Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RISA LAGI... RISA LAGI...


__ADS_3

“Ya belumlah. Lu sabar dulu. Gua yakin yang ngambil uang itu adalah salah satu karyawan yang berada di divisi keuangan,” ucap Timothy yang memprediksi sang tersangka.


“Apa lu yakin?” tanya Eric.


“Gue yakin itu. Tenang saja... Sascha ke sini kok. Sebentar lagi dia yang mengambil kasus ini,” hibur Timothy.


“Ya udah deh... Gua makan dulu. Semalam gue nggak bisa makan karena mikirin uang tiga miliar melayang entah ke mana,” ucap Eric.


“Jangan terlalu dipikir. Kalau lu nggak salah ngapain harus takut. Dewe juga nggak bodoh untuk mengambil keputusan siapa yang salah. Dewa juga bukan tipe yang menuduh orang dengan asal. Dia juga lihat terlebih dahulu bukti-bukti yang ada baru memutuskannya,” jelas Timothy yang mengenal Dewa sejak SD.


“Ya udah deh. Thanks bro,” ucap Eric yang sedikit lega.


“Gua balik dulu ya. Baik-baik di sini dan jangan ngelakuin hal yang aneh,” ledek Timothy yang segera meninggalkan Eric.


“Oke siap bro,” balas Eric.


Akhirnya Eric menyentuh makanan itu sambil bernafas lega. Beberapa hari terakhir Eric tidak menyadari kalau uang yang dibuat membayar karyawan hilang. Sampai saat ini dirinya tidak bisa menemukan uang tersebut. Ia ingin meminta bantuan kepada Leo namun tidak bisa. Karena Leo diutus ke Sydney untuk memperbaiki sistem keamanan perusahaan cabang milik Nakata’s Group. Dengan terpaksa Eric meminta bantuan kepada Timothy untuk memecahkan kasus ini. Sialnya, Timothy sedang sibuk untuk persiapan rapat akhir tahun. Ia hanya berharap ada secercah harapan untuk mengetahui keberadaan uang tersebut.


Sascha yang selesai sarapan memutuskan pergi ke apartemen Dewa. Ia akhirnya pergi sendiri tanpa siapa-siapa. Di dalam perjalanan Sascha sudah menikmati kemacetan Jakarta. Jujur ia merindukan suasana macet seperti ini. Semenjak di Hamburg Sascha tidak pernah merasakan macet parah. Malah ia selalu on time pergi ke suatu tempat. Sesampainya di sana Sascha bertemu Marty yang sedang menunggunya.


“Kak Marty?” pekik Sascha.


“Iya ini aku,” jawab Marty yang tersenyum. “Apa kabar?”


“Baik kak,” jawab Sascha. “Tumben Kakak ada di sini?”

__ADS_1


“Aku disuruh bos untuk menjagamu. Kamu tahu Risa membeli sebuah unit apartemen di sini tepat berada di lantai unitnya bos,” jelas martis yang membuat Sascha kaget.


“Apakah itu benar Kak?” tanya Sascha.


“Ya itu benar. Aku mendapatkan informasi itu dari nona Dita,” jawab Marty.


“Ya udah deh kalau begitu. Aku langsung saja ke unitnya Kak Dewa ya,” ucap Sascha.


“Bareng-bareng saja agar aku bisa melindungimu dari amukan Risa,” ujar Marty.


Sascha hanya mengangguk setuju dan membiarkan Marty mengikutinya. Mereka menuju ke lift dengan jalan tenang. Tiba-tiba saja Sascha langsung ditarik rambutnya oleh Risa dan dihajar. Sascha hanya membulatkan matanya sambil berkata, “Lo belum puas nyiksa gue dengan cara mengambil Billi dari gue. Kalau lu suka ambil aja gue nggak keberatan kok.”


Risa tidak terima dengan perkataan Sascha langsung menghajar Sascha saat itu juga. Akan tetapi Sascha terlebih dulu mengelak ketika Risa memukulnya. Dengan wajah geramnya, Risa terus menghajar saja. Akhirnya Sascha diam saja dan membiarkan dirinya teraniaya. Bagaimana dengan Marty? Sascha sengaja memberikan kode agar sang pengawalnya tidak ikut-ikutan. Marty semakin bingung dengan ulah Sascha yang tidak mau dipisahkan. Akhirnya Sascha memilih tumbang dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Dengan wajah meringis sambil memegangi perutnya berkata terbata-bata, “Apa salah gue sama elu?”


“Tau nggak salah lu apa? Lu sudah ngambil Billy lalu Jaya! Lu janji sama gue nggak ngambil mereka! Tapi lu sudah berkhianat ke gue! Gue benci lu! Gue benci karena lu ngambil mereka! Gue pengen membuat lo cacat seumur hidup! Dengan begitu para cowok yang di dunia ini nggak akan mau mendekat! Gua harap lu nggak bakalan nikah sama siapa-siapa! Kalau lu sampai nikah! Gue akan ngerusak rumah tangga lo! Camkan itu Sascha! Dasar ******! Lu seharusnya sudah mati tapi kenapa lu hidup? Lu jangan-jangan ngerayu penembak jitu gue! Akhirnya penembak jitu gue luluh sama kecantikan lo! Lo hanya merayunya dengan melemparkan tubuh lo di ranjangnya! Benerkan!” kontak Risa yang tertawa terbahak-bahak hingga semua orang menuju ke arahnya.


