
Sascha segera melepaskan dirinya dari pelukan Gerre. Ia tidak ingin berdiam diri dan menatap wanita itu. Ia tersenyum sinis sambil mendekati Dewa.
“Minggirlah sekarang Wa!” titah Sascha yang tidak ingin masalah ini berkelanjutan hingga nanti.
“Kenapa aku disuruh minggir?” tanya Dewa.
“Karena aku memang ingin menyelesaikan masalah ini hingga selesai. Aku tidak ingin bersembunyi di belakang siapapun itu. Aku hanya ingin memberitahukan kamu sebenarnya,” jelas Sascha.
“Mending aku yang menyelesaikan semuanya,” kesal Dewa.
“Tidak usah ikut campur dengan urusan wanita!” perintah Sascha.
Terpaksa Dewa mundur alon-alon. Ia tidak mau terkena damprat oleh Sascha. Ia tahu watak sedang istri yang tidak ingin diganggu oleh siapapun jika menyelesaikan masalah.
“Linda Irawan,” panggil Sascha sambil menatap wajahnya dengan sinis. “Ternyata dirimu dipenuhi dengan iri dengki sedari dulu ya.”
“Aku enggak iri sama sekali sama kamu!” bentak Linda yang tidak terima dengan ucapan Sascha.
“Lalu, kalau kamu enggak iri sama aku. Kenapa aku selalu dibawa-bawa dalam masalah kamu itu? Aku itu bingung sama kamu. Padahal aku sama kamu enggak pernah dekat sama kamu sama sekali,” ucap Sascha yang membuka fakta sesungguhnya. “Apakah aku pernah menyakitimu?”
Linda langsung terdiam dan tidak bisa berbicara sedikit pun. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya. Memang apa yang dikatakan oleh Sascha itu benar. Sascha juga jarang bergaul sama Linda dan kelompok gangnya.
“Sekarang aku tanya sekali. Apakah aku pernah menyakitimu?” tanya Sascha dengan nada lembut tapi mematikan.
__ADS_1
“A... a... a.... aku tidak pernah berhubungan dengan kamu,” jawab Linda dengan jujur.
“Tumben saja kamu jujur. Biasanya kamu suka memutar balikkan fakta. Aku bingung sama kamu sekarang,” ledek Sascha sambil mengintimidasi Linda.
Saat Sascha mulai mengintimidasi Linda, banyak sekali para warga berkumpul di sana. Mereka menyaksikan betapa terkejutnya Linda mengatakan, kalau Sascha telah merebut suaminya. Banyak sekali yang membicarakan dengan terang-terangan.
“Ada yang tahu enggak? Kapan tepatnya Linda menikah?” tanya Sascha sambil melihat para warga.
“Dua tahun yang lalu. Setahun kemudian suaminya kabur ke Malaysia sampai sekarang enggak kembali-kembali,” seru salah satu warga yang membongkar rahasia Linda.
“Hmmp... berarti selama itu aku tidak pernah pulang ke rumah. Aku masih berada di Jakarta. Aku juga enggak tahu Linda ini menikah dengan siapa? Suaminya juga aku nggak pernah melihat,” jelas Sascha sambil mendapatkan teriakan dari para warga karena membetulkan ucapannya.
“Ya itu benar. Kamu tidak pernah pulang ke rumah. Bagaimana caranya kamu merebut Sascha?” tanya Pak Mukidi yang mengetahui pernikahan Linda.
“Hmmp... ya udah deh pak. Makasih atas informasinya. Sekarang sudah terbuka jelas yang membuat pernyataan dari para warga. Jujur selama di Jakarta aku selalu bersamanya. Karena aku adalah bosnya. Kalau dia merebut suami orang, aku pasti mengetahuinya. Bahkan aku sendiri yang memegang ponselnya, Setiap pesan masuk ke dalam ponselnya, aku selalu membacanya dengan serius,” ucap Dewa yang menambahkan fakta sesungguhnya.
Plakkkkkkkkk.
