Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
JADI SELAMA INI?


__ADS_3

"Dita masih menjadi wanita sangat polos sekali. Aku takut orang-orang di sana mempermainkannya. Ditambah lagi dia jauh dari mama papa. Aku tidak mau Dita **** bebas," jawab Sascha.


"Kamu benar. Akhir-akhir ini banyak sekali menjebak Dita agar karirnya jatuh. Mereka akan berusaha menjatuhkan Dita dengan cara kotor. Wajahmu sama wajahnya mirip-mirip wajah polos. Inilah yang dikatakan dengan bingung setengah mati. Bisakah kamu menolongku?"


"Menolong buat apa?"


"Setelah ini kamu tidak perlu ke kantor. Hingga akhir liburan. Kemudian kamu bantuin Dita untuk keluar dari masalah ini. Aku takut Dita terkena mental gara-gara orang-orang seperti itu. Untuk urusan gaji tidak ada masalah. Aku akan menggajimu seperti biasanya."


"Aku nggak ada masalah dengan upah bayaranku. Kamu suruh aku ke mana nanti aku jalan."


"Baguslah. Aku ingin Dita selamat dari mereka."


"Apakah Kak Tommy ikut membantu Dita?"


"Tommy tidak ikut sama sekali. Karena dia akan sibuk di perusahaan. Jika kamu sedang ada masalah hubungi saja aku. Atau Eric dan Bima."


"Baiklah kalau itu mau kakak. Rasanya aku sangat geram sekali ketika masalah yang kemarin. Kita pernah dijebak oleh seseorang."


"Nah makanya itu. Aku juga sepakat dengan itu. Orang yang menjebaknya sudah menghilang dari dunia entertainment. Mereka juga melakukan hal yang sama dengan para pendatang baru. Padahal mereka memiliki bakat yang bagus."


"Sangat mengerikan. Saling menjatuhkan satu sama lain. Padahal aku pikir mereka bisa bekerja sama agar karir dan pekerjaannya menjadi ringan."


"Tidak bisa. Hati mereka diselimuti dengan dendam dan benci. Kenapa harus dia yang terpilih? Kenapa nggak aku saja yang terpilih. Itulah mereka."


"Aku rasa ini sangat aneh sekali. Kalau begitu okelah aku setuju. Nggak boleh ada penindasan sama sekali. Apalagi Dita yang mempunyai mental lemah. Dita adalah gadis lembut."


"Kalau gitu ayo kita berangkat!"


Sascha menganggukkan kepalanya sambil berdiri. Kemudian ia mengambil tasnya dan memakainya di punggung belakang.


Pagi ini matahari telah bersinar. Mereka cepat-cepat menuju ke bandara. Mereka juga tidak sempat untuk mencari sarapan pagi. Dengan terpaksa mereka harus boarding terlebih dahulu.


Jakarta Indonesia.


Seorang Pria Muda terbangun dari tidurnya. Pria itu menatap dinding yang kosong. Seketika dirinya pergi keluar sambil bertelanjang dada. Beberapa saat kemudian pria itu masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Hari ini aku sangat segar sekali. Sudah lama aku tidak tidur lama seperti ini. Tanpa ada gangguan dari wanita sialan itu. Semoga saja wanita itu tidak datang," ucap pria itu.


"Jaya!" panggil Stay.


"Tumben pagi-pagi sudah ke sini," ucap Jaya nama pria itu.


"Aku memang sudah ke sini dari tadi. Kamunya nggak baru bangun jadi aku tunggu," sahut Stay.


"Oh... Ada berita apa? Dua hari ini aku tidak ke kantor sama sekali," tanya Jaya sambil menghempaskan bokongnya di atas kursi kebesarannya.


"Setelah kamu usir, Risa mengejar-ngejar Sascha dan mengancamnya akan membunuhnya. Ditambah lagi Risa akan bekerja sama dengan Ricky untuk menghabisinya. Berita ini aku dapatkan dari Bima. Maaf kalau aku memberitahu berita ini dari seseorang," jawab Stay.


