
"Ya itu penting. Aku harus melakukannya. Aku sekarang sudah terbiasa tidur berdua sama kamu," jawab Dewa. "Ternyata ketika menikah ada untungnya."
"Untungnya?" tanya Sascha mengerutkan keningnya.
"Karena aku sangat beruntung sekali bisa memeluk kamu," jawab Dewa.
"Terserah kamu deh," ucap Sascha dengan pasrah.
"Apanya yang terserah?" tanya Dewa yang melihat Sascha dengan pasrah.
"Sebentar aku mau tanya sama kamu," jawab Sascha yang melupakan perkataannya tadi.
"Tanya apa?" tanya Dewa yang melepaskan Sascha.
''Kapan kita kesana?" tanya Sascha yang bahagia.
"Kita kesana nanti malam saja. Aku masih membaca semua dokumen tiu," jawab Dewa.
"Kenapa kita enggak kesana saja sekarang?" tanya Sascha yang bingung dengan Dewa.
"Kesana ya?" tanya Dewa balik.
"Ya... kita kesana," jawab Sascha yang mulai bingung.
"Ngapain kita kesana?" tanya Dewa.
''Karena lebih mudah mengambil dokumen itu. Kita bisa menggeledahnya dengan tenang," jawab Sascha yang mulai jengkel terhadap Dewa.
"Kalau besok gimana?" tanya Dewa.
"Kalau besok kan bahaya," jawab Sascha.
"Kamu belum tahu apa yang aku maksud?" tanya Dewa balik yang sudah memiliki rencana menjebak sang tersangka utama
"Apa itu?" tanya Sascha yang bingung.
"Aku sudah membicarakan ini ke Paman Kobe," jawab Dewa.
"Jadi?" tanya Sascha.
"Ya... kamu boleh ikut besok. Aku sudah menjebaknya," jelas Dewa. "Ini akan menjadi permainan yang hebat."
"Baiklah," ucap Sascha yang tersenyum manis.
Malam ini mereka habiskan waktu untuk melakukan pekerjaan apapun. Sascha membantu membaca banyak bukti penggelembungan dana yang besar. Sedari dulu Sascha sudah mulai curiga tentang cabang Surabaya. Banyak sekali karyawan mengeluh gajinya mereka dipotong tidak jelas.
Pagi yang cerah Sascha dan Dewa sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dewa sengaja memakai baju biasa dan tidak mau memakai baju formal. Sedangkan Sascha memakai celana hitam dan kemeja hitam. Sascha mengurai rambutnya yang sebahu itu lalu menyisirnya.
"Jangan harap kamu memotong rambut kamu itu," pinta Dewa.
__ADS_1
"Aku tidak akan memotong rambutku itu," ucap Sascha. "Apalagi aku hamil. Aku pengen membuat banyak model."
"Itu benar. Aku lebih menyukai rambut panjangmu," ucap Dewa.
"Lebih baik kita pergi dari ini," sahut Sascha yang bersemangat untuk mengajak Dewa yang keluar dari kamar.
"Sarapan dulu. Kamu tadi sudah membuat kue telur. Katanya sebelum ke kantor kedua bayi kita lapar harus diberi makan terlebih dahulu sambil memperingatkan Sascha untuk mengisi perutnya.
"Baiklah. Kamu benar. Aku tidak ingin menyia-nyiakan momen sarapan untuk anak-anakku," jawab Sascha yang sengaja pergi ke dapur.
"Kamu tidak mengajakku?" tanya Dewa yang mengikuti Sascha.
"Hmmp...tidak. Apakah aku harus menggendong kamu agar cepat sampai kesini?" tanya Sascha yang melihat wajah Dewa yang tiba-tiba saja menggelitik hatinya.
"Sepertinya itu terbalik dech. Biarkanlah aku menggendongmu," jawab Dewa tersenyum konyol dan tengil.
"Terima kasih kalau begitu. Jika kamu menggendong aku pasti ada maunya," kesal Sascha yang membuat Dewa terkekeh.
"Pastinya," sahut Sascha yang menuangkan jus jeruk dan susu vanila lalu mencampurnya.
"Kamu ingin jus jeruk dicampur dengan susu?" tanya Sascha ke Dewa.
'Boleh. Aku sudah lama tidak meminum susu bercampur jeruk," jawab Dewa yang ingin sekali meminum susu itu.
"Kamu menyukainya?" tanya Sascha yang melihat Dewa. "Maaf aku pernah membuat kamu marah soal ini."
Pagi itu mereka makan dengan khidmatnya.Dewa merasakan kalau dirinya sangat dihormati oleh Sascha. Hampir setiap hari Sascha membuatkannya sarapan. Bahkan menunya selalu berganti. Sascha ingin membuat Dewa nyaman di sampingnya. Selain itu juga, Sascha idak pernah mengeluh sedikitpun tentang pekerjaannya tiap pagi. Memang inilah kodrat sebagai wanita yang harus melayani sang suami.
Tepat jam delapan pagi, Marty dan Almond menemuinya. Sebelum berangkat ke kantor, Dewa meminta mereka unutk berkumpul terlebih dahulu. Karena Dewa ingin memberikan pengarahan ke mereka. Dewa inign meminta beberapa pengawal untuk membantunya mencari barang bukti di hadapan Pak Desta secara langsung. Mereka bersepakat lalu pergi dari sana.
