Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEBOBOLAN.


__ADS_3

Kejadian demi kejadian yang Sascha alami, Dewa mengetahuinya. Terluka parah karena Billi dan keluarganya juga tahu. Namun Dewa hanya diam saja. Pria itu selalu memantaunya dari kejauhan. Hingga akhirnya Dewa mengetahui siapa mereka.


Saat semester pertama Sascha keluar dari pekerjaannya karena sibuk. Sascha memilih fokus pada pendidikannya karena memiliki impian besar. Sascha bercita-cita ingin menjadi manager keuangan di sebuah perusahaan ternama di Jakarta. Ia berencana mengincar beberapa perusahaan besar dan memilahnya. Namun ia terlebih dahulu mendapatkan tawaran pekerjaan dari perusahaan Nakata’s Groups. Ia lalu mengambil kesempatan tersebut walau lulusan SMK. Di sana Sascha bertemu dengan Tommy dan langsung ditempatkan di manager keuangan. Jujur Tommy sudah mengetahui sepak terjangnya ketika menjabat di EO terbesar di Jakarta. Selain sebagai ide kreatif Sascha juga menjabat sebagai asisten manager keuangan perusahaan tersebut. Di sanalah Tommy meminta Eric mengasah kemampuannya.


Setelah mendapatkan pekerjaan di D’Stars Inc. keluarga Billi sangat bahagia. Mereka mulai menjadikan Sascha sebagai tambang emas untuk keluarganya. Sang ibu sudah memikirkan rencana ini dengan matang agar bisa menikmati hasil yang didapatkan oleh Sascha. Berbagai alasan sang ibu untuk memeras Sascha dengan alasan yang dibuat-buat. Namun Sascha terkena tipu daya wajah cantik Fatin. Mau tidak mau Sascha merelakan uang gajinya untuk menolong sang ibu.


Dewa yang mengetahui Sascha diperas langsung berbicara pada Eric dan Tommy. Ia segera mengambil keputusan untuk menyelidiki Billi dan keluarganya. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Dewa terkejut setengah mati. Alasan yang dibuat oleh Fatin itu sebenarnya tidak ada. Mulai dari musibah kecelakaan yang menimpa Billi, adiknya diperas, kakaknya masuk penjara hingga investasi sawah itu semuanya bohong. Tanpa pikir panjang Dewa langsung meminta Erick memotong gajinya tanpa sepengetahuan Sascha. Sisa uang yang dipotong itu Dewa mengumpulkannya di ATM pribadi Sascha yang sengaja dipegangnya. Jujur Dewa sangat marah dan mengutuk keras Billi dan keluarganya. Orangtua mana jika tahu anaknya diperas?


Setelah Dewa memotongnya, Sascha sering sekali tidak memiliki uang sepeserpun. Sascha sudah membaginya untuk kebutuhan hidup dan mencicil rumah dan mobil. Di sinilah Fatin dan keluarganya mencak-mencak karena tidak terima uang dari Sascha tiap bulan. Mereka mulai memaki Sascha dengan nama-nama binatang yang berada di kebun binatang. Ditambah lagi kedekatannya dengan Dewa malah menambah kesan buruk di mata mereka. Sebenarnya Sascha dekat ingin menyambung tali persahabatan yang telah lama putus. Namun mereka mengklaim kalau dirinya adalah simpanan Dewa. Otomatis Dewa semakin bersemangat untuk memanas-manasi mereka. Bahkan Dewa sudah mengklaim di sosial media kalau Sascha adalah pendamping hidupnya kelak.


Semakin lama semakin menjadi Fatin mulai ngamuk dan memaki Sascha j4l4ng di sosial media. Begitu juga dengan Santi dan Billi semakin gencar melakukan aksi seperti itu. Tapi Sascha tidak memperdulikan hal itu. Dirinya semakin fokus bekerja. Ia tidak mau kehilangan mobilnya. Padahal mobilnya sudah dilunasi oleh Dewa.


Puncaknya Sascha pergi ke Bandung untuk menemui mereka. Bukannya mendapatkan senyuman dan penyambutan dirinya mendapatkan makian. Semakin lama hati Sascha sakit. Akhirnya Sascha memutuskan untuk menghilang dari mereka.


Bagaimana dengan soal pernikahannya bersama Billi? Mereka gagal menikah. Dewa sengaja mengajak Sascha ke Seoul. Di kota Seoul mereka terikat dengan perasaan satu sama lain.


