Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENGETAHUI RAHASIA BILLI.


__ADS_3

"Minggu depan kamu menikah dengan aku," jawab Dewa tanpa berdosa.


"Ah... Iya... Hari Minggu aku pergi ke Amsterdam," ucap Sascha.


Dewa merasa frustrasi karena mengingat jadwal Sascha yang menumpuk. Dewa menjambak rambutnya sambil bertanya, "Pa... Apakah hari ini aku bisa menikah?"


"Bisa... Papa akan menghubungi pengacara segera mengurus dokumen kalian," jawab Devan. "Tapi tidak sekarang. Beberapa hari kemudian kalian bisa ijab kabul di kantor catatan sipil."


Dewa tersenyum lucu melihat wajah Sascha yang berubah menjadi muram. Sascha bingung dengan apa yang dilakukan olehnya. Kalau itu sudah terjadi ya sudahlah. Sascha hanya bisa pasrah dengan keadaan. Lalu bagaimana dengan Dewa? Dewa menjadi semangat sekali. Dewa akan melepas masa lajangnya tanpa ada informasi. Menurut Dewa yang penting sah di mata agama dan hukum.


Setelah itu Devan dan Tara mengajak Sascha keluar. Namun setelah itu Dewa mencegahnya. Dewa memegang tangan Sascha dan berseru, "Jangan bawa calon istriku!"


Devan terdiam dan mendekati Tara sambil berbisik, "Kayaknya Dewa mulai bucin akut sekaligus posesif."


"Ehem."


Dewa sengaja berdeham karena kedua orang tuanya membicarakan dirinya secara terang-terangan.


"Sa... Maaf... Mama tadi mengajakmu ke Kuil Jongmyo," ucap Tara.


"Mau ma... Aku ke sana!" ujar Sascha.


"Tapi melihat wajah Dewa yang tidak bersahabat sama sekali. Bisa dipastikan mama tidak jadi mengajakmu," kata Tara secara terang-teranganm


"Maafkan papa," sesal Devan.


Kedua orang tua Dewa langsung meninggalkan Sascha dengan wajah agak kecewa. Begitu juga dengan Sascha, Sascha terpaksa mengurungkan niatnya. Dengan cepat Dewa menarik tangan Sascha sambil berkata, "Aku ingin mengajak kamu berjalan-jalan."


"Baiklah," balas Sascha.


"Tidak. Bersiaplah... aku akan menunggumu," Dewa melihat menatap langit-langit.

__ADS_1


"Kenapa kita berangkat malam kemarin? Bukankah kita banyak pekerjaan di perusahaan?" tanya Sascha.


"Kamu enggak tahu kakek Aoyama saja. Seperti biasa sebelum diadakan pertemuan antar perusahaan cabang besok. kakek selalu mengajak kami makan malam," jawab Dewa.


Sascha hampir lupa dengan agenda tahunan sebelum meeting penutupan. Sascha menganggukan kepalanya sambil berkata, "Terus kenapa kamu mengajakku jalan-jalan?"


"Ke butik membeli baju," jawab Dewa. "Aku ingin kamu memakai gaun."


Sascha menganggukan kepalanya dengan paham. Lalu Sascha berkata, "Kalau begitu sebelum berangkat kita makan terlebih dahulu."


"Ya... Begitu juga aku. Aku lapar sekali," sahut Dewa sambil memegang perutnya.


"Ayo," ajak Sascha.


Mereka akhirnya pergi dari hotel. Mereka mencari makanan khas Korea. Sepanjang perjalanan mereka hanya melihat beberapa restoran yang buka. Sascha ragu kalau masuk ke sana. Bukan berarti Sascha tidak suka. Sascha sangat kasihan kepada Dewa. Karena Dewa dari dulu tidak menyukai rasa pedas. Bukannya di Korea ada makanan yang tidak pedas? Ada. Namun Sascha ingin memakan makanan pedas. Karena makanan pedas adalah makanan favoritnya. Terpaksa Sascha mengalah dan mencari makanan yang tidak ada rasa pedas sekali.


"Apakah kamu mau makan Buldak (Fire Chicken), Dakbal (ceker pedas) atau Ramyeoun (Mie Instan pedas atau juga sup kimchie?" tanya Dewa yang menawari Sascha.


Sascha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, "Tidak. Aku tidak mau. Kita makan yang tidak pedas saja."


"Kamu itu kenapa mengingatkan aku pada ceker ayam?" tanya Sascha yang memerah.


"Ayolah kita ke restoran yang ada menjual ceker pedas," jawab Dewa.


