Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PENGAKUAN SASCHA.


__ADS_3

"Ya aku akan memaafkannya," jawab Dita dengan tulus.


"Jangan marah lagi ya pada kakakmu. Kamu tahu sebenarnya kakakmu itu sayang sama kamu. dia tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu. Jika terjadi apa-apa dengan kamu, maka hidupnya akan hancur berkeping-keping. percaya deh dengan omonganku," pesan Sascha dengan tulus.


"Terima kasih ya kak telah mengingatkan aku. Jika tidak mungkin aku membencinya seumur hidupku," ucap Dita yang menyesali perbuatannya.


"Kamu tidak perlu minta maaf sama kakak. Kamu harus minta maaf sama Kak Dewa. Andai saja kalau aku tidak mendengar dan menyampaikan rencana mereka ke kakakmu itu, kamu sudah hamil diluar nikah dengan pria yang tidak tahu asalnya," ujar Sascha.


"Jadi skenario itu?" tanya Dita.


"Ya.... aku dan Kak Dewa yang merencanakannya. Ketika aku jatuh itu bukan skenarioku. Melainkan skenario kakakmu itu," jawab Sascha yang membuat Dita tertawa terbahak-bahak.


"Kamu tahu, kakiku sangat sakit sekali saat itu. aku hampir tidak bisa berjalan seharian," kesel Sascha.


"Ternyata Kak Dewa jahat juga ya?" ujar Dita.


"Ya itu... Jujur aku ingin sekali menuntut orang itu. Tapi Kak Dewa melarangnya. dan sebagai gantinya aku mendapatkan libur secara gratis selama seminggu di rumah," sahur Sascha yang membuat kita tersenyum.


"Meskipun Kakak libur selama seminggu. Kak Dewa selalu main ke rumah kakak," kata Dita.

__ADS_1


"Terserah dia saja. Mau datang silakan tidak datang terserah. Mau makan terserah mau makan tidak. Mau tidur terserah tidak tidur terserah. Semuanya terserah padanya," sahut Sascha yang membuat Dita tertawa lagi.


"Apakah kakak sudah melihat, Rumah kakak terbakar hebat?" tanya Dita.


"Tadi aku dari situ. tidak ada yang bisa diselamatkan. Semuanya rata dengan tanah. Aku bingung, Kenapa rumahku seperti itu?" tanya Sascha lagi.


"Rumah itu banyak kenangannya Kak. mulai dari aku menginap di sana, tempat perkumpulan teman-teman aku, Kak Dewa juga sering ke sana. Bahkan di sana halamannya luas sekali. Kita sering bakar-bakar ayam. nongkrong di sana sampai pagi dan membuat pesta. meskipun kecil tapi ramai. Aku nyesek sekali ketika mendengar berita tapi sekarang kakak ada gantinya. Yaitu beberapa mansion mewah milik orang tua kakak kandung," jelas Dita yang sebenarnya kecewa dengan rumah itu.


"Tidak perlu menyesali. Karena semuanya itu adalah milik Tuhan. Jika Tuhan mengambilnya dariku, maka aku akan memberikannya secara cuma-cuma. Memang di sana banyak kenangan yang terindah. Tapi apa dayaku coba?" ujar Sascha.


"Tapi Kakak sangat beruntung sekali bisa lolos dari maut. Paginya setelah sarapan aku mendapat kabar keluar rumah terbakar. Lalu aku mengecek ke sana ternyata habis sudah. Untung saja Kakak selamat dari kebakaran itu," puji Dita.


"Aku boleh tanya nggak tentang Risa?" tanya Dita yang ingin tahu tentang Risa.


"Silakan tanya saja," ujar Sascha.


"Sebelum tanya Risa, Aku ingin tanya sama kakak. Apakah kakak tahu, di Kakak dewa adalah ketua mafia?" tanya Dita serius.


"Aku tahu itu. Kak Dewa sendiri yang ngomong sama aku," aku Sascha.

__ADS_1


"Apakah kakak nggak takut sama Kak Dewa?" tanya Dita yang membuat mata Sascha melotot sempurna.


"Jawabannya kebalik. Malah Kak Dewa takut sama kakak," jawab Sascha dengan serius.


"What?" pekik Dita.


"Iyalah. kakakmu takut jika aku pergi dari hidupnya," jawab Sascha.


"Apakah kakak akan meninggalkan tak Dewa sendiri?" tanya Dita yang ketakutan.


"Kakak nggak pernah meninggalkannya dan tidak akan. Karena jiwa kami sudah menyatu dalam satu raga. Kakak pergi pun percuma. di mana-mana selalu ingat kakakmu itu. Terkadang aku ingin membuang wajah kakakmu itu di dalam otakku. jujur aku nggak bisa melakukannya," jelas Sascha.


"Syukurlah. Kakak sudah menerima Kak Dewa dengan sepenuh hati. Banyak sekali yang ingin menjadikan Kak Dewa sebagai calon suaminya. Tapi mereka hanya menginginkan asetnya saja. Semua orang pernah mengatakan kalau Kak Dewa itu bodoh," ungkap Dita dengan serius.


"Kak Dewa bukan orang bodoh. Kak Dewa orang yang sangat menenangkan. Kak Dewa tahu kalau banyak sekali perempuan mendekatinya. Tapi Kak Dewa bisa membaca situasi dan keadaan. Banyak sekali para kolega Kak Dewa menjodohkan anaknya dengan kakakmu. Ujung-ujungnya Kalau ketemuan ngajakin aku makan bersama. Yang lebih lucunya lagi kak Dewa hanya diam seperti batu jika diajak bicara," jelas Sascha yang membuat Dita menganga tak percaya.


"Lalu kak, bagaimana kencan bertiga?" tanya Dita serius.


"Aku tidak kencan. tapi aku menyambung lidahnya Kak Dewa. Jujur acara itu pun tidak asik buat aku. Terkadang sifat bar-bar aku keluar dan ingin menghajar mereka hingga babak belur. Orang sudah tidak mau malah dipaksa," kesal Sascha.

__ADS_1


__ADS_2