
“Papa sudah menyuruh para pengawal untuk membawakan rudal itu ke sini,” jawab Devan.
“Apa itu benar?” tanya Sascha.
“Iya, sekarang lagi dilepas sama mereka,” jawab Devan yang melihat Sascha yang bahagia.
“Apakah Sascha sedang hamil?” tanya Bima.
Sascha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Enggaklah.”
“Ada apa ini?’ tanya Dewa yang baru saja datang bersama Timothy.
“Aku enggak apa-apa kak,” jawab Sascha.
“Beneran... enggak ada apa-apa?” tanya Dewa sambil tersenyum manis.
“Aku enggak apa-apa kak,” jawab Sascha.
“Apakah istri kamu itu hamil?” tanya Gerre.
“Sepertinya,” jawab Dewa yang asal.
“Tadi Sascha bilang kemarin sedang ada tamu. Mana mungkin sekarang hamil,” tambah Dewa yang menggelengkan kepalanya karena melihat ulah Sascha yang lucu.
“Kemarin itu kapan?” tanya Gerre.
“Hmmp... sebulan yang lalu,” jawab Sascha dengan polos.
Jederrrrr.
Terkejutlah para papa di sini. Bisa-bisanya Sascha berkata jujur dengan mereka. Lalu bagaimana dengan sikap Dewa? Dewa hanya tersenyum manis.
Tiba-tiba saja Dewa teringat akan kejadian di apartemen. Ia mulai tersenyum bahagia dan bersoral kegirangan. Menurutnya benih supernya sudah berkembang dengan baik di dalam perut Sascha.
“Akhirnya,” celetuk Dewa tanpa dosa.
Melihat Dewa yang tersenyum manis, Gerre dan Devan mulai curiga. Ada apa dengan mereka? Setahu mereka, Dewa dan Sascha baru saja menikah kurang lebih dua minggu. Tapi kenapa Sascha mengatakan kalau dirinya sudah telat seminggu?
“Ini sangat aneh sekali!” ucap Gerre dalam hati yang didengarkan oleh Devan.
“Memang ini sangat aneh. Bukannya mereka menikah belum ada sebulan? Kenapa Sascha sudah hamil?” tanya Devan yang berganti menatap Gerre dengan memakai suara hati.
“Ini ada yang enggak beres,” ucap Gerre yang masih berjaga dalam hati.
Devan memberikan sebuah kode untuk menyuruh Bima dan Timothy pergi dari ruangan ini. Bima dan Timothy langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Ketika di ambang pintu, ada Tommy dan Ian masuk ke dalam. Dengan cepat Bima dan Timothy menarik baju mereka.
“Eh... katanya meeting sebentar lagi?” tanya Ian mencoba untuk masuk ke dalam.
“Udah ikut aja,” ajak Bima yang meninggalkan ruangan itu.
Terpaksa mereka akhirnya pergi meninggalkan ruangan itu. Bima akhirnya pergi ke halaman depan. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh terhadap Dewa dan Sascha.
Sebenarnya Bima dan Timothy sedari tadi menahan tawanya. Mereka tahu kalau Gerre dan Devan sedang melaksanakan sidang dadakan untuk Dewa dan Sascha.
“Ada apa sih?” tanya Tommy yang malas melihat mereka berdua.
“Ada sesuatu yang ingin bicarakan secara internal,” jawab Bima.
“Apa itu? Apakah Dewa ketahuan selingkuh dengan wanita lain?” tanya Tommy yang mencari rokoknya.
“Sembarangan saja kamu ngomong. Kamu tahukan kalau Dewa sudah cinta mati sama Sascha? Jadi mana mungkin dia selingkuh. Jujur gue sendiri enggak akan rela melihat Sascha diselingkuhin. Gue hajar habis-habisan itu anak,” kesal Bima jika seandainya hal itu terjadi.
“Jadi apa masalahnya?” tanya Ian.
“Lu tahukan kalau Dewa itu nikah sama Sascha belum ada sebulan. Kurang lebih dua minggu. Tiba-tiba saja Sascha pengen rudal,” jawab Bima yang membuat Tommy dan Ian terkejut.
“Apakah itu benar?” tanya Tommy yang benar-benar terkejut.
“Iya. Wajahnya mirip sekali seperti orang ngidam. Kan jadinya aneh. Mereka mulai curiga kalau Sascha ini sedang hamil. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah kenapa Sascha bisa telat sebulan?” tanya Bima yang membuat mereka bingung.
