Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERTEMUAN SASCHA DENGAN KAKEK AOYAMA.


__ADS_3

"Kakek nggak sibuk hari ini. Kakek hanya menunggu waktu beberapa jam untuk tinggal di sini," Jawab kakek Aoyama dengan lembut.


Saat yang memeluk kakek Aoyama sambil mengelus-ngelus punggungnya. Ia sangat rindu sekali pada sang kakek. Meskipun tidak ada hubungan darah, Sascha sangat menyayanginya. Bahkan hampir setiap hari Sascha selalu bertukar pesan tentang kabar kakek Aoyama.


"Kakek nggak apa-apa kan?" tanya Sascha dengan lembut.


"Kakek tidak apa-apa. Kakek sangat bahagia sekali mendengar kamu sudah mengandung. Syukurlah pria nakal itu sudah membuat kamu berbadan dua," Ucap kakek Aoyama sambil melepaskan Sascha dan melihat wajah sang cucu menantunya dengan bahagia.


"Apakah aku boleh tinggal bersama kakek untuk beberapa bulan ke depan?" tanya Sascha.


"Semuanya boleh buat kamu. Itu juga rumah kamu," Ucap kakek Aoyama dengan tangan terbuka. "Kapan kamu tinggal di rumah kakek?"


"Semuanya itu keputusan dari Kak Dewa," Jawab Sascha dengan jujur.


"Sekarang saja ya," rayu kakek Aoyama.


"Kalau Kak Dewa nggak mau gimana?" tanya Sascha.


"Kalau nggak mau diseret saja. Masa istrinya tinggal di rumah kakek. Kok dia tinggal terpisah. Mana tahan," Ejek kakek Aoyama kepada Dewa yang tidak sengaja mendengarnya.


Dewa langsung menatap tajam ke arah kakek Aoyama. Ia seakan-akan ingin melahap sang kakek. Jujur kalau soal ejekan, Dewa benar-benar kalah total. Bahkan Dewa sendiri langsung mengangkat tangannya dan meninggalkan kakek saat itu juga.


"Bener Apa kata kakek. Saya mengakuinya kek. Saya sudah terbiasa tidur sama wanita ini kek. Jika kau tidak tidur dengannya. Kemungkinan besar aku tidak bisa tidur. Jujur wanita inilah yang membuat aku candu untuk selamanya," ucap Dewa dengan jujur.


"Sekarang kakak tanya sama kamu. Kenapa kamu tidak menikahi Sascha dari dulu?" tanya kakek Aoyama.


"Nah itu kek. Aku sekarang menyesalinya. Kalau aku menikah dari dulu. Aku sudah memiliki banyak anak darinya," jawab Dewa sambil cengengesan.


"Dasar anak muda zaman sekarang! Bisa-bisanya kamu ingin memiliki banyak anak. Tapi baguslah. Biar kita memiliki banyak keturunan," puji Kekek Aoyama terhadap Dewa.

__ADS_1


"Iyalah kek. Masa aku ingin memiliki anak cuman dua saja. Kakek Bersabar ya. Ini baru dua. Tinggal sepuluh lagi yang belum ada," sahut Dewa agar sang kakek untuk bersabar menunggu anak-anaknya yang akan hadir di dunia ini.


"Astaga ini bocah. Sudah keterlaluan ternyata. Empat anak sudah cukup. Jangan banyak-banyak," Pesan kakek Aoyama.


"Tergantung kek. Bukankah kakek ingin memiliki banyak cucu? Kenapa sekarang protes?" tanya Dewa yang mendekati Saacha.


"Jika saja aku memiliki kekuatan. Aku akan melemparkanmu ke Samudra Hindia sana. Jadi anak kok kurang ajar sekali," kesal kakek Aoyama.


"Jangan kesal kek. Ingatlah kesehatan kakek. Kalau Kak Dewa nakal, biar aku saja yang menghukumnya," ujar Sascha agar sang kakek tidak marah-marah.


"Tapi kamu harus menghukum aku di atas ranjang ya Yang," pinta Dewa sambil tawar-menawar soal hukuman tersebut.


Sascha hanya menggelengkan kepalanya. Ia bingung dengan kelakuan Sang suaminya itu. Bisa-bisanya hukuman langsung ditawar padahal belum terjadi. Jujur sampai saat ini ia ingin memukul Dewa.


"Ayolah Neng. Itu hukuman paling enak," rayu Dewa.


"Ya mau bagaimana lagi. Kamu harus tahu rahasia tentang dewa untuk saat ini. Sifatnya dia sama dengan sifatku. Maka kamu Maklum saja melihat Dewa seperti melihat aku," bisik kakek Aoyama.


