Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BIMBANG.


__ADS_3

"Dikira aku mencuri mobil orang," jawab Sascha sambil terkekeh lucu.


"Rasanya kamu tidak pernah mencuri mobil apapun. Saat itu aku menyuruh Eric untuk memberikan mobil agar bisa dipakai buatmu. Aku sengaja melakukan itu buat dirimu yang selalu bolak-balik Bekasi ke Jakarta begitu juga selanjutnya."


"Sebenarnya aku tidak minta mobil. Lagian aku hanya seorang asisten Kak Eric. Kenapa Kakak memberikan aku mobil?"


"Karena kamu sangat membutuhkannya."


"Kalau begitu aku kembalikan deh. Jalan alternatifnya adalah memakai busway saja."


"Ngapain memakai busway?"


"Jarak dari rumah kita menuju kantor bisa ditempuh memakai busway."


"Apakah kamu tidak malu memakai transportasi umum?"


"Aku nggak pernah malu. Aku malah lebih suka berbaur dengan orang lain."


"Kalau begitu aku juga akan memakainya. Beberapa mobil akan aku jual."


"Tidak bisa. Kamu tidak boleh melakukannya. Karena itu mobil aset yang berharga."


"Tapi yang paling berharga adalah kamu. Kamu adalah permata hatiku."


"Jangan kamu menjual semua mobilmu. Nanti banyak orang mencibirmu karena memakai transportasi umum."


"Itu nggak jadi masalah. Lebih baik aku akan menjualnya."


"Bolehkah aku usul kepadamu?"


"Usul apa itu?"


"Lebih baik kamu lelang dengan harga tinggi terus uangnya bisa disumbangkan kepada orang-orang yang tidak mampu sama sekali."


"Ternyata ide kamu sangat bagus sekali. Kalau begitu aku akan melakukannya. Tapi aku mohon sama kamu. Jangan pernah menjual mobilmu."

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh menjualnya?"


"Karena mobil itu kado dariku. Di saat kamu berusia tujuh belas tahun. Aku sengaja menabung uang untuk memberikan sebuah mobil."


"Kenapa kamu memberikan aku barang mewah seperti itu?"


"Sudah aku bilang kalau kamu adalah wanita paling spesial buat aku."


Sascha hampir saja menjual mobil itu. Rencananya ia memakai angkutan umum agar bisa sampai ke kantor. Akan tetapi Dewa melarangnya agar tidak menjual mobil tersebut.


Sascha baru mengetahui, mobil yang selama ini dipakai adalah kado ulang tahunnya dari Dewa. Jadi ia memutuskan untuk tidak menjualnya kembali. Bisa dipastikan mobil itu akan menjadi mobil pertama yang dimilikinya.


"Aku tidak akan menjualnya lagi. Biarkan mobil itu berada di garasi. Aku juga tidak akan membeli mobil lagi. Lebih baik aku memakai mobil itu," ucap Sascha.


"Terserah kamu mau beli mobil yang bagaimana? Oh ya... Sore ini kita akan pergi ke New York," ujar Dewa.


"Ngapain kita ke sana?" Tanya Sascha.


"Keadaan semakin genting. Perusahaanmu sedang berada di ujung tanduk. Sepertinya kamu harus ke sana," jawab Dewa dengan jujur yang semalam mendapatkan informasi tentang perusahaan tersebut.


Melihat sang istri sudah mulai berperang, Dewa menggelengkan kepalanya sambil berbisik, "Ojo rame-rame Aku luwe saiki."


Jederrrrrrr.


Untung saja pagi ini tidak ada petir datang. Hal ini dikarenakan Jepang sedang turun salju. Melihat Dewa yang mulai kumat, Sascha hanya tertawa. Ternyata Dewa adalah obat mujarab buat dirinya agar tidak melakukan peperangan bila waktunya belum tiba.


"Sungguh di luar dugaan. Bukannya diajak berperang malah mikirin makanan. Aku harus bilang apa?" tanya Sascha yang segera meninggalkan Dewa.


Setelah itu Sascha keluar kamar dan tidak sengaja berpapasan dengan Tara. Lalu Sascha mendekati Tara sambil bertanya, "Mama, apakah ada makanan untuk Kak Dewa?"


Mata Tara membulat sempurna. Bagaimana bisa Dewa benar-benar telat mengisi perutnya itu? Akhirnya Tara mengajak Sascha ke dapur.


"Onigiri dan tamagoyaki. Aku harap kamu menyukainya," ucap Tara.


"Bagaimana pelayan tahu jika aku menyukai dua makanan itu? Padahal aku tidak memintanya," ujar Sascha.