Setelah memberikan pengarahan, Dewa mengajak Sascha ke kantor. Masalah ini harus diselesaikan dengan cepat. Ia tidak ingin masalah ini berkelanjutan hingga nanti.
"Ayo kita pergi ke kantor. Aku ingin melihat wajah-wajah garang itu menjadi wajah kucing yang tidak bisa apa-apa," ajak Dewa.
"Hmmp... baiklah. Aku ingin menyuarakan apa kata hatiku. Banyak sekali uang gajiku dipotong tanpa alasan yang jelas," jawab Sascha.
"Kamu benar," ucap Dewa.
Mereka memutuskan keluar dari apartemen. Saat keluar dari apartemen, Sascha melihat Kobe yang sedang bersandar di dinding sembari menunggu. Jujur Kobe inign masuk ke dalam. Berhubung waktunya sudah terlambat dan kesiangan, Kobe sengaja menunggu disini.
"Kenapa paman tidak masuk ke dalam?" tanya Dewa.
"Karena aku tahu kalau jam segini kalian akan keluar dari apartemen," jelas Kobe. "Apakah kamu sudah siap?"
"Ya... aku sudah siap segalanya,' jawab mereka serempak.
"Tunggu Jackie melakukan pertemuan dengan Pak Desta. Aku yakin masalah ini akan cepat selesai," ucap Kobe.
"Terus aku enggak ke kantor?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Ke kantor. Makanya sekarang kita jalan," jawab Kobe. "Yang lainnya sudah pada berada di posisi masing-masing. Aku harap semuanya akan berjalan dengan lancar.
Mereka menganggukan kepalanya. Mereka mulai berjalan menuju ke lift. Saat menuju ke lift, Dewa meminta mereka pergi ke perusahaan tersebut melalui basemant. Sascha bingung dengan pernyataan Dewa. Mau tidak mau Dewa bercerita, kalau jalan basemant ini bisa menembus ke jalan perusahaan. Jarak antara apartemen ke perusahaan hanya berjarak lima ratus kilometer.
"Kenapa kita enggak memakai mobil saja kesana?" tanya Kobe.
"Ngapain memakai mobil? Kamu tahu kalau perusahaan ini sama apartemen ini adalah milikku?' tanya Dewa yang membuat Sascha terkejut.
"Kapan kamu membangunnya?" tanya Sascha.
"Aku tidak membangunnya," jawab Dewa. "Aku membeli apartemen ini dengan harga murah. Sang pemilik pulang ke negara asalnya dan tidak akan kembali kesini. Kalau aku enggak salah hampir lima belas tahun ini apartemen ini bersamaku."
"Kok baru tahu ya?" tanya Sascha.
'Jangankan kamu. Aku sendiri eenggak tahu. Mungkinkah suami kamu adalah seorang misterius?" tanya Kobe kepada Sascha.
Sascha hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Ia tidak memperdulikan hasil kekayaan yang dimiliki oleh sang suaminya itu. Mereka berjalan dengan santai hingga sampai ke area parkir perusahaannya itu.
Pak Desta yang sudah sampai ke ruangannya tersenyum licik. Pria berkacamata itu tertawa terbahak-bahak. Ia langsung menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya. Ia langsung membuka laptopnya dan mencari beberapa transaksi yang akan disimpannya itu.
Saat membuka transaksi itu, Pak Desta mendapatkan sebuah pesan dari Sascha yang berisi selamat datang di hutan kematian. Hanya tiga kata itu, Pak Desta langsung murka. Ia mulai mengepalkan kedua tangannya sambil berkata, "Sial! Ada yang mengacak-acak laptop ini!"
Pak Desta tidak terima dengan apa yang telah terjadi. Ia mengambil phone desknya sambil menghubungi anak IT.
Sementara anak IT sekarang dipegang oleh Leo. Pria bertubuh kurus itu hanya tersenyum licik. Diam-diam Leo juga sudah mengumpulkan beberapa bukti yang mengarahkan ke Pak Desta.
Ketika waktu pengumpulan barang bukti, Leo mendapatkan phone deksnya berbunyi. Mau tidak mau Leo harus mengangkatnya.
"Halo," sapa Leo.
"Kesini segera!" tegas Pak Desta.
"Baik pak," jawab Leo yang tidak berbasa-basi sama orang yang berada di seberang sana.
Leo meminta salah satu asistennya untuk menunggu barang bukti itu. Sang asistennya itu menuruti keinginannya Leo. Ia dengan santai mengumpulkan beberapa bukti yang sedang di printnya itu lalu membacanya satu persatu.
Leo keluar dari ruangannya dan melihat Dewa dan Sascha sudah sampai. Leo segera bergabung dengan mereka dan menyuruhnya berhenti.
"Tunggulah disini. Jangan terburu-buru," ucap Leo.
"Ada apa memangnya?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Leo.
"Sepertinya Pak Desta sedang mengamuk parah," celetuk Leo.
"Hmmp.... lebih baik kita kesana sambil membuat kejutan," ucap Sascha yang mempunyai ide jahil dan membuat Pak Desta murka.
"Sepertinya ide kamu akan membuat orang tua itu akan terkena serangan jantung," ledek Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.
"Rasanya itu sangat lucu sekali," ejek Sascha. "Mana ada Pak Desta bisa memiliki riwayat penyakit jantung lalu terkena serangan jantung hanya melihat kita?"
__ADS_1