Setahu mereka Dewa adalah pria yang pendiam. Ia tidak akan mungkin melakukan hal begituan sebelum menikah. Akhirnya mereka saling memandang dan bertanya-tanya, jangan-jangan mereka?
“Ya... siapa lagi kalau pelakunya Dewa,” ucap Timothy.
“Tuh... kedua orang sedang disidang di dalam ruangan tadi,” ucap Timothy.
Mereka yang malas dengan Bima dan Timothy akhirnya tertawa terbahak-bahak. Mereka membayangkan kalau Dewa akan mendapatkan hukuman dari Devan.
“Aku enggak bisa membayangkan jika Dewa terkena hukuman,” sahut Ian yang notabennya mengetahui kalau dirinya memegang rahasia milik Dewa.
“Habis dech dia,” ujar Bima yang masih melanjutkan tawanya.
Sementara di ruangan itu, suasananya cukup mencekam. Devan yang memiliki jiwa lembut mulai meledakkan amarahnya.
“Dewa!” teriak Devan yang membuat Sascha terkejut.
Sascha pun menjadi bingung dengan apa yang dilakukan oleh Devan.
“Kok suasananya menjadi horror begini ya,” ucap Sascha di dalam hatinya.
“Maksud papa apa?” tanya Dewa.
__ADS_1
“Kapan kamu menikah Dewa?” tanya Devan yang geram dengan kelakuan sang putra.
“Baru dua Minggu kemarin pa,” jawab Dewa dengan jujur.
“Lalu, kenapa putrinya Gerre sudah hamil?” tanya Devan.
“Benarkah itu?” tanya Dewa dengan mata berbinar.
Dengan kesalnya Devan hanya bisa melihat kelakuan Dewa. Kemudian dengan nada meninggi Devan berkata, "Bilangnya sebelum terjadi pernikahan, kamu akan menjaga Sascha dan membiarkan semuanya akan terjadi saat malam pertama? Tapi kenapa kamu melanggarnya?” tanya Devan.
“Ya... namanya juga pria baru beranjak dewasa. Jadinya pengen coba bagaimana rasanya melakukan olahraga malam di atas ranjang bersama Sascha,” jawab Dewa sambil menjelaskan dengan polos.
Kedua pria paruh baya itu hanya menepuk jidatnya bersama-sama. Entah ada setan apa yang merasuki ke dalam diri Dewa. Sehingga jawabannya menjadi benar dan konyol.
“Kan bener ya pa,” ucap Dewa yang tersenyum tanpa dosa.
“Sakarepmulah. Untung saja Sascha adalah putri Gerre,” kesal Devan yang ingin melemparkan Dewa ke suatu tempat.
“Seharusnya kita berdiskusi terlebih dahulu sama papa. Kapan Sascha boleh hamil. Kamu tahukan musuh bisa berkeliaran,” ujar Devan yang memberikan sebuah nasehat.
“Kalau aku hamil ya sudahlah pa. Ini juga kesalahan aku juga. Aku berbuat begitu hanya sekali enggak bakalan jadi,” ujar Sascha dengan jujur.
“Tapi tak apa-apa dech. Lebih baik kamu periksakan ke dokter saja,” pinta Gerre yang mau menerima keadaan.
“Papa ngapain ke sini?” tanya Sascha.
“Damar dan David akan membunuhmu,” jawab Gerre yang membuat Sascha tersenyum manis.
“Sudah kena mental rupanya itu orang,” celetuk Sascha.
“Aku enggak tahu kenapa itu orang juga ikut-ikutan pengen membunuh aku?” tanya Sascha.
“Suruh mereka ke sini!” titah Devan.
Dewa mengambil ponsel Sascha sambil mencari nomor Timothy. Ia mengirimkan sebuah pesan agar mereka ke sini.
“Kesini kalian!” titah Dewa.
Dalam hitungan menit mereka datang bersamaan. Mereka langsung dalam posisi duduk.
“Ada masalah gawat.Cathy dan Damar sudah membuat rencana. Rencana ini tidak akan bisa terdeteksi secara jelas. Kecuali jika tidak Leo yang menjebol ponsel Cathy,” ucap Timothy.
“Apakah mereka ada acara di sini?” tanya Sascha yang membuat analisis.
“Tidak. Cathy ingin bertemu dengan Fatin. Aku sudah menerjunkan beberapa orang untuk mengetahui rencana Cathy.
“Sudah aku tebak,” sahut Sascha.
__ADS_1
“Maksud kamu apa?” tanya Devan dan Gerre secara bersamaan.