Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MATA-MATA DI RUMAH UTAMA.


__ADS_3

"Ya aku akan pulang sore  atau malam. Kakak sudah meminta heli untuk kesini. Mau tidak mau aku harus menurutinya," jawab Dita sambil tersenyum manis.


"Hati-hati ya... jaga diri baik-baik," pesan Sascha kepada Dita dengan tulus.


"Ya kak Kakak juga harus berhati-hati. Nanti kita akan bertemu lagi," ujar Dita.


"Sini kakak bantu membersihkan baju-baju kamu. Biar cepat selesai," pinta Sascha yang beranjak berdiri.


Sascha akhirnya membantu Dita berkemas. Ia sangat bahagia sekali ketika melihat Dita sudah bangkit lagi. Ia ingin adik iparnya tidak terlalu bersedih hanya karena cinta.


Tak sengaja Tara yang ingin ke kamar lewat di depan kamar Dita. Sascha memang sengaja tidak ingin menutup pintu kamar itu. Agar bisa leluasa melihat orang-orang yang lewat.


Tara tersenyum melihat keakraban Sascha dan Dita. Memang tidak salah Dewa memilih istri yang sangat perhatian sekali ke keluarganya. Begitu juga dengan Tara. Ia juga sangat bersyukur sekali mendapatkan menantu sangat baik. Jujur mereka sangat cocok sekali dan saling berbagi cerita.


Tara langsung pergi ke kamarnya. Lalu masuk ke dalam dan melihat Devan yang sedang membaca koran. Ia menghempaskan bokongnya dan duduk di samping Devan.


"Apakah cara kita salah mengirimkan Dita ke Tokyo?" tanya Tara


"Sepertinya tidak ada kesalahan sama sekali. Dita harus bangkit dari rasa sakit hatinya. Jika bersama Tommy akan berdampak fatal. Karena keluarga Tommy terlalu ambisi ingin mendapatkan sesuatu dengan cara tidak baik. Biarkanlah Dita dan Tonny mencari cinta sejatinya masing-masing. Karena mereka pasti akan menemukannya," jelas Devan yang menurunkan korannya. "Jangan pernah kamu ragu sayang. Biarkanlah Dita menjadi seorang pebisnis. Cepat atau lambat Dita akan menjadi bagian dari Nakata's Groups."


Devan meraih tubuh mungil Tara dan memeluknya dari belakang. Ia mencium aroma sang istri karena wanginya sudah membuat candu. Selain itu juga Devan sangat mencintai sang istri. Bahkan selama lima tahun Devan dan Tara sering dinobatkan sebagai pasangan teromantis.


"Yang," panggil Devan.


"Ada apa?' tanya Tara.


"Lebih baik kita tinggal di Tokyo bersama anak-anak. Aku tidak ingin berpisah dengan mereka," pinta Devan.

__ADS_1


"Aku sih mau saja tinggal di Tokyo. Dengan tulus aku bisa merawat papamu. Tapi aku terkena mental gara-gara kedua keluarga benalu itu," ucap Tara.


"Kenapa kamu takut sama mereka?" tanya Devan.


"Sebenarnya aku enggak takut sama mereka. Yang aku takutkan, jika kau mulai tidak bisa mengendalikan diriku. Aku bisa baku hantam sama mereka," jawab Tara yang menatap ke arah Devan.


Devan mulai paham apa yang dikatakan oleh istrinya. Ia memang menyadari akan hal itu. Karena istrinya jago banget soal gebuk menggebuk. Jika ia menyuruh sang istri bersilat lidah, sang istri menggelengkan kepalanya sambil mundur alon-alon.


Memang istrinya adalah seorang wanita tangguh. Devan tidak salah memilih Tara. Sudah cantik, pintar dan tahan banting. Ketiga sifat itulah yang membuat Devan bangga akan istrinya.


"Apakah aku masih berhak memiliki seorang bayi?" tanya Devan.


 


"Tapi aku tidak mau mengandung lagi. Mengingat usiaku yang sudah menua. Kita sebentar lagi akan mendapatkan cucu dua sekaligus," jawab Tara yang memang tidak inggin memiliki seorang anak.


"Iya ya... lebih baik aku menunggu kedatangan mereka," ucap Devan.


