Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BAHAGIA.


__ADS_3

“Aish... kok aku lupa sih,” jawab Sascha yang memijiti keningnya.


“Jika kamu pengen ya sudah. Aku antarkan saja,” ucap Dewa.


“Baiklah,” balas Sascha.


Di belahan bumi lainnya ada seorang wanita paruh baya sedang gelisah menunggu sang putri pulang. Wanita itu mondar-mandir seperti gosokan yang sedang menggosok pakaian. Lain halnya dengan pria paruh baya yang asyik bermain game online di ponselnya, pria itu tidak memperdulikan sang istri sedang mondar-mandir. Namun dalam hatinya pria itu sedang mengamuk.


“Livi kemana ya?” tanya wanita itu. “Jika dia tidak pulang sekarang hancurlah kita!”


“Coba kamu cari di klub malam. Siapa tahu putrimu sedang bergumul dengan para pria hidung belang,” ketus pria paruh baya itu.


“Enak saja kamu! Putri kita adalah putri baik-baik! Janganlah kamu menuduh Livi seperti itu!” bantah wanita itu.


“Kamu harus tahu Cat... jika putrimu memiliki kelakuan seperti kamu!” bentak pria itu.


“Asal kamu tahu saja! Hidupku hancur itu gara-gara kamu!” bentak Cathy nama wanita itu.


“Cih... asal saja kamu menuduhku seenaknya!” geram pria itu yang tidak terima dengan tuduhan Cathy.


“Damar... Damar... gara-gara kamu... aku telah kehilangan Khans Company. Kamu tahu Khans Company seharusnya milikku! Bukan milik Chloe!” bentak Cathy juga tidak terima dengan tuduhan Damar.


“Oh... jadi kamu menuduhku begitu!” bentak Damar tak kalah sengit.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Seorang wanita berusia masih muda sangat kesal melihat pertengkaran kedua orangtuanya itu. Gadis itu sangat jengah lalu melemparkan tasnya ke sembarang arah. Ia membuka blazernya sambil bertanya dengan nada ketus, “Bisa enggak sih kalian kalau bertemu selalu ramai?”


Plak!


Cathy sangat kesal dengan tindakan putrinya itu. Bisa-bisanya sang putri datang lalu berbicara dengan nada ketus. Terpaksa Cathy mengambil tindakan dengan cara memberikan tamparan keras.


“Kamu itu ya... datang-datang bicaramu sangat ketus sekali!” bentak Cathy.


“Selalu saja aku terkena tamparan dari mana jika berantem sama papa!” bentak Livi.

__ADS_1


“Oh... gitu ya kamu sekarang! Apakah kamu lupa tugasmu hari ini apa!” tegas Cathy dengan penuh amarah.


Seketika mata Livi membulat sempurna. Sejenak Livi mengingat tugas apa yang telah diberikan oleh sang mama. Ia sadar sambil tersenyum manis, “Maaf ma.”


“Mama tadi menyuruhmu ke Khans Company. Kenapa kamu tidak ke saaa? Kamu tahukan Gerre dan Chloe tidak berada di tempat?” tanya Cathy.


“Memangnya merdeka tidak berada di tempat?” tanya Livi.


“Orang itu berada di Hamburg. Kamu bisa leluasa mengklaim tempat menjadi milikmu,” tutur Cathy.


“Aku pernah ke sana. Tapi para karyawan dan sekuriti menolakku,” ucap Livi dengan nada rendah.


“Kamunya terlalu bodoh. Bisa enggak sih kamu memiliki otak cerdas!” ketus Cathy.


“Kalau begitu aku coba ma,” balas Livi.


Sesampainya di bekas rumah yang terbakar, Sascha terdiam. Ia tidak bisa berkata apa pun lagi. Ingin menangis juga percuma. Ingin marah apalagi. Di sini semua kenangan indah bersama Dewa telah terukir. Dewa yang arogan dan sering memasang wajah kaku berubah drastis. Dewa berubah menjadi pria baik dan mudah senyum. Bahkan Dewa sering say hello sama orang-orang di kampung itu.


“Kak Dewa,” panggil Sascha.


“Bagaimana kalau aku membangun sebuah panti asuhan di tanah ini?” tanya Sascha.


“Ide bagus itu. Tapi?” tanya Dewa yang menggantung.


“Apakah enggak terlalu kekecilan jika kita bangun di sini?” tanya Dewa.


“Kalau dipikir sih kecil,” jawab Sascha. “Rumahku hanya muat tiga orang.”


