
Saat
menangis meratapi nasibnya sebagai dokter bedah, sang dokter itu hanya
memnaggil ibunya. Sungguh miris pemandangan seperti ini. Bukannya Sascha tidak
suka, justru itu ia sangat terharu sekali dengan yang disebut oleh doter itu.
Namun disisi lain tidak menyukai sama
seklai. Bahkan ia sangat membenci orang ketika melakukan kejahatan dan menyebut
ibunya.
Tanpa
dokter yang belum diketahui namanya, Dewa dan Daniel sudah berdiri di belakang
dokter itu. Bahkan mereka serempak melihat gerak-gerik sang dokter itu.
“Ibu...
aku jadi orang jahat. Enggak seharusnya aku membedah mayat yang banyak
penyakitnya itu. Jika semuaorgan tubuh itu dijual di pasar gelap yang tidak
memiliki standar apapun. Aku bisa dibunuh oleh Jackie dan Anette. Lalu
bagaimana dengan ansib aku ini?” seru dokter itu sambil mengepalkan kedua
tangannya sambil memukulkannya ke lantai berkali-kali.
Dewa dan
Sascha hanya mmeutar bola matanya dengan malas. Mereka tidak menyangka kalau
dokter itu mengakui perbuatannya. Bahkan sekarang semuanya sudah terbongkar di
hadapannya. Ini sungguh membuat semua orang bahagia dan tidak perlu repot-repot
untuk menamyakan semuanya. Sementara Daniel sengaja merekam pembicaraan dokter
itu. Secara tidak sadar mereka mendapatkan bukti kalau tempat ini adalah markas
__ADS_1
mafia penjulan organ tubuh.
“Ck,
jadi dokter kok bodoh banget. Bisa-bisanya kamu membocorkan rahasia kamu
sendiri ke musuh. Bagaimana kalau Jackie dan Anette tahu?” ejek Sascha dengan
serius.
Dokter
itu langsung mengangkat wajahnya. Ia sangat terkejut apa yang dikatakan oleh
Sascha. Matanya juga menangkap para tim yang dikepalainya sudah tidak bernyawa
lagi. Yang lebih parahnya lagi, sang dokter itu ada beberapa peluru yang
bersarang di tubuh mereka.
Belum
sempat ambil senjata, Daniel segera menarik baju itu dengan kuat. Dokter itu
berdiri dan mengambil pistolnya. Belum sempat kepegang, Daniel mendorongnya
mual. Ia tidak kuat dan memutuskan untuk segera pergi ke toilet. Akan tetapi
Dewa menarik bajunya dan menyuruhnya untuk mengembalikan ke bentuk semula.
Namun dokter itu menolaknya. Ia malah beranggaan kalau mayat itu langsung
dikibur saja. Tentu saja Sascha sangat marah. Ia segera mengarahkan pistol itu
ke arah dokter itu.
“Jika kamu
tidak memperbaikinya. Akulah orang yang pertama kali akan membuat kamu mati
dengan cara mutilasi seperti ini. Seluruh organ tubuh kamu akan aku berikan ke
orang lain. Melainkan ke hewan buas yang dimiliki Mr. Dewa!” tegas Sascha.
__ADS_1
Sang
dokter itu mulai ketakutan. Bagaimana bisa organ tubuhnya diberikan oleh hewan
buas? Padahal ia sendiri memiliki riwayat kesehatan yang cukup baik.
“Janganlah
begitu nyonya. Lebih baik anda memberikan organ tubuh ini ke orang yang
membutuhkan,” ucap dokter itu dengan tampang melasnya.
“Memangnya
kamu sehat?” tanya Sascha yang malas.
“Sehatlah,”
jawab dokter itu yang mulai menatap Sascha dengan penuh kelembutan.
Dewa
sangat kesal terhadap orang itu. Bisa-bisanya sang istri ditatap seperti itu.
Namun dirinya semakin kesal dan menarik baju itu dan memberikan sebuah
perintah.
“Lebih
baik kamu kerjakan apa yang sudah diperintahkan oleh Sascha!” bentak Dewa
sambil mendorong tubuh dokter itu.
“Kerjakan
dahulu. Nanti aku pertimbangkan selanjutnya seperti apa!” perintah Sascha yang
tidak main-main sambil melihat mata dokter itu dengan penuh amarah.
Sang
dokter itu akhirnya mengerjakan perintah dari Sascha. Ia segera membetulkan
__ADS_1
keadaan sang mayat tersebut. Sementara itu mereka menunggu sang dokter untuk
menyelesaikan semuanya.