
"Pokoknya aku nggak jadi terbang. Padahal aku pengen terbang ke Paris untuk berfoto dengan menara Eiffel," jawab Sascha.
"Kamu nggak mengajakku?" tanya Dewa.
"Sepertinya aku tidak akan mengajakmu ke mana-mana. Lebih baik kamu di sini aku berada di Paris," ucap Sascha yang membuat Dewa memegang sang istri agar tidak pergi kemana-mana.
"Yaelah... Pengen ke Paris aja susah," kesal Sascha.
"Ngapain juga ke Paris? Ke Tokyo yuk. Kita kan masih dalam rangkaian bulan madu. Pengen ke Labuan Bajo ujung-ujungnya ke Tokyo," ajak Dewa.
"Kalau aku nggak mau gimana?" tanya Sascha. "atau kita balik lagi aja ke Labuan Bajo sekalian mengecek pekerjaan di sana. Aku pengen lihat desain resort ku yang baru ini. Soalnya aku penasaran sama desain ku itu."
"Tidak apa-apa. Aku juga begitu. Soalnya aku sendiri yang memilih desain itu. Menurutku desain itu sangat cantik sekali," ucap Dewa.
"Tidak percaya diri soal itu."
"Harusnya kamu percaya diri soal desain itu. Aku sengaja mengambil desain itu. Aku ingin kamu bisa membuat sesuatu yang menarik."
"Jujur aku nggak bisa menggambar. Aku hanya corat-coret saja. Nanti deh kalau dilihat Bagaimana hasilnya? Kalau jelek aku akan menggantinya dengan desain milik kamu."
Dengan berat hati Dewa menganggukkan kepalanya. Jujur Dewa sangat menyukai desain yang dibuat oleh sang istri. Namun Sascha memiliki kepercayaan diri yang rendah. Diam-diam Dewa mendaftarkan desain tersebut ke satu proyek terkenal di dunia. Proyek itu adalah gabungan dari banyaknya pembisnis dalam sektor properti.
"Kamu jadi pulang ke Labuan Bajo?" tanya Sascha.
"Masalah sudah selesai. Benalu sudah hilang. Kita nggak usah terlalu mikirin soal itu. Kita akan memikirkan masa depan. Cepat atau lambat kita akan memiliki anggota baru."
"Jujur aku nggak bisa membayangkan, bagaimana jadinya jika dia masih hidup? Hidupku seperti di dalam neraka saja."
"Aku tahu itu. Aku juga nggak habis pikir. Kenapa Risa ingin menghancurkanmu? Padahal kamu tidak ingin membalasnya."
"Itu yang sedang aku pikirkan. Masalah apa yang sedang aku buat sama dia? Soal aku menjadi famous di kampus itu bukan keinginanku. Intinya aku di sana belajar dengan giat dan meraih cita-citaku. Aku sudah berjanji kepada Ibu Nirmala untuk meraih semuanya. S1 Aku sengaja mendatangkan Ibu Nirmala dan Pak Andika. Mereka sangat bahagia ketika aku meraih semuanya."
"Meskipun aku tidak hadir dalam wisudamu. Aku selalu mendapatkan info dari Tommy dan Dita. Dua orang itu selalu mengabarkan aku bagaimana keadaanmu. Rasanya hatiku membuncah ketika mendengar kabar kelulusanmu dengan nilai yang sangat bagus sekali."
"Terima kasih Kak."
"Sama-sama. Jadilah istri terbaikku sepanjang masa."
"Apa yang harus kita lakukan sekarang ini?"
__ADS_1
"Kamu maunya ke mana?"
"Aku nggak ingin ke mana-mana."
"Lalu?"
"Kapan kita kembali ke Labuan Bajo?"
"Jujur aku masih betah di sini. Aku ingin melihat dan mengajak kakek berjalan-jalan."
"Bagaimana kalau kita mengadakan makan malam bersama keluarga. Kita mengajak kakek Aoyama, Paman Taro, mama dan lainnya. Kemungkinan besar acara itu meriah."
"Ide bagus itu. Kalau begitu aku mau."
"Baiklah. Nanti aku booking di sebuah restoran."
"Kapan itu?"
"Kalau malam ini kayaknya nggak bisa. Soalnya waktunya sangat sedikit sekali. Bagaimana kalau besok?"
"Terserah kamu."
Seketika Sascha langsung terkejut dengan pernyataan Dewa. Rencananya malam ini ingin mengajak sang Mama berbelanja. Wanita muda itu langsung menatap Dewa sambil berkata, "Berikan aku uang."