Dewa sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya. Dengan lembut ia menelusuri setiap inchi dari tubuh Sascha. Matanya yang sayu membuatnya semakin panas ketika melihat tubuh mungil berwarna putih itu di hadapannya. Dewa segera mengajaknya ke ranjang dan langsung memulai aktivitas hubungan itu.


Ketika memasukkan ular kobranya ke dalam sarangnya Dewa merasakan kalau Sascha masih dalam keadaan segel. Ia adalah pria beruntung mendapatkan mahkota yang selama ini dijaganya. Dengan senyum mengembang Dewa membisiki sesuatu ke telinga Sascha agar rileks dan menikmatinya.


Tiga jam berlalu selesai ritual, Sascha dan Dewa memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Mereka tidak berbicara sepatah kata pun. Ketika berada di posisi seperti itu, Devan mengetuk pintu dengan keras untuk membangunkan Dewa. Dewa pun memutar bola matanya dengan malas dan langsung berteriak, “Ada apa?”


“Sascha kemana? Kok enggak ada. Papa mau bicara,” sahut Devan.


Jeder.

__ADS_1


Bagai petir di siang bolong. Dewa bingung harus mencari alasan apa ke Devan. Setelah makan malam Devan menyuruh Sascha untuk tidur terpisah dari Dewa. Devan tahu kalau itu anak tidak bakalan bisa menahan diri. Dengan segala cara yang dilakukan akhirnya Dewa menculik Sascha ketika sudah tidur. Alhasil Dewa menggendongnya dan membawanya ke kamar.


“Kenapa sih papa kok nyariin Sascha pagi ini?” tanya Dewa dengan kesal.


Sascha hanya tertawa melihat sang kekasih kesal terhadap Devan. Namun Dewa langsung membungkamnya dengan kecupan hangat. Sascha langsung menyembunyikan wajahnya dari Dewa. Sascha sungguh malu dengan Dewa.


“Wa!” teriak Devan. “Dimana Sascha?”


Terpaksa Dewa bangun dan menyelimuti Sascha hingga terbungkus rapi. Dewa segera memakai baju dan keluar menemui Devan sambil bertanya, “Ada apa pa?”


“Sebenarnya sih enggak ada apa-apa. Papa mau mastiin kalau Sascha tidak bersama kamu,” jawab Devan.


“Ya... Enggaklah pa. Sascha berada di dalam kamarnya,” jawab Dewa.


“Ya udah kalau begitu. Jangan berbuat hal yang aneh sebelum menikah,” ucap Devan hingga membuat Dewa menganggukkan kepalanya. “Papa mau pergi ke kantor terlebih dulu. Oh ya... Kobe pagi ini langsung pulang ke Jepang!”


“Ngapain ke Indonesia?” tanya Devan. “Mama kamu ada di sana.”


“Urusan kita berbeda pa,” jawab Dewa yang mulai serius.


“Urusan apa?” tanya Devan yang curiga.


“Melihat beberapa resort yang katanya sudah delapan puluh persen jadi,” jawab Dewa.


“Kan... Baru katanya,” celetuk Devan.

__ADS_1


Dewa mengepalkan kedua tangannya lalu memukul dinding kamarnya. Dewa sangat frustrasi melihat sang papa mengatakan baru katanya. Devan segera kabur dari hadapan Dewa karena tidak mau terkena amukan Dewa. Namun Devan tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda Dewa siang ini.


“Aku berangkat sore pa,” seru Dewa.


“Baiklah. Papa mau nitip,” sahut Devan.


“Nitip apa?” tanya Dewa.


“Nanti papa catat,” jawab Devan.


“Ok,” balas Dewa. “Paling-paling aku disuruh nyari keris pusaka di hutan!”


“Sekalian cari batu giok milik Dinasti Ming,” ledek Devan.


Dewa malas menanggapi ucapan Devan yang berdebat tidak ada faedahnya. Dewa segera masuk ke dalam dan melihat Sascha masih terbaring lemah. Dewa segera mendekatinya sambil bertanya, “Apakah kamu akan betah begini?”


“Kakak jahat banget sama aku. Tubuhku remuk seperti dihantam sama beton sepuluh ton,” kesal Sascha.


“Kalau begitu aku mandiin ya?” tawar Dewa.


“Nanti dech. Aku mau tidur lagi,” sahut Sascha yang menyembunyikan kepalanya di bawah selimut.


“Kapan pesawat berangkat?” tanya Dewa.


 

__ADS_1


 


__ADS_2