__ADS_1


"Tidak usah meminta. Kagak tahu makanan apa yang kamu sukai," seru Kakak Aoyama yang berada di ambang pintu.


"Maafkan aku kek. Aku merepotkan Kakek di sini," sesal Sascha.


"Kamu tidak merepotkan kakek. Justru itu kamu sudah menyelamatkan kakek dari Risa dan keluarganya. Kalau begitu kamu nggak perlu mikir-mikir terlalu jauh," pinta kakek Aoyama. "Diam-diam kamu sering memperhatikan kakek meskipun melalui pesan. Kalau begitu makanlah. Ajak Dewa untuk makan."


"Aku ingin makan di dalam kamar saja. Sepertinya Kak Dewa sedang membersihkan tubuhnya," Sascha meminta izin kepada kakek Aoyama.


"Kamu benar. Dewa jarang sekali makan di sini. Kalau begitu bawalah yang banyak agar kamu tidak lapar selesai sarapan," saran Tara.


Salah satu pelayan datang mendekati Sascha. Pelayan itu mulai menata makanan yang akan dibawa oleh Sascha ke kamar. Setelah selesai Sascha akan membawanya sendiri. Namun pelayan itu menengadahkan tangannya agar tempat makan itu berpindah. Akan tetapi Sascha tersenyum sambil berkata, "Nggak usah. Biar aku saja. Aku ingin melayani suamiku sendiri."


"Baiklah nyonya. Saya tidak akan memaksa lagi," balas pelayan itu sambil tersenyum dan mempersilakan jalan terlebih dahulu.


Kemudian Sascha membawa nampan itu ke kamar Dewa. Untung kamar Dewa di bawah. Jadi tidak mempersulit Sascha membawa makanan itu ke kamar.


Sesampainya di kamar Sascha mendengar suara gemerincing air dari dalam toilet. Lalu Sascha mendekatinya sambil mengetuk pintu, "Kak Dewa."


Dewa yang sedang mencuci rambut langsung membuka pintu sedikit. Lalu kepala Dewa keluar dan melihat Sascha. Dengan senyuman manisnya Dewa berkata, "Mandiin aku ya."


Sascha hanya menelan salivanya dengan susah payah. Lalu Sascha meninggalkan Dewa sambil masuk ke dalam selimut. Melihat sang istri kabur, Dewa tersenyum lucu. Entah kenapa dirinya ingin mengerjai Sascha. Merasa tidak tega dan mengingat tadi Sascha membuat boneka salju sendirian, Dewa mengurungkan niatnya sambil melanjutkan ritual mandinya.


Entah kenapa Sascha mulai mengantuk. Dirinya memejamkan mata sambil menarik selimut. Kemudian ia memutuskan untuk tidur sebentar.


Tiba-tiba saja Sascha berada di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga cantik di sekelilingnya. Entah kenapa dirinya melihat bunga-bunga itu dan merasa sedih. Beberapa saat kemudian ada seorang wanita paruh baya mendekatinya. Kemudian wanita itu memeluknya sambil mengelus rambut Sascha. Lalu wanita itu bertanya, "Cucuku, kenapa kamu bersedih seperti itu?"


Sontak saja Sascha mengangkat wajahnya dan melihat wanita paruh baya itu pun sambil tersenyum. Wajahnya sudah tidak asing lagi dan mirip sekali dengan Chloe sang mama. Setelah itu Sascha melepaskan pelukan sang nenek sambil berkata, "Aku tidak sedih Nek. Aku sedang memikirkan sesuatu."


"Iya... Nenek tahu apa yang kamu pikirkan? Kamu sudah memikirkan Perusahaan kita yang sudah dibangun oleh Papamu itu," ujar sang nenek.


"Itu bener nek. Tiba-tiba saja Aku teringat dengan perusahaan itu. Aku nggak tahu harus melepaskan atau memegangnya dengan erat. Jika aku melepaskannya kemungkinan besar seseorang yang ingin menguasainya akan menang. Jika aku memegangnya, Aku memiliki musuh yang banyak. Dan aku bisa melindungi orang-orang yang sedang mencari sesuap nasi demi menyambung hidup dirinya dan keluarganya itu," jelas Sascha.


"Kalau begitu pertahankanlah. Nenek dan kakek berada di belakangmu. Memang kita sudah berbeda alam. Tapi kami tidak akan pernah ikhlas melihat perusahaan yang sudah kami bangun hancur begitu saja," tambah sang nenek.


"Apakah itu benar Nek?" tanya Sascha dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2