
Sesampainya di rumah sakit Nakata's Groups, Dewa langsung dirawat di ruangan khusus. Di sana dirinya masih tidak sadarkan diri.
Sascha masih saja diam dan tidak bergerak sama sekali. Sedangkan Devan sendiri sangat ketakutan sekali Jika Sascha diam seperti itu. Mau tidak mau Tara membelikan makanan biar Sascha bisa makan.
"Makan roti terlebih dahulu. Jangan biarkan tubuhmu sakit. Nanti kalau Dewa sadar dan menanyakan keadaanmu. Mama harus jawab apa?" pinta Tara agar Sascha mau makan.
"Tapi ma…. Sascha nggak pengen makan sama sekali apalagi minum," jawab Sascha dengan jujur.
"Kamu jangan begitu. Ingatlah Dewa tidak mau melihatmu sedih seperti itu. Tersenyumlah buat Dewa. Jangan kamu sakiti tubuhmu itu. Karena mama sudah berjanji kepada Dewa untuk menjagamu," ucap Tara sambil tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian datang Bima dan Timothy. Mereka berdua tidak satu pesawat dengan Dewa. Mereka sengaja memisahkan diri untuk melakukan pekerjaan lainnya. Lalu mereka memandang Sascha dengan wajah pucat.
"Kamu sudah makan?" tanya Bima dengan serius.
"Aku belum makan sama sekali Kak. aku sangat mengkhawatirkan Kak Dewa keadaannya bagaimana," jawab Sascha dengan jujur dengan nada bergetar.
"Seharusnya kamu makan terlebih dahulu. Kamu belum makan sejak pagi. Kalau kamu sakit Dewa juga akan sedih dan tidak akan sembuh dari penyakitnya itu," ucap Timothy.
"Yang dikatakan Timothy benar. Kamu harus makan terlebih dahulu. Dewa jika melihat kamu sakit, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Karena Dewa Sudah menganggapmu sebagai sahabat sejatinya," sambung Devan yang juga khawatir dengan keadaan Sascha.
Terpaksa Sascha akhirnya makan. Meskipun rasanya tidak enak Sascha harus memakannya. selesai makan wanita berparas cantik itu pun memutuskan untuk berdoa. Memang tidak semudah harapan yang dimintanya. Saat berdoa salah satu dokter keluar. Dokter itu menceritakan kalau keadaan Dewa benar-benar kritis. Dewa harus ditempatkan di ruangan khusus. Yang dimana ruangan khusus itu tidak boleh ada yang menjenguknya.
Selama dua bulan, Sascha masih saja setia menemaninya. Ketika berada di Sydney, Sascha ditugaskan untuk bekerja di perusahaan cabang Sydney. Agar Sascha bisa menjenguk Dewa setiap hari. Bahkan dirinya juga ditugaskan oleh Devan dan Tara untuk merawat Dewa. Sasha pun menuruti keinginan mereka. Selain itu juga Sascha tidak mau berpisah dengan Dewa.
Selama itu pekerjaan Sascha menjadi banyak. Meskipun dirinya bekerja di Sydney, Timothy dan lainnya meminta Sascha agar tidak melupakan tugas-tugasnya di Jakarta. Hingga akhirnya Sascha bekerja dengan ekstra.
Dua bulan lebih lima belas hari, keadaan Dewa tidak baik-baik saja. Sascha sempat berputus asa pada waktu itu. Ia akhirnya pasrah dengan keadaan Tuhan. Tapi ketika pasrah, Dewa kembali lagi ke dunianya.
__ADS_1
Malam itu malam dimana Sidney sedang terkena badai angin kencang. Sascha yang baru saja pulang dari kantor langsung menuju ke rumah sakit. Ia tidak sempat pulang ke apartemennya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menginap di kamar Dewa. Meskipun di sana banyak suster, Sascha berkenalan sama mereka. Sascha tidak canggung sama mereka. Mereka juga sering bercanda bersama Sascha. Syukurlah di sana Sascha mendapatkan perlakuan baik dan perhatian dari para suster.
"Kalian tidak pulang ya?" Tanya Sascha kepada ketiga suster yang masih menjaga Dewa.
"Bagaimana bisa pulang kalau di luar sana ada badai angin yang sangat dahsyat sekali?" tanya Liam sebagai kepala suster yang disuruh menjaga Dewa.
"Apakah itu benar? Kapan badai anginnya terjadi?" tanya Sascha.
"Baru saja datang. Kami sudah mendapatkan pemberitahuan dari info cuaca melalui pesan singkat," jawab Lucky.
"Syukurlah. Aku buru-buru ke sini hanya demi melihat Tuan Dewa," ucap Sascha yang mengucap syukur.
"Ya kamu benar. Selama ini badai angin itu pun sangat jahat sekali. Banyak sekali yang berkendara langsung menepikan kendaraannya. Supaya kendaraannya tidak terkena angin," jelas Dio.
"Syukurlah kalau di Jakarta Tidak ada badai. Sering sekali hujan deras dan mengeluarkan suara petir yang sangat besar sekali," ucap Sascha yang menaruh paper bag di atas meja mereka. "Makanlah, jangan diliatin terus."
Di sisi lain Sascha sangat sabar sekali menghadapi Dewa seperti itu. Ia tidak akan pergi meninggalkannya walau sedetik pun. Entah kenapa dirinya diam-diam jatuh cinta kepada sang sahabatnya itu. Padahal Sascha sendiri sudah memiliki seorang kekasih. Ia mementingkan sahabatnya sendiri.
