Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BERTEMU FATIN.


__ADS_3

"Iya aku sangat lapar sekali," jawab Sascha.


"Kalau begitu mari kita makan terlebih dahulu," ajak Dewa.


"Sebelumnya aku akan memberikan laporan ini ke Kak Eric. Aku harap Kak Eric bisa tenang melihat biang keladi pencurian uang tersebut," ucap Sascha.


"Yang kamu katakan benar. Beberapa hari belakangan ini kakakmu itu jarang tidur pulas dan makan. Aku takut kakakmu itu masuk rumah sakit," kesal Dewa.


"Yang namanya orang kehilangan uang Bagaimana sih Kak? Aku juga pernah mengalami itu. Tapi ya nggak banyak. Ujung-ujungnya ya mikir. Sayang uang segitu hilang.lebih baik aku belikan sebuah kado untuk anak-anak jalanan," ujar Sascha yang membuat Dewa mengulas senyum.


Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Ketika mereka akan turun, Dewa mendapati Marty yang sedang panik. Dewa mengerutkan keningnya sambil mendekati Marty.


"Ada apa?" tanya Dewa.


"Di bawah ada keluarga Billi. Mereka ingin bertemu dengan Nona Sascha," jawab Marty yang mengatur nafasnya karena berlari.


"Apakah itu benar?" tanya Sascha.


"Iya itu benar," jawab Marty.


"Kalau begitu bilang sama mereka. Aku tidak mau bertemu dengan mereka!" tegas Sascha.


"Mereka menolaknya dan memaksa untuk masuk ke dalam," ucap Marty.


"Kalau begitu suruh masuk saja! Ini untuk yang terakhir kalinya bertemu dengan keluarga itu!" geram Sascha.


"Apakah Nona yakin?" tanya Marty.


"Aku yakin semuanya," jawab Sascha.


"Turuti keinginannya!" perintah Dewa.


"Baiklah kalau begitu," ucap Marty.


Akhirnya Marty menuruti keinginan Sascha mengajak keluarga Billi masuk. Setelah kepergian Marty, Sascha sudah bersiap-siap untuk mengantisipasi terjadinya penyerangan.


"Apakah kamu yakin bertemu dengan mereka?" tanya Dewa yang ragu atas keputusan Sascha.

__ADS_1


"Semuanya harus diselesaikan. Yang tidak mau hari ini harus selesai. Jika mereka membangkang, maka aku menghubungi Kak Raymond mengurusi kasus ini," jawab Sascha.


"Bagus! Jangan pernah goyah sedikitpun!" perintah Dewa yang mendapatkan anggukan dari Sascha.


"Kalau begitu kita turun saja dan bicara blak-blakan. Aku tidak mau di dalam kantorku. Karena mereka adalah pembuat sial untukku," ajak Sascha.


Mau tidak mau Sascha dan Dewa turun ke bawah. Sascha sengaja mengajak Dewa menemuinya. Karena dirinya tahu kalau Dewa sangat ketakutan sekali jika bertemu dengan mereka.


Sesampainya di bawah, Sascha melihat Fatin yang sudah mulai bar-bar. Dirinya sengaja diam terlebih dahulu dan melihat apa yang dilakukannya.


"EH LU! GUE BILANGIN SEKALI LAGI! KALAU GUE KE SINI HANYA KETEMU DENGAN CALON MENANTU GUE!" teriak Fatin dengan nada meninggi.


"Maaf Bu. Yang namanya Nona Sascha tidak ada di tempat. Kemungkinan besar beliau sedang meeting di luar," jawab Ina.


"KAMU BOHONG SAMA GUE! KALAU LU BOHONG, LU AKAN TERIMA AKIBATNYA!" bentak Firly.


"Sumpah Bu. Nona nggak ada di tempat. Aku harus berapa kali mengatakannya," ucap Ina.


"GUE NGGAK PEDULI. LU HARUS NYURUH SASCHA BALIK KE SINI! CEPAT!" bentak Fatin dengan penuh emosi.


Ina sang resepsionisnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena yang dihadapinya adalah keluarga yang tidak memiliki sopan santun sama sekali. Mau tidak mau Ina terpaksa menghubungi Sascha. Beruntung siang ini Sascha tidak membawa ponsel. Akhirnya Ina menaruh telepon itu di tempatnya.


"Cih, penting dari mana? Gue tahu kalau Sascha itu sedang transaksi untuk nanti malam!" Bentak Billi yang ikut-ikutan.


"Nanti malam apa maksudnya?" tanya Ian yang baru saja datang.


"Bukannya nanti malam di tempat kalian ada acara di klub malam. Lalu kalian akan menggilir Sascha di ranjang yang penuh dengan Cemara cahaya!" jawab Billi yang membuat Sascha tersenyum konyol.


Prok... Prok... Prok...


Suara tepuk tangan yang berasal dari belakang sangat mengejutkan orang-orang di sana. Sang pemilik tepuk tangan itu maju ke depan dengan wajah yang angkuh. Ia berjalan dengan anggun sambil menatap mereka dengan penuh kebencian.


