Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA APA?


__ADS_3

“Please Jaya... Gue masih butuh sesuatu dari elu. Gue tahu, kalau gue salah. Seharusnya gue nggak ngelakuin itu! Tapi, gue terpaksa. Semenjak gue kenalan sama Sascha... Gue benci banget sama dia. Gue anak lama di sana malah dicuekin sama cowok-cowok. Sascha yang baru saja masuk angkatan baru. langsung dideketin sama cowok-cowok. Perasaan gue hancur,” pinta Risa sambil menangis sesenggukan.


“Tujuan utama lu itu? Kenapa lu nggak pindah kampus aja? Lu pikir dengan nyakitin Sascha, hidup lo bisa bahagia gitu. Terus lu ngancurin hubungan Sascha sama Billi? Hingga akhirnya Sascha sakit hati dan kecewa banget sama elu. Gue dapat informasi ini dari Stay. Lu nggak perlu tahu Stay dari mana? Semakin lama gue semakin muak sama lo. Tiap hari selalu drama yang nggak jelas. Gue sudah bilang, kalau gue nggak bisa dibohongi. Ngapain juga pakai drama-drama segala ngomong ke orang-orang kalau gue milik lu. Kalau gue tunangan lu. Terus gue deketin cewek lain lu ngamuk seenaknya. Gue punya hidup! Gue punya keluarga! Gue punya teman! Gue pengen hidup normal seperti biasa sebelum kenal lu. Tanpa ada yang dikekang seperti gue hidup di jeruji besi! Apa lu paham soal itu? Lu hanya terobsesi sama uang gue saja. Dan itu sudah kebaca dari watak lu. Diem diem lo emang brengsek. Sekarang gue nggak pernah dan nggak mau tahu lindungi lo lagi. Biarin gue jadi orang bebas. Bebas berkelana tanpa ada yang mengganggu. Andaikan Sascha nikah sama siapapun walau nggak ada gue, gue nggak jadi masalah. Gue sudah anggap dia jadi adik. Seandainya lu nggak jelek-jelekin gue di depan Sascha dan ngasih informasi yang salah, gue bisa jadi suaminya. Tapi harapan gue itu sudah hancur. Gue hanya doain Sascha mendapatkan yang terbaik. Dan elu mulai saat ini jangan ngusik gue! Punya masalah sedikit atau banyak jangan sering-sering mungkin nama gue untuk masa lo itu. Jujur gue capek ngurusin elu. Setiap hari lo bikin masalah dengan si a si B si c... Ujung-ujungnya gue malu karena mereka mempunyai bukti siapa yang nyerang dulu siapa yang bikin masalah dulu. Sekarang sudah nggak ada apa-apa lagi. Lu pergi dari gue,” jelas Jaya lagi.


Jaya memutuskan masuk ke dalam markas. Ia sudah sangat kesal terhadap kelakuan Risa yang arogan itu. Satu kata buat Jaya adalah kecewa. Dirinya tidak menyangka kalau namanya selalu dibawa-bawa dalam masalah Risa. Jujur saja orang mana yang mau namanya dibawa-bawa dalam setiap masalah. Apalagi masalah itu bisa membuat namanya menjadi hancur.


Apakah Jaya tetap mengharapkan Sascha untuk dijadikan seorang istri? Tidak, Jaya sudah tahu kalau Sascha sudah menjadi milik Dewa seutuhnya. Dirinya tidak berhak untuk mengganggu kehidupan dan kebahagiaan Sascha. Ia selalu berdoa untuk kebahagiaan Sascha dan juga Dewa. Meskipun perih hatinya tetap menyimpan nama Sascha di dalam.


Risa, Risa tidak akan menyerah menyakiti Sascha. Ia akan membuat Sascha menderita selamanya. Dirinya akan membuat rencana demi menghancurkan Sascha. Sedari dulu Risa sudah tidak pernah akur dengan Sascha. Baginya Sascha adalah musuh besarnya. Kemudian Risa berdiri dan melihat mobilnya yang hancur. Ia sangat kecewa dengan perlakuan Jaya. Ia akan membuat perhitungan kepada Jaya hingga menghancurkan karirnya.


