
“Masa kamu enggak tahu apa maksudmu sih?” tanya Timothy
“Aku enggak tahu apa-apa,” jawab Dewa.
“Dia yang menyebabkan bunuh diri masal di waktu dulu. Dia orangnya yang sengaja membuat anak-anak menjadi mental tempe. Lalu mereka melakukan bunuh diri massal secara serempak. Dan kamu tahu sepupunya Bima juga termasuk orang dengan bunuh diri massal,” jawab Timothy. “Berita itu menjadi besar dan sangat viral di masanya. Aku tidak menyangka kalau yang melakukannya adalah Damar.”
“Aku tahu dia tidak akan mengakui kesalahannya itu,” ucap Sascha.
“Kamu benar. Aku semalam bertanya berkali-kali. Tapi Damar tertawa mengejekku,” sahut Bima.
“Mana ada maling mau ngaku. Orang kayak gitu nggak bakal ngaku Kak. Kalau ngaku sudah dari dulu tertangkap dan masuk dalam penjara. Terus kasus Kak Sascha menghilang dari keluarganya, nggak mungkin terjadi seperti itu,” jelas Dita yang membuat pernyataan dan mendapatkan persetujuan semua orang-orang.
“Kamu benar. Damar memang licik sedari dulu. Sering sekali dia melemparkan tangan sembunyi dan batu,” celetuk Sascha yang sengaja membuat semuanya menjadi bingung.
“Salah sayangku. Lihatlah mereka menjadi bingung gara-gara kamu. Harusnya kamu bilang lempar batu sembunyi tangan. Bukan kebalikannya,” ujar Dewa.
“I'm sorry. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dita. Aku juga nggak habis pikir dengan Damar,” sahut Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis..
“Memang sudah di dulu kamu selalu menggonta-ganti peribahasa itu. Untung saja aku paham,” sahut Dita.
“Lalu bagaimana kabarnya David?” tanya Sascha.
“David masih hidup. Dia terkena mental gara-gara Bima. Dia sangat ketakutan sekali melihat Bima peringat seperti itu. Aku yakin David nggak akan berani mengganggu kita,” jawab Timothy.
“Apakah kita harus melepaskannya? Apakah kita akan melemparkannya ke daerah konflik sana?” tanya Ian.
“David itu sebenarnya orang baik. Dia bekerja di Khans company dengan baik. Gara-gara Damar, David juga ikut-ikutan menjadi tidak baik,” jelas Bima.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” tanya Tommy.
“Tinggal Cathy yang belum tertangkap sama sekali,” jawab Dewa. “Oh iya email yang berisikan dari Leo itu apa?” tanya Dewa.
__ADS_1
“Kak Leo memberitahukan kalau dirinya menemukan siapa yang melepaskan Cathy. Ia mengungkapkan kalau ibunya Cathy yang melepaskannya. Kemungkinan besar Kak Leo memberitahukan di mana keberadaan ibunya Cathy. Kata Kak Leo Dia sedang bersembunyi di suatu tempat. Yang di mana mereka tidak bisa menemukannya,” jawab Sascha.
“Kalau begitu kita bisa menemukannya,” ucap Dewa.
Sascha menganggukkan kepalanya sambil membenarkan ucapan Dewa. Saja juga merasa kalau orang itu yang membuat perusahaannya tutup sementara. Apakah dirinya akan membuat perhitungan kepada nenek tua itu? Jawabannya adalah entah.
“Rencana kamu apa hari ini?” tanya Bima.
“Aku masih belum kembali ke New York city. Kemungkinan besar aku akan berada di sini untuk beberapa hari kedepan,” jawab Dewa. “Perasaan aku kemarin ada Bang Kobe?”
“Bang Kobe disuruh mengurus perusahaan untuk beberapa waktu ke depan. Kamu dan Sascha akan ditempatkan di Amerika untuk sementara waktu. Makanya setelah penangkapan itu bang Kobe kembali lagi ke perusahaan. Cepat atau lambat perusahaan akan digabungkan menjadi satu,” ucap Timothy.
“Bagaimana kalau perusahaan nggak digabungkan menjadi satu?” tanya Sascha. “Aku takutnya nanti rancu. Soalnya kita itu beda produksi.”
“Kita buat aja namanya Nakhans Group International. Itu penggabungan dari dua perusahaan raksasa menjadi satu,” ucap Dewa.
