
"Semuanya nggak jadi masalah Asalkan kita berbicara dengan baik-baik. Aku ingin menjadi anak yang berbakti buat mereka. Suatu hari nanti kalau aku tidak berbakti, maka anak-anakku tidak akan berbakti kepadaku. Aku tidak mau itu. Semuanya ada timbal baliknya alias Karma," jelas Dewa yang membuat Sascha paham.
"Ya sudah kalau begitu. Aku ingin bangun dan membersihkan tubuhku. Aku ingin mengecek pekerjaanku terlebih dahulu. Tapi sebelum mengecek semuanya, aku akan berbelanja untuk memasakkan kamu," rayu Sascha.
"Dibilangin telepon saja. Biarkanlah mereka bekerja untuk kita. Biarkanlah para pengawal mencari bahan makanan buat kamu. Ngapain kamu susah-susah untuk Turun ke bawah dan berbelanja?" tanya Dewa yang menatap wajah Sascha.
"Aku nggak repot untuk mencarikan kamu bawa makanan yang enak. Malahan aku bahagia bisa mencari bahan-bahan yang bersih dan baik untuk kamu. Aku ingin menjaga kesehatanmu dari sejak dini. Agar kamunya tetap sehat di masa tuamu nanti. Abang aku salah dengan pernyataan aku ini?" tanya Sascha balik.
Dewa langsung terdiam dan memegang tangan sang istri. Bagaimanapun juga sang istri terus memperhatikannya. Ketika belum menikah, Sascha masih tetap saja memberhentikan Dewa. Hal ini bisa membuat Sascha menjaga kesehatan Dewa dari. Bahkan Sascha tidak pernah menyerah atas nasehat-nasehat buat Dewa. Akhirnya Dewa mengijinkan Sascha untuk pergi ke bawah.
"Ya sudah kalau begitu. Pergilah ke bawah. Tapi aku ikut denganmu ya?" Pinta Dewa kepada Sascha yang membuatnya tertawa.
"Kenapa juga kamu harus ikut? Lagian aku tidak apa-apa juga turun ke bawah," ucap Sascha sambil mengelus-ngelus kepala Dewa.
"Iya harus ikutlah. Aku takut kamu tersesat di jalan. Terus kamu nggak bisa pulang ke sini," Ledek Dewa yang bersikap manis agar Sascha mengajaknya.
"Kamu itu ada-ada saja. Bagaimana bisa aku tersesat pulang? Aku masih bisa bertanya kepada orang-orang," kata Sascha sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Bener juga sih. Tapi?" tanya Dewa yang menggantung.
"Tapi apa?" tanya Sascha balik.
"Aku takut kamu diculik sama seseorang pria yang berada di luar sana. Nggak seseorang sih, tapi banyak pria yang menyukaimu. Jadinya kamu harus aku kawal hingga pergi dan pulang ke apartemen ini," ungkap Dewa yang ketakutan kehilangan Sascha.
"Lama-lama ribet jadi orang nih. Masa pergi belanja harus dikawal. Ini sungguh sangat aneh sekali. Padahal pusat perbelanjaan di bawah sudah buka. Kalau mau yang murah aku bisa pergi ke pasar. Pasar juga harganya sangat murah sekali. Kalau begitu ya sudahlah. Aku bingung sama kamu," kesal Sascha yang beranjak berdiri lalu meninggalkan Dewa.
Dewa kembali tertawa terbahak-bahak. Ia sangat lucu karena Sasha sedang marah. Baginya, Sascha adalah wanita yang sangat menggemaskan sekali. Terkadang Dewa ingin mencubit pipinya yang gembul itu.
"Lama-lama kamu sangat lucu sekali. Aku tidak menyangka kalau kamu adalah wanita yang kuidam-idamkan selama ini. Terima kasih sayang yang telah menerimaku apa adanya seperti ini. Aku berjanji tidak akan melirik wanita lain. I'm promise Beb," batin Dewa.
Beberapa saat kemudian datang Firly dan juga Anton. Kedua pria itu duduk bertepatan di hadapan Billy. Mereka tidak sedih atau bahagia saat kehilangan Fatin. Bahkan mereka juga melakukan hal yang sama. Yaitu mendoakan Fatin supaya tenang di alamnya.
"Apakah kamu sudah mendengar cerita tentang mama?" tanya Anton sambil menatap wajah sang adik.
"Aku sudah mendengarnya. Yang aku dengar, pihak Sascha dan juga pihak Dewa tidak akan pernah membunuhnya. Aku yakin Dewa itu tidak jahat Seperti Yang kukira. Dia hanya melindungi Sascha," jawab Billy yang tidak ingin mereka dendam kepada Dewa.
