Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MASIH PAGI.


__ADS_3

Jujur saja Dita kali ini sangat bingung apa yang harus dilakukannya? Dirinya diminta dengan cepat oleh Tommy. Bahkan Tommy sekarang sedang dikejar oleh deadline menikah. Ketimbang bingung apa yang harus dilakukannya sekarang, Dita memutuskan untuk pergi membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Setelah itu Dita menunggu pesan dari Sascha untuk mencari sarapan. Sembari menunggu di dalam kamar, Sascha akhirnya masuk ke dalam dan melihat wajah adik iparnya berseri-seri.


"Dita," panggil Sascha yang mendekati Dita.


Dita yang sedari tadi melihat ponselnya terkejut. Ia segera mengangkat wajahnya sambil menatap wajah kakak iparnya itu.


"Ada apa kak?" tanya Dita.


"Kenapa wajahmu berseri-seri seperti itu?" tanya Sascha balik.


"Aku bingung kak," jawab Dita.


"Kenapa kamu bingung?" tanya Sascha sambil mengerutkan keningnya.


"Aku bingung karena Kak Tommy akan melamarku dua Minggu ke depan," jawab Dita yang membuat Sascha tersenyum.


"Enggak apa-apa. Kamu memang berhak mendapatkan kebahagiaan dari pria baik seperti Kak Tommy. Sebenarnya aku sudah mengenalnya. Kak Tommy itu orangnya sangat sempurna sekali. Dia tidak pernah melakukan kekerasan terhadap perempuan. Dia memiliki jiwa pekerja keras," ucap Sascha.


"Apakah Kak Dewa mau mengizinkan aku menikah dengan Kak Tommy?" tanya Dita yang masih ragu atas jawabannya itu.


"Kalau kamu masih ragu itu. Mending kamu tanyakan sekali lagi biar hatimu mantap untuk mengambil keputusan ini. Aku tahu Kak Tommy itu memang orangnya sangat baik sekali," jelas Sascha.


Dita menganggukan kepalanya karena jawaban Sascha. Dita sebenarnya masih ragu karena jawaban Dewa. Setahunya Dewa itu memiliki jawaban sering berubah-ubah. Mungkin karena Dewa memiliki Indra keenam. Hingga jawaban yang diminta oleh Dewa selalu berubah tidak jelas.


"Apakah kamu sudah mandi?" tanya Sascha.


"Aku sudah mandi kak," jawab Dita. "Memangnya kita mau kemana?"


"Kita harus check out sekarang. Sebelum ke Nganjuk kita akan bertemu dengan Kinanti," jawab Sascha.


"Siap," sahut Dita yang menaruh ponselnya di tas kecilnya.


"Terus bajumu?" tanya Sascha.


"Aku tidak membongkar seluruh baju. Jadi aku tidak susah payah untuk membereskan baju," jawab Dita.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita keluar dari sini," ajak Sascha.

__ADS_1


Sascha mengajak Dita untuk keluar dari kamarnya. Mereka melihat Dewa yang sudah menunggunya. Lalu Dewa melihat Dita sambil bertanya, "Tumben kok cepet banget kamu?"


"Iyalah kak. Aku tidak membongkar semua baju di dalam koper itu," jawab Dita.


"Kalau begitu ayo kita keluar," ajak Dewa.


Mereka akhirnya turun ke lobby. Mereka memutuskan untuk check out pada pagi ini. Kemudian salah satu pengawal milik Dewa mendekatinya. Pengawal itu membungkukkan tubuhnya sambil menyapanya, "Selamat pagi Tuan Dewa."


"Selamat pagi," sahut Dewa. "Apakah mobilku sudah siap?"


"Sudah tuan... Mobil tuan bisa berangkat pada pagi ini," jawab pengawal itu.


Dewa menganggukan kepalanya sambil menatap wajah Sascha. Sementara itu Sascha yang ditatap oleh Dewa bingung. Entah kenapa dirinya sangat bingung sekali.


"Ada apa memangnya?" tanya Sascha.


"Apakah kamu tidak membelikan oleh-oleh buat anak-anak di desa? Buku atau pensil?" tanya Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.


"Oh iya sih... Mending kita belikan peralatan tulis. Setelah itu kita bagikan kepada mereka," jawab Sascha yang mendapatkan persetujuan dari Dewa.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Dewa.


Melihat kepergian pengawalnya, Dewa mengajak Sascha dan Dita langsung pergi meninggalkan hotel. Sebelum pergi menemui Kinanti, mereka memutuskan untuk sarapan.


