
"Kalau mereka memutuskan untuk perang, maka aku ladeni mereka. Kalau mereka memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Aku akan menghentikan perpecahan ini. Karena aku sendiri sudah capek mendengar ulah mereka. Seharusnya Cathy tahu diri sebagai anak angkat. Sebab dirinya harus memiliki sekat tersendiri," the last Gerre.
Devan akhirnya paham apa yang dikatakan oleh Gerre. Seharusnya masalah ini tidak akan menjadi sebesar ini. Sedari dulu Gerre selalu ingin hidup damai tanpa diusik oleh siapapun. Meski demikian Gerre bersama putrinya harus menghadapi Cathy.
"Kapan kamu akan pulang ke New York?" tanya Devan.
"Nanti sore. Aku akan pergi ke Labuan Bajo terlebih dahulu. Aku ingin memeriksa beberapa resort yang telah dibangun di sana," jawab Gerre.
Sontak saja Devan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Gerre. Diam-diam Gerre memiliki beberapa bisnis di dunia pariwisata. Jujur saja Gerre termasuk orang yang ulet dalam bekerja. Maka dari itu Devan diam-diam sangat memuji keuletan Gerre.
Di rumah masakan Padang, Sascha merasakan hal yang sangat aneh. Entah kenapa dirinya teringat kepada Gerre. Selesai makan Sascha memutuskan untuk berpamitan dengan Ayako dan juga Dita.
"Sepertinya aku harus pergi dari sini. Aku harus menjaga Papaku untuk pulang," pinta Sascha.
"Memangnya kenapa Kak?" tanya Dita dengan serius.
"Entahlah. Firasatku sepertinya tidak enak sama sekali. Aku harus kembali ke Jakarta saat ini juga," jawab Sascha yang selesai menghubungi Almond.
Untung saja Almond saat ini berada di dekat Sascha. Sekalinya telepon almond langsung muncul dan menatap wajah Sascha. Kemudian Sascha memintanya untuk mengantarkan dirinya pergi ke Jakarta hari ini juga.
"Semuanya sudah aku bayar. Nanti ada seseorang yang akan memberikan petunjuk kepadamu saat kembali ke villa. Katakan pada Kak Dewa kalau aku akan kembali ke Jakarta hari ini juga," pinta Sascha.
Hari itu juga Sascha langsung meninggalkan mereka. Saja bersama Almond segera pergi ke Jakarta. Namun sebelum itu Almond berkata, "Nona, sebaiknya ajak mereka saja pulang ke villa. Mereka seharusnya tidak ditinggalkan ke sini."
"Maksud kamu apa Almond?" tanya Sascha.
"Kita ke Jakarta memakai heli. Kita tidak akan mungkin menempuh perjalanan kurang lebih tujuh jam sampai ke tujuan. Belum lagi nona terjebak macet. Bisa dipastikan nona tidak bisa memburu waktu," jawab Almond dengan jujur.
__ADS_1
Memang benar apa yang dikatakan Almond. Perjalanan menuju ke Jakarta membutuhkan kurang lebih tujuh jam. Jika saja Sascha memakai mobil, kemungkinan besar nyawa gear tidak akan tertolong.
Entah kenapa firasat Sascha sangat kuat sekali pada pagi ini. Begitu juga dengan Dewa. Sepasang suami istri itu selalu memiliki firasat yang hampir sama.
"Bener juga apa yang kamu katakan," jawab Sascha yang akhirnya kembali ke mereka.
Melihat Sascha kembali, Ayako menatapnya dengan bingung. Kenapa Sascha kembali lagi? Itulah pertanyaan yang ada dalam di benaknya.
"Kenapa kamu kembali?" tanya Ayako.
"Lebih baik kita pulang ke villa bersama. Aku baru tahu kalau perjalanan menuju ke Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih tujuh jam," jawab Sascha.
Mereka pun menuruti apa yang dikatakan oleh Sascha. Akhirnya mereka bertiga pulang ke villa Bima. Di dalam perjalanan menuju ke villa, Dewa memonitor Sascha agar segala kembali ke villa.
Dalam hitungan beberapa menit kemudian, mereka sampai ke villa Bima. Sascha langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan Dewa. Akhirnya ia menemukan sang suami sedang duduk dengan santai.
