Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERGI KE KLINIK.


__ADS_3

Keesokan paginya Sascha sudah bersiap-siap untuk pergi ke klinik milik Matias. Sascha mencari keberadaan sang papa dan mama. Ketika mencari mereka Dewa menariknya sambil berkata, "Mereka sudah pergi dari tadi pagi."


"Kemana?" tanya Sascha.


"Pergi bertemu dengan opa dan Oma. Setelah dari klinik mama menyuruhku untuk mengajakmu ke sana," jawab Dewa.


Mendengar kata opa dan oma, Sascha tersenyum bahagia. Rasa rindu yang membuncah di dalam hati seakan meledak. Sascha sangat rindu sekali sama keluarga besarnya. Tak sengaja Dewa melihat Sascha yang bahagia langsung memeluknya. Selama ini Dewa melihat Sascha sangat kesepian. Bahkan Sascha pernah mengatakan kepada Dewa ingin memiliki opa dan Oma.


"Apakah kamu masih ingat tentang ucapanmu yang berada di taman?" tanya Dewa dengan serius.


"Apa itu?" tanya Sascha balik.


"Andaikan bapak sama ibu memiliki nenek dan kakek kemungkinan besar aku ingin pulang kampung ketika malam tahun baru," jawab Dewa.


"Tapi bapak dan ibu enggak punya orang tua lagi. Katanya mereka sudah meninggal ketika bapak dan ibu belum menikah. Jadi ya sudah aku enggak tanya lagi," jawab Sascha.


"Tapi sekarang kamu punya," ucap Dewa yang memegang tangan Sascha.


"Iya. Bahkan aku masih memiliki opa buyut dan Oma buyut," jawab Sascha.


Baru sehari di Hamburg, Sascha mengingat kepingan demi kepingan dalam memorinya itu. Dewa sangat bersyukur kepada Tuhan karena sudah mengembalikan ingatan sang kekasih.


"Apakah kamu tidak sarapan?" tanya Dewa. "Paman Thomas sudah memasak nasi goreng spesial buat kamu."


Sascha mengangguk dan mengajak Dewa sarapan bersama. Sedangkan di tempat lain Billi yang baru sadar dari pingsannya merasakan wajahnya sudah hancur. Billi tidak terima dengan perlakukan Jaya yang memukulinya. Bahkan Billi ingin teriak namun niat tersebut diurungkan.


"Ah," ucap Billi yang wajahnya sudah rusak.


Billi hanya bisa merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya Billi tertangkap oleh Jaya pas tidak memiliki uang. Billi teringat Sascha yang entah ada di mana. Seandainya kemarin bertemu dengan Sascha kemungkinan dirinya tidak akan menderita seperti ini.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Lisa datang bersama Jaya sambil tersenyum devil. Risa mendekati Billi sambil tertawa, "Selamat malam sayang."

__ADS_1


"Ri... Ri... Risa," ucap Billi yang tergagap.


"Iya ini gue," sahut Risa.


"Lu kan calon bini gue," sahut Billi dengan mata membulat sempurna.


"Iya. Gue masih calon lu," kata Risa tertawa mengejek. "Tapi gue kan belum resmi jadi bini!"


"Lalu, kenapa lu sama ada Jaya?" tanya Billi.


"Lu mau tahu kenapa gue sama Jaya? Dia pacar gue. Dia yang ngasih gue duit. Lha... Napa lu?" tanya Risa balik dengan mata menyalang.


"Lu serius pacaran sama Billi?" tanya Jaya yang tertawa meledek ke arah Billi.


"Gue serius. Tapi gue kagak cinta. Gue cintanya sama lu Jaya! Karena lu yang ngasih gue duit tanpa jeda," jawab Risa dengan jujur.


"Oh iya dech gue lupa," ujar Jaya yang gemes dengan sang kekasih.


"Oh iya. Lu kan sudah buat perjanjian sama gue. Jadi mau enggak mau lu harus menuruti kemauan gue. Kalau enggak seluruh keluarga lu akan mati di tangan gue. Termasuk mama lu yang tamak," bisik Risa.


"Jelasin ke gue, kapan gue buat perjanjian itu sama lu?" tanya Billi yang mencoba mengingat kejadian di masa lampau.