Wanita itu telah menampar Linda. Matanya penuh dengan air matanya, wajahnya penuh dengan kebencian dan amarahnya meledak. Wanita itu sepertinya sangat marah sekali kepada Linda. Sementara Sascha, Dewa dan Gerre terdiam melihat pemandangan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
“Bisa-bisanya kamu memutar balikkan fakta! Kamu sendiri adalah pelakor. Tiga bulan yang lalu kamu pernah merebut suamiku! Kamu merebutnya dengan cara kotor. Kamu memberikannya minuman dicampur dengan obat perangsang. Hingga akhirnya suamiku kamu tarik ke ranjang. Kamu juga yang menyuruhnya menceraikan aku sedang hamil begini. Kamu tega banget sama aku! Dimana hati nuranimu itu! Dia adalah tumpuan hidupku! Dia adalah calon bapak dari calon anakmu!” bentak wanita itu dengan penuh emosi.
Sascha yang melihat itu sangat kasihan sekali dengan wanita itu. Ia langsung mendekatinya dan memeluknya. Sebagai seorang wanita, Sascha merasakan hatinya hancur ketika mendengar wanita itu bercerita tentang kehidupannya sangat miris sekali.
__ADS_1
“Kenapa ini terjadi padaku? Padahal aku sudah menganggapnya saudaraku sendiri. Tidak ada tempat untuk ditinggalinya, aku yang menampungnya. Tidak memiliki beras atau uang aku selalu memberikannya. Tapi kenapa dia telah merebut suamiku!” ucap wanita itu sambil menangis.
Sascha terkejut dengan apa yang didengarnya. Ia tidak menyangka kalau wanita itu telah membantu kehidupannya yang kelam itu. Ia hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ternyata ada juga cerita tentang pelakor sesungguhnya. Lalu kenapa dirinya dituduh sebagai perebut suaminya. Jika saja kalau dirinya pelakor, mungkin saja ia akan menjadi seorang pelakor internasional. Bahkan ia tidak segan-segan mencari pria tajir ketimbang pria disini.
“Sudah aku bilangm kalau istriku bukan pelakor. Kalau dirinya pelakor, maka aku yang akan menyuruhnya mencari orang-orang kaya dan berduit. Contohnya pria ini,” tunjuk Dewa ke arah Gerre.
Rasanya Gerre ingin menghajar Dewa saat ini juga. Kenapa dirinya menjadi sasaran kambing hitam oleh menantunya. Akan tetapi apa yang dikatakan oleh Dewa benar. Namun hatinya menolak akan hal itu. Sascha harus memiliki wibawa yang anggun. Ia tidak boleh melakukannya dengan cara curang seperti itu. Jika saja tidak ada Dewa, kemungkinan Gerre akan mencari seseorang untuk dijadikan suaminya kelak.
Selang beberapa menit keadaan hening seketika. Sascha sangat kasihan sekali melihat wanita itu. Wanita terus saja memeluknya hingga akhirnya,
Brugh.
Wanita itu pingsan. Dengan cepat Sascha memegangnya agar tidak terjatuh ke tanah. Sascha tidak sengaja melihat ada darah segar di kaki wanita itu. Ia segera meminta tolong kepada para warga. Para warga yang tidak tinggal diam itu mendekatinya. Mereka segera membawanya ke Puskesmas. Untung saja rumah Puskesmas itu sangat dekat sekali. Hanya lima langkah saja mereka akhirnya sampai di sana. Wanita itu langsung mendapatkan perawatan khusus.
Sedangkan Sascha mendekati Linda sambil tertawa mengejek, “Sekarang siapa yang menjadi pelakor sesungguhnya?”
“Makanya kalau mau menuduh itu harus ada bukti yang kuat. Jangan asal ngomong saja. Jika terjadi pada wanita itu dan bayinya. Aku bisa melaporkan kamu ke kepolisian,” jelas Sascha yang sengaja memberikan ancaman. “Oh... ya... jika kamu ternyata merebut suaminya. Bisa dipastikan kamu akan masuk ke dalam jeruji besi.”
Sascha segera meninggalkan Linda sambil memberikan sebuah kode. Kode itu adalah kode mafia dari Black Tiger. Yang dimana Dewa dan Gerre yang tahu.
Gerre bersama Dewa akhirnya menyusul Sascha. Dengan cepat Dewa meraih tangan Sascha sambil bertanya, “Kamu mau kemana?”
“Aku mau ke Puskesmas. Aku ingin memastikan bagaimana kabar wanita itu,” jawab Sascha sambil masuk ke dalam puskesmas
__ADS_1
“Aku sangka kamu marah sama aku,” jelas Dewa yang membuat Sascha tersenyum manis.
“Apakah kamu marah sama papa?” tanya Gerre.