
"Nanti lihat saja bagaimana reaksi Santi. Korbannya banyak sekali," jawab Bryan.
"Untunglah Sascha jika bertemu mereka langsung menjadi pura-pura ogeb gitu?" tanya Dewa.
"Pertanyaan lu bagus banget," jawab Bryan. "Jawabannya hanya satu. Yaitu Sascha pengen merendah di hadapan keluarga mereka."
"Tapi nggak seharusnya begitu?" tanya Dewa.
"Lu tahukan Sascha bagaimana? Memang Sascha itu orangnya suka berteman dengan siapapun. Tapi kalau orangnya kaya gitu. Apakah dia mau berteman dengan orang seperti itu? Coba lu pikir. Kalau dalam posisi seperti itu, Bagaimana lu sendiri?"
"Bener juga lu ya? Nggak nyaman sama sekali. Gue pikir Sascha kok nggak pernah menyerang sama orang-orang seperti itu?"
"Bukannya malas. Dia lebih memilih menyimpan energinya ketimbang harus membuang-buangnya. Coba lu lihat sendiri. Dia lebih semangat sekali ketika mengurus perusahaan. Dia yang lebih gila kerja ketimbang harus mengurusi orang-orang seperti itu. Kalau gue pikir. Dia adalah wanita yang sangat sempurna sekali. Semoga saja lu nggak pernah ngelepasin sedikitpun. Berat untuk cari yang lain seperti dia."
"Kalau masalahnya sudah selesai balik aja ke New York. Soalnya gue masih ngejar satu orang lagi."
"Oh nenek-nenek tua itu. Orangnya masih hidup ternyata. Kalau nggak salah dia bekerja di salah satu restoran. Katanya sih, orang itu sengaja bekerja di restoran. Agar mendapatkan makanan gratis setiap hari."
"Lah aneh?"
"Memang aneh bro. Gue nggak tahu jalan pikirannya gimana."
"Lu kenal dia memangnya?"
"Kenal bagaimana? Dia memang terkenal pelit untuk makanan. Bagaimana caranya dia mendapatkan uang dan makan gratis."
"Lalu hubungannya dengan Cathy?"
"Dari dulu mereka tidak pernah akur sama sekali. Mereka memiliki ambisi yang sama tapi nggak bisa bekerja sama dengan baik. Contohnya saja ketika ingin membunuh Sascha. Bisa dikatakan Dia sangat sulit untuk melakukannya."
"Aneh. Ternyata musuhnya Sascha bukan kaleng kaleng."
"Jangan terlalu meremehkan musuh seperti itu. Diam-diam dia akan mencari sekutu lalu menyerangnya dari belakang."
__ADS_1
"Kalau begitu... Sepertinya kita harus membuat sekutu?"
"Ujung-ujungnya kamu nanti gabungkan dengan Black Swan."
"Bagaimana kabarnya Black Swan ya?"
"Kabarnya kelompok itu akan diserahkan pada Sascha setelah ini."
Sontak saja Dewa terkejut dengan pernyataan Bryan. Apa benar Black Swan akan diserahkan pada Sascha? Dewa tersenyum tipis sambil menatap Bryan.
"Sepertinya akan ada terjadi perubahan besar-besaran nich. Sascha bisa menjadi ketua mafia," celetuk Dewa.
"Ya... ujung-ujungnya ke lu juga. Apa lu mau kalau Sascha jadi ketua mafia?"
"Kalau mau itu terserah dia. Aku mah tinggal mengajarinya saja."
"Kenapa nggak lu collabs sama Black Tiger?"
"Sepertinya itu ide yang sangat baik sekali. Mama Tara dan Papa Devan sudah berencana ingin menggabungkan dua kelompok itu menjadi satu. Aku masih belum menggabungkannya. Jadi masih mencari waktu. Terus ditambah lagi kasus tentang Sascha yang belum selesai ini," jelas Dewa yang masih mencari waktu yang tepat.
"Rubah kecil dipersatukan dengan serigala licik. Rasanya itu sangat baik sekali. Jadi masalah Kinanti ini?"
"Kalau itu aku nggak bisa ngapa-ngapain sih? Lagian juga dia sudah mengaku kalau pembunuhan itu sudah direncanakan. Aku nggak bisa berbuat apa-apa."
"Ya sudah kalau begitu."
Dewa merasa kecewa dengan berita yang didapatkan oleh Bryan. Jadi ia hanya pasrah saja dengan keadaan Kinanti sebenarnya.
Sementara itu Kinanti sudah menceritakan semuanya ke Sascha. Ia sudah meminta maaf. Namun Sascha berusaha keras untuk menyelamatkan Kinanti. Lalu bagaimana dengan bayinya?
