Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERSIAPAN MENYAMBUT HARI SAKRAL.


__ADS_3

"Iya itu benar. Aku pernah mengalaminya. Bahkan klienku itu yang menjadi bulan-bulanannya Sascha sangat trauma sekali. Jujur aku tidak tahu harus ngomong apa lagi. Tapi ada benarnya juga kalau Sascha itu adalah wanita terbaikku," jawab Dewa yang membuat gear menghela nafasnya.


"Ya udah deh pa. Aku undur diri dulu. Besok pagi adalah hari yang sakral buatku. Aku akan melepas masa lajangku besok," pamit Dewa.


Keesokan harinya kedua insan berbeda jenis kelamin itu terbangun dari tidurnya.mereka memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Dewa yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, terkejut akan kedatangan Bima dan Tommy. Mereka membawakan sebuah pakaian untuk dipakai dalam upacara pernikahan.


"Kok kalian berdua yang datang?" tanya Dewa.


"Anak-anak sudah berkumpul di gereja. Mereka mengamankan gereja tersebut agar tidak terjadi penyerangan dari keluarga Billi," jawab Bima.


"Apakah kalian mengundangnya?" tanya Dewa lagi sambil meraih baju tersebut.


"Enggak. Pernikahan kalian sangat privat sekali. Tidak ada orang yang datang kecuali keluarga. Memang para papa sengaja menikahkan kalian agar tidak terjadi apa-apa. Lalu mereka meminta upacara pernikahan ini sangat privat sekali. Tidak mengundang wartawan ataupun orang luar," jawab Tommy.


"Ya sudah kalau begitu. Yang penting sah. Soal resepsi tunda dulu sampai semuanya selesai begitu juga dengan bulan madunya," jelas Dewa yang mengganti bajunya di depan mereka.


"Kenapa ditunda?" tanya Tommy.


"Karena ada sesuatu hal yang ingin dikerjakan. Dua perusahaan akan membuat aku dan Sascha menjadi berat. Yang pertama Nakata's Groups dalam bahaya. Cepat atau lambat Jayden akan membuat ulah. Yang kedua pihak Mama membuat ulah," jawab Dewa dengan serius.


Sementara di ruangan rias. Sascha sudah memakai gaun pernikahan yang diberikan oleh Devan pada waktu lalu. Meskipun sederhana namun kelihatannya sangat elegan. Para mama dan Dita sangat terkejut sekali akan kecantikan Sascha.


"Apakah kamu sudah selesai?" tanya Chloe.


"Sudah ma," jawab Sascha dengan santai.


"Astaga," pekik Dita.


"Ada apa Dita?" tanya Sascha.


"Apakah benar ini kakak iparku?" tanya Dita yang memuji kecantikan Sascha.


"Ya itu benar. Kakak perempuanmu sangat cantik sekali," ucap Tara yang menggandeng tangan Sascha.

__ADS_1


"Oh iya benar juga. Kak Dewa akan mengurung kakak setelah ini. Aku rasa Kakak akan menangis semalaman karena ulah Kak Dewa," bisik Dita hingga membuat Tara melotot.


"Apa yang kamu katakan Dita?" tanya Tara yang menggelengkan kepalanya.


Dita segera kabur dari sana karena takut sang Mama marah. Sedangkan Sascha tertawa melihat ulah Dita. Pagi ini adalah hari yang cerah. Seluruh kota Jakarta sudah menyambut kesibukan warganya.


Setelah semuanya sudah siap, Gerre masuk ke dalam. Gerre tidak sengaja melihat wajahnya sang anak sangat cantik sekali. Gerre sempat tidak percaya kalau Sang Putri adalah versi dirinya perempuan. Akan tetapi Gerre sangat mencintainya.


"Apa yang ingin kamu katakan pada papa?" tanya Gerre yang memegang tangan lembut Sascha.


"Aku tidak ingin mengatakan apa-apa," jawab Sascha.


"Oh iya... Setelah kamu menikah. Tinggallah di mansion papa," pinta Gerre.


"Aku harus membicarakannya dengan Kak Dewa. Karena aku tidak bisa memutuskannya begitu saja," ucap Sascha.


"Kamu benar. Setelah menjadi pasangan suami istri, semua masalah harus dibicarakan oleh dua orang," sahut Chloe.


"Kalau begitu ayo kita berangkat," ajak Gerre.


Ketika sudah sampai di lobby, mereka tidak sadar Risa sedang lewat. Ia pun tidak memperhatikannya. Jadinya Sascha tidak memperdulikannya.


Sementara itu Risa terkejut melihat Sascha memakai baju pengantin mewah. Ia meraih ponselnya untuk mengambil beberapa foto dari sudut pandang yang berbeda. Risa akan membuat foto itu menjadi senjata. Agar keluarga Billi melupakan Sascha.


"Kali ini lo kena sama gue! Diam-diam lo punya selera rendah! Lu nikah sama laki-laki yang sudah tua! Gue akan membuat berita ini menjadi besar!" cibir Risa.


Setelah mengambil foto itu, bisa segera meninggalkan tempat hotel itu. Ia mengaku puas karena mendapatkan berita tersebut secara mendadak. Cepat atau lambat dirinya akan membuat keluarga Billy mencemoohnya lebih parah. Jalan satu-satunya adalah Risa akan memprovokasi Fatin.


