Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
GARA-GARA 5000 EURO.


__ADS_3

Namun saat ini aku mengerti. Aku bersama Kinanti memang ditakdirkan untuk menjadi kakak adik. Akan tetapi umur kami sangat pendek sekali. Semoga saja Kinanti diberikan tempat terindah oleh sang pencipta.


Di dalam perjalanan aku tertidur. Aku sangat capek sekali karena menangis. Entah kenapa diriku saat ini gampang lelah. Aku juga merasakan kurang bertenaga. Pertanyaan ini yang sulit aku cerna. Mungkinkah aku hamil? Semoga saja.


Bagaimana dengan Kak Dewa? Semakin hari kelakuan Kak Dewa semakin aneh. Aku sendiri bingung apa yang dilakukannya. Yang paling aneh yaitu ketika tadi pagi memesan makanan sebanyak lima porsi. Aku terkejut dengan pesanannya Kak Dewa sebanyak itu.


Aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah habis Kak Dewa memakan semuanya? Aku sendiri memang jago makan. Tapi aku tidak mungkin sebanyak itu jika lagi sarapan. Aku hanya makan secukupnya. Baru siang nanti aku makan anak sekali. Bahkan bisa sampai dua porsi saja. Untuk porsi perempuan memang tidak wajar.


Lalu bagaimana dengan para petinggi D'Stars Inc? Mereka tidak memperdulikanku. Jika ada pertemuan antara para petinggi pas jam istirahat, kami selalu memesan makanan online. Aku langsung ditawari dua porsi makanan sekaligus. Siapa tidak nolak dengan makanan sebanyak itu? Aku pun menerimanya dengan sesuka hati.


Di sisi lain Billi dan keluarganya menganggap aku rakus. Mereka tidak suka melihat aku pesan makanan dua porsi. katanya aku suka banget menghabiskan uang.


Ck... mereka belum tahu pekerjaanku bagaimana? Meskipun aku asisten keuangan. Kak Dewa sengaja memberikan aku akses pada dua perusahaan sekaligus. Kak Dewa memberikan kepada para petinggi perusahaan untuk mengajariku dalam berbagai bidang.


Jujur saat itu sangat mengasyikkan. Aku mulai belajar dari hal yang kecil hingga besar. Sehingga aku mulai paham dengan perusahaan tersebut.


Ada satu kelompok yang diketuai oleh Santi. kelompok itu mengatakan kalau aku orangnya serakah. Well, aku tidak serakah. Aku memang suka sekali belajar dengan giat. Apalagi aku langsung praktek.


Aku adalah lulusan anak SMK. Aku memang anak ekonomi. Aku ditarik oleh Kak Dewa saat aku magang di perusahaannya. Namun saat itu Kak Dewa berada di Amerika untuk mengambil S1 dan S2 sekaligus. Aku tahu itu sangat lama. Aku membiarkan Kak Dewa mengambil sekolahnya. Biar menunjang dirinya menjadi seorang CEO.


Kak Bima tahu kalau aku sebentar lagi magang. Kak Bima mengajakku untuk magang di perusahaan D'Stars Inc. Betapa bahagianya aku saat itu. Di sinilah aku mulai tertarik dengan dunia bisnis. Aku berharap bisa memiliki perusahaan dan menanganinya.


Dibalik kesuksesan aku, banyak sekali yang tidak suka. Terutama pada keluarga Billi dan Kinanti. Aku sering mendapatkan banyak kalimat dari mereka. Tapi aku membiarkannya. Nah, kenapa mentalku cukup kuat saat itu? Karena aku sengaja menenggelamkanku pada pekerjaan yang banyak.


POV 1 berakhir.


Sesampainya di Nganjuk, Sascha terbangun dan melihat Dita sedang tersenyum manis. Sedangkan Dewa, Dewa menunggu Sascha sampai terbangun. Namun saat itu Sascha sangat pulas sekali ketika tidur. Alhasil Dewa sengaja menunggu sang istri terbangun. 


Sascha melihat Dita tersenyum manis. Ia segera merenggangkan kedua tangannya agar tidak terlalu kaku. Akan tetapi Dewa menoleh sambil melihat Sascha dan bertanya, "Apakah kamu sudah bangun?"


"Ya... aku sudah bangun," jawab Sascha yang merasakan matanya bengkak.


"Oh... ya... u tadi pergi karena ada Bryan," ucap Dewa.


"Kok dia enggak melihatku?" tanya Sascha yang kesal dengan Bryan.


"Bryan kesini menitipkan surat dari pengacara Kinanti," jawab Sascha yang memberikannya ke Sascha.