"Nggak ada masalah. Lagian gue juga nggak ada masalah dengan mereka. Sebenarnya yang membuat kekacauan tali persaudaraan aku sama mereka itu adalah Risa. Si mulut ular itu telah membuat tali itu menjadi putus. Lalu kami menjadi musuhan. Seperti gue sama Dewa, gue sama Dewi juga nggak ada apa-apa aslinya. Berita tentang gue jadi orang brengsek pun dari Risa yang nyebarin. Ditambah lagi Risa sering jelek-jelekin Gue di depan banyak orang. Padahal gue nggak ada masalah apapun!" geram Jaya.


"Memang. Sekarang sudah terbukti jelas. Kenapa lu musuhan sama Dewa? Bukannya lu dulu pernah kuliah bareng sama Dewa? Tinggal sekamar lagi?"


"Nah itu dia. Gue sangka Risa itu temennya Sascha yang baik. Ujung-ujungnya gue dijadikan ATM berjalan. Kayaknya gue harus gabung sama Dewa. Soalnya Risa sudah semakin menjadi."


"Gue setuju pendapat lo. Memang itu orang harus dihancurkan."

__ADS_1


"Lu tahu kalau Risa itu bersembunyi di belakang orang-orang bisnisman yang ternyata asetnya melebihi kita?"


"Gue nggak tahu itu dan nggak mau tahu. Gue sudah pusing masalah itu."


"Kayaknya lu harus nyelametin aset lu deh. Cepat atau lambat Risa akan bergerak dan menghabisi lu. Sekarang gue tanya sama lu, apakah lu masih cinta sama Sascha?"


"Kalau gue bilang cinta sih masih. Tapi gue nggak akan memilikinya. Cepat atau lambat Dewa pasti memilikinya. Lu tahu Dewa itu bucin banget sama Sascha. Jadi mau nggak mau gue harus ngelepasin begitu saja. Gue sekarang mau menjebak Risa."


"Lu mau menjebak dia?"


"Iya."


"Oh ya ada tambahan lagi. Risa sudah kembali ke rumah orang tuanya."


"Sial! Biang keladi datang lagi! Mau nggak mau Risa akan bersekutu dengan mereka. Sepertinya akan ada rencana yang dijalankan oleh mereka. Aku tidak tahu apa? Mulai saat ini atau entah kapan? Aku tidak akan lagi menjual organ-organ tubuh manusia. Aku akan bergabung dengan Dewa."


"Lalu bagaimana dengan mereka?"


"Maksudnya pengawal?"


"Iya Bagaimana dengan pengawal?"


"Aku akan memberikan dua pilihan. Satu kalau masih mau ikut boleh gabung dengan Dewa. Dan aku tidak akan menjadi bosnya melainkan Dewa."


"Sungguh sangat sulit bagiku. Kalau mereka tidak mau bagaimana?"


"Tinggal pilih option kedua. Yaitu meninggalkanku dan aku memberinya uang untuk hidup lebih baik lagi. Aku ingin mereka mencari seorang istri masing-masing."


"Aku harap mereka mau ikut."


"Bima sudah menawariku masuk ke sana."


"Terserah kamu. Ada apa lagi?"


"Masalah besar yaitu Billi mengejar-ngejar Sascha lagi. Fatin dan Firly sedang merencanakan sesuatu untuk mengambil Sascha menikah dengan Billi. Lalu mereka akan menjadikan Sascha sebagai pembantu."


"Apa?"


"Ya itu benar. Mereka sudah merencanakan ini jauh-jauh hari."


"Bagaimana dengan Dewa?"


"Dewa sedang menurunkan beberapa pengawal untuk mengawal Sascha ke mana saja. Dan satu lagi mereka akan melancarkan aksi mengambil aset Sascha."


"Pintar sekali mereka. Bisa-bisanya mereka mencari sesuatu yang tidak pasti. Gue sangka mereka sudah tobat. Eh ujung-ujungnya begitu lagi begitu lagi. Jujur gue udah mulai muak sama mereka."


"Jangankan elu. Gue juga. Banyak perempuan-perempuan yang hanya dikasih janji manis lalu dibuang mentah-mentah karena sudah tidak memiliki apa-apa."


