
"Sepedaku!"
Teriak si kakek itu sambil menangis.
Sascha tidak menyangka kalau sepeda si Kakek itu rusak sangat parah sekali. Ia juga sangat sedih melihatnya dan memeriksa sepeda tersebut. Namun apa daya, sepeda itu sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Sascha menatap wajah Bima sambil berkata, "Kak... Tolongin belikan sepeda lagi yang baru buat Kakek ini. Nanti berikan tagihannya kepadaku. Uangnya aku ganti setelah sepedanya sudah sampai ke rumah si Kakek ini."
"Oke... Nanti aku carikan sepeda yang kuat dan tahan banting seperti ini. Aku tahu Kakek ini sering salto."
Ucap Bima yang mengetahui wajah si kakek.
"Nah iya... Mahal juga nggak apa-apa. Yang penting si Kakek ini sepedanya bisa kembali."
Jelas Sascha yang membuat Dewa tersenyum.
"Ya udah deh... Sepertinya kakak baik-baik saja. Lebih baik aku tinggal terlebih dahulu."
Pamit Dewa yang berdiri mendekati Sascha.
"Kamu mau ke mana?"
Tanya Bryan.
"Ngajak istri jalan-jalan."
Jawab Dewa sambil menggandeng tangan Sascha.
"Okelah kalau begitu. Carikan aku makanan yang paling enak di sini ya?"
Seru Bima sambil tersenyum.
"Okelah nanti aku carikan. Aku pergi dulu."
Balas Dewa sambil mengajak Sascha pergi meninggalkan mereka.
Sascha dan Dewa memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke apotek. Mereka juga olahraga ringan dan menghirup udara pagi yang sejuk. Ketika berjalan dengan santai, mereka tidak lupa menyapa orang-orang berpapasan dengannya. Sungguh pasangan ini pun sangat ramah kepada orang lain.
"Sebenarnya aku senang di sini. Udaranya sangat sejuk sekali. Belum terkontaminasi oleh polusi udara. Kabutnya juga sangat tebal sekali. Menambah pesan yang sejuk dan asri."
__ADS_1
Jawab Dewa yang masih menggandeng tangan Sascha.
"Apa yang harus kita lakukan Kak?"
Tanya Sascha.
"Sebenarnya aku sendiri sudah memiliki rumah di Bali. Namanya daerah Ubud. Rumahku juga tidak gede-gede banget. Tapi aku sangat menyukainya. Jujur aku sendiri tidak menjual rumah itu. Cuma itu sengaja aku sewakan kepada orang lain. Tahun ini adalah tahun yang di mana masa kontraknya sudah selesai. Aku pengen banget mengajak kamu ke sana. Tapi berhubung masa kontraknya belum selesai. Maka aku tidak akan ke sana."
Jawab Dewa yang berkata jujur.
"Sebenarnya rumah kamu ada berapa sih? Kok banyak amat."
Tanya Sascha yang bingung oleh Dewa.
"Itulah seorang bisnisman. Memiliki rumah ada di mana-mana. Kalau aku sendiri bukan untuk selingkuh. Terkadang kalau aku cinta pada daerah itu. Aku sengaja membeli rumah di sana agar bisa mengunjunginya. Lalu rumah itu aku sewakan untuk sementara waktu."
Jawab Dewa yang berkata jujur.
"Aku tahu kamu tidak akan selingkuh. Tapi aku bingung sama kamu. Rumah Kok di setiap negara pasti ada."
"Namanya juga investasi. Aku mengikuti jejak papamu. Di setiap negara ada. Dua apartemen dan dua rumah mewah. Dan itu sengaja disewakan dengan harga murah. Kalau tiap bulan membayarnya, bisa dipastikan Papa bisa meraup keuntungan tiga puluh delapan triliun rupiah. Makanya aku belajar dari sana. Sepuluh tahun kemudian bisa menghasilkan uang yang cukup banyak."
"Kenapa kok nggak bertanya kepadaku? Kalau kamu bertanya pasti mengetahuinya."
"Ya sudahlah. Ternyata otak Kakak sangat cerdik juga."
"Sepertinya kamu harus belajar dariku."
"Benarkah itu? Aku kurang pandai jika melakukan hal-hal seperti itu. Biar kakak saja yang melakukannya."
"Itu terserah kamu. Di mana letak apoteknya?"