"Kita harus kembali ke Jakarta hari ini juga. Kita tidak akan mungkin memakai mobil untuk sampai ke sana. Aku sudah menyuruh Timothy untuk meminjam heli dari papa," jawab Dewa dengan jelas. "Di mana Dita?"
"Dita berada di luar. Dita masih mengobrol dengan kak Ayako," jawab Sascha.
"Suruh dia mengemasi pakaiannya jika ingin ikut ke Nganjuk. Kita akan berangkat dari Jakarta bersama para papa!" tegas Dewa.
Sascha akhirnya mengangguk dan segera pergi meninggalkan Dewa. Di sana dirinya langsung menjadi keberadaan Dita. Untung saja Dita saat itu masih mengobrol dengan Ayako. Setelah itu Sascha mendekatinya sambil berkata, "Suruh Kak Dewa membereskan pakaianmu sekarang juga. Kalau kamu mau ikut ke Nganjuk."
"Baik kak," balas Dita.
Dita berpamitan kepada Ayako untuk segera membereskan pakaiannya. Kemudian Sascha juga mengambil kopernya yang sudah berisikan pakaian. Hanya selang lima belas menit, Dita sudah bersiap dan mendekati Sascha. Setelah itu datang Dewa sambil memberikan ponselnya ke Sascha.
__ADS_1
"Coba baca ini semuanya," pinta Dewa yang menyodorkan ponsel itu ke arah Sascha.
Sascha segera mengambilnya dan membaca semua isi pesan itu. Ternyata firasatnya benar. Kalau sang Papa sedang dalam bahaya. Ternyata Cathy sedang memata-matai Gerre. Cathy hanya menunggu waktu yang tepat untuk membunuhnya. Kemungkinan hari ini adalah waktu yang tepat. Maka dari itu mereka menuju ke Jakarta hari ini juga.
Ketika helikopter datang, seluruh penghuni villa itu keluar dengan membawa persiapan. Sascha sangat terkejut sekali dan menatap wajah mereka. Lalu Sascha bertanya, "Mereka semuanya ikut?"
"Mereka akan melakukan perburuan terhadap Cathy. Karena mereka akan berada di bawah komandaku. Aku tidak akan membiarkan Cathy hidup. Hari ini juga kita akan menangkap Cathy bersama-sama," jawab Dewa dengan serius.
"Ayo kita berangkat. Heli sudah siap membawa kita ke Jakarta," ajak Timothy.
Mereka meninggalkan villa itu kecuali Kobe dan Ayako. Pasangan suami istri itu pun tidak ikut dengan mereka. Namun Kobe akan menunggu komando dari Dewa. Jika sampai Dewa menurunkan komando, mau tidak mau, Kobe harus turun ke lapangan.
Tepat jam 11.00, mereka meninggalkan villa tersebut. Mereka menuju ke Jakarta dengan harap-harap cemas. Sedangkan Sascha mencoba untuk melacak keberadaan Cathy. Ternyata Sascha menemukan Cathy berada di suatu bangunan tua yang tidak dipakai lagi.
"Aku sudah menemukan titik koordinatnya. Ternyata Cathy berada di suatu bangunan tua. Apakah kita harus ke sana?" tanya Sascha.
"Jangan terburu-buru baby. Kita berjalan seperti apa adanya dan pura-pura tidak tahu. Kita nggak bisa seenaknya untuk menangkap mereka. Kita harus bersabar dan memancing mereka keluar," jawab Dewa.
Perjalanan menuju ke Jakarta hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja. Akhirnya mereka turun di landasan heli perusahaan D'Star Inc. Lalu mereka langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan para papa. Sepanjang perjalanan menuju ke ruangannya Dewa, lorong yang dilewatinya sangat sepi sekali.
Sesampainya di ruangan Dewa, para papa hanya meminum kopi dan ditemani oleh pisang keju. Devan terkejut karena ada suara sepatu pantofel sedang beradu dengan marmer. Lalu Devan menatap wajah Gerre sambil bertanya, "Siapa yang datang ya siang-siang begini datang seperti orang mau ribut saja?"
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Papa," panggil Sascha.
__ADS_1
"Ada apa sayangku?" tanya Gerre yang menatap wajah sang putri.