"Apa lu lupa sama perjanjian itu?" tanya Risa dengan suara meninggi.


"Gue lupa. Gue kagak pernah buat perjanjian sama lu," jawab Billi.


"Oke... Gue ingatin sekali lagi. Lu pernah datang ke orang gue dan bilang minta bantuan. Lu minjam uang sepuluh milyar. Itu ke gue tapi belum ke Jaya. Dan kenapa gue merebut lu dari Sascha? Gue memang sengaja membuat lu jatuh ke dalam lembah yang sudah ada. Jadinya lu sekarang terjebak sendiri dalam lembah itu. Lu paham kan apa maksudnya?" tanya Risa yang menjelaskan apa maksudnya.


"Lu bodoh jadi orang. Lu bisa terjebak dengan pusara yang telah gue buat," ejek Jaya.


Billi sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Billi hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Lalu Billi tidak sengaja melihat perut Risa yang besar itu, "Apakah bayi yang lu kandung itu anak gue!"


"Jangan ngimpi! Anak gue!" bentak Jaya yang tidak terima jika anaknya diaku oleh Billi.


"Jadi?" tanya Billi sekali lagi.

__ADS_1


"Bukanlah. Ini anaknya Jaya," ucap Risa sambil meledek.


Billi hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk sedih. Hatinya hancur lebur seperti sepihan kaca yang berantakan. Semuanya ini salah dirinya, kenapa bisa hidupnya hancur begini?


"Apa lu mau selamat?" tanya Risa yang tidak akan membiarkan Billi meninggal dengan cepat.


Billi hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil menunduk. Jujur saja Billi sangat ketakutan sekali melihat Risa yang berubah menjadi iblis. Risa tersenyum devil sambil duduk di tepi ranjang.


"Kalau mau selamat lu harus nikahi gue!" bentak Risa dengan serius.


Billi menggelengkan kepalanya karena tidak setuju. Jika dirinya menikah maka Billi akan memilih Sascha. Setelah itu Risa memegang rambut hitam Billi sambil menariknya ke atas, "Lu mau nikah sama gue enggak! Kalau lu enggak mau siap-siap saja ibu lu yang tamak itu akan mati di tangan gue. Setelah itu bapak lu!"


"Apa untungnya lu nikah sama gue?" tanya Billi.


"Bantu gue balas dendam ke Dewa," jawab Risa dengan berbisik. "Satu lagi jadiin gue nyonya rumah lu! Awas aja kalau mama lu itu masih memegang kendali! Gue enggak suka ada yang melebihi apapun!"


Billi paham akan permintaan Risa. Akhirnya Billi menganggukan kepalanya tanda setuju. Cepat atau lambat Billi akan membalikkan semua keadaan. Sang mama harus turun tahta menjadi ratu. Sedangkan Jaya tertawa terbahak-bahak melihat penderitaan Billi. Cepat atau lambat Risa akan menguasai rumah Billi.


Setelah sarapan Dewa dan Sascha akhirnya pergi ke klinik Matias. Sepanjang perjalanan Sascha tersenyum terus-menerus. Hingga membuat Dewa bahagia.


"Sepertinya kamu bahagia?" tanya Dewa.


"Sudah lama aku tidak berkeliling kota Hamburg. Aku rindu sekali pada kota ini. Aku ingin pergi tamasya bersama mama," jawab Sascha.


"Kenapa kamu enggak mengajakku?" tanya Dewa balik sambil menancap gasnya.


"Sepertinya itu menyenangkan. Kita membawa bekal dan tikar. Lalu duduk di bawah pohon ceri," celetuk Sascha.


"Bukan ide yang buruk. Beberapa hari lagi kita tamasya!" ajak Dewa.


"Apakah kakak serius?" tanya Sascha dengan mata berbinar.


"Ya... Aku serius. Aku ingin mengajakmu bersenang-senang. Aku harap kamu tidak berkeberatan," jawab Dewa.


"Baiklah aku menunggu itu," balas Sascha yang akan rindu dengan namanya liburan.

__ADS_1


Ketika sudah sampai di rumah Matias, Dewa memarkirkan mobilnya. Sebelum keluar dari sana Sascha menatap Sascha sambil teriak, "Semangat buat calon istriku! Semoga cepat sembuh!"


__ADS_2