“Yang dikatakan Dewa benar. Nanti kami bantu untuk membuat sistem perusahaan terbaru. Apalagi ditambah Leo. Diam-diam Leo sudah mempersiapkan program baru untuk perusahaan. Kalau kamu nggak mau ngambil. Kemungkinan besar Leo akan menjualnya ke orang lain,” ucap Timothy.
“Tenang saja. Leo tidak akan menjualnya ke tempat lain. Leo akan tetap memberikannya kepada kita. Paling nggak aku dan lainnya yang memakainya,” jawab Bima.
“Ya sudah deh aku pamit dulu. Sebentar lagi aku akan bersiap-siap untuk pergi ke Jawa Timur,” ujar Sascha sambil berpamitan kepada mereka.
“Mau ke mana?” tanya Ian.
“Mau ke makamnya Ibu Nirmala. Ibu Nirmala berpesan kalau mau pergi jauh. Bu Nirmala meminta untuk mengunjunginya,” jawab Sascha.
Semua orang tersentak mendengar jawaban Sascha. Ternyata Ibu Nirmala sangat menyayangi Sascha. Bahkan sebelum Sascha kembali ke New York, Bu Nirmala berpesan untuk mengunjungi makamnya terlebih dahulu.
“jujur Ibu Nirmala sangat menyayangimu. Kamu sangat beruntung memiliki dua ibu yang sangat sayang sama kamu. Kamu adalah Dewi keberuntungan buat semua orang. Termasuk kami, ketika kamu berada di samping atau di sekitaran kami. Bahkan perusahaan milik Dewa pun menjadi besar.aku sangat bersyukur memiliki teman sepertimu. Bahkan kamu sudah kuanggap sebagai adikku sendiri,” puji Bima kepada Sascha.
“Jangan memujiku seperti itu. Aku nggak mau kepalaku besar,” ucap Sascha yang merendahkan dirinya agar tidak sombong.
__ADS_1
“Bukannya begitu. Tapi ini real tentang kenyataan yang kami rasakan,” jawab Bima dengan jujur.
“Maksih ya. Aku ingin menjadi orang yang bisa mendapatkan kebaikan dan juga keberuntungan. Karena aku sadar, kalau aku bukan wanita yang belum sempurna,” jelas Sascha.
“Jangan bersedih. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku harap kamu bisa menonjolkan kelebihan kamu. Ketimbang kamu harus minder dengan kekuatannya. Begitu juga kami. Kami juga sedang belajar tentang artinya hidup,” hibur Ian. “Oh... iya kapan kalian berangkat?”
“Nanti siang,” jawab Dewa. “Apakah kalian akan ikut?”
“Ya... kami akan ikut. Kami juga sangat rindu pada ibu Nirmala. Kami ingin mengunjungi makamnya. Sebab selama kami mengenal Ibu Nirmala dan Pak Andika. Kami merasakan Nirmala dengan baik. Saat Ibu Nirmala tinggal di Jakarta, Ibu meminta kami untuk berkumpul di rumah Sascha. Meskipun suguhannya kopi dan jajanan pasar. Kami sangat menyukainya,” jawab Tommy yang merasakan kebaikan Ibu Nirmala.
“Aku juga begitu. Aku juga sangat merindukan Ibu Nirmala,” jelas Sascha.
“Apakah kalian tidak mengajakku?” tanya Kobe yang menggandeng tangan Ayako.
Semuanya pada menoleh dan melihat ke arah pintu masuk. Mereka tersenyum manis dan menyambut kedatangan Kobe. Lalu Kobe berjalan ke arahnya sambil bertanya, “Aakah kalian tidak mencariku?”
“Ah... rasanya kerajinan sekali mencarimu,” kesal Dewa.
Kobe hanya terkekeh mendengar ucapan Dewa. Lalu Sascha tidak sadar melihat Ayako. Hingga akhirnya Ayako memanggilnya sambil melambaikan tangannya, “Sascha.”
Sascha tertegun mendengar suara lembut dari Ayako. Entah kenapa dirinya baru sadar kalau ada Ayako berada di hadapannya. Lalu Sascha melompat dan mendekatinya sambil memeluknya, “Kakak. Kapan kesini?”
“Aku kesini jam lima sore. Aku sangat merindukan suamiku ini,” jelas Ayako.
“Apakah kamu memiliki jadwal free?” tanya Sascha.
“Beberapa hari ke depan aku akan berlibur ke Jogjakarta,” jawab Ayako.
Mendengar kata Jogjakarta, Sascha melihat Dewa sambil bertanya, “Bolehkah aku ikut dengan Kak Ayako?”
__ADS_1