Sang bayi ternyata sudah diadopsi oleh juragan sawit asal Kalimantan. Sascha bertanya kepada Kinanti, kenapa tidak diserahkan kepadanya. Kinanti menjawab dirinya tidak mau merepotkan kehidupan Sascha. Alhasil Sascha harus merelakan keponakan angkatnya.
Kinanti sangat berterima kasih kepada Sascha. Karena kedua orang tuanya dirawat dengan baik. Ia juga tidak lupa dengan kebaikan Sascha.
__ADS_1
Selesai berkunjung menemui Kinanti, Sascha bersama Dita menangis bersamaan. Mereka sangat sedih atas masih yang dialami oleh Kinanti. Mereka berharap Kinanti lolos dari hukuman mati. Namun nyatanya tidak. Kinanti harus menjalankan hukuman itu.
Melihat sang istri dan sang adik menangis, Dewa juga sangat sedih. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Meski Sascha meminta Dewa tolong diringankan hukumannya, Namun semuanya percuma. Mereka hanya bisa pasrah dan mendoakan Kinanti.
"Apakah kita akan akan pergi ke Nganjuk?" tanya Dewa yang memegang kemudi.
"Ya... kak. Aku ingin pergi kesana. Mungkin setahun kita tidak mengunjungi Pak Andika dan Bu Nirmala," jawab Sascha.
"Kalau kamu tidak bisa mengunjungi mereka, kamu bisa mendoakannya setiap hari," ucap Dewa yang memberikan saran kepada Sascha,
"Benar apa kata kakak. Setahun lagi kita akan kesana," ujar Sascha.
"Terserah kamu saja deh. Aku hanya menuruti keinginan kamu," sahut Dewa yang menyalakan mobilnya langsung meninggalkan kantor kepolisian.
"Kalau begitu ayo kita kesana," ajak Sascha.
Mereka melakukan perjalanan kurang lebih tiga jam. Dewa yang sangat lihai mengemudikan mobilnya sesekali mengintip dari kaca spion. Terkadang Dewa tersenyum melihat mereka yang sangat akrab sekali. Saking akrabnya, mereka bisa dikatakan sebagai adik kakak.
"Aku sangat bahagia sekali melihat Sascha dan juga Dita. Mereka adalah pelita hidupku. Jujur aku harus melepaskan Dita untuk sebentar lagi. Karena Tommy memintanya untuk dijadikan sebagai istri. Aku akan melepaskan Dita. Ya... aku harus ikhlas melepaskannya. Aku sudah menitipkannya ke Tommy hanya untuk membuatnya bahagia. Maafkanlah kakakmu ini," ucap Dewa dalam hati.
POV 1.
Setelah sampai ke kantor polisi, aku bersama Dita menanyakan keberadaan Kinanti. Saat itu juga aku langsung diantarkan untuk bertemu dengan Kinanti.
Aku melihat Kinanti sangat lusuh dan tidak bersemangat ketika keluar dari tempatnya. Entah kenapa hatiku terasa pedih melihatnya. Aku mencoba untuk tidak menangis. Lalu Kinanti saat itu langsung memelukku.
Aku tidak kuasa menahan tangis. Aku bersama Kinanti menangis bersama. Dari samping Dita memeluk kami. Dita yang tahu penderitaanku selama dihina oleh Kinanti sudah tidak memperdulikan lagi. Ia juga menangis bersama kami.
Selama berpelukan lama, aku melihat Kinanti. Aku saat itu tidak menghiraukan Kak Dewa. Aku tahu Kak Dewa dapat merasakan kepulauan hati kami. Aku juga tidak tahu kalau saat itu Kak Dewa pergi dari sana.
Lalu Kinanti bercerita selama di penjara. Jujur saat bercerita, Kinanti mendapatkan kebahagiaan yang belum dirasakan. Ia pun tersenyum ceria. Ia juga sambil mengingat kejadian masa lalu. Yang dimana Kinanti belum sejahat menjadi orang.
Sebenarnya perasaanku tidak ikhlas, jika aku harus mendengar hukuman ini. Aku ingin membiarkan Kinanti bebas. Namun ada satu fakta yang mencengangkan dari Kak Dewa. Selama ini Kinanti dijebak oleh adiknya Pak Andika. Aku terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1
Jujur aku sendiri baru tahu kalau Bapak masih memiliki keluarga. Aku sepertinya ingin tahu keberadaan keluarga bapak. Namun jiwa kepoku berontak. Aku harus mengetahuinya sekarang.