Panjang lebar Sascha bercerita tentang kehidupannya di Sydney. Memang gila dirinya menceritakan hal-hal konyol saat berada di perusahaan cabang itu. Untung saja orang-orang di sana tidak memandangnya sebelah mata. Bahkan dirinya bisa dikatakan sebagai karyawan yang sangat gokil dan lucu. Itulah kenapa Sascha menjadi karyawan terbaik di perusahaan besar itu.
Tepat pukul 10.00 malam, Sascha memutuskan untuk menaruh kepalanya di tepi Dewa. Ia sangat mengantuk sekali dan berharap malam ini ada keajaiban. Namun di luar sana badai angin semakin kencang. Dalam hatinya Sascha menjadi sangat ketakutan dan tidak ingin keluar dari rumah sakit ini.
Malam semakin larut. Hingga akhirnya Dewa mulai menggerakkan jarinya. Matanya yang tertutup sempurna bisa membuka perlahan. Ia menatap ruangan berwarna putih itu. Ia mencari Sascha agar bisa menemukannya.
Tangannya merasakan bersentuhan dengan tangan lainnya. Ia mulai melihat ke bawah dan mencerna apa yang telah terjadi. Lalu Dewa menatap rambut hitam legam itu yang sedang tertidur lelap. Meskipun kondisinya masih lemah, instingnya mengatakan kalau pemilik rambut itu adalah Sascha. Benar saja Sascha terbangun karena ada yang bergerak di atas kepalanya. Ia segera membuka mata dan mengangkat wajahnya. Sascha melihat wajah Dewa sambil tersenyum manis. Hingga akhirnya Sascha heboh dengan sendirinya. Ia segera memanggil para dokter untuk memeriksa Dewa.
Meskipun heboh Dewa masih saja terus tertawa. Kemungkinan besar saat itu Dewa benar-benar sembuh. Beberapa hari sudah keadaan Dewa berangsur pulih kembali. Di sinilah Dewa mulai membuat ulah. Banyak sekali teman-temannya maupun Kobe yang memberikan banyak janji kepadanya. Namun dirinya tidak menagihnya. Suatu saat nanti Dewa akan menagihnya dan memintanya yang aneh-aneh kepada mereka. Dan terjadilah ketika mereka berada di villa Bima.
__ADS_1
Itulah sepenggal masa lalu Dewa yang kelam. Jadikanlah pelajaran ini agar selalu didahului dari hal-hal yang tidak diinginkannya.
Flashback off.
"Lu Kenapa Wa? Bisa terkena obat-obatan terlarang?" tanya Bima.
"Biasa, kenakalan pria yang belum menikah sama sekali," jawab Dewa.
"Coba saja kamu mengulang lagi. Akulah orang pertama kali yang akan pergi dari hidupmu. Dan tidak akan mau kembali lagi ke pelukanmu," ancam Sascha.
"Memangnya kamu ingin pergi ke mana?" tanya Ian.
"Jujur aku nggak sanggup jika suamiku mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Lebih baik Aku mencari pria yang sehat secara jasmani maupun batiniah. karena seorang pria harus memimpin keluarganya hingga menjadi sukses dan meraih semuanya yang dicita-citakannya," jawab Sascha.
"Aku setuju dengan pendapatmu. Kenapa juga setiap masalah mesti larinya ke sana. Lebih baik tidur atau makan yang banyak. Ah sekarang untungnya Dewa tidak akan pergi ke sana lagi. Jika dia masih mengkonsumsi obat-obatan terlarang itu. Akulah orang yang pertama kali menggantungnya di kantor pusat Nakata's Groups. Biar dia tahu rasa bagaimana enaknya digantung seperti itu," ucap Kohe yang tidak main-main dengan perkataannya itu.
"Aku terjebak dalam dunia hitam ketika waktu itu. Aku nggak tahu kalau ada orang yang menjebakku seperti itu. Sekarang orangnya sudah tertangkap oleh pihak aparat interpol dari negara Jepang. Aku nggak tahu orang itu masih hidup atau tidak. Mulai dari situ aku sudah belajar untuk mengenal orang yang baik maupun yang buruk," jelas Dewa.
"Ketimbang kehilangan istriku, lebih baik aku kehilangan nyawaku. Sebab istriku sudah menjadi satu dengan jiwaku ini," ujar Dewa dengan jujur.
Sebenarnya Dewa ketakutan sekali jika Sascha pergi dari hidupnya. Ia tidak akan kembali lagi ke masa lalunya itu. Ia juga tidak akan pernah bergelut dalam dunia hitam seperti masa lalunya. Jujur lebih baik dirinya meninggalkan masa lalunya dan menyambut masa depannya dengan ceria.
"Kakak nggak boleh kembali lagi ke sana. Jika Kakak kembali akulah orang yang pertama yang akan menghancurkan bandarnya terlebih dahulu. Ditambah juga aku akan mencari pabriknya dan membakarnya. Aku akan mengibarkan bendera peperangan demi menyelamatkan kakak," sahut Sascha yang tidak main-main dengan ucapannya itu.
"Kalau begitu aku ikut denganmu. Karena aku sendiri sangat membenci Orang yang menciptakan obat-obatan terlarang seperti itu," kata Kobe dengan serius.
"Apakah Mas Kobe serius melakukannya?" tanya Sascha dengan jelas.
__ADS_1