"Surat apa?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu surat apa itu," jawab Dewa yang tidak membuka surat itu.


"Ayo turun," ajak Sascha yang mengambil kunci rumah milik Pak Andika.


 


"Ayo," sahut Dewa dan Dita secara bersamaan.


Mereka akhirnya turun. Lalu Dewa meminta kunci rumah itu. Sebagai seorang pangeran dari Nakata's Group, Dewa tidak memiliki malu sama sekali. ia tidak memperdulikan sebutan pangeran tersebut. Ia memang pandai menyembunyikannya ke seluruh orang.


Dewa membuka pintu dan melihat rumah itu masih sama seperti dulu. Tata letak barang memang tidak berubah sama sekali. Salah satu warga di sana memang ikhlas merawatnya tanpa biaya sepeserpun. Jujur orang itu sangat berterima kasih dengan Pak Andika. Karena selama hidup Pak Andika sering membantu satu warga yang kesusahan itu.


"Apakah kalian harus?" tanya Sascha.


"Haus," jawab Dewa.


"Panas begini enaknya minum es degan ya?" tanya Sascha yang merasakan kesegaran es degan.


"Sungguh segar sekali," jawab Dita.


"Ya... sepertinya itu sangat mengasikan sekali," ucap Dewa.


"Kak," panggil Sascha tersenyum manis.


"Aku minta uangnya," jawab Sascha.


"Adanya euro di dompet," ucap Dewa sambil meraih dompetnya di belakang celana.


"Apa?' pekik Sascha yang bingung dengan suaminya.


"Memang adanya euro sayang," jawab Dewa. Bahkan di dompet ada lima ribu euro."


Dita menepuk jidatnya. Bagaimana bisa sang kakak memiliki uang dengan mata uang dari negara berbeda setiap harinya? Ini sangat aneh sekali.


"Kemarin emas batangan," kesal Sascha.


"Memang adanya itu," jawab Dewa.


"Langsung aku harus bagaimana?" tanya Sascha.

__ADS_1


"Ya... kamu harus mencari cara? Agar kamu bisa mencerahkan uang tersebut," jawab Dewa yang tersenyum manis.


"Ini nich... kalau aku enggak punya rupiah. Ini sangat mengerikan sekali. Aku harus memiliki uang kecil di dompet," ucap Sascha yang melihat wajah Dita.


"Lha... kok kakak melihatku?" tanya Dita.


"Sepertinya kita harus pergi ke ATM untuk mengambil uang dech," jawab Sascha yang sengaja dipersulit hidupnya oleh Dewa.


"Pakai inilah. Nanti kamu bisa membeli es degan satu gerobaknya," ucap Dewa.


"Memang bisa kalau dibeli satu gerobaknya. Tapi apakah Bu Masitoh tahu kalau itu uang euro?" tanya Sascha yang kesal dengan Dewa.


"Ya... kamu jelasin saja. Apa tujuanmu kesini? Kamu bilang saja kalau beli es degan. Kamu kasih seratus euro," saran Dewa yang kemungkinan berguna.


"Astaga," ringis Sascha yang sambil menepuk jidatnya.


"ya... lakukanlah," ujar Dewa.


"Dit," panggil Sascha.  


"Iya kak," sahut Dita.


"Apakah kamu memiliki uang seratus ribu rupiah?" tanya Sascha yang kesal terhadap Dewa.


"Aku punya kak. Sekalian kita membeli jajanan pasar atau apa?" jawab Dita.


"Hmmp... baiklah. Kita akan pergi kesana. Kita akan membeli makanan kecil," ajak Sascha.


"Lho... uangnya bagaimana?" tanya Dewa.


"Uangmu tidak ada guna sama sekali," kesal Sascha yang menarik tangan Dita.


Sascha dan Dita pergi meninggalkan Dewa di rumah. Lalu Dewa hanya tertawa kecil melihat sang istri kecilnya ngambek. Di dalam perjalanan menuju ke warung, mereka bertemu dengan warga yang berlalu lalang. Tanpa segan, Sascha dan Dita menyapanya. Hingga para warga disana sangat bahagia sekali.


"Beberapa hari ini Kak Dewa ada-ada saja," kesal Dita.


"Ngapain kamu kesal?" tanya Sascha.


"Aku kesal karena Kak Dewa tidak pernah menyimpan uang Rupiah," jawab Dita.

__ADS_1


"Kamu belum tahu siapa Kak Dewa sebenarnya?' tanya Sascha.


"Maksudnya kakak?" tanya Dita.


__ADS_2