Ketika ingin masuk ke dalam Risa langsung dihadang oleh pengawal Jaya. Risa diusir oleh pengawal dengan kasar. Mau tidak mau Risa menghubungi Ricky untuk datang. Namun Ricky menolaknya karena sang kakak sudah tidak bisa membantunya lagi. Sebelum pergi ke rumah sakit, Ricky bertemu dengan Jaya. Ia sudah mengetahui kelakuan Risa saat berada di kantor. Jujur saja dirinya sangat malu sekali melihat kelakuan Risa. Mau tidak mau Ricky menutup hatinya buat Risa.


Sesampainya di villa Bima, Dewa dan Sascha segera menemui Tara. Mereka melihat Tara sedang menatap layar ponsel dengan serius. Kemudian Sascha mendekatinya lalu menghempaskan bokongnya di samping Tara.


“Mama,” panggil Sascha dengan lembut.


“Ada apa?” tanya Tara.


“Mama ada apa?” tanya Sascha sambil memegang tangan keriput Tara. “Kok sepertinya mama sangat khawatir sekali?”


“Kamu mau nggak, jadi ketua mafia Black Tiger?” tanya Tara dengan serius.


“Ada apa ya?” tanya Sascha yang bingung.


“Kamu harus berikrar menjadi ketua mafia,” jawab Tara.

__ADS_1


“Sebentar Ma. Jangan buru-buru dulu. Sebenarnya, aku ini bingung dengan Mama. Tiba-tiba saja aku datang, Mama memberikan aku jabatan tertinggi di Black Tiger,” ucap Sascha yang membuat Tara tersenyum manis.


“Sekarang mama tanya dulu, kamu mau nggak jadi ketua Black Tiger?” tanya Tara sekali lagi.


“Aku nggak bisa jawab Ma. Karena yang berhak memegang jabatan itu adalah Kak Dewa. Kalau aku memegang jabatan itu. Kasihan Kak Dewa. Aku tidak mau merebut milik Kak Dewa sebagai pemimpin Black Tiger di kawasan Asia,” ungkap Sascha dengan menggelengkan kepalanya.


“Jika kamu mau, maka aku akan melepaskannya. Aku berada di belakangmu,” ucap Dewa yang ikhlas melepaskan jabatan itu.


“Tidak Kak. Aku tidak berhak megang itu Kak. Kakak saja yang menjadi ketua. Aku yang akan menjadi anggota yang konyol di Black Tiger,” ujar Sascha yang tidak mau memegang jabatan itu.


“Dewa,” panggil Tara.


“Iya, ada apa Ma?” tanya Dewa.


“Sementara waktu, memangnya ada apa ya Ma?” tanya Dewa yang bingung. “Kenapa harus sementara? Kalau bisa selamanya.”


“Mama tanya terlebih dahulu, apakah kamu mau atau tidak?” tanya Tara.


“Sementara untuk apa ma?” tanya Dewa yang mulai curiga dengan Tara.


“Mama,” tanya Dewa.


“Mama lempar pertanyaan demi pertanyaan untuk kalian, tapi kalian tidak menjawab sama sekali. Ini waktu yang genting buat kalian. Mama akan menggabungkan Black Tiger dengan Black Swan. Mama sudah membicarakan ini dengan waktu lama,” jawab Tara.


“Sekarang jadi pertanyaan, kenapa Mama ingin menggabungkan Black Tiger dan Black Swan? Sementara itu kami tidak tahu tujuannya apa?” tanya Sascha dengan lembut.

__ADS_1


“Cepat atau lambat masalah ini akan semakin meruncing,” jawab Tara sedang merangkai kata-kata.


“Lalu?” tanya Sascha.


“Bagaimana ya Mama menceritakan ini semuanya? Sementara Mama bingung mulai dari awal,” ucap Tara dengan lemah.


“Ceritakan saja kak, apa masalahnya,” sahut Kobe yang berada di ambang pintu.


Mereka sangat terkejut sekali ketika Kobe muncul secara mendadak. Entah dari mana Kobe datang? Dewa dan Sascha langsung menatap Kobe sambil bertanya-tanya.


“Ada apa Mas Kobe datang ke sini?” tanya Dewa.


“Ada masalah pelik di perusahaan utama,” jawab Dewa.


“Masalah apa?” tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.


“Apakah Sascha harus terlibat masalah ini?” tanya Kobe yang menghampiri Dewa lalu duduk di sampingnya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2