“Aku suruh Timothy bangun rumah besar seperti mansion untuk tempat tinggal anak-anak yang kurang beruntung.”


“Bagaimana kalau kita bangun rumah buat tinggal anak-anak pabrik. Bukannya jarak pabrik ke sini hanya berjarak beberapa meter saja?” tanya Sascha.


“Ide kamu bagus. Kalau begitu perusahaan akan membelinya untuk dijadikan tempat tinggal para karyawan,” sahut Dewa.


“Boleh,” balas Sascha.


Tak lama beberapa warga kampung sedang melintas melihat Sascha. Mereka berhenti lalu menanyakan kabar. Mereka sangat senang sekali bisa berjumpa dengan wanita berparas cantik itu. Mereka mengaku lega karena Sascha baik—baik saja.

__ADS_1


Selang beberapa menit warga berbondong-bondong untuk melihat kedatangan Sascha. Mereka mengucap syukur bahwa Sascha tidak apa-apa. Andaikan Sascha tidak berangkat ke Seoul, kemungkinan besar dirinya sudah hangus terbakar.


Malam semakin larut, Sascha berpamitan ke warga untuk pulang ke rumah. Ia sangat lega bisa berjumpa dengan para tetangga dan warga di bekas kampungnya dulu. Sascha akan berencana membantu para warga agar semua sejahtera. Sedangkan Dewa sangat bahagia mendapatkan seorang kekasih baik hati. Ia memang tidak salah pilih wanita yang akan dijadikan pendampingnya kelak.


Sascha menutup mulutnya sambil memegang tangan Dewa. Kemudian Ia meletakkan kepalanya sambil memejamkan matanya, “Aku mengantuk sekali.”


“Jangan tidur dulu... sebentar lagi sampai,” ucap Dewa.


Markas Dark Impulsif.


Risa yang kesal tiba-tiba saja membanting pintu dengan kencang. Ia segera mendekati Jaya sambil menghempaskan bokongnya. Ia memajukan mulutnya beberapa senti hanya untuk menarik perhatian Jaya. Namun Jaya tidak tertarik malah memandang foto Sascha sedang duduk di taman.


“Jaya!” bentak Risa yang tidak suka dibiarkan begitu saja.


“Apa?” tanya Jaya dingin.


“Gue kesel tahu!” geram Risa,


“Oh,” jawab jaya sekenanya.


“Lu tahu kenapa gue kesel?” tanya Jaya.


“Karena si ****** Sascha!” geram Risa yang membulatkan ,matanya.


Mendengar nama Sascha, senyum terindah yang dimilikinya keluar. Jaya membayangkan kalau Sascha menjadi istrinya. Ia seakan tidak pernah peduli lagi dengan Risa yang berada di sampingnya.


Lalu Risa, Risa sangat kesal sekali. Bisa-bisanya Jaya telah mengabaikan dirinya. Ia beranjak dari duduknya sambil meraih ponsel Jaya. Ia segera melemparkan ponsel itu ke sembarang arah sampai sang pemilik kesal.


Jaya yang diselimuti amarah langsung menampar Risa. Rasanya Jaya ingin membunuh Risa begitu saja. Jaya memandang wajah Risa dengan tatapan membunuhnya. Ia segera mengambil ponsel itu sambil memberikan sebuah ultimatum.


“Kalau lu sudah bosan hidup, maka gue bersedia mengulitimu! Jika lu masih pengen menghirup udara dan menikmati hidup, maka jangan sekali-sekali lu ngedeketin gue lagi! Apalagi menyentuh barang-barang gue! Gue enggak mau memiliki cewek egois kaya lu! Apakah lu paham! Dan satu lagi beberapa kartu yang gue berikan ke lu, kembalikan ke gue semua! Bisanya belanja! Belanja! Dan belanja! Gue kasih waktu hanya sejam dari sekarang! Apakah lu paham!” teriak Jaya dengan menekan.


Kemudian Jaya meninggalkan Risa yang masih berdiri tegak. Ia sudah tidak perduli jika Risa berteriak. Mulai malam ini Jaya sangat membenci Risa. Meskipun dirinya memiliki sifat kejam namun Jaya bisa memilah mana wanita baik dan wanita tidak baik.


Jaya segera melangkahkan kakinya lalu melihat Stay sang asistennya. Stay menyodorkan mapnya sambil berkata, “Jay... lu harus lihat dech... kejahatan yang sering dilakukan Risa ke Sascha.”


“Serius lu?” tanya Jaya sambil meraih dokumen tersebut.

__ADS_1


__ADS_2