"Menurutku Aulia adalah wanita yang sangat baik sekali. Dia sangat cerdas sekali. Kalau sebagai seorang wanita, Aulia memiliki apa yang tidak bisa dimiliki sebagai orang lain," jelas Devan. "Bahkan di mata semua orang, Aulia adalah wanita yang sangat spesial sekali."


"Hmmmp... kalau begitu kita sangat beruntung sekali mendapatkan menantu sangat baik sekali," puji Tara.


"Ya... itu benar. Aku juga merasakan kebahagiaan ketika memiliki seorang menantu seperti Aulia," ungkap Devan yang sangat bahagia bisa mendapatkan menantu baik.


"Kamu tahu, Aulia sangat peduli sekali terhadap Dita. Bahkan mereka sangat akrab sekali ketika saling bertemu," jelas Tara.


"Sedari Aulia bertemu dengan Dewa di Jakarta. Mereka sudah sangat akrab sekali. Aku sering memperhatikan mereka ketika berinteraksi dengan sesama. Aku juga berharap selamanya hubungan ini akan terjalin," pinta Devan.

__ADS_1


"Ditambah Aulia ketika berpisah dari Chloe dan Gerre. Aulia dituntut sebagai seorang yang memiliki watak keras. Ia memang ditakdirkan untuk menjadi wanita tangguh dan memiliki pribadi kuat. Banyak yang mengatakan kalau Sascha memiliki sifat bar-bar. Inilah yang membuat karakter Sascha berani membela kebenaran," sambung Devan.


"Bagaimana dengan Dewa?" tanya Tara.


"Semenjak menikah, Dewa sangat peduli akan kita. Kemungkinan ini sebuah faktor dari Sascha. Bahkan Sascha sendiri bisa memiliki dampak yang sangat baik sekali bagi semua orang. Yang dulunya jarang sekali menghubungi kita. Eh... sekarang dia menghubungi kita," jawab Devan yang membuat Tara tersenyum manis.


Mereka tersenyum manis karena kelakuan anak-anaknya. Mereka juga tidak menyangka bisa memiliki seorang menantu sangat cerdas dan peduli akan hal itu.


Setelah selesai Sascha langsung menuju ke kamar. Ia tidak sengaja melihat Dewa baru saja keluar dari toilet.


"Hmmp... dari mana kamu? Apakah kamu pergi ke sawah sendiri?" tanya Dewa yang menatap Sascha.


"Inginnya sih ke sawah. Tapi untuk sekarang aku tidak kesana. Aku baru saja ke kamar Dita. Aku membantu dia membereskan pakaiannya," jawab Sascha. "Bukannya Dita nanti sore akan  pergi ke Tokyo?"


"Memang. Dia tidak akan tinggal di rumah utama. Dia tinggal bersama paman Kobe untuk sementara waktu. Jika aku menyuruhnya tinggal di rumah utama. Aku pastikan Dita akan terkena mental hanya kedua keluarga benalu itu," jelas Dewa.


"Mereka sangat mengerikan sekali. Bahkan sangat mengerikan ketimbang bertemu dengan monster," kesal Sascha.


Seketika Dewa meledakkan tawanya. Ia baru saja mendapatkan kata-kata yang sangat lucu sekali dari istrinya.


Melihat Dewa yang tertawa, Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Memang benar apa yang dikatakan olehnya. Lebih baik Sascha bertemu dengan monster. Ketimbang bertemu dengan keluarga besar seperti itu.


"Apakah aku salah jika mengatakan sebenarnya?" tanya Sascha.


"Kamu tidak salah kalau kamu mengatakan hal sebenarnya. Aku juga tidak akan marah dan menuntut kamu. Mereka memang keluarga benalu dan selalu menuntut sang kakek. Agar sang kakek melakukan apa yang mereka mau. Untungnya aku sudah memasukkan mata-mata ke dalam rumah utama," jelas Dewa.


"Sebegitunya ya kakak.  Aku tidak menyangka kalau kakak memasukkan mata-mata ke rumah sendiri," ucap Sascha yang menghempaskan bokongnya lalu duduk dekat jendela.

__ADS_1


"Ya mau bagaimana lagi. Sedangkan Paman Kobe tidak pernah pulang ke rumah. Jika ada perlu saja Paman Kobe pulang ke rumah. Itu pun hanya sebentar karena sering disindir sama mereka. Karena tidak berhak untuk tinggal disana," beber Dewa sebuah fakta yang membuat Sascha terkejut.


"Apakah itu benar?" tanya Sascha.


__ADS_2