"Jadi begini ya... Kelakuannya Bu Fatin seorang sosialita terkenal di Indonesia? Ke mana-mana selalu membawa barang branded. Yang ujung-ujungnya barang-barang tersebut ternyata hasil memeras keringat orang!" sindir Sascha dengan tegas.


Seketika orang yang berada di sana terkejut dengan pernyataan Sascha. Mereka menggelengkan kepalanya sambil menatap Fatin. Sedangkan Dewa bergabung dengan Ian dan Bima. Ketika pria itu akan melihat aksi Sascha.


"Sa," panggil Bima.

__ADS_1


"Apa kak?" tanya Sascha.


"Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Bima yang sengaja memancing informasi dari Sascha.


"Iya itu benar Kak. Sesuai dengan informasi yang kudapatkan. Dan semuanya terkumpul rapi di dalam file rahasiaku," jawab Sascha yang membuat Bima mengacungkan jempolnya.


"Maaf Bu Fatin. Ada apa anda ke sini?" tanya Sascha dingin.


"Ayolah kita pulang ke rumah. Bukankah kamu sangat mencintai Billi? Katanya bulan ini kamu ingin menikahi Billi?" rayu Fatin yang tidak tahu malu di hadapan banyak orang.


"Maaf Bu Fatin. Sekali lagi saya minta maaf. Sudah saya putuskan untuk tidak kembali lagi ke dalam pelukan anak anda. Apakah Anda paham?" tegas Sascha yang membuat Fatin menahan emosinya.


Sebelum Sascha berbicara, Billi mengangkat tangannya dan ingin menampar Sascha. Namun sebelum tangan itu mendarat ke pipi mulus Sascha, dengan cepat Dewa langsung memegangnya. Dewa tidak terima kalau calon istrinya dianiaya oleh orang.


"Kak Dewa," panggil Sascha. "Biarkan aku yang menghadapi mereka."


"Tapi, mereka adalah orang-orang yang ingin memintamu kembali ke sana," ujar Dewa yang tidak terima dengan Billi.


"Tenang saja. Kamu sudah memiliki aku dengan utuh. Mereka tidak akan memiliki ku sama sekali. Jika tidak percaya maka tunggu satu atau dua bulan lagi," bisik Sascha yang membuat Dewa paham.


Kemudian Sascha menatap Billi, Fatin dan Firly. Ia tersenyum mengejek sambil berkata, "Sudah aku katakan.kalian marah dan menghancurkan tempat ini terserah. Kalian mengamuk dan mencoba menghancurkan satu kota itu terserah. Tapi untuk kembali ke pelukan putra anda. Saya harus memikirkan ini berulang kali. Tapi apakah ibu tahu, kalau selama ini kejahatan yang ditutupi akan segera terbongkar."


"Maksud kamu apa?" tanya Fatin.


"Ibu telah melakukan pemerasan terhadap orang-orang yang berpacaran dengan Billi. Mereka mengaku rugi beberapa miliar untuk menghidupi putra anda. Secara diam-diam aku telah membuat komunitas para korban yang telah ditipunya. Cepat atau lambat aku sebagai penggerak akan membuat perhitungan di kantor kepolisian. Jika Ibu tidak percaya terserah. Ini yang pertama dan terakhir peringatanku. Jadi mulai saat ini jangan pernah ganggu aku," jelas Sascha yang membuat Fatin geram.


"Dasar j4l4ng!" maki Fatin yang tidak terima penolakan.


"Maling teriak maling! Yang sering melakukan itu siapa? Malah menuduh saya. Oh iya.. aku merasa lupa sesuatu. Aku memiliki banyak bukti yang dilakukan anda. Mulai dari kasus pencurian, penculikan, pemerasan dan penipuan. Semuanya sudah lengkap. Jadi aku tidak susah-susah untuk menjebloskan anda dalam penjara. Ingatlah! Jangan berteriak di depanku seperti ini lagi! Karena teriakanmu itu tidak ada guna buat aku. Sascha yang dulu tidak ada lagi. Inilah Sascha yang sekarang. Jika tidak ada keperluan sama sekali, maka pergilah dari perusahaan ini!" usir Sascha dengan tegas.


Ketiga manusia itu hanya bisa menatapnya nyalang. Namun Sascha tidak pernah gentar sama sekali melawan mereka. Sudah saatnya dirinya berdiri sambil membawa pedang. Ia tidak mau kalau harga dirinya diinjak-injak lagi seperti dulu.


Wanita mana jika calonnya menjelek-jelekan di depan umum. Bahkan harga dirinya juga dihancurkan begitu saja. Semua orang pasti tidak mau seperti itu.


"Silakan Anda keluar dari sini!" usir Sascha.


"Gue nggak akan mau keluar kecuali lu mau pulang ke rumah!" perintah Fatin ngegas.

__ADS_1


"Lho, kok jadinya kalian menyuruhku untuk pulang ke rumah?" tanya Sascha yang sudah mulai konyol.


__ADS_2