"Pantes aja. Ternyata Kak Dewa itu memiliki sifat dari kakek. Kalau mendapatkan hukuman selalu saja menawar terlebih dahulu. Aku sangka Kak Dewa mirip sama papa Devan," kata Sascha sambil menepuk jidatnya karena baru sadar untuk saat ini.


Kakek Aoyama hanya terkekeh melihat kebingungan Sascha. Memang benar apa yang dikatakan oleh kakek Aoyama sendiri. Kalau Dewa Memang agak mirip dengannya. Bahkan soal hukuman, Dewa langsung tawar-menawar. Sungguh sangat licik mereka itu.


"Kakek," panggil Dewa.


"Ada apa?" tanya kakek Aoyama.


"Kek, itu rumah siapa yang kakek tempati sendiri?" tanya Dewa dengan serius.


"Itu rumah kakek sendiri. Tapi Rumah itu sekarang atas nama nenekmu. Seorang nenekmu sudah tidak ada. Aku ingin kamu mengambil alih rumah itu," jawab kakek Aoyama.

__ADS_1


"Kenapa nggak diberikan saja kepada Paman Kobe atau Papa Devan?" tanya Dewa dengan serius.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Dewa, Kakek Aoyama memutuskan untuk duduk di sofa. Setelah itu kakek Aoyama menjawabnya, "Mereka tidak mau sama sekali dengan rumah itu. Padahal aku sudah membujuknya. Agar mereka mau tinggal di sana. Rumah itu cukup luas. Bisa ditempati beberapa keluarga."


"Padahal rumah itu banyak kenangannya," ucap Sascha yang langsung ditampik oleh Dewa.


"Kamu salah. Rumah itu banyak kenangan menyakitkan bagi mereka. Di rumah itu mereka telah kehilangan nenek. Hingga mereka trauma dengan rumah tersebut. Aku sudah bertanya kepada mereka. Tidak akan mungkin menjual rumah itu. Biarkanlah kenangan itu akan tersimpan rapi di rumah tersebut," jelas Dewa.


"Susah juga ya. Terus dua keluarga itu bagaimana?" tanya Sascha.


"Kalau kamu mengambil alih. Itu semuanya terserah pada kalian. Kakek sangat capek menghadapi mereka. Mau kamu usir pun terserah. Karena mereka tidak tahu diri saat tinggal di rumah itu. Jujur saat ini mereka ingin menguasai rumah tersebut," jawab kakek Aoyama.


"Aku tidak akan mengusirnya. Aku akan memberikannya mereka rumah satu persatu. Aku ingin mereka menjauhi rumah itu. Jujur saja aku sudah muak pada mereka. Gara-gara mereka kadang-kadang Sascha bertanya-tanya, Ada apa di rumah ini?" ucap Dewa.


"Kita lihat saja nanti. Kita harus nego dengan mereka satu persatu. Kita nggak bisa langsung mempraktekkan sekarang," sahut kakek Aoyama.


"Sekarang kerjakan aja apa yang ada. Jangan pernah menyerah sedikitpun. Kakek harap kamu bisa menyelamatkan cabang Surabaya. Tanpa kamu harus membangkrutkan cabang tersebut," pinta kakek Aoyama.


"Itu rencana pamungkas. Bisa saja kami mengubah rencana itu menjadi rencana lebih baik lagi. Aku sendiri masih memiliki rencana cadangan. Akan aku bicarakan dengan yang lainnya. Soal pengacara Biarkanlah Bryan yang memegangnya. Karena Bryan adalah pengacaraku paling terbaik di dunia ini," ucap Dewa.


"Apakah kamu tidak memakai pengacara saat Rossi?" tanya kakek Aoyama.


"Aku nggak bisa memakai pengacara dari Jepang. Nanti urusannya tambah panjang. Soalnya Rossi sendiri tidak pandai memakai bahasa Indonesia. Jangankan memakai bahasa Indonesia. Bahasa Inggris pun dia nggak bisa. Makanya aku memang sengaja memberikan kasus ini kepada Bryan. Soalnya aku tidak mau ambil pusing," jawab Dewa dengan jujur.


"Tapi kamu belum tahu kemampuan Kak Rossi bagaimana?" ucap Sascha yang memberitahukan kemampuan Rossi kepada Dewa.


"Aku tidak mau meremehkan Kak Rossi. Kamu tahu kemampuan bahasanya sangat buruk sekali. Tapi jujur Kak Rossi itu berani jika diajak berdebat soal hukum perusahaan. Kalau kayak gini aku pasti bingung setengah mati. Kamu tahu, Brian itu juga sama seperti Kak Rossi. Dia juga teman baikku. Kenapa kita tidak menggunakannya. Dia juga bukan penghianat," jawab Dewa yang ingin saja menerima Bryan untuk menjadi pengacaranya di cabang Surabaya.


"Apakah kamu ragu tentang kemampuan Brian?" tanya kakek Aoyama.

__ADS_1


__ADS_2