
"Sascha adalah putri kandungku,'' jawab Gerre yang membuat Choi terkejut.
Choi terdiam sejenak karena baru mengetahui siapa Sascha sebenarnya. Choi tidak menyangka dulu sering meledek Sascha kalau sering bertemu. Lalu Choi menunduk sambil meminta maaf kepada Gerre, "Maaf.''
"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Gerre.
"Selama ini aku sering meledek Sascha dan bercanda ketika sering bertemu,'' jawab Choi dengan penuh penyesalan.
"Apakah Sascha marah saa kamu? Apakah Sascha sakit hati sama kamu? Apakah Sascha kecewa sama kamu?" tanya Gerre secara beruntun.
'Tidak pernah. Aku merasa tidak enak jika harus berbicara pada Sascha,'' jawab Choi.
"Kamu enggak perlu sungkan sama aku. Jika kamu masih ingin berteman pada Sascha, kamu enggak boleh merasa enggak enakan. Karena aku tahu Sascha adalah gadis yang humble dan periang. Dia juga tidak merasa terbebani sama kamu,'' ucap Gerre. "Selama ini hubungan kamu sama Sascha adalah murid s\=dan guru. Kamu adalah guru terbaik yang dimiliki oleh Sascha soal hacker selain Leo. Kamu bisa menganggap dia sebagai adikmu. Aku tidak menjadi masalah soal itu,''
Setelah mengetahui siapa Sascha sebenarnya, Choi merasa tidak enak hati. Choi tahu bagaimana sifat Gerre yang tersembunyi? Jujur saja Choi tidak ingin menyenggol keluarga Atmaja. Karena Gerre adalah pria yang protek.
Sascha yang sudah sampai mansion hanya bisa menguap. Sascha melihat Chloe langsung memeluk tubuh sang mama. Sascha benar-benar membutuhkan kekuatan dari keluarga tercintanya karena menghadapi masalah besar.
"Sepewrtinya kamu sangat lelah,'' ucap Chloe yang mengelus-elus punggung Sascha.
"Ada masalah berat di perusahaan papa Devan. Beberapa bulan terakhir para petinggi perusahaan sedang berkhianat. Aku enggak tahu bagaimana papa Devan shock berat,'' sahut Sascha.
"Apakah itu benar?' tanya Chloe yang terkejut.
"Ya... itu benar, Makanya beberapa bulan belakangan ini Papa Devan sangat gelisah,'' jawab Sascha.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Chloe yang melepaskan pelukan Sascha.
"Semalam aku sudah membeli saham milik DT Groups. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang," jawab Sascha.
"Mama memiliki saran buat kamu. Jika kamu sudah memiliki tujuh puluh persen saham otomatis perusahaan itu adalah milik kamu,'' ucap Chloe.
__ADS_1
"Aku memiliki saham sebesar sembilan puluh persen. Aku sengaja membelinya karena ingin menyelamatkan perusahaan papa Devan. Yang jadi masalah bagaimana bisa aku menjalankan perusahaan itu? Aku tidak mau Papa Devan dan mama Tara tersingkir,'' jelas Sascha yang tidak ingin merebut perusahaan DT Groups dari tangan Devan.
"Kamu enggak perlu memikirkan Devan nak. Kamu bicarakan pada papa Devan enaknya bagaimana? Jika kamu ingin Devan dan Tara masih menjabat sebagai CEO, biarkan saja mereka yang memimpin perusahaan. Dan kamu juga harus belajar bisnis dari Papa Devan sama kami. Karena kami adalah seorang pembisnis,'' saran Chloe.
"Apakah Papa Devan marah sama aku jika membeli seluruh saham milik DT Groups?" tanya Sascha.
"Tidak. Aku tahu Devan seperti apa? Kalau mama beri saran lebih baik temui Devan lalu bicarakan baik-baik,'' saran dari Chloe.
"Ya... Baiklah kalau begitu. Aku berharap Papa tidak membenciku," celetuk Sascha.
"Enggaklah. Kamu sudah melakukan yang terbaik buat papamu itu. Istirahatlah... Jangan terlalu diforsir tenagamu," suruh Chloe.
"Baiklah," balas Sascha.