Sedangkan Dewa baru saja berangkat ke gereja. Dewa diantarkan oleh Bima dan Tommy. Sepanjang perjalanan Dewa sangat merindukan Sascha. Ketika ingin menghubunginya Bima melarangnya. Sebab kedua ponsel Saschs yang memegang adalah Mama mertuanya.


Di tempat lain keluarga Kinanti terkena sial bertubi-tubi. Pasalnya Kinanti membuat ulah lagi. Sekarang Kinanti menjadi istri simpanan Pak Darto. Lalu Bagaimana nasib Ricky? Kinanti hanya melampiaskan hasratnya saja. Kalau masalah uang dirinya memang pandai merayu om-om untuk dijadikan simpanan.


Sungguh malu buat keluarga Pak Andika. Bisa-bisanya Kinanti menikah dengan dirinya? Bahkan Pak Darto sudah memiliki enam istri.


"Bu," panggil Pak Andika.

__ADS_1


"Ada apa pak?" tanya Bu Nirmala.


"Ternyata Kinanti tidak pulang beberapa hari sedang melaksanakan akad nikah bersama Pak Darto di KUA kampung sebelah," jawab Pak Andika sambil mengelus dadanya karena kecewa.


"Entahlah Pak. Ibu sudah tidak bisa mencegahnya lagi. Semakin lama anak itu memiliki kelakuan yang tidak benar saja. Lalu bagaimana dengan nasib Ricky?" tanya Bu Nirmala.


"Saat Kinanti masuk dalam penjara, Ricky tidak pernah kembali ke sini. Aku sudah tidak tahu lagi kabarnya gimana? Dan pernikahan mereka juga gimana aku sudah tidak mau tahu lagi. Bisa-bisanya anak kita mempermainkan janji Suci kepada Tuhan. Bapak sudah nggak sanggup lagi melihat Kinanti seperti itu," keluh Pak Andika.


"Ya mau bagaimana lagi Pak. Kita punya anak perempuan satu-satunya. Andaikan saja rahim ibu tidak diambil. Kemungkinan besar Ibu bisa mengandung lagi. Tapi itu tidak mungkin. Tumor itu hampir merenggut ibu," ucap Bu Nirmala.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Jujur saja bapak malu pada semua warga di sini. Jika ada Sascha kemungkinan besar kita tidak akan mungkin kesepian seperti ini," ungkap Pak Andika dengan penuh kesedihan.


"Entahlah Pak. Seandainya saja Sascha adalah anak kandung kita. Ibu akan menyayanginya setulus hati. Tapi keadaannya sudah berbeda. Sascha sudah kembali ke keluarganya. Itulah yang membuat kita memiliki jarak diantara sama Sascha.


"Kalau begini terus Bu. Kemungkinan besar bapak ingin meninggalkan dunia ini. Bapak sudah tidak kuat menahan malu. Semakin lama kelakuannya Kinanti semakin kurang ajar. Hampir setiap hari selalu membuat ulah dan masalah. Hingga kita yang menyelesaikan semuanya. Contohnya pada pagi ini, ada satu tetangga yang diusiknya. Anaknya ditangkap lalu dipukulin sampai bapak belur. Orang itu ingin meminta pertanggungjawaban," jelas Pak Andika.


"Bagaimana ini pak?" tanya Bu Nirmala.


Terpaksa aku mengambil uang tabungan untuk sementara waktu. Anak itu harus dioperasi karena lukanya memar parah. Tulang iganya ada yang patah. Seumur-umur Aku tidak pernah nakal seperti itu. Aku malah ingin mencari teman yang baik. Ini malah kebalikannya," jawab Pak Andika yang bersedih


"Apakah kita akan pindah dari sini?" tanya Bu Nirmala.


''Saran bapak ndak usah dulu. Karena rumah yang kita tempati adalah peninggalan orang tua kita. Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Bapak takut kalau Kinanti menjual rumah ini hanya demi kesenangan jiwanya semata," jawab Pak Andika dengan serius.


"Kita sudah tidak memiliki keturunan lagi kecuali Kinanti. Jika kita berikan kepada Sascha, kemungkinan juga Sascha tidak mau. Selesai juga tidak akan pulang kampung lagi. Mau tidak mau kita akan berikan ke Pak RT untuk menampung anak-anak yang kurang mampu. Jika kita sudah tidak ada lagi di sini," saran Bu Nirmala dengan tegas.


"Tidak apa-apa. Lebih baik diberikan ke kecamatan untuk dijadikan panti asuhan. Seluruh aset yang kita miliki akan bapak sumbangkan ke anak-anak yang tidak mampu sekolah. Biarkan Kinanti mencarinya sendiri. Dan merasakan susahnya mencari uang dengan keringat sendiri," tambah Pak Andika.


"Bagaimana jika Kinanti mengamuk?" tanya Bu Nirmala.


"Biarkan saja. Kita terlalu memanjangkan sejak kecil. Makanya sampai saat ini Kinanti menjadi anak keras kepala," jawab Pak Andika yang membuatnya lesu.


"Kalau begitu ya sudahlah. Kalau nggak sanggup ya sudah. Kenapa juga kita bertahan seperti ini? Jalan satu-satunya adalah mendoakan Kinanti agar cepat sadar," pinta Bu Nirmala dengan lembut.


"Bu, seharusnya kita pergi ke Jakarta hari ini," sahut Pak Andika.

__ADS_1


"Memangnya ada apa Pak?" tanya Bu Nirmala.


__ADS_2