"Apoteknya masih di ujung jalan sana. Apakah di apotek tersedia alat tes kehamilan dengan berbagai macam?"
"Ya pasti ada lah. Kalau kamu belinya di toko material nggak ada. Malah kamu ditawari triplek, palu, paku, besi dan lainnya. Maka dari itu kamu tidak akan pernah mendapatkannya."
"Kakak ini ada-ada saja."
__ADS_1
"Aku berharap Alatas kehamilanmu semua ada garis duanya."
"Kakak ternyata sudah sangat mengharapkannya?"
"Iya Kakak mengharapkannya. Biar kamu tidak pergi dari hidup kakak. Merekalah yang akan menjadi pengikat hubungan kita semakin kuat dan Abadi."
"Amin."
Ucap Saacha yang mengamini doa Dewa.
"Aku ingin menjadi Ayah yang terkece di dunia ini."
"Sepertinya Kakak akan menjadi hot daddy. Dan hot Daddy itu beri identik dengan para wanita yang ingin mendekati pria tersebut."
"Iya kamu benar. Tapi aku tidak akan menjadi hot Daddy. Aku akan merubah sikapku menjadi cold daddy. Yang di mana sifat itu akan mendominasiku kepada para wanita yang mendekatiku."
"Yah sifatnya balik lagi deh. Sungguh... Ini sangat menyebalkan bagiku."
"Itu tidak menyebalkan buat kamu. itu malah menguntungkan bagi dirimu sendiri. Jadi bisa dikatakan Aku tidak akan terpengaruh dengan wanita-wanita yang nakal di luar sana. Cukup kamu saja yang bisa berubah seperti cuaca yang tidak menentu."
"Memangnya aku gitu ya Kak orangnya?"
"Kalian belum tahu. Mereka menganggapmu sebagai orang yang sangat aneh. Orang-orang itu tidak akan mau berteman denganmu. tapi menurutku kamu memiliki sifat yang sangat unik sekali. Sangking uniknya itulah yang menjadi daya tarikku. Selain itu juga kamu memiliki daya pikat bagi setiap manusia. Tapi ini tidak berlaku untuk musuhmu sendiri. Kamu itu sebagai magnet. Yang di mana mereka itu ingin selalu menjadi temanmu. Kamu lebih pandai bergaul ketimbang aku."
"Aku sendiri saja tidak tahu sifatku bagaimana? Terkadang aku bingung. Tapi yang aku takutkan adalah sifat asli ku akan muncul seketika. Saat ada seseorang yang menggangguku. Inilah yang aku takutkan sekarang ini."
"Itulah hal yang wajar bagi setiap insan manusia. Jika ada yang mengganggu, kamu berhak mengeluarkannya. Kamu itu wanita lemah lembut jika tidak ada yang mengganggumu. Terkadang kamu adalah rubah kecil demi mempertahankan sesuatu hal. Maka dari itu kamu orangnya didominasi dengan lemah lembut. Aku sudah menceritakan definisi ke kamu. Sekarang gantian.. Apa definisi aku?"
"Kakak orangnya sangat hangat jika ada yang mengenalnya. Jika belum ada yang mengenalnya, Kakak bisa dikatakan orang yang dingin sedingin es batu. Tapi Kakak memiliki aura kepemimpinan. Yang di mana aura itu tidak bisa ditebak oleh siapapun. Sisi jahatnya, Kakak adalah seorang iblis yang mematikan. Diam-diam jika tidak ada yang mau menuruti keinginannya. Maka orang itu akan gelisah menghadapi kakak."
"Tergantung Apa masalahnya terlebih dahulu. Aku nggak akan mungkin langsung menghajar orang itu tanpa ada penjelasan apapun. Kalau masalah kecil aku membiarkannya saja. Kalau masalah besar, bisa dipastikan Kakak akan marah besar. Lagian setiap masalah tidak harus diselesaikan dengan amarah. Semenjak Kakak mengenalmu, aku mulai belajar untuk bersabar menghadapi orang-orang. Aku mulai menjodohmu Bagaimana caranya agar manusia itu bisa mengendalikan emosi."
Jelas Dewa yang ternyata mengagumi sosok Sascha.
"Kak Apakah aku tinggal sama mamaku akan menjadi sangat manja dan tidak berperikemanusiaan?"
"Kamu ngomong apa sih? Aku tidak tahu soal itu."
__ADS_1
Tanya Dewa yang benar-benar agak marah.