Di sebuah mansion yang mewah seorang pria paruh baya mengamuk dan menghancurkan ruangan kerjanya. Pria itu baru mengetahui kalau saham perusahaannya sudah berganti nama. Otomatis perusahaan tersebut berganti pemilik. Ketika ia mulai mengorek informasi siapa yang membeli saham perusahaan, ia tidak dapat menemukan identitas sang pembeli saham itu.
Marah sudah pasti. Ngamuk apalagi. Untung saja ruangan kerja. Bagaimana kalau satu mansion sudah hancur berantakan. Ah... Sepertinya itu sangat mengasyikkan. Bahkan menjadi sebuah berita besar di headline news seluruh koran dan majalah bisnis.
"Keren sekali pak bos jika soal menghancurkan tempat. Kenapa juga tidak menghancurkan perusahaan sendiri?" tanya pria itu dengan terkekeh.
Namun pria tua itu apes ketika sang bos mendengarnya. Sang bos malah menatapnya tajam sambil mengeluarkan suaranya ditambah lagi dengan aura pembunuh.
"Apakah kamu sudah menemukan siapa yang membeli saham perusahaanku?" tanya pria itu.
"Tenanglah Theodore... Pihak IT sedang membobol pasar saham dunia," jawab sang pria tua itu yang mencoba menenangkan Theodore nama sang bos.
Pria itu adalah Theodore Yi. Yang dimana sekarang sedang frustasi. Sehabis pulang dari klub Theodore langsung memutuskan untuk tidur.
Setelah bangun dari tidurnya, Theodore tidak sengaja membuka ponselnya. Theodore tersenyum sambil membayangkan DT Groups berada di tangannya. Namun dirinya tidak menyadari apa yang sedang terjadi di perusahaan itu. Perusahaan itu langsung berganti nama menjadi DT Groups. Wajah Theodore langsung pucat. Bagaimana bisa perusahaan tersebut berganti nama?
Theodore menatap tajam sang pria itu lagi. Dengan nafasnya tersengal, tangannya memegang dadanya dan tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin. Theodore mulai berkata terbata-bata, "Al... Aldi... Tolong ambilkan obatku."
__ADS_1
Aldi nama pria itu segera mengambil obat yang diminta oleh Theodore. Setelah mendapatkan Aldi memberikan obat itu sambil berkata, "Pelan-pelan saja."
Theodore segera mengambil beberapa kapsul kemudian meminumnya. Setelah itu Theodore terdiam dan merasakan tubuhnya merasa enakan. Theodore menghela nafasnya sambil bertanya, "Apakah Devan melakukan semua ini?"
"Mana saya tahu. IT kita sangat lelet sekali mencari informasi. Mereka hanya mendapatkan sebuah surel sang pembeli saham. Tapi mereka tidak bisa melacaknya. Aku masih penasaran," jawab Aldi.
"Mengapa kamu tidak memanggil Hugo?" tanya Theodore dengan nada yang membentak.
"Kita tidak bisa memakai Hugo. Kalau kita bisa memakai Hugo, bisa dipastikan Devan akan curiga," jawab Aldi.
Theodore mengusap wajahnya dengan kasar. Baru kali ini dirinya terjebak dalam rencana sendiri. Hendak ingin menghancurkan rival malah dia sendiri yang mulai hancur. Apalagi sekarang orang sewaan yang berhasil menyusup ke dalam perusahaan sedang diincar oleh sang musuh. Entah bagaimana perasaannya sekarang.
"Di mana Rosita?" tanya Theodore.
"Rosita berada di kantor," jawab Aldi.
"Kantor mana?" tanya Theodore lagi.
"Kantor milik Devan," jawab Aldi.
"Baguslah!" ucap Theodore dengan nada agak menekan. "Kalau begitu perintahkan Rosita untuk menghabisi Devan sekarang juga. Begitu juga dengan Amar dan Lucas. Aku ingin mereka bekerja sama untuk menghancurkan DT Groups."
"Apakah sekarang bro?" tanya Aldi sambil menatap wajah Theodore.
"Enggak tahun depan!" bentak Theodore.
"Ya sudah aku mau pergi dulu. Jaga diri baik-baik," balas Aldy yang menepuk pundak Theodore lalu pergi.
"Sialan lu!" bentak Theodore.
"Tenang bro. Jangan marah melulu. Marah akan membuat kamu menjadi tidak sehat," pesan Aldi yang membalikkan badannya.
__ADS_1