__ADS_1
"Begitu juga dengan papa. Papa juga tidak berpikiran untuk menuju Dewa maupun Sascha. Terakhir kali Bapa berbicara kepada Sascha. Setelah berita penangkapan mamamu itu. Sascha hanya ingin menghukumnya saja. Dia tidak ingin melihat mamamu menderita seperti itu. Harapannya Sascha hanya satu. Dia pengen mamamu kembali seperti dulu. Dengan kata lain, Sascha pengen mamamu itu tobat. Tapi setelah kita tinggal, Mamamu semakin parah dan mencoba untuk merayu para om-om. Dia juga tidak segan-segan untuk membunuh Sascha," jelas Firly.
"Apa yang dilakukan Sascha itu benar. Sascha tidak pernah menyerah untuk berbuat kebaikan. Diam-diam dia pernah mengirimkan aku uang sebanyak sepuluh juta buat duduk di penjara. Katanya, aku nggak boleh menderita di penjara. Melalui uang itu, aku kembangkan untuk berjualan di penjara. Aku berjualan yaitu jualan shampo, sabun dan lainnya. Dengan hasilku itu, aku bisa membuat mereka menjadi bahagia. Karena mereka tidak bisa membeli apapun di dalamnya. Bahkan mereka juga tidak bisa membersihkan tubuhnya dengan baik," jelas Anton yang membuat mereka tersenyum terhadap Sascha.
"Syukurlah kalau begitu. Sebenarnya Papa sudah mengenalnya Sedari Dulu. Namanya bukan Sascha tapi Aulia. Papa disuruh oleh Cathy untuk membuang Sascha ke suatu tempat. Jujur Papa itu sebenarnya nggak mau sama sekali. Papa berpengaruh oleh mamamu. Karena pada waktu itu, Mamamu melihat uang gebokan yang berjumlah sepuluh juta dolar. Aku belum ngomong tidak. Tapi mamamu sudah ngomong iya. Lalu aku tarik ke dalam kamar. Aku marah-marahin dia. Mamamu malah berteriak ingin menceraikan papa. Selain itu juga, Mamamu akan menghubungi polisi untuk menangkap papa," jelas Firly.
"Seharusnya papa yang tegas terhadap mama. Papa itu salah jika harus mengalah pada mama. Soalnya setiap kepala rumah tangga harus memiliki kendali yang kuat terhadap istrinya dan juga anak-anaknya," ucap Billy yang agak menyesal dengan sang papa.
"Ya nggak gitu kali Dek. Kamu belum tahu Sebenarnya ada apa dengan mama dan juga Papa? Mama itu tidak suka dibantah. Apalagi jika mama sudah berkata iya tetap iya. Kamu tahu kan mama itu bagaimana. Apalagi keburukan Papa yang selama ini ditutupinya. Mamamu tahu semuanya. Bisa saja mamamu menguliti papa secara sadis di setiap orang. Bukan berarti mama menjadi psikopat. Tapi mempermalukan Papa di hadapan semua orang. Kamu tahu kan Santi pernah mengalaminya? Dia langsung nangis kejer di dalam rumah. Harga dirinya terinjak-injak oleh Mama. Bayangkan saja jika Santi seperti itu. Hatiku juga sakit melihatnya. Ketika aku tanya mama malah santai dan tertawa menjawabnya. Aku hanya bilang sulit," Peran Anton yang mengetahui harga diri Santi saat itu diinjak-injak oleh Fatin.
Billy tidak bisa berkata apa-apa. Memang benar apa yang dikatakan oleh Anton. Ia juga tidak percaya kalau sama melakukannya seperti itu. Mau tidak mau Billy mengusap wajahnya berkali-kali dan menangis. Billy tidak menangisi kepergian sang mama. Namun keburukannya juga membuat dirinya hancur seketika.
"Sudah jangan menangis. Yang lalu biarlah berlalu. Dalam hal ini kamu nggak sepenuhnya salah. Memang seharusnya kita menegurnya. Tapi ketika ditegur Mamamu nggak mau terima sama sekali. Terpaksa Papa melepaskannya begitu saja," terang Firly.
"Apa yang harus kita lakukan untuk saat ini? Apakah kalian akan pulang ke rumah?" tanya Billy.
"Ngapain pulang ke rumah? Lagian rumah itu papa mau jualnya. Papa mau melupakan kenangan-kenangan buruk terhadap mamamu kepada kalian. Papa yakin kalian memiliki jodoh sendiri. Kalau bisa kalian mencari wanita yang sangat baik seperti Sascha," ungkap Firly sambil mendoakan kebahagiaan mereka.
__ADS_1
"Apakah papa serius mengatakan ini?" ucap Billy sambil tersenyum bahagia.