
“Iya itu benar,” jawab Dewi.
“Eh... buset deh... katanya sih Fitriani mati bunuh diri. Kenapa sekarang dia masih bisa nyanyi?” tanya Erin.
“Ya... iyalah... dia masih hidup sekarang,” jawab Dewi yang membuat pernyataan yang membingungkan.
“Gue tanya sekali lagi, kata lu di Fitriani itu sudah mati gara-gara bunuh diri. Lha... Napa dia masih hidup?” tanya Erin.
“Dia mah enggak mati setelah dikenalkan oleh pengusaha terkenal,” kata Dewi.
“Dari dulu lu memang ogeb. Sangking ogebnya lu kagak pernah diterima kerja di mana pun. Lu bilang saja kalau sepupumu itu hampir mati bunuh diri. Gue jadinya kesel aja lu!” bentak Erin yang sudah menahan emosi.
“Show in time,” ucap Risa yang sudah memiliki rencana.
“Lu mau ke mana?” tanya Erin.
“Gue mau mempermalukan itu cewek. Gue pengen seluruh orang Indonesia tahu kalau Billi putus dari sepupumu itu gara-gara dia,” jawab Risa dengan hati yang girang.
“Gue setuju. Gue pengen lihat dia nangis-nangis,” celetuk Erin.
“Sekalian aja nangis darah sekalian,” tambah Dewi.
“Sadis banget jadi orang,” celetuk Risa.
“Kalau enggak sadis bukan gue namanya,” ketus Risa.
Risa segera berdiri sambil membawa air mineral. Ia menuju ke tempat duduk di mana ada Sascha yang sedang menikmati makan malam. Tanpa ada rasa malu dan wajah bermuram durja, Risa berteriak, “Dasar pelakor!”
Sambil memaki Risa menyiramkan air itu ke arah Sascha. Namun kaki panjang Dewa menyenggolnya hingga terjadi...
Brugh!
Risa terjatuh ke rerumputan namun mulutnya mencium tanah. Seluruh orang yang berada di sana langsung memandang ke arah Risa dan tertawa. Entah kenapa Risa sial malam ini. Ingin melabrak Sascha lalu memperlakukannya di tempat umum dirinya terkena sial.
Selesai makan malam Timothy mengantarkan mereka pulang ke rumah. Jujur hari ini Sascha sangat bahagia bisa pulang ke Indonesia.
“Ada-ada saja. Aku dibilang pelakor,” kesal Sascha.
“Wajahmu mau... enggak ada wajah pelakor,” ledek Dewa.
“Kalau mau jadi pelakor yang pintar kali ya... Ngapain jadi pelakor kalau enggak ada tujuannya?” tanya Sascha yang bingung dengan pertanyaannya.
“Apakah itu benar pelakor ada tujuannya?” tanya Dewa.
__ADS_1
“Engga ada kalau menurutku,” jawab Sascha. “Udah ah... engga usah bahas pelakor. Paling malas khas begituan,” kesal Sascha.
“Ya... lebih baik jangan dibahas... Lagian apa untungnya jadi pelakor? Lagian Pelakor itu juga penjahat. Lebih baik menjadi istri yang baik dan menjadi ibu untuk kesebelas anak-anakku,” saran Dewa yang menyunggingkan senyumnya dengan indah.
Plak!
Sascha sangat kesal terhadap Gilbert yang asal bicara. Bisa-bisanya ia mengatakan sebelas anak di depan Timothy. Lalu Timothy sendiri menahan tawanya melihat Sascha yang kesal.
“Kalian sangat cocok sekali ketika begini. Kenapa enggak dari dulu nikah ya... Kemungkinan besar kalian sudah memiliki anak yang banyak,” celetuk Timothy.
“Ah... iya... kamu benar. Mungkin inilah jalannya... padahal jodoh sudah ada di depan,” ujar Dewa.
“Hmmmp... Jalan manusia berbeda-beda. Ada yang nikahnya cepet ada yang lama. Semuanya itu adalah takdir Tuhan yang harus kita jalani. Ada juga yang ketemu jodoh di samping rumah langsung nikah. Ada juga ketemu jodoh di luar negeri. So... kita harus menanggapi semua itu adalah anugerah,” ujar Sascha yang semakin bijak.
“Aku setuju pendapatmu. Janganlah pernah berpikiran kalau jodohnya belum datang enggak usah mengeluh kaya aku. Lebih baik aku memutuskan untuk bekerja. Ya... siapa tahu nanti dapat jodoh dari klien,” tambah Timothy yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.
“Kak, bagaimana dengan perusahaan?” tanya Sascha.
