika. Para pengawal itu tidak memiliki skill untuk bertarung. Mereka sengaja ditempatkan di garda depan demi membantu mengamankan markas tersebut," jelas Sascha.
"Kalau tidak memiliki skill bertarung Kenapa mereka ditempatkan di depan markas? Masalah ini cukup aneh sekali buat kita. Kalau dipikir-pikir mereka memamerkan kebodohan atau apa sih?" tanya Daniel yang tiba-tiba saja berbicara.
"Mereka hanya memiliki tampang seram saja. Mereka ditugaskan untuk menakut-nakuti orang-orang yang ingin mendekat ke markas itu. Jadi kalau dipikir-pikir orang-orang biasa tidak berani mendekat," jawab Sascha.
"Yang dikatakan oleh Kak Dewa benar. Jujur ini sangat aneh sekali buat kita. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk bisa masuk ke sana?" tanya Sascha.
"Berikan saja sedikit gertakan buat mereka. Mereka akan tunggang langgeng," ucap Dewa sambil menatap wajah Daniel.
"Okelah aku yang jalan dan membawa tiga pengawal sekaligus. Setelah itu kami akan menggeretaknya bersama-sama. Aku yakin mereka tidak akan bisa berkutik melihat tampang kami yang seram ini," sahut Daniel yang keluar dari mobil lalu memberikan kode buat mereka.
"Hanya tiga saja. Aku yakin mereka akan keluar semuanya kalau memakai kode seperti itu," celetuk Kobe.
Tak lama seluruh pasukan yang berada di dalam mobil itu keluar. Daniel sangat terkejut sekali dan hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kamunya salah," seru Dewa yang membuka kaca jendela mobilnya itu.
"Jadi?" tanya Daniel.
"Suruh mereka kembali semuanya. Jangan ada yang berada disini. Kalau kalian berkumpul disini, mereka bisa curiga dan menghabisi kalian satu persatu!" perintah Dewa.
Mau tidak mau Daniel menuruti keinginan Dewa. Lalu Daniel menyuruh mereka kembali dan hanya meminta tiga orang saja. Untungnya para pengawal itu menurut dan masuk ke dalam mobil bersama-sama.
Daniel pun segera bergerak menuju ke area markas musuh. Daniel memiliki kelebihan yang bisa dikatakan tidak semuanya orang memilikinya. Contohnya saja ia sekarang sedang mempergunakannya. Otak kecilnya itu langsung bekerja dan membaca situasi. Dan benar saja para pengawal itu tidak ada yang membawa senjata pada umumnya.
Daniel hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk mengusir mereka. Mereka pun langsung ketakutan dan pergi meninggalkan area tersebut. Bukannya melapor mereka kabur dari markas tersebut.
Sedangkan Dewa cukup puas dengan pekerjaan Daniel. Meski wajahnya konyol namun sebagian orang menganggapnya kejam. Di sisi lain Daniel adalah orang yang sangat sadis sekali.
"Kenapa ya gue baru tahu kalau punya pengawal bayangan dari kakek orang itu? Padahal awal-awal pergi ke Amerika gue nggak akan pernah mau memakai pengawal bayangan," ucap Dewa sambil melihat Daniel.
__ADS_1
"Itu yang namanya jodoh bro. Kakek nggak akan membiarkan duduk-duduknya menderita di jalanan. Meskipun kamu adalah ketua mafia Black Tiger, kakek masih mengkhawatirkanmu. Maka Daniel yang menjadi pengawal bayanganmu sampai kapanpun itu. Bahkan kamu sendiri tidak punya pacar pun kakek tahu. Tidur sama Sascha Kakek juga tahu. Itulah kelebihan kakekmu. Meskipun usianya sudah senja, kakakmu bukan pria lemah. Malahan beliau sering sekali latihan fisik bersama paman Taro," jelas Kobe.
"Apakah di dalam ada pengawalnya?" tanya Dewa.
"Pengawalnya sangat minim. Kalau aku lihat sih mereka tidak memiliki banyak pengawal. Satu persatu mereka dihempaskan oleh kelakuan Jackie sendiri," jawab Sascha sambil membaca pesan itu dari Master Wa.
"Kalau hanya memiliki pengawal sedikit ya percuma. Berapa persen kekuatan yang dimiliki oleh Jackie?" tanya Kobe.
"Dua puluh banding tiga puluh," jawab Sascha dengan cepat.
"Kekuatan Apa itu? Kalau dipikir-pikir itu bukan kekuatan. Lebih baik menyerangnya terlebih dahulu dan memberikan ultimatum kepada mereka jika kita tidak menemukan nenek sihir. Kita nggak bisa berdiam diri di sini terlebih dahulu. Setelah kita menyerang dan membakarnya, aku yakin mereka semuanya akan hadir di tempat ini. Mereka rugi atas apa yang sudahdibangun selama ini," jelas Dewa.
"Kalau nenek sihir itu jantungngan bagaimana?" Tanya Kobe yang tiba-tiba saja membuat saja menahan tawanya.
"Biarkan saja. Sekalinya jantungan udah langsung lewat. Mereka tidak akan menuduh siapapun," jawab Dewa.
"Ayo kita masuk ke sana. Kita nggak ada waktu lagi. Semakin cepat semakin lebih baik," perintah Kobe.
"Dimana Kak Timothy?" Tanya Sascha.
"Dia sudah bergabung dengan para pengawal. Kemungkinan besar dia sudah masuk ke dalam sana untuk membaca situasi," jawab Dewa.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Timothy meninggalkan mereka terlebih dahulu untuk masuk ke dalam sana. Mereka tidak berbekal alat teknologi, Timothy sendiri yang sudah turun terlebih dahulu untuk memberikan kode. Dewa segera melihat ponselnya itu. Sambil tersenyum jahat, Dewa langsung menyuruh mereka untuk turun. Mereka pun menuruti keinginan Dewa. Mereka akhirnya turun dan masuk ke dalam markas tersebut.
New York City USA.
Ketika Devan memberikan perintah, para pengawal itu tidak mau pergi. Karena para pengawal itu hanya bisa bergerak dengan perintah Dewa maupun Kobe. Dewan sungguh kesal terhadap mereka. Bahkan para pengawal itu pun langsung menyandera mereka agar tidak pergi dari markas tersebut.
"Apa-apaan ini? Kita dikurung menjadi satu seperti ini. Kita tidak bisa keluar dari tempat ini," ucap Devan.
"Lebih baik kita hubungi saja kakek. Kita bisa menelponnya dan memberitahukan keadaan di sini. Mungkin kakek percaya dengan keadaan ini," saran dari Tara.
"Papa?" pekik Devan.
__ADS_1