
Satu jam sebelum mendarat, mereka selesai berdiskusi. Mereka berharap rencana ini akan berjalan lancar. Tidak lupa juga, para pengawal yang ikut bersamanya ikut turut andil dalam kasus ini. Mereka akan ditempatkan di titik tertentu. Hanya untuk mengintai para musuh.
Setelah menentukan peran, mereka akhirnya bersantai menikmati perjalanan yang hanya satu jam saja. Dita sebenarnya ingin ikut. Ia ingin turut andil dengan masalah ini. Berhubung ia harus mencari tempat kuliah. Ia memutuskan untuk mundur.
“Sebenarnya aku ingin mengajak Dita ikut dalam misi ini. Sebab dia harus belajar untuk menangani banyak kasus dalam perusahaan nantinya. Meski ia memegang rumah mode kamu itu,” jelas Dewa.
“Ya... mau bagaimana lagi. Dia sudah mengatakan ini. Tapi dia sadar beberapa bulan lagi dirinya harus masuk kuliah. Makanya dia meminta untuk mundur,” jelas Sascha.
“Semuanya sudah berada di posisi masing-masing,” ucap Dewa.
“Apakah kamu merasa kalau hubungan Kak Tommy itu bersama kedua orang tuanya tidak baik-baik saja? Lalu aku merasakan kalau Kak Tommy itu bukan anak kandungnya?” tanya Sascha.
“Iya ya... tapi aku sering perhatikan kalau wajah Tommy sangat mirip sekali dengan wajahnya Eric. Bahkan mereka memiliki sifat yang sama,” celetuk Dewa.
“Apakah kasus ini sama kaya aku?” tanya Sascha.
“Entahlah,” jawab Sascha yang mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.
“Kalau kasusnya sama aku berarti cara menculiknya juga sama,” ucap Sascha.
“Lalu?” tanya Dewa.
“Berarti si nenek sihir itu sengaja melakukannya demi mendapatkan kepuasan batin untuk menghancurkan beberapa keluarga,” ujar Sascha yang membaca kasusnya dengan kasus Tommy sedang bergulir.
__ADS_1
“Sangat lucu sekali,” sahut Dewa tersenyum manis.
Kemudian Sascha mulai menganalisis tentang kasus ini. Mulai dari dirinya menghilang hingga menjadi besar dan merembet kemana-mana. Sascha memejamkan matanya untuk mencari permasalahannya. Sebenarnya ini sangat aneh sekali. Ada satu pertanyaan dari dalam hatinya. Awal mula nenek sihir itu kenapa bisa menjadi jahat seperti ini? Bukankah setiap manusia ketika dilahirkan memiliki baik?
“Kak,” panggil Sascha yang membuka matanya.
“Ada apa?” tanya Dewa yang melihat wajah cantik Sascha.
“Apakah semua ini tidak ada awa mula kenapa si nenek sihir itu menjadi seperti ini? Setiap masalah pasti ada masalahnya kan?” tanya Sascha balik.
“Ya... kamu benar. Aku sendiri juga merasakan hal yang sama. Kan enggak mungkin masalah ini menjadi panjang seperti ini. Pasti ada akarnya,” jawab Dewa yang menganalisis keadaan.
“Itulah yang menjadi pertanyaanku untuk sekarang ini,” ucap Sascha.
“Habis itu apa kak?” tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.
“Dia bisa berada di keluarga mamamu itu karena menjadi asisten rumah tangga. Tapi aku yang bingung, kenapa si nenek sihir itu sengaja melahirkan Cathy di rumah nenek kamu? Apa maksudnya itu?” tanya Dewa yang masih bingung.
“Itu benar. Aku memang masih mencari jawabannya ini. Setelah itu yang aku dengar dari mama dia kabur dari rumah nenek alam-malam?” tanya Sascha.
“Betul itu,” jawab Dewa. “Sampai sekarang motifnya kabur dari rumah malam itu apa? Terus kenapa Cathy kenapa ditinggalkan begitu saja?”
“Ini sangat menarik sekali untuk melihat kasus ini. Pasti ada udang dibalik batu,” jawab Sascha.
__ADS_1
“Yang menjadi masalah ya ini,” jelas Dewa. “Apakah mama Chloe tahu?”
“Mungkin sudah lupa. Aku akan menebaknya. Waktu itu mama masih kecil dan tidak mengerti apa-apa,” jawab Sascha.
Dewa menarik rambutnya karena frustasi. Kenapa kasus ini sangat rumit sekali? Ia tidak akan bisa mencari saksi hidupnya. Soalnya pada waktu itu neneknya Sascha hanya memiliki dua asisten rumah tangga.
“Masalahnya semakin berat saja. Tidak ada yang bisa menjadi saksi hidup. Kecuali para penghuni yang berada di rumah itu,” kesal Dewa.
“Nenek kakek sudah tidak ada sayang. Lalu asisten rumah tangga kan dua. Satu si nenek sihir. Yang satunya pasti orang lain. Terus ada sopir dan juga tukang kebun. Jadinya mereka tidak ada sekarang sudah almarhum semuanya,” jelas Sascha.
“Terus rumah nenek?” tanya Dewa.
“Rumah nenek sudah dijual. Sekarang sudah menjadi museum,” jawab Sascha yang membuat Dewa terkejut.
“Lalu aku bagaimana?” tanya Dewa yang mulai berputus asa. “Kalau sudah menjadi museum ya sudah tidak ada barang buktinya lagi.”
“Kata mama ada di rumah Hamburg. Mulai awal berdirinya Khans Company hingga sampai saat ini. Papa menang menyuruh mama menyimpannya di rumah Hamburg,” jelas Sascha.
“Apakah kita akan kesana?” tanya Dewa.
“Kalau kamu sangat menginginkannya kenapa tidak?” tanya Sascha balik.
“Kapan itu?” tanya Dewa sambil memegang tangan Sascha.
__ADS_1