“Perusahaan baik-baik saja. Kebetulan kamu pulang ada beberapa pekerjaan harus dievaluasi,” jawab Timothy.
“Aku harus izin dulu sama pawangku terlebih dahulu,” ucap Sascha.
“Kita enggak bisa lama-lama di sini... Waktu kita mepet,” ujar Dewa.
“Lalu, bagaimana dengan perusahaan?” tanya Sascha
“Belum,” jawab Dewa. “Setelah menikah kita ke sini.”
“Kakak serius!” pekik Sascha.
“Ya... aku serius. Kita kuliah masih lama. Terus aku mau kamu belajar memimpin perusahaan ini sebelum nantinya memegang Khans Company. Cepat atau lambat papa mau mengumumkan ahli waris,” tutur Dewa.
“Ada apa dengan ahli waris?” tanya Timothy.
“Apakah kamu pernah dengar berita tentang Gerre Atmaja didesak oleh berbagai pihak untuk mengumumkan ahli waris?” tanya Dewa dengan serius.
“Ya... aku memang mendengarnya. Aku pikir itu hanya gertakan saja,” jawab Timothy.
“Gertakan bagaimana?” tanya Dewa.
“Hanya gertakan saja,” jawab Timothy yang belum paham dengan apa yang terjadi.
“Gertakan yang mengerikan,” ucap Sascha.
__ADS_1
“Ucapan Sascha benar apa adanya. Kamu tahu apa yang akan terjadi di perusahaan Khans Company? Mereka ingin Gerre mengundurkan diri karena tidak memiliki keturunan. Setelah itu perusahaan itu akan jatuh ke tangan Cathy,” jelas Dewa.
“Chathy siapa?” tanya Timothy.
“Cathy adiknya Chloe. Hanya dia yang memiliki seorang putri. Tapi beberapa pihak Chang memihak Gerre tidak ingin perusahaan itu jatuh ke tangan Cathy. Karena mereka tidak bisa mengurus perusahaan dengan baik. Mereka sangat menginginkan Gerre duduk di kursi itu,” jelas Dewa.
“Lebih baik aku selidiki terlebih dahulu silsilah dan kebiasaan Cathy sekeluarga,” celetuk Sascha.
“Jangan bilang kamu akan memberikan perusahaan itu ke mereka?” tanya Dewa.
“Kenapa?” tanya Sascha.
“Sepertinya kamu harus memahami sifat orang seperti Cathy. Aku enggak mau kamu menyesal di kemudian hari,” jawab Dewa.
“Apakah bibiku sangat menyeramkan?” tanya Sascha.
“Sangat menyeramkan. Jika kamu tahu bibimu itu memiliki jiwa iblis. Yang di mana jiwa iblis itu akan menguasai hidupnya. Bibiku tidak pernah mengenal belas kasihan kepada orang. Begitu juga dengan anaknya yang suka menghancurkan rumah tangga orang,” jawab Dewa yang menjelaskan sedikit tentang keluarga bibinya Sascha.
“Berarti kamu tahu segalanya?” tanya Sascha.
“Anaknya adalah rival papa. Sering sekali dia melakukan cara licik untuk menghancurkan DT Groups,” jawab Dewa.
“Ketimbang kamu menyesal memberikan perusahaan itu secara cuma-cuma maka kamu selidiki terlebih dahulu. Hanya itu sih saranku,” saran Timothy.
“Kakak benar. Aku akan menyelidikinya,” ucap Sascha yang mengambil keputusan.
“Aku akan membantumu,” seru Dewa.
“Sepertinya sih enggak perlu. Kalau perlu aku butuh bantuan kakak. Aku ingin belajar mandiri,” ujar Sascha.
“Tenang saja. Para kakak akan membantu kamu. Mulai sekarang siapkan mentalmu untuk menghadapi orang-orang yang dimiliki karakter yang aneh seperti bibimu,” pesan Dewa.
“Tetaplah semangat,” seru Timothy.
“Siap kak,” balas Sascha. “Boleh enggak aku pergi ke rumah lamaku?”
“Boleh... mumpung belum larut malam,” sahut Dewa.
“Kamu pengen ke sana?” tanya Timothy.
“Ya kak,” jawab Sascha.
“Oke... kita ke sana,” balas Timothy yang menancapkan gasnya.
__ADS_1
Seketika perasaan Sascha menghangat sempurna. Sascha sangat merindukan rumah kecilnya dahulu. Tapi Sascha teringat dengan rumahnya sudah terbakar. Ada perasaan kesal dan marah. Karena rumah itu adalah hasil kerja kerasnya di dua perusahaan.
“Bukannya rumah kamu sudah terbakar?” tanya Dewa.