"Buat apa kamu minta uang?" tanya Dewa.
"Aku sudah berjanji pada Mama Tara untuk pergi ke Tokyo malam ini. Kami ingin merasakan naik kereta Shinkansen," jawab Sascha.
Mata Dewa membulat sempurna. Bagaimana bisa sang istri sudah memiliki rencana liburan sama sang mama. padahal malam ini dirinya akan mengajarkan gaya baru yang didapatkan dari Bima. Namun rencana itu gagal total dan membuat Dewa gigit jari. Jika sang Mama sudah membuat janji harus ditepati.
"Sepertinya aku harus mengalah soal ini. Rasanya hatiku ingin menangis ketika sang istri diajak jalan-jalan sama mama," keluh Dewa sambil meringis.
"Memang aku tidak bertemu dengan Mama. tadi Mama sudah berkirim pesan kepadaku untuk menemaninya pergi ke Tokyo. Kemungkinan besar kita akan kembali esok hari," ucap Sascha dengan jujur.
"Kamu berangkatnya sendiri sama mama?" tanya Dewa.
"Enggak. Aku berangkat rame-rame sama Kak Bima dan Kak Eric. Seperti biasa aku memang sering jalan-jalan sama mama dan mereka," jawab Sascha.
"Bolehkah aku ikut?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Kata siapa Nggak boleh ikut.kamu tahu mamamu adalah orang tua yang paling unik sekali. Bayangkan saja usianya sudah paruh baya itu masih kuat melakukan perjalanan jauh sendirian. Aku sendiri sampai geleng-geleng kepala. Tapi Aku kagum sama dengan mamamu itu."
"Bagaimana dengan mama Chloe?"
Mama Chloe sama dengan mama mertuaku. Bahkan jika bersama mereka sangat energik sekali. Aku harus mengikuti gaya hidup mereka."
"Boleh. Aku akan memberikan kebutuhanmu itu."
"Kalau aku nggak mau?"
"Buat apa aku kerja di capek-capek Jika kamu tidak ingin meminta uangku? Uang suamimu adalah uangmu. Uang kamu aku tidak akan memintanya sedikitpun. Karena aku memiliki prinsip untuk tidak meminta kepada perempuan."
Begitu terharu Sascha ketika mendengar pernyataan dari Dewa. Tiba-tiba saja hatinya sangat bahagia dan menjadi lumer. Jika dirinya ingin memilih, kenapa nggak jadi dulu dirinya tidak menikah dengan Dewa? Bisa dikatakan saja adalah wanita yang sangat istimewa.
"Rasanya aku adalah wanita yang sangat istimewa," ucap Sascha.
"Berpuluh-puluh ribu wanita yang sengaja menggodaku. Tapi aku hanya memilihmu. Entah kenapa hatiku terpaut atas namamu. Mungkin kita sudah memiliki takdir yang sama untuk selalu bersama," jelas Dewa. "Kalau begitu ayo kita bangun. Aku ingin ikut denganmu jalan-jalan ke Tokyo dengan memakai kereta."
"Apakah kamu serius ingin ikut denganku?" tanya Sascha.
"Baiklah. Kamu mandi terlebih dahulu habis itu aku akan menyiapkan pakaian buatmu."
"Ah rasanya... Begini ya memiliki seorang Istri yang selalu melayani setiap hari?"
"Itulah kewajiban seorang istri kepada suaminya. Harusnya seorang Istri merawat dan melayani suaminya. Aku sering melihat Bu Nirmala melayani Pak Andika dengan penuh cinta dan kasih. Di situlah aku mulai belajar untuk menjadi seorang istri yang baik buat suamiku."
"Aku sangat beruntung sekali mendapatkan kamu."
"Maafkanlah jika aku ada kekurangan. Karena manusia pasti ada khilafnya."
"Aku tahu itu. Nggak kamu saja yang memiliki khilaf. Begitu juga dengan aku."
Dewa akhirnya memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Kemudian dirinya pergi ke toilet dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan Sascha bangun dan membersihkan ranjang dan ruangan itu. Jujur bisa dikatakan Sascha adalah wanita mandiri.
Jakarta Indonesia.
"Billi!" Fatin berteriak dengan nada meninggi hingga membuat para tetangga terkejut.
"Apa sih Ma? Kebiasaan banget Mama ini selalu teriak-teriak yang nggak jelas seperti itu! Apa Mama nggak capek selalu saja teriak-teriak seperti itu!" Bentak Billi dengan suara yang tidak kalah meninggi.
__ADS_1