"Soal itu gue udah tahu. Emang nggak mau gue akan menolongnya lagi. Cepat atau lambat gue akan menjebak mereka."


"Berarti lu masih dendam sama mereka?"


"Memang. Gue masih dendam sama mereka. Hati gue masih sakit Stay. Lu tahu kakak gue Bunga itu mati gara-gara mereka! Diam-diam mereka mengambil seluruh aset milik kakak gue. Dihamili lalu ditinggal dan kakak gue stres lalu meninggal. Di mana hati nurani mereka?"


"Iya gue tahu itu. Makanya mereka sekarang makin menjadi. Lu harus mutusin segera. Lu gabung sama Dewa apa tidak sama sekali. Karena kekuatan Dewa Sudah berada di atas mereka. Satu lagi Sascha sudah menjadi lady mafia. Bahkan Sascha akan digembleng habis-habisan untuk tidak takut menghadapi mereka."

__ADS_1


"Okelah... Kalau begitu. Aku akan melakukannya. Di mana Dewa sekarang?"


"Ke Labuan Bajo bersama istrinya."


"Lalu di mana Sascha?"


"Ke Labuhan Bajo bersama suaminya.


"Jadi mereka sudah menikah dengan pasangan masing-masing?"


"Tidak. Mereka menikah tapi tidak dengan pasangan masing-masing. Soalnya mereka tidak memiliki pacar."


"Aku bingung dengan statementmu itu."


"Bukannya kamu sudah tahu hubungan mereka itu apa?"


"Sahabat."


"Selain itu?"


"Sahabat rasa pacar."


"Jadi lu paham?"


"Enggak."


"Kenapa lu nggak paham?"


"Karena gue lagi ngurusin Risa."


"Mereka itu sudah menikah tahu. Mereka sengaja menikah di gereja tanpa ada sepengetahuan orang. Dewa sudah merencanakan ini semuanya bersama kedua orang tua Sascha."


"Maksud lo apa?"


"Mereka itu sudah menikah dan hari ini pergi ke Labuan Bajo untuk bulan madu. Lu tahukan kalau Dewa itu bucin banget sama Sascha?"


"Iya gue tahu itu."


"Maksudnya Pak Andika dan Bu Nirmala yang memberitahukan berita itu ke kamu?"


"Semenjak kamu ditolak sama mereka, aku sudah tidak komunikasi sama mereka. Jujur mereka itu orang baik."


"Memang baik. Saking baiknya aku sebagai penjahat diberikan wejangan hidup. Terutama sama Pak Andika. Wajah keriputnya mengingatkanku pada almarhum ayahku."


"Aku mengerti itu. Dewa dan semuanya juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka sudah meninggal karena ulah Kinanti istri dari Ricky."


Sontak saja Jaya terkejut. Stay menceritakan awal kejadian hingga akhir. Stay saat itu mendapatkan informasi dari Bima. Sungguh Jaya benar-benar geram dan marah. Hanya karena iri hati pada Sascha, Kinanti melakukan kesalahan fatal.


Jaya juga tahu perjuangan hidup Sascha. Mulai dari nol hingga sukses seperti ini. Sascha adalah tipe wanita pekerja keras. Bahkan Sascha bisa meraih semuanya dengan waktu dekat. Itulah Sascha.


Di sinilah Jaya memberikan simpati kepada Sascha. Dengan penuh susah payah dan tekadnya yang penuh Jaya mengacungkan jempolnya dan mengaguminya. Jika Kinanti melakukan hal itu kemungkinan besar wanita itu sangat bodoh.


"Pikirkan juga soal Ricky. Jika Ricky kembali kekeluargaannya, kemungkinan besar kita menjadi susah. Soalnya diam-diam Ricky itu sangat bahaya sekali. Saking bahayanya Ricky bisa memutar balikan fakta. Itulah yang gue takutin sama lu. Lu harus sadar itu," pesan Stay.


"Kalau begitu gue akan mikirin lebih lanjut lagi bagaimana ujung-ujungnya? Gue nggak mau mereka bergabung lagi sama keluarganya!" tegas Jaya.

__ADS_1


__ADS_2