Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEMATIAN FATIN.


__ADS_3

“Kenapa juga harus takut? Aku sendiri tidak memiliki masalah dengan Aulia. Kalau aku memiliki masalah. Maka dia akan mengadukanku kepada papanya Itu. Aku nggak tahu apalagi yang akan terjadi nanti. Tapi Aulia itu sangat lucu sekali. Pipinya emang menggemaskan. Terus wajahnya sangat imut sekali. Kadang-kadang Aulia itu memiliki sifat yang sangat kocak sekali. Ditambah lagi dengan kata-katanya yang membuat orang tertawa. Jujur baru kali ini aku melihat seorang gadis yang sangat menggemaskan seperti itu,” jelas Dewa.


“Kisah hidupnya sangat menegangkan. Bagaimana tidak? Mulai dari diculik hingga bertemu dengan keluarga aslinya. Keluarga aslinya yang sangat kaya raya itu. Bajunya itu sangat membingungkan sekali,” ucap Bryan.


“Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Setelah kasus ini selesai, Lu urus kasusnya Fatin. Dia ternyata diam-diam bekerja di perusahaan Khans company. Dia juga ingin merencanakan pembunuhan tentang Aulia. Aku pengen diam diam di penjara dalam jangka beberapa lama,” pinta Dewa.


“Memang itu orang tidak ada matinya. Nggak bini lu aja korbannya. Banyak sekali yang menjadi korban. Semuanya orang udah pada lapor. Berita itu menjadi viral. Kepolisian sudah menerima banyak laporan. Bahkan berkas berkasnya sudah menumpuk udah kayak apa itu di meja,” jelas Bryan membuat Dewa tertawa.


“Ya itulah. Gue nggak habis pikir sama dia. Kenapa dia seperti itu. Yang lebih anehnya lagi dia itu tidak pernah kapok untuk melakukan kejahatan. Selalu saja seperti itu. Terkadang aku sendiri bertanya-tanya. Kenapa ada orang seperti itu di dunia ini?”


“Jangankan elu. Gue juga masih bertanya-tanya. Memang sangat aneh sekali. Kalau tidak aneh ya dunia ini tidak akan seunik ini,” sambung Bryan.


“Lu jadi, nanganin kasus Fatin?” tanya Dewa.


“Mending mundur alon-alon saja ya. Lagian juga mereka itu tidak ada guna sama sekali. Banyak kok korbannya. Kamu tinggal menonton saja bersama Aulia.”


“Gue nggak bisa ngebayangin itu orang kayak apa? Jujur gue geram saja sama dia. Bisa-bisanya dia memikirkan tas dengan harga mahal. Namun uangnya nggak punya sama sekali. Ujung-ujungnya meres sama Aulia. Untung saja saat itu gaji milik Aulia langsung aku ambil. Gaji lima puluh juta, malahan aku kasihkan ke dia lima juta saja.”


“Lu gila kali ya. Gaji Aulia lu potong segitu banyaknya. Untung saja dia tidak perhitungan.”


“Gue sengaja memotongnya. Gue memang nggak make. Tapi gue lihat Aulia saat itu hidupnya terancam. Coba saja Lu pikir. Gaji sebanyak itu bisa habis dalam waktu seminggu doang. Ujung-ujungnya setelah gue periksa. Lenyap ke Fatin dan keluarganya. Memang itu orang-orang brengsek sekali,” tambah Dewa.


“Sekarang nggak usah lu pikirin soal itu. Semuanya masalah sudah clear. Aku nggak akan mengurusi kasusnya Fatin. Lebih baik di ngurusin kasus-kasus pembunuhan atau apa gitu. Soalnya gue sendiri sangat males bertemu dengan keluarga bermuka dua itu,” ucap Bryan dengan jujur.


“Jadi siapa yang ngurusin kasus ini?”