Sascha menganggukan kepalanya yang menyetujui permintaan Dewa. Di mata Sascha, Dewa adalah sosok pria yang sempurna untuk dijadikan suami. Sascha bingung ketika Dewa mendadak melamarnya. Lalu bagaimana dengan Sascha di mata Dewa? Sascha adalah wanita yang bisa meneduhkan jiwa. Tutur katanya yang lembut bisa membuat siapa saja terpanah.


Kenapa Billi sangat bodoh sekali? Jawabannya hanya satu, Billi belum bisa menyentuh Sascha sama sekali. Billi sering sekali tidur sama cewek-cewek seksi dan memakai baju kurang bahan. Setiap Billi ingin menyentuh Sascha selalu ada saja hambatannya. Yang pasti menjadi hambatannya adalah Dewa. Billi tidak suka itu bahkan sangat membenci Dewa.


Mereka akhirnya berhenti melihat street food di sepanjang jalan. Sascha dan Dewa mencium aroma masakan dari satu ke yang lainnya. Dewa menatap Sascha sambil tersenyum. Ya... Dewa memberinya kode untuk membeli semua makanan. Karena Dewa dan Sascha gila makan. Sascha hanya mengedikkan bahunya dan bilang terserah. Dewa memesan sepuluh porsi makanan yang berbeda.


Tanpa disadari oleh Sascha, seseorang pria paruh baya sedang mengawasinya. Pria yang ditugaskan untuk menghabisi Sascha sekarang berbalik menjadi pengawal bayangan tanpa bayaran apapun. Pria itu tersenyum manis melihat Sascha sangat bahagia bersama Dewa.

__ADS_1


Selesai memesan makanan itu, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Mereka menaruh makanan itu hingga memenuhi meja. Lalu mereka duduk sambil berdoa. Setelah itu mereka memakannya seporsi berdua. Bukan sepiring berdua karena tidak ada piring sama sekali.


"Setelah pulang dari sini aku akan berolah raga," celetuk Sascha.


"Kenapa?" tanya Dewa sambil mengunyah.


"Aku enggak mau gendut," jawab Sascha.


"Aku malah menyukaimu gendut," ucap Dewa.


"Ah... Kenapa juga kamu memilih perempuan gendut? Seharusnya kamu mencari perempuan seksi," ujar Sascha.


"Jika kamu terlalu seksi. Kamu banyak dilirik oleh para kolega-kolegaku. Mulai dari perjaka hingga bapak-bapak. Aku tidak mau itu," kesal Dewa.


Sascha merasa bingung dan menatap Dewa, "Billi memintaku untuk diet."


"Itu lain. Billi otaknya sudah diisi dengan berbagai bentuk tubuh wanita yang seksi. Selama ini kamu enggak tahu kalau Billi itu suka tidur dengan perempuan?" tanya Dewa yang membuka identitas Billi lagi.


"Mana aku tahu? Kamu tahukan kalau aku sedang sibuk dengan pekerjaan. Terutama adalah kamu. Sering sekali aku menjadi asisten dadakan menggantikan Timothy. Berangkat pagi pulang malam. Hingga Sabtu dan Minggupun menemani kamu bertemu kolega dari luar. Lalu bagaimana aku bisa bertemu dengan Billi?" tanya Sascha.


"Kamu tahu kenapa aku begitu?" tanya Dewa. "Kenapa enggak pilih orang lain?"


"Aku juga enggak tahu kenapa? Rasanya bingung dan pusing. Padahal masih banyak para karyawan yang cerdas dari aku," jawab Sascha.


"Mereka cerdas tapi tidak memiliki pengalaman bertarung. Aku sudah menyuruhmu berlatih bela diri dan karate. Jika nanti suatu saat kalau ada bahaya kamu harus mengimbangiku," jawab Dewa.


"Ah... Bukan itu. Ada benarnya juga kalau bisa karate. Jika kecopetan langsung hajar," sahut Sascha.


"Sepertinya harus ditingkatkan lagi kemampuan bela dirimu," pinta Dewa.


"Kamu benar. Aku harus banyak menguasai ilmu bela diri tingkat tinggi," kata Sascha.

__ADS_1


"Anak-anak juga mau latihan. Begitu juga dengan Dita, gara-gara syuting film berhari-hari berbulan-bulan. Hampir dua tahun Dita enggak pernah latihan," tambah Dewa.


Ada baiknya juga Sascha belajar ilmu bela diri. Dewa tidak ingin melihat Sascha lemah. Namun Dewa sengaja membuat karakter yang kuat. Di dalam diri Sascha ada jiwa kepemimpinan. Maka dari itu Dewa ingin menggembleng jiwa perkasa Sascha.


__ADS_2