"Masih pagi," ucap Sascha memegang perutnya.


"Lalu?" tanya Dewa yang masih fokus membawa mobil.


"Kita sarapan terlebih dahulu," jawab Sascha.


"Oh... Ya... Aku lupa akan hal itu," sahut Dewa yang menghentikan mobilnya.


"Kita akan makan dimana? Sebenarnya kita belum menentukan tempat sarapan," ujar Dita yang mulai kelaparan.


"Tenang saja. Kamu tahukan kalau kakak iparmu pernah tugas di sini. Biarlah kakakmu yang memilih tempat untuk sarapan," kata Dewa yang menenangkan Dita sedang kelaparan.


Dita hanya menganggukkan kepalanya dan menunggu keputusan dari kakak iparnya itu. Sedangkan Sascha sendiri langsung memberikan beberapa opsi untuk mereka.


Dalam berdiskusi kakak dan adik itu pun langsung bersitegang. Karena Dewa sendiri ingin memakan nasi soto ayam Lamongan. Sedangkan Dita meminta kakak iparnya untuk mencarikan nasi pecel.

__ADS_1


Akhirnya Sascha memutuskan untuk mengajak mereka berdua. Ia memintanya untuk pergi ke tempat favoritnya itu. Di sana rumah makannya mirip sekali dengan angkringan. Namun angkringan ini bukanya pada pagi hingga siang hari. Di tempat itu mereka sedang menjual berbagai macam makanan berasal dari Jawa Timur.


"Ketimbang kalian berantem dan gak jelas seperti ini. Lebih baik kita jalan saja," ucap Sascha.


"Kita makan di mana sebenarnya?" tanya Dewa yang benar-benar kelaparan.


"Sudah jalan saja. Aku akan memberitahukan Di mana tempatnya yang paling asik dan enak," jawab Sascha.


"Tapi di mana tempatnya?" tanya Dewa sekali lagi.


"Kita ganti posisi saja terlebih dahulu. Aku tidak bisa memberitahukan di mana tempatnya. Biarkan aku yang membawa mobil sendiri," jawab Sascha yang meminta bertukar posisi bersama Dewa.


Dewa menganggukkan kepalanya lalu bertukar posisi kepada Sascha. Lalu Dewa bertanya, "Memangnya kita mau ke mana sih? Makan kok ribet sekali."


"Itu kan karena kalian berdua. Aku tidak habis pikir deh dengan kalian. Kenapa juga kalian selalu ribut ketika menentukan tempat untuk makan?" tanya Sascha dengan nada santai.


Mereka memilih diam dan membiarkan Sascha untuk mencari tempat yang nyaman. Memang sedari dulu adik kakak itu selalu saja berantem. Meskipun begitu mereka saling menyayangi dan mencintai satu sama lain.


Di dalam perjalanan menuju ke tempat makan, Dewa mengirimkan pesan kepada asistennya itu. Dewa meminta untuk mencari informasi tentang ibunya Cathy. Jujur sampai saat ini dirinya sangat penasaran. Entah kenapa penasarannya itu bisa membuat Dewa melakukan sesuatu.


"Aku sudah memberikan tugas untuk Timothy," ucap Dewa.


"Tugas apa itu?" tanya Sascha.


"Aku meminta Timothy untuk mencari informasi tentang ibunya Cathy. Setelah mimpi seperti itu aku sendiri penasaran sekali," jawab Dewa.


"Lalu bagaimana dengan papa Devan?" tanya Sascha yang membuat Dita terkejut.


"Apakah papa ada sangkut pautnya dengan masalah ini?" tanya Dita.


"Kalau firasatku mengatakan tidak. Kemungkinan besar papa sebenarnya sudah mengetahui siapa Ibunda Cathy? Kemarin saat kami bertanya, Papa malas sekali menjawabnya. Maka dari itu aku harus menyelidikinya lebih dalam lagi. Tapi?" jelas Sascha yang lalu menggantungkan kata tapi yang membuat Dita dan Dewa bertanya-tanya


"Memangnya kenapa?" tanya Dita.


"Seharusnya aku tidak mencurigai Papa Devan. Lebih baik aku urungkan niatku bertanya lebih lanjut lagi soal nenek-nenek itu," jawab Sascha dengan jujur.


"Apakah kakak nggak enak hati sama papa?" tanya Dita.


"Jujur iya. Seharusnya aku tidak boleh melakukan itu," jawab Sascha.

__ADS_1


__ADS_2