“Tenanglah... Ada Tama Yulianto. Dia memang temen gue. Dia juga pernah berurusan dengan Fatin. Dia lebih kocak lagi. Pas tahu gue lagi ngurusin kasusnya Aulia. Dia mendekatiku. Dia merayukur untuk mendapatkan kasus itu. Terus gue tanya kenapa lu nyuruh gue kayak gitu. Karena gue ada urusan sama itu orang. Akan gue jebloskan dia di dalam penjara. Kurang lebih sepuluh tahun. Mau nggak mau gue ngelepasin. Tapi dengan syarat gue akan memantaunya dari jauh. Gue yakin kalau Fatin tidak akan pernah lagi mengusik Aulia.”


“Gimana mengusik? Lagian dia juga di penjara seumur hidup. Anak-anaknya udah pada kabur entah ke mana. Gue dulu pernah ke rumahnya nyari Billy. Ke mana para wanita di sini?”

__ADS_1


“Biasa belanja ke pasar. Paling ujung-ujungnya berburu makanan ringan. Di mana ada Dita. Di situ banyak sekali jajanan-jajanan pasar yang harus diburu,” jawab Dewa.


“Gue udah ngejual itu rumah. Tunggu sehari atau dua hari lagi. Rumah itu sudah ada pemiliknya.”


“Lu jual cepat ya?” tanya Dewa.


“Enggaklah. senggaknya para klien gue sedang mencari rumah di daerah pedesaan. Mereka kemungkinan besar sudah bosan dengan kehidupan kota. Kalau ada orang rumah di desa pasti mereka cepet-cepetan untuk membelinya. Kalau lu nggak percaya coba aja,” ucap Bryan yang tidak pernah main dengan kata-katanya itu.


“Kayaknya lu cocok banget jadi marketing,” puji Dewa.


“Kalau gue jadi marketing. Siapa yang nanti jadi pengacara? Masak nanti gue berantem sama Ian. Orang itu kan keras. Soalnya pukul bisa menghancurkan dunia. Tapi gue suka dari dia itu apa? Orangnya suka membuat lelucon. Tampangnya garang.. Terus orangnya dingin. Tidak pernah menyerah sama sekali. Jarang ngomong. Lagi yang ngomong buat cewek-cewek pada kelopak semua. Dibandingkan aku, Dialah orang yang pantas untuk menjadi manajer pemasaran maupun manajer marketing,” jelas Brian.


“Ya udah deh gue lanjutin bersih-bersih. Lu tidur aja lagi. Nanti siang gue pasti tidur.”


“Nanti bro. Gue lagi nungguin Dita ini.”


“Dita sekarang sudah sama Tommy.”


“Pintar juga otaknya. Ditambah lagi kelicikannya yang paripurna. Gue rasa dia sangat cocok sekali sama Dita.”


Setelah menemui Brian, Dewa membersihkan rumah lagi. Brian langsung mengecek pekerjaannya satu persatu. Untung saja pekerjaannya itu tidak memberatkannya hari ini dan beberapa hari ke depan. Brian ingin sekali santai terlebih dahulu. Ia seakan tidak memperdulikan pekerjaannya lagi. Ia memang ingin hidup bebas terlebih dahulu.


Sedangkan Sascha dan Dita sudah selesai berbelanja. Mereka akhirnya memutuskan pulang ke rumah. Saat pulang ke rumah mereka bertemu dengan para warga yang sedang pergi ke sawah. Dengan senyum ramahnya, mereka membalasnya kembali. Jujur kata mereka orang-orang di desa itu sangat baik sekali. Saking baiknya tidak ada semua orang pun yang ingin meninggalkan desa ini. Bagaimana dengan kehidupan Sascha selanjutnya? Apakah Sascha akan lanjutkan hidup di desa. Ada juga dia pindah ke kota? Entahlah hanya Sascha yang tahu jawabannya dan menentukan hidupnya juga.


Sesampainya di rumah, mereka langsung mengeksekusi bahan-bahan belanjaan itu. Mereka tidak segan-segan untuk memasak dengan kompak. Sedangkan para pria hanya bisa duduk dan menyaksikan mereka memasak.