Beberapa saat kemudian datang dua keamanan apartemen datang. Mereka melihat Sascha yang sudah terluka. Dengan cepat mereka menangkap Risa dan mengusirnya. Sementara itu Sascha memberi kode agar Marty menyuruh orang-orang tidak melihatnya. Marty pun menurut dan meminta mereka untuk tidak melihat Sascha sedang lemas. Kemudian Sascha mengulurkan tangannya sambil berkata, “Kak, tolong aku!”


Marty hanya melotot karena terkejut dengan Sascha. Entah bagaimana Sascha yang sudah dihajar itu pun masih berkata dengan lancar. Mau tidak mau Marty akhirnya menolong Sascha. Setelah menolongnya Marty mengajaknya ke apartemen Dewa. Di dalam lift Martin memasang wajah bingung. Jujur saja pria bertubuh tinggi itu ingin bertanya sesuatu. Namun niatnya diurutkan begitu saja.


Ting.


Pintu lift terbuka. Mereka melangkahkan kakinya menuju ke unit Dewa. Sepanjang perjalanan menuju ke sana, mereka hanya terdiam tanpa banyak bicara. Sesampainya di sana Sascha segera mengambil laptopnya. Ia segera keluar dan menutup apartemen tersebut. Lalu mata Sascha tidak sengaja melihat Marty yang sedang sendu. Ia tersenyum sambil memanggil Marty.


“kakak, sepertinya Kakak bersedih?” tanya Sascha.

__ADS_1


“Gimana nggak bersedih? Coba pikir kamu dipukuli Risa dan memilih untuk diam. Kenapa kamu nggak memberontak? Kalau Tuan Dewa melihatmu seperti itu, aku yang jadi sasarannya. Jujur aku nggak mau kehilangan pekerjaanku. Aku sudah mengabdi pada Tuan Dewa semenjak sekolah,” jawab Marty.


“Tenang saja kak. Aku tadi hanya berakting. Beberapa tahun sudah aku sering ditindas dan di-bully. Perasaan aku nggak punya salah sama dia. Aku juga nggak menyenggol kehidupannya. Bahkan aku tidak ikut campur dengan masalahnya. Beberapa bulan terakhir aku menjadi bingung. Kenapa kok sebegitu bencinya sama aku? Itulah yang jadi pertanyaanku,” jawab Sascha dengan tenang.


“Sepertinya kamu memiliki rencana?” tanya Marty.


“Ya.... Aku memiliki rencana. Aku akan menjebloskan Risa ke dalam penjara. Sascha dulu sudah nggak ada. Sekarang Sascha menjadi wanita tangguh. Aku memang sengaja menghukumnya agar sadar dari perbuatannya itu agar tidak berbuat jahat. Maka aku harus memberikannya pelajaran sedikit. Kamu tenang saja.... Aku nggak akan mungkin membuat tuanmu memecatmu. Aku akan menceritakan rencanaku ini kepada tuanmu. Aku yakin kamu nggak bakalan dikeluarkan dari pekerjaanmu,” ucap Sascha yang membuat Marty lega. “Kalau begitu anterin aku ke klinik buat ngobatin lukaku. Oke!”


Kemudian Marty menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia segera mengantarkan Sascha ke klinik dahulu. Sementara itu Dewa sudah sampai ke kantor. Iya sengaja masuk melewati pintu khusus para petinggi-petinggi D'Stars Inc. Sehingga para karyawan tidak melihatnya sama sekali. Dewa memang sengaja lewat area itu guna menghindari tatapan lapar dari sang karyawati. Ia sangat muak ketika mereka memandanginya dan tidak fokus dalam pekerjaan. Sesampainya di ruangan atas Dewa masuk ke dalam ruangan Eric. Dengan gaya elegannya Dewa menghempaskan bokongnya lalu duduk di depan sahabatnya itu.


“Lu nggak apa-apa?” tanya Dewa sambil meraih pulpen.


“Gue nggak apa-apa. Maafin ya bro,” jawab Eric dengan lesu.


“Timothy sudah cerita kalau lu nggak ngelakuin. Lu nggak usah panik gitu. Uang tiga miliar bagi gue kecil. Gue bisa ngeluarin uang dari kantong ajaib,” jelas Dewa.


“Masalah uang tiga milliar buat gue juga kecil. Gue juga bisa ganti uang itu. Tapi gue bener-bener frustasi. Karena uang itu hasil dari penjualan barang-barang yang lebih di gudang. Gue memang sengaja menjualnya hanya demi bonus akhir tahun. Sedangkan untuk pusat stoknya masih banyak. Ketika untung sepuluh miliar, gue sengaja ngambil tiga miliar dari sana. Apa lu paham soal itu?” tanya Eric.


“Gue paham maksud lo. Lu memang sudah mengerjakan rencana gue yang satu itu. Jika masalahnya uang hilang maka biarkan. Lu tahu yang ngambil uang itu mungkin saja sedang kekurangan. Mungkin buat bayar hutang, kartu kredit, cicilan rumah cicilan mobil atau bahkan buat bayar nikahan. Siapa tahu?” hibur Dewa yang membuat Eric tersenyum.


Dewa tidak sengaja melihat sahabatnya itu tersenyum. Ia kemudian memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan Eric. Sebelum pergi Dewa berteriak, “Sascha akan ke sini. Kamu tenanglah, masalah kamu bisa terselesaikan dengan mudah.”


“Kapan ke sini?” tanya Eric.


 

__ADS_1


 


__ADS_2