
"Kamu tahu sendiri," jawab Sascha yang memberikan sebuah teka-teki.
"Tidak perlu dipikirkan. Kelak kamu akan mendapatkan gantinya,'' jawab Dewa yang mengusap rambut Sascha. "Aku harap kamu selalu bersamaku."
"Always forever,'' ucap Sascha yang telah menyadari cintanya semakin berkobar seperti api membara.
"Jangan pernah berubah dan berpaling dariku. Aku mohon!" bisik Dewa.
"Aku tidak akan berpaling darimu walau ada badai menghadang di depan kita. Kelak cerita ini akan aku ceritakan kepada mereka," jawab Sascha yang mengangkat kepalanya.
"Mereka siapa?" tanya Dewasa yang memandang wajah Sascha.
"Anak-anak kita dan cucu-cucu kita kelak," jawab Sascha. "Memangnya kakak enggak mau memiliki mereka?"
"Kata siapa yang enggak mau? Tapi aku enggak minta sekarang. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama untuk merawatmu,'' jawab Dewa yang menggenggam tangan Sascha dengan erat.
"Iya... iya... aku paham itu. Aku juga harus sembuh," ujar Sascha.
"Bolehkah aku meminta izin ke kamu?" tanya Dewa dengan serius.
"Izin apa?" tanya Sascha yang melihat Dewa yang sedang serius.
"Aku ingin memecat Santi,'' jawab Dewa.
Sascha terkejut dengan permintaan Dewa. Sascha bingung dengan pertanyaan Dewa. Sascha teringat akan perlakuan Santi kepada dirinya. Sascha sering ditindas di perusahaan. Bahkan Sascha juga sering difitnah oleh Santi. Namun dibalik itu semuanya, Dewa melindungi Sascha dengan menerjunkan Marty.
Sascha akhirnya menganggukan kepalanya tanda setuju. Sascha sudah tidak peduli lagi dengan Santi. Lalu Dewa segera memberikan sebuah perintah kepada Tommy untuk memecat Santi.
Jakarta Indonesia.
Tommy yang sedang menikmati wine bersama Bima sedang bercerita. Mereka sedang bercerita tentang masa lalunya ketika kuliah. Bima yang dikenal playboy ini menceritakan berbagai macam tipe wanita sering ditemuinya. Bahkan Bima mengerti mana wanita yang baik dan buruk.
__ADS_1
"Jika kamu bisa membedakan wanita yang berakhlak baik dan buruk aku ingin bertanya," kata Tommy yang sedang meraih ponselnya.
"Tanyakan saja padaku," jawab Bima.
"Bagaimana dengan Santi, Dita dan Sascha?" tanya Tommy.
"Sudah jelas sifat mereka. Santi kurang baik untuk dijadikan pasangan. Sascha adalah istri idaman. Tapi sayang," jawab Bima yang meraih botol wine kemudian menuangkannya di gelas.
"Sayang kenapa?" tanya Tommy.
"Sudah ada yang punya. Siapa lagi kalau bukan Dewa," jawab Bima yang terkekeh.
"Aku tahu itu. Bahkan Dewa sudah menjadi bucin,'' jawab Tommy.
"Ya baguslah... aku senang melihat Dewa yang sudah memiliki pasangan," celetuk Bima. "Dita menurutku wanita yang baik. Tapi Dita adalah wanita bar-bar. Bahkan kebar-baran itu tertular ke Sascha."
Tommy melihat sebuah pesan dari Dewa. Matanya membulat sempurna dan terkejut. Melihat Tommy terkejut Bima segera mengambil koran yang di depan itu sambil menggulungnya. Akhirnya Bima memukulkan koran itu ke arah lengan Tommy.
Tommy terkejut kemudian menatap Bima. Tommy tersenyum devil sambil berkata, "Tekad Dewa sudah bulat untuk memecat Santi."
""Apakah itu benar?" tanya Bima dengan bahagia. "Biasanya Sascha akan melarangnya dan diberi kesempatan untuk kesekian kali."
"Mungkin Sascha sudah lelah dengan semua ini. Aku malah suka keputusan Sascha satu ini,'' puji Tommy.
"Apakah kamu akan mengabulkannya?" tanya Bima.
"Ya... aku akan mengabulkannya," jawab Tommy. "Besok pagi aku akan memecatnya."
Seoul Korea Selatan.