Hanya waktu satu jam, kedua wanita itu selesai memasak. Mereka memanggil dewa dan Bryan untuk makan bersama. Tak lupa juga mereka sudah menyiapkan teh panas bersama penutup mulutnya. Bisa dikatakan menu hari ini adalah menu yang sangat komplit sekali.


Di tempat lain, Bima dan Tommy sedang bermain game. Tidak sengaja mereka mendapatkan pesan dari seseorang. Yang di mana pesan itu berisikan, kalau Fatin sudah tidak ada di dunia ini.

__ADS_1


Bima dan Tommy saling memandang dan mengurutkan keningnya. Bagaimana bisa seorang Fatin telah meninggal dunia. Mereka menghentikan permainannya dan tersenyum licik.


“Sepertinya ada yang janggal. Apakah kita tidak menyelidikinya terlebih dahulu?” tanya Tommy.


“Kalau begitu kita pergi ke kantor polisi. Aku yakin dia tidak meninggal dunia.dia pasti ada yang mengeluarkannya lalu kabur dari penjara. Kamu tahu kan kalau Fatin itu memiliki otak yang sangat licik sekali?” tanya Bima.


“Bagus itu... Gue suka gayanya.”


Dengan terpaksa mereka keluar dari zona nyamannya. Mereka memutuskan untuk pergi ke kantor polisi dan mengecek kebenarannya.


Di dalam perjalanan, Bima meminta pasukannya untuk mencari informasi tentang Fatin. Bima memberikan perintah untuk menghack seluruh CCTV. Insting Bima sangatlah kuat. Bima tahu kalau Fatin sedang kabur.


Setelah sampai di kantor polisi. Mereka menanyakan tentang kebenaran berita dari Fatin. Ternyata Fatin semalam sudah meninggal. Pihak kepolisian memberitahukan kalau Fatin ada yang memberikan racun tentang makanannya. Bima pun hanya bilang kasihan.


Jujur masalah ini memang ingin diselidiki oleh Brian. Namun si Fatin sudah keburu tiada. Maka dari itu Bima menghubungi Dewa dan mengatakan berita tersebut. Dewa hanya mengatakan Ya sudahlah mau diapain lagi.


Yang jadi pertanyaan buat Bima dan Tommy adalah siapa yang melakukannya? Jadi mereka memutuskan untuk diam dan tidak banyak bicara.


“Gila juga ini berita. Kira-kira siapa yang melakukannya itu? Padahal Fatin itu paling alergi dengan orang,” jelas Bima.


“Iya mana kita tahu. Lagian juga orang itu sering sekali membuat ulah. Firasatku sih yang membunuh adalah para korbannya. Coba saja kamu ingat. Berapa orang yang sudah menjadi korbannya saat ini?” tanya Tommy.


“Lu bener,” jawab Bima. “Lalu siapa yang melakukannya?”


“Jangan bilang kalau Papa Gerre yang melakukannya,” jawab Tommy.


“Ya nggaklah. Para Papa sudah kembali lagi ke New York. Kalau mereka melakukannya Kenapa harus sembunyi-sembunyi? Kalau dia punya rencana pasti cerita. Nggak mungkin kan mereka diam saja?” jelas Bima.


“Kalau kataku sendiri sih.... Mereka adalah korban-korban yang ingin menghabisinya. Kalau menurut data dari Brian. Mereka itu jumlahnya seabrek. Dari orang kecil hingga orang kalangan atas. Fatin itu memiliki musuh yang sangat besar sekali. Tapi ya syukurlah... Semuanya masalah ini sudah selesai. Tinggal musuh satunya lagi yang belum habis. Semoga saja tidak ada pengaruh yang lainnya. Kalaupun ada orang itu sudah membuat masalah dengan kita,” sambung Tommy yang meraih ponselnya di dalam kantong celana dan menghubungi Dewa.

__ADS_1


 


 


__ADS_2