Sesampainya di Bandara Internasional Incheon mereka langsung keluar dari mobil. Para pengawal dari Gerre segera mengawal mereka. Gerre ingin membuat Sasha nyaman. Namun menurut Sascha peristiwa ini sangat membingungkan. Kenapa Sascha harus mendapatkan perlakuan seperti ini? Bukankah Sascha adalah orang biasa? Memang Sascha adalah orang biasa. Akan tetapi Sascha belum sadar bahwa sang mama adalah aktris Hollywood dan juga seorang model. Dewa yang melihat ini sudah biasa. Bahkan hampir setiap hari hidupnya sering menjadi konsumsi publik di dunia bisnis. Ditambah lagi Dewa adalah seorang bisnisman yang cukup mumpuni walau usianya masih muda.
__ADS_1
Sascha sangat terkejut melihat banyaknya wartawan. Sascha sungguh shock melihat beberapa wartawan yang sedang berkerumun. Mereka sengaja sedang mengejar sang mama. Namun dengan cepat pengawal Gerre membawanya ke jalur VVIP.
Ketika sampai di jalur VVIP Sascha sangat lega sekali. Jujur saja Sascha tidak menyukai kerumunan seperti tadi. Mereka akhirnya menunggu jet pribadi milik Gerre yang belum datang.
"Kenapa orang-orang itu berkerumun dan menanyakan sesuatu kepada Mama?" tanya Sascha yang belum tahu dengan profesi Chloe.
"Kamu harus tahu kalau mamamu adalah seorang aktris Hollywood dan juga seorang model cantik," jawab Dewa yang menjelaskan profesi sang calon mama mertuanya itu.
"Apakah itu benar?" tanya Sascha yang baru mengetahuinya.
"Memangnya kamu belum tahu?" tanya Dewa lagi.
Sascha menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Sebelum kami terpisah mama enggak pernah cerita apa profesinya itu?"
"Ya kamu benar," sahut Chloe yang mendengar percakapan Sascha dan Dewa. "Setelah mama menikah dengan papamu itu mama memutuskan untuk vakum yang dimana waktu yang belum bisa ditentukan. Mama sengaja vakum karena akan fokus kepada keluarga. Namun Mama juga enggak bisa lepas dari perusahaan yang ditinggalkan oleh opamu. Meskipun perusahaan itu sudah menjadi anak cabang di Khans Company. Namun Mama tetap mengurusnya sampai hamil dan melahirkan kamu."
"Kamu siap-siap saja hidupmu akan di kelilingi oleh banyak wartawan. Enggak dari mana aja. Tuh dari calon suamimu yang memiliki segudang prestasi," ujar Gerre yang selesai terima telepon.
Sascha menganggukkan kepalanya dan menyetujui ucapan sang papa. Siap tidak siap Sascha harus menerima kenyataan ini. Sascha juga akan menjaga sikap untuk tidak memperburuk citra sang mama dan Dewa.
"Pesawat sudah siap! Ayo kita berangkat!" ajak Gerre.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan ruangan VVIP itu untuk menuju ke tempat landas. Beberapa pengawal Gerre masih setia mengikutinya. Bahkan Sascha menjadi risih. Ya.. Sascha sangat risih sekali. Sascha jengah diperlakukan seperti itu. Lalu mau bagaimana lagi Sascha harus mengikuti prosedur dari Gerre. Sesampainya di depan jet pribadi, Sascha benar-benar terpukau apa yang dilihatnya itu. Gerre memiliki beberapa jet pribadi yang mewah. Yang di depan ini adalah salah satunya. Sascha hanya bisa berucap, "Apakah papaku adalah seorang sultan?"
"Iya... papamu adalah sultan. Dan kamu tahu jet ini? Ini adalah koleksi papamu itu," bisik Dewa yang segera menarik tangan Sascha untuk segera naik ke dalam jet
Kehidupan Sascha berbanding terbalik dengan orang tua kandungnya. Sascha harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga angkatnya itu. Sascha harus pontang-panting mendapatkan uang. Sering sekali Sascha mendapatkan cibiran dari sang adik dan juga suaminya itu. Bahkan Kinanti sering memanggil teman gengnya untuk membully Sascha di sekolah. Tapi Sascha tidak pernah patah semangat. Sascha memiliki tekad yang kuat untuk bangkit meski dirinya harus terjatuh bertubi-tubi.
Ketika memasuki ke dalam pesawat mata Sascha membulat sempurna. Sascha tidak menyangka di dalam pesawat sangat mewah. Banyak barang-barang mahal yang menghiasi pesawat itu. Gerre sengaja mendesain pesawat itu agar keluarganya nyaman. Gerre menambahkan warna putih dan gold. Kedua warna itu melambangkan kemewahan sang pemilik.
Tiba-tiba saja seorang pramugari cantik mendekati Sascha. Pramugari itu menyapa dan tersenyum kepada Sascha dengan sopan, "Selamat malam nona. Silakan duduk di kursi penumpang karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas."
__ADS_1